Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Akar daripada Dosa

Ibadah

Akar daripada Dosa

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 22 Mei 2016

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 19:1-30, 20:1-48, 21:1-25

Waktu saya membaca salah satu tafsiran Matthew Henry akan bagian ini, saya teringat ada cerita seorang pendeta yang takut akan Tuhan. Pada suatu hari ada seorang penjahat di kota itu yang mati. Penjahat itu mempunyai saudara yang juga menjadi penjahat, dan saudaranya itu minta kepada pendeta itu untuk memimpin penguburan penjahat yang mati itu. Saat itu, pendeta itu sedang membangun gereja yang sedang membutuhkan banyak dana, dan saudaranya itu mengetahui akan hal itu. Saudaranya itu kemudian meminta kepada pendeta untuk mengatakan satu kalimat saja bahwa penjahat tersebut adalah seorang Saint, dan dia akan memberikan banyak bantuan untuk pembangunan gereja tersebut. Maka tibalah hari penguburan itu, dan pendeta itu mulai mengatakan “Orang yang terbaring di peti mati ini adalah orang yang paling jahat, orang yang pernah memperkosa, pengedar drug, seorang perampok, yang sudah merusak banyak keluarga tetapi dibandingkan dengan saudaranya yang masih hidup, dia adalah orang kudus.”

Matthew Henry mengatakan dibandingkan dengan kejahatan yang terjadi di dalam bangsa Israel dalam bagian ini, maka bangsa-bangsa lain adalah seperti orang-orang suci.

Penulis ingin memparalelkan kisah ini dengan kejadian 19, yaitu kisah Sodom. Penulis ingin mengatakan bahwa Gibea adalah the new Sodom. Orang-orang Gibea ingin mensodomi orang Lewi di kisah ini, sama seperti orang-orang Sodom yang mau memperkosa malaikat Tuhan. Orang-orang Gibea adalah bangsa Israel, dari suku Benyamin yang melakukan kejahatan yang sedemikian. Kalau kita terus membaca sampai Hakim-Hakim 21, kita melihat banyak kejahatan yang dilakukan mereka. Orang-orang Gibea bukan hanya memperkosa wanita tersebut tetapi mengabuse wanita tersebut sampai mati. Alkitab sendiri dengan jelas mengatakan bahwa ini adalah kejahatan yang besar, karena selanjutnya Tuhan menghukum mereka.

Bukan hanya orang-orang Gibea ini yang jahat, tetapi orang Lewi itu juga jahat. Orang Lewi itu memberikan gundiknya kepada orang-orang Gibea untuk diperkosa. Orang Lewi hampir seperti psikopat, wanita itu diperkosa semalam-malam-an, dan paginya dia hanya berkata “bangun mari kita pergi”, dan dia melihat wanita itu sudah mati. Tidak ada emosi sama sekali dari orang Lewi itu. Kemudian selanjutnya dia membawa mayat itu kemudian memotong-motong wanita itu sebanyak 12 potong, dan mengirimkan potongan-potongan itu ke 12 suku Israel.

Bahkan dalam Hakim-Hakim 20:5, orang Lewi itu menceritakan peristiwa itu kepada orang-orang lain, “Lalu warga-warga kota Gibea itu mendatangi aku dan mengepung rumah itu pada malam hari untuk menyerang aku. Mereka bermaksud membunuh aku, tetapi gundikku diperkosa mereka, sehingga mati.” Dia tidak mengatakan sejujurnya, orang-orang Gibea itu bukan mau membunuh dia, tetapi mereka mau bersetubuh dengannya. Tetapi dia membesar-besarkannya untuk membenarkan diri, seolah-olah dia membela diri dengan memberikan gundiknya. Gundiknya memang menjadi korban, tetapi dia bukan orang yang tidak bersalah. Hakim-Hakim 19:2 memberi setting siapa gundik itu, gundik itu juga berlaku serong terhadap orang Lewi tersebut.

Hal pertama yang bisa kita renungkan adalah penulis menggambarkan kerusakkan bangsa Israel, umat Allah. Mereka melakukan segala kejahatan yang beragam-ragam. Semua tokoh dalam cerita ini adalah orang-orang jahat, yang berdosa. Apa yang kita boleh mengerti akan hal ini. Mengapa mereka melakukan semua hal itu.

Maka sesungguhnya Kitab Hakim-Hakim mengatakan dasar dari kejahatan-kejahatan tersebut ini di dalam ayat pertama  Hakim-Hakim 19:1 “Terjadilah pada zaman itu, ketika tidak ada raja di Israel…” Demikian juga bagian akhir cerita ini (Hakim-Hakim 21:25) menyimpulkan hal yang sama “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.”

Bagian ini mengatakan ketika manusia melakukan yang benar menurut pandangannya sendiri maka terjadilah kekacauan. Mulai dari kitab kejadian, kita melihat akar dari dosa manusia. Di dalam kejadian 3, ketika manusia berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri, maka manusia jatuh kedalam dosa. Hawa tahu bahwa Tuhan sudah memberikan perintah “Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” (Kej 3:3). Namun kemudian Hawa ditipu oleh Iblis yang mengatakan “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

Kalau saudara membaca Kejadian 3:6 maka sebenarnya Hawa tidak langsung percaya perkataan ular itu. Tetapi kemudian Hawa melihat sendiri pohon itu dan buahnya yang kelihatan menarik hati untuk dimakan. Dia berpikir sendiri, mempertimbangkan sendiri, tidak mau lagi mempertimbangkan Firman Tuhan yang sudah mengatakan kalau dia memakan buah dia pasti mati.

Inilah yang disebut dengan human autonomy. Kalau manusia menjadi autonomi, maka manusia menjadi hukum bagi dirinya sendiri. Ini adalah akar daripada dosa. Ketika manusia menjadi centre and standard of everything, manusia tidak lagi memikirkan Allah dan perintah Tuhan, maka mulailah manusia jatuh kedalam dosa. Ketika manusia tidak tunduk kepada Allah, tidak menyadari  bahwa dirinya harus seluruhnya tunduk kepada Tuhan, harus bergantung kepada Firman Tuhan, bahwa Allah berkuasa akan seluruh hidupnya, maka manusia akan rusak. Ketika manusia melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri, walaupun dia tidak bergantung kepada setan, maka sesungguhnya itu adalah akar daripada dosa. Ketika akarnya rusak, maka seluruh pohon dan buahnya cepat atau lambat akan rusak juga.

Marilah kita membuat Tuhan berkuasa atas seluruh hidup kita. Biarlah kita hidup seperti Daniel dan kawan-kawannya, yang sejak hari pertama mereka dibuang ke Babilonia, mereka menetapkan hati  untuk tidak menajiskan diri mereka dengan makanan kepada raja. (Daniel 1:8). Mereka menetapkan hati mereka bahwa Tuhan adalah penguasa, kebenaran, dan raja atas hidup mereka. Bukan tidak ada pergumulan, tetapi dengan ketetapan hati mereka, maka Tuhan memimpin mereka. Tetapi kalau kita tidak membiarkan Tuhan berkuasa atas seluruh hidup kita, maka ada 1001 alasan untuk tidak mentaati Tuhan. Kalau kita mengerti bahwa Dia harus menjadi Tuhan atas hidupku maka apa yang aku lakukan bukan kehendakku sendiri, bukan pikiranku sendiri, tetapi kehendakku dan pikiranku kita tundukkan kepada apa yang Tuhan kehendaki di dalam Firman-Nya yang sudah Dia beritakan kepada kita. Biarlah kita boleh menetapkan hati dan tidak mengalami segala kerusakan-kerusakan yang terjadi di dalam dunia ini.

Mazmur 1:1-3 mengatakan “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,” Dosa terus-menerus menarik kita, digambarkan sebagai orang yang berjalan, berdiri, dan terlebih lagi duduk di antara kumpulan orang yang berdosa. Namun orang yang benar adalah orang yang tidak kompromi di dalam hal yang paling dasar: tidak berjalan, tidak berdiri tidak duduk di antara orang berdosa, tetapi yang kesukaannya adalah taurat Tuhan, dan merenungkan taurat itu siang dan malam. Bukan hanya membaca, tetapi hatinya juga suka, merindukan dan menginginkan Tuhan dan kebenaran-Nya. Tuhan yang menjadi yang paling utama di dalam hidupnya. Tuhan akan memberkati orang yang seperti demikian, orang yang seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil (Mazmur 1:3).

Biarlah kita menyadari bahwa apa yang paling utama di dalam hidup kita adalah milik Tuhan. Biarlah kengerian/seramnya cerita dari Hakim-Hakim 19-21 ini membuat kita menyadari meskipun tidak se-ngeri/se-seram cerita tersebut, tetapi ada banyak kekacauan yang terjadi di dalam bentuk yang beragam yang boleh kita saksikan ketika orang-orang bahkan orang-orang Kristen, tidak menjadikan Tuhan raja di dalam hidup mereka. Jangan kita mengalami segala kerusakan akan dosa yang seperti ini, tetapi tetapkan hati kita untuk mengkuduskan Kristus sebagai Tuhan di dalam hidup kita.

Hal yang kedua, dari kerusakan Israel, Tuhan menghukum mereka (Hakim-Hakim 20). Setelah orang Lewi itu memotong-motong gundiknya, dan mengirim potongan-potongan tersebut ke 12 suku Israel, maka gemparlah orang Israel. Kemudian berkumpullah orang Israel, dari ujung-ke-ujung, dan mereka maju berperang melawan suku Benyamin, yang merupakan saudara mereka sendiri. Tiga kali di dalam Hakim-Hakim 20 disebutkan bangsa Israel berperang dengan suku Lewi. Terakhir di dalam ayat ke 35, penulis memberikan penjelasan “TUHAN membuat suku Benyamin terpukul kalah oleh orang Israel, dan pada hari itu orang-orang Israel memusnahkan dari antara suku Benyamin dua puluh lima ribu seratus orang, semuanya orang-orang yang bersenjatakan pedang.”

Tetapi di balik hukuman Tuhan kepada suku Benyamin, ada sesuatu yang membingungkan sekaligus menarik. Sebelum orang Israel memukul kalah suku Benyamin (dalam Hakim-Hakim 20:35), dua kali mereka minta kepada Tuhan, dan dua kali Tuhan menjawab “majulah”, dan ternyata mereka kalah.  Apa yang kita boleh belajar dari hal ini? Mengapa Tuhan mengijinkan mereka kalah terlebih dahulu. Mengapa Tuhan sudah berkata “majulah”, tetapi tidak ada kemenangan di dalam bangsa Israel. 

Ini adalah jalan Tuhan yang misterius, ada hal-hal yang kita tidak mengerti di dalam mengikut Tuhan. Di dalam hidup sebagai anak-anak Tuhan, ada banyak messiness of live, ada banyak kebingungan, kekacauan, hal-hal yang tidak sesuai dengan pengertian kita akan Tuhan, ada banyak rencana kita yang gagal, ada banyak kerumitan di dalam hidup kita. Tetapi bagaimana di tengah-tengah segala kerumitan itu, kita boleh tetap mengikut Tuhan. Sebagai contoh adalah apa yang ditulis oleh Soren Abby Kieekegard di dalam bukunya “Fear and Trembling”: bagaimana Tuhan yang sudah berkata bahwa melalui Ishak Dia akan memberikan suatu bangsa yang besar kepada Abraham, namun Dia menyuruh Abraham untuk membunuh Ishak. Bukankah itu akan menghancurkan rencana Tuhan sendiri? Ini adalah kontradiksi yang mewakili hidup orang-orang Kristen.

Di dalam hidup kita mengikut Tuhan, ada hal-hal yang kita tidak mengerti. Kita mencoba untuk setia, tetapi sepertinya tidak ada pertolongan dari Tuhan. Pada tahun 1921, (1) ada dua pasang suami-istri dari Swedia, David dengan Svea Flood, dan Joel dengan Bertha Erickson, menjawab panggilan Tuhan untuk mengabarkan Injil di Belgian Congo (Zaire). Mereka pergi dan masuk ke hutan untuk memberitakan Injil. Akhirnya mereka sampai ke suatu desa, tetapi mereka langsung tidak diterima. Mereka dilarang masuk dan tinggal di pinggir hutan di dekat desa itu. Berbulan-bulan kemudian mereka mulai merasa kesepian, kekurangan makanan. David dan Svea membawa anaknya yang berumur 2 tahun. Keluarga Ericson tidak tahan dan kembali ke kota. Sebaliknya David terus tinggal di situ. Istri David kemudian hamil, namun kena penyakit malaria. Ditengah segala kesulitan mereka, ada satu anak kecil yang mau mendengarkan Injil dari mereka. Istrinya kemudian melahirkan anaknya, namun istrinya kemudian meninggal. Anak yang baru dilahirkan selamat diberi nama Aggie. David kemudian berseru kepada Tuhan, mengapa Tuhan mengijinkan ini terjadi, mengapa Tuhan membiarkan istrinya meninggal, dan tidak ada satupun orang yang bertobat melalui pelayanan mereka, kecuali satu anak kecil itu. Maka dia kecewa sekali, dia bawa kedua anaknya, dan menyerahkan Aggie ke keluarga Ericson. Dia balik ke Swedia dengan anaknya yang besar, dan menjadi orang yang pahit dan kecewa kepada Tuhan. Aggie kemudian diasuh dan dibawa ke Amerika, dan kemudian menikah dengan Dewey Hurst. Dia mencoba pergi ke Swedia untuk mencari ayahnya. Ketika sedang transit di London, dia mampir ke suatu KKR, mendengarkan seorang pendeta kulit hitam. Pendeta tersebut menceritakan Tuhan sedang melakukan perkara yang besar di Zaire, bagaimana ratusan ribu orang menjadi Kristen, ada pos pengabaran Injil, ada rumah sakit dlsb. Setelah selesai Aggie bertanya apakah pendeta tersebut mengenal David and Svea Flood, secara mengagetkan Pendeta tersebut menjawab “saya adalah anak kecil yang mendengar berita Firman dari David dan Svea”.  Aggie kaget sekali, dan dia senang sekali. Akhirnya Aggie menemukan ayahnya di Swedia; ayahnya hidup  penuh dengan botol-botol alkohol. Maka Aggie memeluk ayahnya, dan berkata “aku adalah si kecil yang engkau tinggalkan di Afrika”. Ayahnya sedih sekali dan berkata “saya tidak bermaksud meninggalkan kamu, saya melakukannya dengan sangat terpaksa karena saya tidak sanggup merawatmu.” Aggie kemudian berkata “Tidak apa-apa ayah, karena Tuhan sudah memelihara saya sampai hari ini.” Langsung ayahnya marah “Tuhan tidak memelihara kamu, Tuhan tidak memelihara keluarga kita, Tuhan membiarkan ibumu mati waktu melahirkan kamu”. Aggie kemudian menceritakan perjalanan dia di London bertemu dengan pendeta kulit hitam tersebut, bahwa pendeta tersebut adalah anak kecil yang selalu mendengarkan ayahnya dulu, dan Tuhan tidak sia-siakan apa yang kamu kerjakan. Tuhan beranugerah kepada ayahnya dan ayahnya bertobat dan kembali kepada Tuhan.  Ini adalah kisah nyata yang membuat kita mengerti mengapa Tuhan berkata kepada orang Israel maju dua kali, dan mereka kalah. Banyak hal yang dapat membuat kita kecewa dan sedih, tetapi biarlah kita mengerti ultimately Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Kepada suku Benyamin sekalipun, walaupun 25100 orang Benyamin dibinasakan, perempuan-perempuan mereka juga dibunuh, maka sebenarnya Tuhan tidak meninggalkan mereka.  Di dalam Hakim-Hakim 20:27-28, “Dan orang-orang Israel bertanya kepada TUHAN--pada waktu itu ada di sana tabut perjanjian Allah, dan Pinehas bin Eleazar bin Harun menjadi imam Allah pada waktu itu--kata mereka: "Haruskah kami maju sekali lagi untuk berperang melawan bani Benyamin, saudara kami itu, atau haruskah kami hentikan itu?" Jawab TUHAN: "Majulah, sebab besok Aku akan menyerahkan mereka ke dalam tanganmu."  Ini adalah pertanyaan mereka yang ketiga kali, setelah 2 kali gagal, kalah dalam peperangan.

Dikatakan disini “--pada waktu itu ada di sana tabut perjanjian Allah, dan Pinehas bin Eleazar bin Harun menjadi imam Allah pada waktu itu--”, ini adalah suatu clue Teologi yang penting sekali bagi kitab Hakim-Hakim. Ada tabut Allah di situ, ada imam, yang melalui imam itu, bangsa Israel mengetahui pimpinan Tuhan. Ini berarti, kitab Hakim-Hakim mau menunjukkan bahwa meskipun bangsa Benyamin berdosa, meskipun bangsa Israel mengalami kekalahan dalam peperangan, Tuhan ultimately tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya.

Mazmur 103:8-10 mengatakan “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,” Selanjutnya Mazmur 103:17-18 mengatakan “Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.”

Setelah membaca Hakim-Hakim 20-21, kita melihat the miracle dari bagian ini: meskipun umat Tuhan berdosa, melakukan kejahatan yang keji, tetapi Tuhan menarik mereka kembali. Tuhan menghukum mereka, Tuhan mendisiplin mereka, itupun karena Tuhan mengasihi mereka. Supaya mereka sadar bahwa mereka sudah bersalah. Ultimately Tuhan menyatakan janji-Nya, bahwa Dia akan memberikan seorang raja yang takut akan Tuhan, raja yang akan memimpin bangsa Israel di dalam kebenaran dan melakukan dengan bebas apa yang menjadi kehendak Yahwe.

Ketika kita membaca seluruh Alkitab maka kita tahu, bahwa itupun bukan final, karena umat Tuhan terus gagal lagi, terus jatuh lagi di dalam dosa. Sampai akhirnya Tuhan mengirimkan Raja yang diurapi, yaitu Yesus Kristus, yang menjadi Raja kita. Ini adalah suatu miracle, Raja yang mulia itu akhirnya datang ke tengah-tengah dunia yang berdosa. Seperti miracle di dalam kitab Hakim-Hakim, bagaimana Allah tidak meninggalkan umat-Nya, ada tabut-perjanjian dan imam di tengah-tengah mereka, untuk memberitakan Firman, untuk membawa umat-Nya untuk mengenal kehendak Tuhan.  Ini menjadi penghiburan yang besar bagi kita sekalian. Ini adalah anugerah Tuhan yang besar, yang tidak melakukan kepada kita setimpal dengan dosa kita, yang tidak membalaskan kepada kita setimpal dengan kesalahan kita. Tetapi Dia hadir, memimpin, membawa kita kembali kepada-Nya.

Biarlah kali ini kita yang sudah menerima Kristus, sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, kita boleh taat kepada-Nya, kita boleh bersyukur kepada-Nya. Meskipun kita seringkali berdosa, tidak taat kepadanya, tidak memperTuhankan Kristus di dalam hati kita; biarlah kita boleh mendengarkan cerita ini, bukan dengan take-for-granted atas segala kebaikan, kasih dan pengorbanan-Nya. Tetapi biarlah cerita ini mendorong kita untuk digerakkan hati kita, bahwa Dia tidak membalaskannya kepada kita, namun menimpakan segala dosa kita kepada Kristus di atas kayu salib. Kristus menjadi Juruselamat kita, menjadi Tuhan kita, yang memimpin seluruh hidup kita. Sehingga kita boleh berkata seperti Paulus katakan (Gal 2:20) “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Biarlah apa yang kita hidupi, bagaimana kita mengatur hidup kita, kita boleh lakukan dengan meresponi seluruh pimpinan Tuhan di dalam hidup kita.

1)     http://www.tscpulpitseries.org/english/1990s/ts980216.html

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya