Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Terang yang Sejati

Ibadah

Terang yang Sejati

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 10 Juli 2016

Bacaan Alkitab: Yoh 1:9-14

Kalau saya bertanya kepada saudara apakah yang menjadi the Greatest moment of the world? Maka mungkin ada yang mengatakan saat Neil Amstrong memijakkan kaki pertama kali di bulan pada bulan Juli 1969 itu adalah one of the greatest moment of the world, orang-orang sudah mempersiapkan perjalanan ke bulan selama bertahun-tahun dan menjadi kemudian kebanggaan dari seluruh dunia. Peristiwa-peristiwa penting di dalam sejarah sangat di nanti-nantikan oleh manusia, seperti juga pada jaman ini launching iphone ditunggu-tunggu oleh banyak orang, dan banyak orang antri berjam-jam untuk menjadi pembeli pertama.

Tetapi sebenarnya peristiwa dalam Yoh 1:9-14 adalah saat yang paling agung yang pernah terjadi dalam sejarah dunia. Tetapi ironisnya, dunia bukan saja tidak menantikan, dunia tidak mengenali bahkan menolak peristiwa ini. Peristiwa firman menjadi daging adalah titik-temu antara kekekalan dan kesementaraan. Yoh 3:19 mengatakan “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang”. Yoh 1:9-10 mengatakan ”Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.”.

Ini adalah tragedi, bagaimana peristiwa yang paling penting, bagaimana Allah datang ke dalam dunia, bagaimana Firman yang menjadi daging dan kemudian tinggal ditengah-tengah manusia, tetapi manusia tidak mengenalnya, menolak-Nya, bahkan kemudian menyalibkan terang itu. Ini adalah tragedi yang terbesar di dalam sejarah dunia.

Ketika kita membaca ayat 9 “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”, ada satu kata yang penting yaitu kata “dunia”. Yohanes di dalam Alkitab menggunakan kata dunia 78 kali. Apa yang dimaksudkan oleh Yohanes, ketika dia mengatakan “dunia”? Ada tiga macam pengertian dari kata “dunia”:

  • Arti yang pertama adalah “dunia” yang merujuk kepada alam semesta, dan tentu yang paling penting adalah bumi (earth). Dari seluruh bumi yang Tuhan ciptakan, yang paling penting adalah manusia, yang Tuhan ciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Jadi kata dunia bisa menunjuk kepada alam semesta, bumi dan juga manusia. Ketika orang Farisi melihat orang-orang mengikuti Tuhan Yesus, mereka berkata (Yoh 12:19) “…lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia.", itu menunjuk kepada orang-orang. Juga di dalam Yoh 1:9 “…sedang datang ke dalam dunia.”, ini menunjuk kepada bumi secara fisik.
  •  Arti kedua, Yohanes menggunakan kata “dunia” untuk merujuk kepada manusia yang melawan Kristus, yang menolak Kristus, dan yang akhirnya menyalibkan Kristus. Di dalam Yoh 15:18, Yesus mengatakan “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.”.
  • Arti ketiga, Yohanes juga melihat kata “dunia” sebagai sesuatu yang positif, dunia yang menjadi objek keselamatan Kristus. Yohanes Pembaptis ketika melihat Kristus dia berkata (Yoh 1:29) "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”. Di dalam Yoh 12 juga digambarkan kemenangan Kristus sebagai kemenangan atas penguasa dunia ini (Yoh 12:31).

Ketika kita membaca Injil Yohanes, bergantung pada konteksnya, Yohanes menggunakan kata dunia dengan pengertian-pengertian seperti di atas.

Kemudian kita boleh melihat selain Yohanes menyatakan penolakkan dunia terhadap Kristus, Yohanes juga menyebutkan terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia. “The True Light” itu adalah Kristus, Yohanes menggunakan kata “terang yang sesungguhnya” supaya kita boleh mengerti siapakah Yesus itu.

Terang yang Asli

Arti yang pertama dari istilah “Terang yang sesungguhnya” adalah bahwa Dia bukan terang yang palsu, dikontraskan dengan segala jenis terang yang palsu di dalam dunia ini. Ini adalah konsep yang penting, kalau kita mempelajari di dalam abad 18, ada gerakan yang besar yang disebut gerakan Enlightment (Jerman - Aufklarung – the century of light), yang mempengaruhi seluruh Eropa dan kemudian seluruh dunia. Gerakan Enlightment mengatakan kita tidak lagi di dalam kegelapan, dengan segala rasio kita dapat mengerti segala sesuatu di dalam dunia ini. Gerakan ini adalah cikal bakal landasan dari modernisme. Dengan kebanggaan akan rasio manusia, mereka berharap dan menyerahkan hidupnya kepada science, technology. Mereka percaya akan adanya progress yang berkelanjutan yang berakhir dengan hidup yang happily ever after. Mereka percaya bahwa the golden age bukan ada di belakang mereka tetapi ada di depan mereka, manusia akan terus maju dan semakin hari akan semakin baik.

Tetapi kesadaran seperti ini, khususnya setelah jaman post-modern, mulai kelihatan banyak kegagalan, ada keraguan apakah betul manusia itu hari demi hari akan semakin baik. Khususnya setelah terjadi perang dunia pertama dan kedua. Dengan segala persenjataan dan science yang begitu maju, maka mereka mulai sadar, apa yang terjadi di dalam hidup mereka. Ada seorang filsuf yang besar yang mengatakan bahwa kita telah maju secara teknologi, tetapi kita sebenarnya telah maju juga untuk menghancurkan diri kita sendiri.

Ada satu survey pada tahun 1950-an, ketika keluarga-keluarga muda ditanya, “apakah anak-anakmu hidupnya akan lebih baik daripada kamu”, maka 85% dari yang disurvei, menjawab mereka optimis akan masa depan anak-anak mereka. Ketika pertanyaan yang sama ditanyakan pada tahun 1980-an, maka hanya ada 15% yang optimis. Kalau kita ditanya pertanyaan yang sama saat ini, itu menjadi tanda tanya besar. Australia adalah suatu negara yang sangat sekuler, jauh lebih sekuler daripada Indonesia, bahkan dibandingkan dengan Amerika. Sangat sedikit sekali orang yang datang ke Gereja. Di sekolah-sekolah mungkin hanya 10% yang percaya kepada Tuhan.

Dengan segala kebebasan yang ada, LGBT dan same sex marriage yang mungkin akan dilegalkan, kebenaran Kristen semakin disingkirkan. Kalau ada panel diskusi mengenai hal-hal itu, maka biasanya yang selalu dicecar adalah pendeta. Kekristenan menjadi begitu tidak berdaya.

Apakah anak-anak kita akan mendapatkan hidup yang lebih baik daripada kita? Kita sulit menjawab, yang pasti kesulitan mereka adalah jauh lebih besar daripada kita. Kita sekarang masih berani membuat seminar melawan same-sex marriage, tetapi anak-anak kita mungkin akan hidup di jaman yang sudah begitu biasa, yang menganggap hal itu adalah hal yang normal dan legal, hanya tinggal menunggu waktu.

Kristus adalah terang yang sesungguhnya, dikontraskan dengan pengharapan-pengharapan yang diberikan filsafat-filsafat dunia, seperti modernisme, post-modernisme yang bersumber sepenuhnya dari manusia. Manusia telah berharap penuh kepada modernism, kepada science, kepada teknologi, tetapi kemudian gagal dan manusia menjadi kecewa, karena hal-hal itu adalah terang yang palsu.

Demikian juga dengan agama-agama. Kita tidak boleh mengatakan bahwa semua agama itu sama. Ada orang yang mengatakan agama-agama itu secara luarnya terlihat berbeda tetapi intinya itu sama. Hal ini adalah keliru dan terbalik sama sekali, karena sesungguhnya agama-agama itu kelihatannya sama, sama-sama mengajarkan doa, dan kebaikkan, tetapi justru intinya itu maka sesungguhnya sangat berbeda. Agama Kristen adalah sangat berbeda dengan agama-agama lainnya. Salah satu perkataan Yesus yang absolut (Yohanes 14:6) “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. “. Saudara tidak bisa mengubah apapun dari perkataan absolut tersebut. Hanya ada dua response yang ada, apakah saudara percaya atau tidak, tidak membuka kesempatan untuk menggabungkan keduanya.

Ravi Zakaria pernah menceritakan bahwa dia pernah bertemu dengan seorang ibu. Ibu tersebut pergi ke Sai Baba, dia melihat mukjijat2 yang dilakukan Sai Baba, tetapi setelah dia melihat seluruh pekerjaan Sai Baba, ibu itu berkata “hatiku kosong seperti sebelumnya”. Ini adalah terang-terang yang palsu.

Terang yang Sempurna

Alkitab menyatakan bahwa Kristus adalah terang yang sesungguhnya. Terang yang dikontraskan bukan hanya dengan terang yang palsu, tetapi juga dikontraskan dengan terang yang sebagian, pinjaman, yang tidak sempurna (partial,borrowed or imperfect light). Tuhan Yesus mengatakan (Mat 5:14-16) “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.".

Sumber Segala Terang

Ketika Alkitab menyatakan bahwa Dia adalah Terang yang sesungguhnya, Alkitab juga mau menyatakan bahwa Dia adalah sumber dari segala terang.

Kita dan saudara-saudara yang percaya kepada-Nya, adalah terang dunia. Terang yang bukan bersumber dari diri kita sendiri, terang yang kita miliki adalah terang yang diberikan kepada kita. Seperti di dalam candle light service di perayaan Natal, ada satu lilin yang besar, dan api dari lilin itu di bagikan kepada lilin-lilin yang saudara pegang.  Kristuslah terang sejati itu dan dari Dialah kita boleh menerima terang itu.

Kalau kita melihat pak Ahok. Betapapun dia bisa bercahaya, tetapi kita harus mengerti, Ahok dan semua orang yang seperti dia, bukanlah terang yang sesungguhnya. Kita memerlukan Kristus untuk menerangi hati kita yang gelap. Namun bukan hanya itu, kita juga memerlukan Kristus untuk memelihara pelita kita untuk terus bercahaya (=percaya), dengan kesadaran bahwa di luar Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Alkitab juga mengatakan bahwa Yesus adalah Juruselamat yang lemah lembut yang tidak akan mematahkan buluh yang sudah terkulai dan tidak akan memadamkan sumbu yang sudah berasap (lihat Yes 42:3). Nyala sumbu yang sudah hampir mati, tetapi Dia akan menjaga nyala apinya dengan tangannya dan meniup dengan pelan-pelan supaya sumbu itu bisa menyala lagi.

Terang yang ditolak Dunia

Dalam ayat-ayat selanjutnya, kita melihat tragedi di dalam Yoh 1:10-11 “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.”. Ini boleh digambarkan seperti ayah-ibu yang melahirkan anak-anak mereka, berjuang untuk menghidupi mereka, tetapi tidak mampu dan akhirnya harus menitipkan anak-anak mereka ke tetangga mereka. Setiap sen yang orang tua tsb terima dikirimkan ke tetangga mereka untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anak mereka. Namun setelah bertahun-tahun, ayah-ibu itu kembali kepada anak-anak mereka, mereka ditolak dan diusir dari rumah yang sudah dibeli dari hasil jerih-payah mereka.

Sesungguhnya Tuhan Yesus sudah mengajarkan dalam perumpamaan di dalam Matius 21:33-43, tentang pemilik kebun Anggur.  Diceritakan disitu ada seorang pemilik kebun anggur, yang sudah mempersiapkan kebun anggur itu dengan sangat baik dan kemudian menyewakan kebun anggur itu. Pemilik itu pergi dengan janji bahwa setelah panen hasilnya akan dibagi rata. Setelah panen datang, pemilik tersebut mengirim hamba-hambanya untuk meminta hasil bagian tuannya. Namun penyewa-penyewa kebun anggur itu memukul bahkan membunuh hamba-hamba tuan tersebut. Tuannya itu mengirim lagi hamba-hambanya yang lain. Penyewa-penyewa kebun anggur itu melakukan hal yang sama, yaitu melempari hamba-hamba tersebut dengan batu bahkan membunuh mereka. Akhirnya sang pemilik kebun anggur itu mengirimkan anaknya dengan berpikir bahwa penyewa-penyewa itu akan menghargai anaknya. Namun penyewa-penyewa tersebut berpikir bahwa ini adalah ahli waris tuannya dan mereka membunuh anak majikan tersebut supaya mereka mendapat warisannya.

Maka ketika tuan kebun anggur itu datang, apakah yang dilakukan tuan tersebut? Maka orang-orang Farisi itu berkata, dia akan membinasakan penyewa penyewa tersebut, dan kebun anggurnya akan disewakan kepada penggarap-penggarap lain yang akan menyerahkan hasilnya kepada tuan tersebut. Tetapi kata Yesus kepada mereka.” "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.”.

Perumpamaan ini jelas sekali menyatakan kebenaran dari Yoh 1. Terang itu telah datang kepada kepunyaan-Nya sendiri, namun ditolak. Perumpamaan ini kemudian ditutup dengan suatu pengharapan “Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.“. Siapakah bangsa itu? Bangsa itu adalah Gereja-Nya, orang-orang yang percaya dan menjadi anak-anak Allah. Yoh 1:12-13 menyatakan “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.”.

Kita di sini boleh melihat terang-yang sesungguhnya sekaligus tragedi manusia yang menolak terang itu.

Setiap kali kita mengadakan Welcoming Days ataupun KKR bagi para mahasiswa yang baru datang, maka itu adalah peperangan rohani. Kita perlu memenangkan perang ini bukan dengan kekuatan kita sendiri tetapi kita perlu berdoa kepada Tuhan. Dunia yang pada dirinya sendiri secara natur menolak Tuhan yang adalah terang. Kita ajak dan doakan para mahasiswa tersebut.

Karena para mahasiswa tersebut, setelah mereka meninggalkan orang-tua mereka, mereka akan bebas, bisa mengatur hidup mereka sendiri. Sehingga banyak yang menjadi rusak, bukan hanya studinya tetapi hidup mereka juga menjadi hancur, seperti pergi ke kasino dsb. Banyak orang tua yang mengirim anaknya keluar negeri seperti akan kehilangan anak, karena anak itu bukan hanya tidak kembali, tetapi menjadi orang yang asing, yang hidupnya rusak di dalam dunia yang berdosa ini.

Namun kita juga boleh menyaksikan ada banyak pemuda yang Tuhan percayakan kepada kita. Justru ketika mereka jauh dari orang-tua, yang tadinya ke Gereja karena orang tua yang mengajak, mereka justru menemukan imannya yang sejati. Mereka sangat mudah sekali untuk pergi bermain-main dan tidak pergi ke Gereja, tidak ada yang tahu dan mereka bisa mengatakan banyak hal kepada orang tua mereka. Ketika mereka bergumul sendiri, itu berarti hati mereka sungguh-sungguh dibentuk untuk mengenal Tuhan. Mereka justru menerima Tuhan secara pribadi.

Itulah kerinduan kita supaya kita menyinari dunia ini, berbagian di dalam pekerjaan Tuhan untuk memunculkan orang-orang yang boleh percaya, orang-orang yang diberi hak oleh Allah untuk menjadi anak-anak-Nya. Ini adalah suatu peperangan rohani, karena dunia ini menolak Kristus, dunia yang secara natur menolak terang. Kita tidak mungkin datang kepada terang itu, kalau bukan Tuhan sendiri yang memberikan anugerah-Nya dan membukakan hati kita juga mereka sehingga kita dan mereka boleh mengerti keindahan dari panggilan Tuhan.

Kadang-kadang orang salah mengerti akan Sola Gratia. Semua adalah anugerah Tuhan maka kita tidak perlu berbuat apa-apa. Hal ini tidak benar karena Sola Gratia justru harus membuat kita mengerti bahwa keselamatan yang kita miliki adalah anugerah Tuhan maka kita pergi dan mengerjakan apa yang Tuhan inginkan, karena kita tahu apapun yang akan terjadi, Tuhan yang akan memelihara dan memberikan anugerah. Karena seluruh yang aku miliki adalah dari Tuhan maka aku rela memberikan semuanya bagi pekerjaan Tuhan, maka Tuhan akan memimpin dan memelihara kita. Ayub mengatakan aku lahir telanjang, aku meninggal telanjang, terpujilah nama Tuhan (Ayub 1:21).

Adoniram Judson, seorang reformed presbriterian mengatakan “faith which consist merely in correct believe of the doctrine of grace, and prompt no self denial is no faith at all”. Iman yang hanya mempunyai pengertian pada doktrin anugerah, tetapi tidak mendorong akan kehidupan yang menyangkal diri adalah bukan iman sama sekali. Iman yang mengerti anugerah Tuhan, seluruh hidupku adalah anugerah Tuhan maka Tuhan boleh ambil seluruh hidupku karena itu adalah milik Tuhan. Bukan hanya kita memiliki hidup yang bersyukur kepada Tuhan, tetapi juga kita didorong untuk mengerjakan, menyangkal diri, memikul salib karena seluruhnya adalah anugerah Tuhan.

Hal ini dinyatakan di dalam hidup Adoniram Judson. Di dalam hidupnya dia banyak mengalami penderitaan. Di dalam pelayanan di Birma, dua dari tiga istrinya meninggal, tujuh dari 13 anaknya mati. Waktu dia dipenjara, kakinya diikat ke atas dan dia harus tidur dengan bahu dan kepala ke bawah. Istrinya harus berjalan 2 mil setiap hari saat mengunjungi dia dipenjara, padahal dia hamil tua.

Ketika dia keluar dari penjara, dan anaknya itu lahir, istrinya kurang gizi, dan tidak bisa menyusui anaknya. Mereka harus pergi ke desa-desa meminta-minta kepada ibu-ibu untuk bisa menyusui anak mereka. Ketika istri pertamanya mati, enam bulan kemudian anaknya mati, tiga bulan kemudian Adoniram mendapat kabar bahwa ayahnya sudah delapan bulan sebelumnya meninggal. Dia kemudian mengalami depresi, kegelapan yang begitu gelap. Dia masuk ke hutan, hidup menyendiri, dan menggali kuburan bagi dirinya sendiri. Dia masuk ke dalam lobang yang dia buat dan tidur di situ, ingin merasakan bagaimana tubuh yang membusuk.  

Tetapi Tuhan beranugerah, dengan cara yang ajaib, justru karena berita kematian saudaranya di Amerika. Dia mendengar saudaranya yang sebelumnya tidak percaya kepada Tuhan, tetapi beberapa waktu sebelum meninggal kemudian bertobat. Kematian dari saudaranya itu, secara ajaib Tuhan pakai untuk membangkitkan Adoniram untuk mulai melakukan pelayanannya kembali. Tuhan itu hidup, Tuhan itu hadir dan Dia tidak meninggalkan umat-Nya. Walaupun terus mengalami kesulitan namun Tuhan memimpin dan kemudian pelayanan Adoniram menjadi pelayanan yang terbesar di Birma.

Kesadaran bahwa terang yang sesungguhnya itu telah datang dan menerangi setiap orang, dan kesadaran akan tragedi bahwa dunia sudah menolak-Nya, itulah tantangan yang ada di dalam dunia ini. Tanpa Tuhan membukakan hati kita maka kita tidak mungkin bisa percaya. Karena itu kita patut mendoakan dan Tuhan akan membangkitkan dari antara orang-orang yang tidak percaya menjadi umat Tuhan dan melihat terang Tuhan yang sejati. Tuhan bekerja melalui kita yang memberitakan Injil, yang taat seperti Adoniram Jusdon, dan suka cita kita menjadi sempurna ketika kita melihat Tuhan bekerja melalui segala tantangan yang kita hadapi.

Ada seorang pemuda yang tugasnya menterjemahkan kotbah ke dalam bahasa Inggris. Dia berkata setiap kali dia masuk ke ruang penterjemah, itu adalah suatu momen yang mengerikan. Di ruang itu ada satu tulisan perkataan Tuhan kepada Musa, “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?: Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.” (Kel 4:11-12). Dia terus bersandar kepada Tuhan bisa bertumbuh, dan menjadi berkat yang besar.

Biarlah kita juga melalui kesadaran akan anugerah Kristus yang luar biasa, marilah kita boleh sama sama berjuang, dan berdoa, biarlah renungan Firman hari ini juga boleh mendorong saudara untuk datang dan percaya, untuk sungguh-sungguh beriman kepada Kristus yang adalah terang yang sejati.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya