Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Betapa Indahnya Kedatangan Mereka yang Membawa Kabar Baik

Ibadah

Betapa Indahnya Kedatangan Mereka yang Membawa Kabar Baik

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 3 Juli 2016

Bacaan Alkitab: Yoh 1:6-8

Sebelumnya kita telah membahas Yoh 1:5, di mana Yohanes menuliskan hal-hal yang paling penting tentang Yesus Kristus. Yohanes menyatakan bahwa pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu adalah Kristus, (seperti yang dinyatakan di dalam Yoh 1:14). Yoh 1:1 juga mengatakan “Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”, atau dengan kata lain Firman itu berbeda dengan Allah Bapa, tetapi Firman itu juga adalah Allah. Dengan demikian kalimat ini juga menunjukkan doktrin Allah Tritunggal. “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatupun yang telah jadi dari segala sesuatu yang telah dijadikan” (Yoh 1:3), artinya Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia bukan bagian dari ciptaan.

“Di dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan tidak menguasainya.” (Yoh 1:4-5)

Kalau saudara melihat dari Yoh 1:5 “Terang itu bercahaya .. “ dan kemudian melompat ke ayat ke Yoh 1:9, “Terang yang sesungguhnya yang menerangi setiap orang sedang datang ke dalam dunia”, kita bisa melihat adanya kaitan. Tetapi sang penulis tiba-tiba menaruh break dengan menaruh ayat ke 6-8. Bagian ini bukan berbicara tentang Firman itu, tetapi membicarakan tentang Yohanes Pembaptis.

Mengapa Yohanes menyisipkan hal ini? Yohanes ingin menekankan bahwa cara Allah yang utama supaya terang-Nya bercahaya di dalam kegelapan, adalah justru melalui kesaksian manusia. Yohanes Pembaptis datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang Terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Manusia adalah sarana yang terutama untuk memberi kesaksian akan Terang itu. Tuhan bisa memakai malaikat, Tuhan bisa memakai peristiwa-peristiwa alam menuliskan Injil-Nya di atas awan-awan, bahkan Tuhan bisa membangkitkan batu-batu untuk memuji Tuhan (lihat Luk 19:40). Tetapi Tuhan tidak memilih itu, Tuhan memilih manusia menjadi sarana yang utama dan efektif. Kita akan merenungkan bersama-sama akan hal ini.

Ada tiga berita yang disampaikan di dalam Yoh 1:6-8

-       Datangnya seorang yang bernama Yohanes Pembaptis

-       Yohanes Pembaptis datang untuk memberi kesaksian tentang Terang itu 

-       Supaya oleh karya Yohanes Pembaptis semua orang boleh menjadi percaya

Datangnya Yohanes Pembaptis 

Yoh 1:6 mengatakan “Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes”. Ada dua implikasi yang penting dari ayat ini:

  • Ketika kita mendengar ada orang yang diutus Allah, berarti kita harus bersiap dan terbuka jikalau Allah memanggil dan mengutus engkau menjadi saksi-Nya. Kita semua yang sudah percaya diutus Tuhan untuk menjadi saksi-Nya, tetapi ada orang-orang tertentu yang Tuhan panggil secara khusus secara full-time menjadi saksi Kristus di tengah-tengah dunia ini. Tuhan Yesus mengatakan (Mat 9:37-38) “Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Karena itu berdoalah mintalah kepada yang empunya tuaian itu, supaya Ia mengirim pekerja-pekerja untuk menuai tuaian itu”. Kita perlu mendoakan orang-orang yang Tuhan bangkitkan untuk menjadi hamba-hamba Tuhan secara full-time. Paulus mengatakan di dalam Roma 10:13-15, “Sebab, barang siapa berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. tetapi bagaimana mereka bisa berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, kalau tidak ada yang memberitakan-Nya. Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya jika mereka tidak diutus? Sebab ada tertulis “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!””.

Pak Tong pernah bercerita, dia pergi ke pedalaman dengan beberapa misionaris yang lain, ada beberapa orang misionaris bule juga. Suatu kali hujan cukup deras, seorang misionaris perempuan besar badannya, dan kakinya masuk ke selokan, dan ketika ditarik seluruh kakinya menjadi hitam. Tetapi Pak Tong berkata, mungkin ini adalah kaki yang terindah, kaki-kaki yang pergi memberitakan Injil, mengasihi orang-orang yang belum pernah mendengarkan Injil keselamatan itu.

Mungkin ada saudara yang sedang bergumul, “Tuhan Engkau ingin apa di dalam hidupku”, ketika mendengar Firman ini, biarlah saudara boleh mendengar perkataan Tuhan dan terbuka, bersiap jika Allah memanggil saudara menjadi saksi-Nya.

Begitu banyak Gereja yang lebih memberitakan kesuksesan, kesembuhan dsb, itu adalah Injil yang palsu. Tetapi banyak juga orang yang datang ke dalam Gereja mereka. Ada pendeta yang bercerita dia pernah naik-turun Surga, ada juga yang pernah naik-turun neraka, menceritakan setan yang menyiksa orang-orang di neraka. Cerita-cerita ini pasti tidak benar, karena di dalam Alkitab tidak pernah dituliskan setan menyiksa orang-orang di neraka, yang ada adalah setan turut disiksa bersama-sama orang-orang yang tidak percaya di neraka. Tuhan tetap berdaulat di neraka, setan dan penghulu-penghulunya disiksa untuk selama-lamanya di neraka. Jangan kita tertipu akan cerita-cerita yang demikian.

Marilah kita berdoa agar Tuhan membangkitkan orang-orang menjadi saksi yang sejati. Kristus memanggil kita (lihat Mat 16:24), untuk menyangkal diri memikul salib. Kristus juga berkata (lihat Mat 10:37) barangsiapa lebih mengasihi ayahnya, ibunya, anaknya daripada mengasihi-Nya, tidak layak untuk mengikuti-Nya. Ini menjadi suatu panggilan bagi kita.

Salah satu ciri dari mimbar-mimbar yang setia, yang sudah ditinggalkan oleh banyak orang, yaitu pemberitaan Firman secara eksposisi. Eksposisi artinya menjelaskan pasal-per-pasal dari pada Alkitab. Hal ini menjadi fondasi utama dari pemberitaan Firman. Pemberitaan yang utuh, bukan hanya memilih hal-hal yang enak-enak saja, tetapi juga keadilan dan murka Tuhan. Dua-duanya harus diberitakan secara seimbang. Kalau tidak pemberitaan Firman akan menjadi timpang dan akhirnya kita tidak bisa mengerti akan kebenaran itu sendiri.

Sebagai contoh, kita tidak akan mungkin mengerti tentang kasih Allah, kalau kita tidak mengerti akan keadilan Allah, tanpa mengerti Kristus mati untuk menanggung dosa kita karena keadilan Allah harus ditegakkan di dalam Kristus, untuk menyatakan kita sebagai orang-orang yang dibenarkan.

Kita berdoa supaya kita siap jikalau Allah mengutus kita menjadi saksi-Nya.

  • Implikasi yang kedua: bersiaplah untuk mendengar kesaksian orang yang lain yang diutus Allah kepadamu. Kesaksian ini bukan cerita tentang pengalaman diri, tetapi terutama memberikan kesaksian tentang Kristus, tentang Injil yang sejati. Cara Allah berkata-kata kepada kita bukan hanya melalui pembacaan Alkitab secara pribadi, tetapi juga melalui orang lain. Justru orang lain dapat menjadi sarana utama bagi kita untuk mendengar panggilan Tuhan. Allah ingin berkata-kata kepadamu melalui kotbah, melalui guru-guru sekolah minggu, melalui orang tua yang takut akan Tuhan. Saudara harus mendengarkan Firman yang diberitakan oleh orang-orang yang diutus Allah untuk datang kepada saudara.

Saya rindu jika nanti di surga, orang bisa berkata, “ada seorang yang diutus Allah, namanya <nama saudara> yang datang memberitakan Injil dan membuat aku percaya“. Karena Tuhan mau memakai orang-orang untuk memberitakan tentang Terang itu.

Untuk memberi Kesaksian tentang Terang Itu 

Yoh 1:7-8 mengatakan “Ia datang untuk memberitakan kesaksian tentang Terang itu. Ia bukan Terang itu tetapi ia harus memberi kesaksian tentang Terang itu”. Saksi adalah seorang yang mempunyai pengetahuan dan keahlian untuk menyatakan kebenaran dalam suatu masalah. Seorang saksi di dalam pengadilan harus memiliki bijaksana yang cukup di dalam menyelesaikan suatu masalah. Allah telah berbicara kepada Yohanes Pembaptis di padang belantara tentang kedatangan Mesias. Yohanes Pembaptis juga bertemu dengan Yesus, waktu Yesus dibaptis oleh dia. Sehingga Yohanes menjadi seorang saksi yang dapat dipercaya. Yoh 1:33-34 mengatakan “Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”

Apa yang Yohanes saksikan tentang siapa Yesus itu adalah berita yang penting:

  • Ketika orang-orang bertanya kepada Yohanes Pembaptis, “Siapakah Engkau” maka jawabnya (Yoh 1:23): “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”. “Inilah kutipan dari Yes 40:3 yang menyatakan “Luruskanlah jalan bagi YAHWE”. Dengan kata lain dia menyatakan bahwa Yesus itu adalah Tuhan.
  • Di dalam Yoh 1:27 Yohanes Pembaptis mengatakan “Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak”. Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Yesus begitu besar. Membuka tali kasut hanya layak dilakukan oleh seorang budak. Bahkan di jaman itu, murid-pun tidak akan mau membuka tali kasut gurunya, itu hanya layak dilakukan oleh seorang budak. Tetapi Yohanes Pembaptis di sini bahkan menyatakan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Yohanes Pembaptis menyadari betapa besar dan mulia-Nya Yesus, sehingga menjadi budak-Nya pun dia tidak layak. Biarlah kita juga mengenal begitu mulianya Kristus dan betapa kecilnya kita.
  • Di dalam Yoh 1:29 Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa Yesus itu adalah anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Ini adalah tema yang sangat penting yang kemudian dikembangkan oleh penulis Injil Yohanes. Pada bagian-bagian akhir Injil Yohanes, sang penulis dengan detail menggambarkan ketika Yesus mati di atas kayu salib, itu adalah sama waktunya di mana Anak Domba Paskah disembelih. Kalau kita membaca kitab Wahyu (Wahyu 5) , kita juga melihat tema ini, Yohanes dalam suatu penglihatan, melihat ada suatu gulungan kitab yang tidak ada seorangpun yang mampu membuka, maka Yohanes menangis, sampai datanglah seorang yang seperti seekor anak domba Allah yang telah disembelih, dan Dialah yang membuka kitab itu.
  • Yoh 1:33 mengatakan bahwa Yesuslah yang akan membaptis umat-Nya dengan Roh Kudus. Ini juga adalah doktrin yang penting. Dia membaptis dengan Roh Kudus, atau dengan kata lain Roh Kudus berasal dari Kristus. Kita bukan dibaptis oleh Roh Kudus, tetapi Kristus yang membaptis kita dengan Roh Kudus.

Ada banyak Gereja-Gereja yang senang memberitakan akan bahasa-bahasa Roh atau bahasa-bahasa lidah (glossolalia), ini adalah hal yang keliru sekali. Ketika Roh-Kudus datang, Roh Kudus justru akan memberitakan kesaksian akan Kristus, Dia akan memuliakan Kristus, bukan memuliakan akan diri-Nya sendiri. Roh Kudus akan memberitakan apa yang diberitakan oleh Kristus. Kristus menjadi pusat dari apa yang Roh Kudus beritakan. Namun tentu Roh Kudus juga adalah Allah di dalam Allah Tri-Tunggal.

  • Yoh 1:34 mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Yoh 1:12 mengatakan “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”. Ini sebenarnya menunjukkan bahwa kita diadopsi menjadi anak-anak Allah. Secara natur kita adalah anak-anak kebinasaan yang berdosa, tetapi karena anugerah Tuhan yang besar, kita diberi hidup yang baru, diadopsi sebagai anak-anak Allah. Tetapi Kristus adalah Anak Allah yang kekal, dari permulaan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Dia adalah Anak Allah. Ini adalah sesuatu yang sangat penting.

Supaya Semua Orang Menjadi Percaya  

Yohanes Pembaptis bukan hanya memberikan kesaksian tentang siapa Yesus itu, tetapi dia juga melalui hidupnya mengkonfirmasi bahwa apa yang dia katakan adalah benar. Yesus berkata (lihat Yoh 5:35) bahwa Yohanes Pembaptis adalah pelita yang menyala dan bercahaya di tengah-tengah dunia ini. Menyala artinya ada panas yang bisa dirasakan orang-orang, dan sekaligus juga bercahaya melalui apa yang dia beritakan tentang Kristus.

Yohanes pembaptis bersaksi bukan hanya melalui apa yang dia katakan, tetapi juga melalui hidupnya, melalui apa yang dia lakukan, bercahaya di tengah-tengah dunia ini. Hidupnya sederhana, dengan hanya memakai baju bulu unta, di padang belantara, makan belalang dan madu hutan. Kita juga bisa belajar dari Yohanes Pembaptis untuk hidup sederhana, walaupun banyak harta yang kita miliki, namun biarlah kita tidak menggantungkan hidup kita kepada harta yang gampang hilang dan rusak, dan bergantung hanya kepada Tuhan. Biarlah harta yang ada bukan kita pakai untuk kemewahan dan kehebatan kita, tetapi biarlah harta itu boleh kita pakai untuk pekerjaan Tuhan. Biarlah kita meskipun miskin tetapi bisa memperkaya banyak orang. Pak Tong sebenarnya juga kaya, tetapi dia mempergunakan uangnya untuk pekerjaan Tuhan, memperkaya hidup orang lain, dengan membuat museum dlsb. 

Yohanes Pembaptis juga seorang yang rendah hati. Ketika dia ditanya “apakah engkau Mesias?”, dia mengaku dengan jujur (Yoh 1:20) “Aku bukan Mesias”. Orang-orang bertanya kepadanya, karena mereka kagum akan hidup Yohanes Pembaptis, akan kotbahnya, akan kuasa Tuhan yang menyertainya, dan mereka beranggapan seolah-olah dia adalah Mesias itu. Yohanes pembaptis menjawab (di dalam Yoh 1): “aku bukan Mesias, aku bukan Elia, aku hanya suara orang yang berseru-seru di padang gurun, bahkan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak”.

Murid-Murid Yohanes Pembaptis complain kepadanya, karena banyak dari pengikutnya pergi mengikuti Yesus (lihat Yoh 3). Maka dia mengatakan dalam Yoh 3:29-30 “Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.  Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”. Inilah hamba Tuhan yang sejati, biarlah hidup kita yang melayani Tuhan, kita melihat bukan aku tetapi anugerah Tuhan yang bekerja. Paulus mengatakan (lihat 1 Kor 15) “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” Setiap orang yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan dia pasti menyadari bahwa seluruh hidupnya adalah karena anugerah Tuhan.

Yohanes Pembaptis juga adalah seorang yang sangat berani. Jarang sekali di dalam diri seseorang, ada keberanian dan sekaligus kerendahan hati. Biasanya orang yang berani adalah juga orang yang sombong, sebaliknya orang yang rendah diri biasanya takut-takut. Yohanes Pembaptis adalah seorang yang rendah hati, sadar dirinya adalah bukan Mesias, semuanya adalah karena anugerah Tuhan, tetapi dia adalah seorang yang berani. Dia berani menegur penguasa yang paling besar, Herodes, yang mengambil istri adiknya. Karena teguran itu, Yohanes Pembaptis harus dipenggal kepalanya.

Yoh 1:7  mengatakan “Ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang Terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.”. Tentu tidak semua orang tetapi hanya orang-orang yang percaya. Yohanes Pembaptis melakukan semua itu supaya melalui dia, banyak orang menjadi percaya. Ini dikonfirmasi dalam hidup Yohanes Pembaptis. Di dalam Yoh 1:35 diceritakan ketika Yohanes berdiri dengan dua orang muridnya. ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!". Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus”. Kita kemudian mengetahui bahwa salah satu murid tersebut adalah Andreas, yang kemudian membawa saudaranya Simon Petrus. Mereka menjadi rasul-rasul yang Tuhan pakai.

Biarlah hidup kita seperti mereka, kalau saudara membaca Firman ini, jangan saudara beranggapan bahwa hidup yang saudara jalani adalah “that is life” yang saudara lakukan sampai saudara mati. Kalau saudara mengerti itu adalah panggilan Tuhan, maka itu adalah sangat baik. Tetapi kalau saudara masih menutup hati, Tuhan bisa memanggil saudara, di dalam waktu yang tidak disangka, di dalam waktu yang sepertinya sedang lewat saja. Waktu Yesus yang sepertinya sedang lewat saja, capek dan haus (lihat Yoh 4), duduk dan minta minum kepada seorang wanita Samaria. Sepertinya biasa saja, tetapi dari situ, Tuhan mengubah hidup dia. Wanita itu membawa seluruh kampung, untuk datang bertemu Mesias, dia menjadi saksi di tengah-tengah kehidupannya.

Biarlah kita tidak melihat hidup kita seperti kebetulan, tetapi kita percaya seluruh hidup kita ada di tangan Tuhan. Tidak ada yang kebetulan, kita mendengar Firman, seperti Yohanes Pembaptis, kita dapat menjadi saksi Kristus. Kalau Tuhan memanggil kita, jangan keraskan hati, tetapi percaya kepada-Nya dan serahkan hidup kita kepada-Nya. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya