Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Mengenal Tuhan yang Sejati

Ibadah

Mengenal Tuhan yang Sejati

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 8 Mei 2016

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 17-18

Kita telah banyak membaca bagian-bagian sebelumnya dari kitab Hakim-Hakim, namun ketika kita sampai pada bacaan Hakim-Hakim pasal 17 dan diteruskan sampai pasal 21 yang terakhir, maka sekilas kita akan merasakan perbedaan dengan bagian-bagian sebelumnya dimana terdapat bagian-bagian yang membingungkan, aneh,  tidak jelas maksudnya serta kadangkala tidak tahu apa yang mau disampaikan oleh bagian tersebut.

Secara sekilas, dalam pasal 17 ini,  tidak  lagi diceritakan bangsa Israel berbuat jahat yang melawan Tuhan. Juga di di bagian ini, tidak ada kisah penindasan yang dialami oleh bangsa Israel.  Dan sesungguhnya di bagian ini,  tidak ada lagi hakim yang memimpin bangsa Israel. Dalam kitab Hakim-hakim, Simson merupakan hakim yang terakhir atas bangsa Israel.

Jika kita ingin menyelidiki lebih dalam, maka pasal 17-21 ini merupakan bagian besar ketiga kitab Hakim-Hakim sekaligus merupakan bagian terakhir dari kitab Hakim-Hakim. Dimana pasal 3 sampai pasal 16 merupakan bagian besar kedua yang berjudul Yahwe yang sangat sabar (long suffering Yahwe) yang menyelamatkan umat Israel. Jika kita ingin menyelidiki lebih lanjut, maka kita akan memperoleh sesuatu yang unik dari bagian terakhir ini walaupun bagian ini sangat jarang atau hampir tidak pernah dikhotbahkah.  Bagian terakhir ini dibilang aneh, membingungkan dan tidak jelas karena hampir seluruh isinya bersifat deskriptif. Penulis bagian ini hanya menceritakan apa yang terjadi, tidak ada penilaian dari penulis kitab maupun penilaian dari Tuhan.

Jika kita membaca perjanjian lama, kita harus tahu membedakan, mana merupakan penilaian penulis kitab dan mana merupakan perkataan dari Tuhan. Misalnya sebelumnya, ada beberapa kali dalam kisah Simon dikatakan “bahwa roh Tuhan berkuasa atas Simson”. Maka perkataan tersebut merupakan penjelasan dari si penulis kitab Hakim-Hakim ini. Kita percaya akan kebenaran perkataan penulis ini karena penulis tersebut diinspirasi oleh Roh Kudus.   Dalam pasal 17 dan 18, tidak ada penilaian penulis atau perkataan Tuhan. Kata “Tuhan” atau “Yahwe” yang ada di dalam kitab tersebut merupakan kata yang disebut oleh orang-orang atau tokoh-tokoh di dalam kisah tersebut.  Jadi itu bukan perkataan dari penulis maupun perkataan dari Tuhan sendiri. Misalnya yang terdapat dalam kitab Hakim-Hakim 17:3 “Sesudah itu dikembalikannyalah uang perak yang seribu seratus itu kepada ibunya. Tetapi ibunya berkata: "Aku mau menguduskan uang itu bagi TUHAN, aku menyerahkannya untuk anakku, supaya dibuat patung pahatan dan patung tuangan dari pada uang itu. Maka sekarang, uang itu kukembalikan kepadamu.". Atau kita juga bisa membaca dari kitab Hakim-Hakim 17:13 “Lalu kata Mikha: "Sekarang tahulah aku, bahwa TUHAN akan berbuat baik kepadaku, karena ada seorang Lewi menjadi imamku.".   Kata “TUHAN” yang terdapat di kitab Hakim-Hakim 17:13 dikatakan  oleh Mikha sedangkan kata “TUHAN” yang terdapat di kitab Hakim-Hakim 17:3 dikatakan oleh ibunya Mikha. Maksud yang kurang jelas, aneh dan membingungkan itu dapat kita baca dari kalimat yang disampaikan oleh tokoh (ibu Mikha) dalam kitab Hakim-Hakim 17: 3, dimana dia berkeinginan  mengkuduskan uang bagi Tuhan, lalu uang tersebut dipakai untuk membuat patung tuangan dan patung pahatan, yang kemudian patung itu disembah oleh Mikha. Jika kata “TUHAN” yang bukan diucapkan oleh penulis kitab atau bukan merupakan perkataan dari Tuhan sendiri, maka kita harus bertanya, apakah kata “TUHAN” yang dimaksud tokoh tersebut (ibu Mikha) merupakan Tuhan yang sejati? Apakah mereka benar-benar mengkuduskan uang itu bagi Tuhan? Apakah Tuhan yang disebut tersebut benar-benar memberkati mereka? Apakah boleh Tuhan dibuat dalam bentuk patung lalu disembah?

Apabila kita perhatikan lebih teliti bagian terakhir ini, sebenarnya ada petunjuk-petunjuk yang cukup jelas tentang maksud dan tujuan kisah ini dituliskan dan diceritakan kepada kita. Jika bagian ini merupakan kanon yang dimasukkan sebagai bagian dari alkitab, tentu ada maksud dan tujuannya.  Terlebih dulu, kita harus memahami bagaimana penulis menceritakan kisah tersebut. 

Petunjuk pertama, dapat kita baca dari kitab Hakim-Hakim khususnya pasal 17: 6 “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri”. Pasal ini merupakan kunci yang menjelaskan seluruh kisah dari pasal 17 sampai 21 bahwa  pada masa itu, setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.

Petunjuk kedua, dapat kita baca dari kitab Hakim-Hakim pasal 17:3 dimana Ibunya Mikha mengatakan bahwa ia akan menguduskan uang itu bagi TUHAN, tetapi sesungguhnya uang untuk mengkuduskan Tuhan tersebut dipakai untuk membuat patung tuangan dan patung pahatan. Dia telah berbuat sesuatu yang jelas-jelas telah dilarang oleh Tuhan sendiri di dalam alkitab, persisnya terdapat dalam Ulangan 27:15 “Terkutuklah orang yang membuat patung pahatan atau patung tuangan, suatu kekejian bagi TUHAN (Yahwe)”.  Sehingga kita perlu bertanya, apakah yang disebut oleh ibu Mikha itu benar-benar Tuhan yang sejati? Setelah kita mengetahui penjelasan ini, maka kita tahu bahwa yang dimaksud “TUHAN” oleh ibu Mikha itu bukankan TUHAN (Yahwe) yang sejati. Kata “TUHAN” yang dikatakan oleh ibu Mikha atau Mikha di pasal 17 itu  jelas-jelas merupakan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang diperintahkan Tuhan dalam alkitab. 

Petunjuk yang ketiga, bisa kita baca kisah orang Lewi yang terdapat dalam kitab Hakim-Hakim 17: 7-13 “7. Maka ada seorang muda dari Betlehem-Yehuda, dari kaum Yehuda; ia seorang Lewi dan tinggal di sana sebagai pendatang. 8. Lalu orang itu keluar dari kota Betlehem-Yehuda untuk menetap sebagai pendatang di mana saja ia mendapat tempat; dan dalam perjalanannya itu sampailah ia ke pegunungan Efraim di rumah Mikha. 9. Bertanyalah Mikha kepadanya: "Engkau dari mana?" Jawabnya kepadanya: "Aku orang Lewi dari Betlehem-Yehuda, dan aku pergi untuk menetap sebagai pendatang di mana saja aku mendapat tempat." 10. Lalu kata Mikha kepadanya: "Tinggallah padaku dan jadilah bapak dan imam bagiku; maka setiap tahun aku akan memberikan kepadamu sepuluh uang perak, sepasang pakaian serta makananmu." 11. Orang Lewi itu setuju untuk tinggal padanya. Maka orang muda itu menjadi seperti salah seorang anaknya sendiri. 12. Mikha mentahbiskan orang Lewi itu; orang muda itu menjadi imamnya dan diam di rumah Mikha. 13. Lalu kata Mikha: "Sekarang tahulah aku, bahwa TUHAN akan berbuat baik kepadaku, karena ada seorang Lewi menjadi imamku.".  Jika kisah orang Lewi ini dilanjutkan sampai pasal 18: 19-20 “19. Tetapi jawab mereka (orang suku Dan) kepadanya (orang Lewi): "Diamlah, tutup mulut, ikutlah kami dan jadilah bapak dan imam kami. Apakah yang lebih baik bagimu: menjadi imam untuk seisi rumah satu orang atau menjadi imam untuk suatu suku dan kaum di antara orang Israel?" 20. Maka gembiralah hati imam itu, diambilnyalah efod, terafim dan patung pahatan itu, lalu masuk ke tengah-tengah orang banyak”. Bila kita baca kisah ini secara lengkap pasal 17: 7-13 dan pasal 18: 1-20, maka kita akan mengetahui bahwa orang Lewi ini merupakan imam bayaran atau orang yang aji mumpung dimana dia akan bekerja atau mengabdi kepada orang yang yang memberi keuntungan lebih baik kepadanya. Dengan gaya Sarkasme, penulis menceritakan kisah orang Lewi ini. 

Petunjuk keempat, jika kita menyelidiki lebih dalam, siapakah yang sesungguhnya disembah oleh imam Lewi ini? Ia menyembah patung, Allah yang dibuat Mikha. Ketika  efod, terafim dan patung pahatan Mikha itu dibawa pergi oleh suku Ban, maka Mikha mengejar mereka dan berkata dalam pasal 18:24 “Allahku yang kubuat serta imam juga kamu ambil, lalu kamu pergi. Apakah lagi yang masih tinggal padaku?”. Perkataan ini menjadi kalimat yang kontradiksi, ketika Mikha berkata “Allahku yang kubuat”.  Sekali lagi gaya sarkasme dipakai  oleh penulis disini, bagaimana engkau menyembah Tuhan yang engkau buat sendiri? Hal ini juga menjadi kritik dan refleksi kepada orang-orang yang hidup saat ini, dimana banyak orang menyembah Allah yang mereka buat sendiri. Mereka menyembah kepada Allah yang diciptakan menurut gambar dan rupa manusia. Jika kita mengenal Allah yang dinyatakan alkitab, maka tidak mungkin Allah yang begitu agung itu mampu diciptakan menurut pikiran manusia. Tetapi begitulah yang diceritakan dalam kitab Hakim-Hakim pasal 17 dan 18, dimana mereka menyembah Allah yang mereka ciptakan sendiri.

Melalui keempat petunjuk itu, apa sebenarnya apa yang ingin digambarkan penulis, serta apa yang mau diajarkan kepada kita. Sang penulis ingin menggambarkan kekacauan bangsa Israel dimana walaupun mereka merupakan umat yang beragama namun mereka memiliki kehidupan beragama yang palsu. Ini merupakan kekacauan yang sangat berbahaya sekali.

Ada beberapa hal yang boleh kita renungkan bersama-sama apa yang diajarkan di bagian ini. Mereka berkali kali menggunakan kata “Yahwe”, kata ini hanya keluar dari mulut orang-orang ini tapi sesungguhnya mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan karakter yang ada di dalam diri Yahwe itu sendiri. Hal ini juga menjadi peringatan bagi kita yang seringkali memakai kata-kata “Kristen”, namun kita tidak pernah menyatakan kehidupan kekeristenan yang Tuhan ajarkan kepada kita didalam firmanNya.  Hal yang seperti ini bisa kita baca ketika Yesus berinteraksi dengan murid-muridnya  dalam Matius 16: 15-23, “15. Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" 16. Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" 17. Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. 18. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. 19. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." 20. Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias. 21. Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga”. Petrus sudah benar mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Dia adalah Anak Allah yang hidup. Namun pengertian Petrus salah ketika ia tidak bisa menerima penjelasan Yesus yang mengatakan bahwa Mesias itu harus menanggung penderitaan, dibunuh dan dibangkitkan. Pada ayat 22 ditulis, “Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Petrus tidak dapat menerima penjelasan Yesus karena di dalam pikiran Petrus, Mesias seharusnya berkuasa atas segala sesuatu, tidak dapat dikalahkan apalagi dibunuh.  Lalu reaksi Yesus terhadap petrus pada ayat 23, “Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia”.  

Melalui kejadian ini, kita tahu bahwa Petrus tahu istilah bahwa  Yesus itu Mesias, Anak Allah yang hidup, namun dia memiliki pengertian yang salah sama sekali tentang arti Mesias yang sejati sehingga Yesus menegurnya. Dan hal ini juga terjadi di kitab Hakim-Hakim 17-18 dimana orang-orang selalu memakai kata “TUHAN (Yahwe)”, tetapi memiliki pengertian yang salah tentang Yahwe yang sejati. Tuhan berkata, tidak semua orang yang menyebut nama Tuhan, Tuhan, Tuhan akan masuk ke dalam kerajaan surga tapi mereka yang melakukan kehendakKu dan sungguh-sungguh mengenal Aku. Karena di akhir zaman nanti, ada orang-orang berteriak, “Tuhan, Tuhan, bukankah aku sudah berbuat mukjizat  demi namaMu? Bukankah aku sudah mengusir setan demi namaMu? Bukankah aku sudah banyak menyembuhkan orang demi namaMu?”. Dan Tuhan akan berkata kepada mereka, “Enyahlah kamu semua, pembuat kejahatan. Aku tidak pernah mengenal engkau”. Bukannya mereka melakukan kebaikan, namun mereka sedang melakukan kejahatan di mata Tuhan karena mereka memakai kata “Tuhan”, memakai nama “Kristen”, memakai istilah-istilah Kristen, yang luarnya seperti orang Kristen, tetapi sesungguhnya mereka tidak pernah betul-betul mengenal siapa Tuhan itu. Dan itu tentunya sangat berbahaya sekali. Tidak semua gereja sama. Boleh saja mereka memakai salib, boleh saja mereka memakai alkitab, boleh saja mereka memakai istilah-istilah Kristen, boleh saja mereka seolah-olah memberitakan alkitab, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh mengenal arti Tuhan yang sejati. Yang lebih berbahaya lagi ialah jika orang-orang atau gereja-gereja yang selalu memakai istilah-istilah “Kristen” atau “Tuhan (Yahwe)” itu kelihatan tambah hebat, tambah maju, tambah berkembang dan berhasil.

Karena tampak luar keberhasilan yang demikian, mampu menjadi daya tarik untuk mempengaruhi orang lain untuk datang dan percaya. Hal ini dapat dilihat dari kisah Mikha yang usahanya begitu lancar dan berhasil yang diceritakan dalam kitab Hakim-Hakim 17: 1-12, sampai dia berkata dalam ayat 13: "Sekarang tahulah aku, bahwa TUHAN akan berbuat baik kepadaku, karena ada seorang Lewi menjadi imamku”. Kita tahu yang dimaksud “TUHAN” oleh Mikha tidak lain ialah patung tuangan dan patung pahatan. Dia menganggap patung itu memiliki kekuatan memberkati usahanya. Dari cerita selanjutnya kita mengetahui bahwa imam Lewi beserta patung-patung ini berpindah dari Mikha ke suku Ban. Bila kita membaca kitab Hakim-Hakim 18: 5, ketika suku Dan berkata kepada imam Lewi itu “Tanyakanlah kiranya kepada Allah, supaya kami ketahui apakah perjalanan yang kami tempuh ini akan berhasil." Dan kata imam itu di ayat 6  "Pergilah dengan selamat! Perjalanan yang kamu tempuh itu dipandang baik oleh TUHAN”. Singkat cerita, akhirnya suku Dan dalam perjalanannya berhasil memenangkan peperangan dan menguasai kota itu. Sehingga bisa saja mereka semakin percaya  kepada “Allah” atau “TUHAN” imam Lewi itu. Kata “Allah” dan “Tuhan” yang dimaksud disini, tidak lain ialah “Allah” dan “TUHAN” buatan Mikha yaitu patung tuangan dan patung pahatan yang jelas-jelas dilarang Tuhan yang sejati. Kalau kita mengambil inti cerita ini, jelas-jelas kehidupan beragama kita akan lebih berbahaya karena tampaknya ada konfirmasi-konfirmasi keberhasilan secara luar walaupun mereka menyembah Tuhan yang palsu. 

Di dalam hidup kita pribadi, juga kehidupan kita di gereja, jangan kita menipu kita sendiri dengan hal-hal yang kelihatan sukses dari luar. Dan kemudian langsung menganggap bahwa ini adalah pimpinan dan kehendak Tuhan. Kita harus hati-hati menilai hidup kita, Seringkali kita memiliki karir bagus, gaji besar, nilai ujian tinggi, bisnis berkembang, ditambah dengan kita ikut pelayanan, maka mulut kita langsung mengatakan  bahwa hidup kita pasti berkenan, diberkati dan dipimpin oleh Tuhan. Tetapi di dalam hati kita, kita percaya dan mengatakan sebaliknya dimana seluruh keberhasilan yang diraih itu merupakan perjuangan, kerja keras, kehebatan dan kepintaran kita. Kita tidak pernah sungguh-sungguh percaya bahwa  segala hal yang baik yang kita terima itu sesungguhnya merupakan pemberian Allah – Sumber usegala Kebaikan. Sebagai orang Kristen, kita harus berdoa dan bergumul serta selalu menguji diri, apakah pelayananku, hidupku, pekerjaanku, pikiranku, rencanaku telah sesuai dengan kehendak dan untuk kemulian Tuhan? Kita harus sungguh-sungguh tunduk kepada Tuhan agar Dia yang berkuasa atas hidup kita, Dia yang memimpin hidup kita, Dia yang menuntun kita kembali apabila kita berjalan di jalan serong. Hanya Dia satu-satunya Allah yang sejati yang patut dipuji, disembah, dilayani dan dimuliakan. Akan sangat berbahaya sekali apabila kehidupan kita yang tidak sungguh-sungguh di hadapan Tuhan, lalu kemudian berhasil yang tampak secara luar oleh manusia.

Kebahayaan yang dilakukan oleh ibunya Mikha, Mikha dan orang Lewi ini, secara khusus dapat disebut sebagai sinkretisme. Sinkretisme ialah the melting pot of religion (agama yang menggabungkan apa saja). Agama yang mencoba menggabungkan dan mencopot ajaran yang dianggap “baik” dari Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Islam dan lain sebagainya.  Penganut sinkretisme ini, sesungguhnya bertindak seolah-olah dialah Tuhan karena dia yang menentukan mana yang “baik” dari setiap ajaran menurut kemauan dan pikirannya sendiri.  Dia menjadi Allah atau raja atas agamanya sendiri. Penulis kitab mengatakan dua kali, dalam kitab Hakim-Hakim 17:6 dan 18:1, kenapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya ialah pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel sehingga setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Penulis berpikir dan ingin mengatakan seandainya ada seorang raja atau pemimpin yang diurapi oleh Tuhan, maka raja ini akan menghentikan sinkretisme yang non sense ini. Tetapi ironisnya,  kita anak-anak Tuhan yang sesungguhnya memiliki Raja di atas segala raja, tetapi kita tidak merajakan dan memuliakan Dia di dalam hidup kita. Kita tetap mengatur hidup kita sesuai dengan keinginan kita sendiri. Kita tidak pernah sungguh-sungguh menyerahkan seluruh kehidupan kita kepada Tuhan. Mohon Tuhan berkuasa dan menjadi raja atas hidup kita, yang mengatur hidup kita, yang memberi kekuatan dan kebijaksanaan kepada kita, mendorong kita agar selalu taat kepada-Nya, bukan kehendak kita tetapi kehendak-Mu yang jadi. 

CS Lewis dalam bukunya yang berjudul Mere Christianity mengatakan bahwa jika ada orang yang hanya menghormati dan menghargai Yesus sebagai guru yang baik, tetapi tidak sebagai Tuhan, maka itu tidak masuk akal. Alkitab tidak pernah dan tidak mungkin membuka kesempatan seperti itu. Apa yang ada di pikiran kita, jika ada seorang guru yang pengajaran begitu bagus, pengajaran yang begitu indah, yang pengajarannya membuat kita terpesona, lalu Ia berkata “Jika engkau tidak mengasihi aku lebih dari ayahmu, dari Ibumu, dari pacarmu, dari istrimu, dari suamimu, dari anakmu, dari orang yang terdekat denganmu, maka engkau tidak layak menjadi muridKu”.  Menurut CS Lewis, hanya ada 2 pilihan jawaban di pikiran kita, orang itu gila atau dia benar-benar Tuhan karena ia menuntut kita untuk menyerahkan diri dan tunduk kepadanya, dia menyamakan dirinya dengan Allah. Hal ini yang dibenci dan tidak dapat diterima orang Israel ketika Yesus menyamakan dirinya dengan Tuhan karena pernyataan Yesus itu merupakan penghujatan terbesar untuk umat manusia. Jika jawaban kita Yesus adalah Tuhan, maka kita harus sungguh-sungguh berserah diri kepadaNya, membiarkan Dia berkuasa atas hidup kita, menjadi Raja yang memimpin hidup kita agar kita selalu taat akan firmanNya, melaksanakan perintah dan kehendakNya untuk kemuliaan namaNya.  

Ringkasan oleh Budi Walujo | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya