Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Siapa yang Mengatur Hidupmu?

Ibadah

Siapa yang Mengatur Hidupmu?

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 1 Mei 2016

Bacaan Alkitab: Hakim-hakim 16:4-6;15-31

Hakim-Hakim pasal 15 menceritakan Simson yang berdoa kepada Tuhan dalam kehausan, Simson begitu lemah dan berseru kepada Tuhan, dan Tuhan menolongnya. Tetapi di dalam Hakim-Hakim pasal 16, kita melihat kebalikannya, ada kontras antara pasal 15 dan pasal 16. Pada pasal 16, Simson sebaliknya merasa kuat, dan tidak memerlukan Tuhan. Selanjutnya kita melihat dalam Hakim-Hakim 16:20, yang mengatakan bahwa Tuhan sudah meninggalkannya.

Kalau kita mempelajari pasal 15, disitu ditulis 3 kali Roh Tuhan berkuasa atas Simson. Tetapi kalau kita baca pasal 16:1-21, maka tidak ada sekalipun Roh Tuhan disebutkan di situ.

Kita akan melihat apa yang terjadi di dalam pasal 16 dengan lebih detil. Di situ kita lihat Simson sedang pergi ke pelacur, dan kemudian dia jatuh cinta dengan Delilah, dengan cinta buta, yang kemudian memang membuat Simson buta, dicungkil matanya. Bagi anak-anak muda, yang cinta buta, bukan cinta-nya yang buta, tetapi orangnya yang “buta”, tidak peduli nasihat apapun, pokoknya aku ingin bersama dengan dia, dan itu menjadi kebutaan yang berbahaya. Seharusnya saat pacaran, kita harus membuka mata selebar-lebarnya, melihat sejelas-jelasnya siapa calon pasangan kita. Sebaliknya sesudah menikah baru kita tutup mata tidak boleh mencari yang lain.

Sebelum mata Simson benar-benar buta, kita lihat Simson dan Delila bermain-main dengan penuh kesenangan, penuh dengan percabulan, seks, tawa dlsb. Di dalam kesenangan itu, mereka bermain main dengan permainan “orang Filistin menyergap”. Tiga kali Simson mempermainkan orang Filistin untuk menangkapnya namun Simson menipu mereka dan menghabisi orang Filistin yang mau menangkap dia. Simson berkata (Hakim-Hakim 16:11) “Jika aku diikat erat-erat dengan tali baru, yang belum terpakai untuk pekerjaan apapun, maka aku akan menjadi lemah dan menjadi seperti orang lain manapun juga.” Lalu diikatnyalah Simson dengan tali yang sedemikian, dan Delila berkata “Simson orang Filistin menyergap”, namun Simson memutuskan tali itu, dan membunuh orang Filistin yang mau menangkapnya. Tiga kali Simson melakukan hal seperti ini. Sampai akhirnya Delila berhari-hari merengek-rengek, memaksa Simson untuk memberitahu apa rahasia kekuatannya, dan Simson akhirnya “ia tidak dapat lagi menahan hati, sehingga ia mau mati rasanya. “ (Hakim-Hakim 16:16).

Dulu di Indonesia, untuk mengadakan KKR, kita harus meminta ijin, terutama dari pihak kepolisian. Ijin itu biasanya dikeluarkan pada saat-saat terakhir, tergantung dari kondisi terakhir. Ada seorang hamba Tuhan yang selalu mengurus ijinnya, dia terus duduk di depan kantor polisi dari pagi-pagi, sampai polisi bosan dan kemudian memberikan ijin KKR. Seperti inilah ketekunan Delila, tetapi ketekunan Delila adalah untuk sesuatu yang jahat. Akhirnya Simson seperti mau mati rasanya mendengar rengekan Delila. Kali ini Simson benar-benar memberitahu rahasia kekuatannya yaitu pada rambutnya, dan Delila tahu sekali bahwa Simson kali ini tidak bermain-main. Kemudian Delila memberitahukan kepada orang-orang Filisting, dan mereka mencukur rambut Simson.

Kekuatan Simson sebenarnya bukan di rambutnya, tetapi dari Allah sendiri. Rambut ini hanya sebagai tanda penyertaan Tuhan bagi Simson. Waktu sudah dicukur rambutnya, Simson masih berpikir ini adalah seperti permainan-permainan sebelumnya, dia masih beranggapan bahwa dia akan dapat menghancurkan orang Filisting dengan mudahnya. Tetap kali ini Allah sudah meninggalkan Simson, dan dia tidak bisa melepaskan ikatan itu. “Tetapi tidaklah diketahuinya, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia” (Hakim-Hakim 16:20). Ini menjadi suatu yang tragis dari hamba Tuhan kalau Tuhan sudah meninggalkan dia.

Kalau kita membaca kisah Simson, ini adalah ketiga kalinya disebutkan “tidaklah diketahui”. Yang pertama adalah Manoah (ayah Simson) di dalam pasal 13 mengatakan bahwa dia tidak mengetahui dia telah berbicara dengan malaikat Tuhan. Yang kedua adalah ketika Simson datang dan meminta orangtuanya menyetujui untuk mengambil istri orang Filistin, (Hakim-Hakim 14:4) “Tetapi ayahnya dan ibunya tidak tahu bahwa hal itu dari pada TUHAN asalnya: sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin. “. Yang ketiga adalah di bagian ini bahwa (Hakim-Hakim 16:20) “Tetapi tidaklah diketahuinya, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia.”

Apa yang kita “tidak ketahui”? Kalau kita tidak mengetahui hal yang paling penting, maka celakalah hidup kita. Ini adalah hal yang begitu parah dalam cerita Simson dan Delila. Simson tidak mengetahui bahwa Tuhan sudah meninggalkan dia. Tuhan adalah aktor utama dalam hidup Simson, tetapi hal yang paling penting itu dia tidak tahu, dan kali ini dia tidak tahu bahwa Tuhan sudah meninggalkan dia. Kita perlu sekali mengetahui hal-hal yg paling penting di dalam hidup kita. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui, namun itu tidak apa-apa kalau hal-hal itu tidak penting.

Apakah kita mengenal Tuhan yang kita sembah? Apakah kita mengetahui bahwa kita adalah anak Tuhan? Apakah kita mengetahui bahwa hidup yang kita jalani sekarang adalah hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan? Apakah kita mengetahui dengan pasti bahwa Tuhan menyertai hidup kita, apakah kita mengetahui isi hati, rencana dan kehendak Tuhan yang Dia nyatakan dalam Firman-Nya yang Dia inginkan kita jalani dan hidupi? Apakah kita mengetahui dan percaya bahwa itu adalah yang terbaik bagi hidup kita? Menjadi berbahaya sekali jika kita tidak mengetahui hal hal yang sedemikian. Kalau tidak, kita bisa seperti Simson, yang ketika ditinggalkan oleh Tuhan, kita tidak tahu.

Kehidupan Simson ditulis sebagai miniature kehidupan Israel, sekaligus miniatur dari kehidupan umat Tuhan saat ini. Inilah yang sudah Tuhan kerjakan bagi bangsa Israel. Tuhan telah mengangkat bangsa Israel menjadi bangsa yang besar dari nothing, bangsa yang saat itu adalah bangsa yang kecil. Tuhan telah memberi berbagai anugerah kepada bangsa Israel. Tuhan telah memimpin Israel, tetapi Israel menganggap semuanya itu adalah hak mereka, dan take it for granted. Mereka kemudian mulai bermain-main dengan menyembah illah-illah yang lain. Israel adalah bangsa yang tidak menempatkan Tuhan sebagai yang terutama di dalam hidup mereka, dan tidak mengetahui akhirnya bahwa Tuhan meninggalkan mereka. Sama seperti Gereja Efesus yang meninggalkan kasih yang mula-mula (lihat Wahyu 2), dan tidak pernah sadar akan peringatan kalau mereka tidak bertobat dan kembali kepada kasihmu yang mula-mula, maka kaki dian itu akan diambil dari tengah-tengah mereka. “Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” (Wahyu 2:5). Kaki dian itu menyatakan penyertaan, kehadiran Tuhan yang khusus memberkati umat-Nya. Selanjutnya Tuhan betul-betul mengambil kaki-dian itu dari antara mereka, Efesus sekarang menjadi Turki, negara Islam.

Ini menjadi peringatan bagi kita. Biarlah hidup kita boleh sungguh-sungguh mengetahui hal-hal yang paling penting di dalam hidup kita. Segala anugerah, kebaikan-Nya, penyertaan-Nya, Firman-Nya, janganlah kita take it for granted, seolah-olah semuanya adalah hak kita. Janganlah kita tidak sadar bahwa Tuhan pasti meninggalkan umat-Nya, yang sudah tidak setia lagi kepada-Nya.

Alkitab mengajarkan (1 Petrus 3:15) “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan” yang menjadi sumber seluruh hidupmu. Francis Xavier mengatakan "if He is not the Lord of all, He is not the Lord at all." Artinya kalau Dia tidak sungguh-sungguh menjadi Tuhan dan dipermuliakan di dalam hidup kita, maka Dia bukanlah Tuhan sama sekali. Dia harus menjadi yang utama, harus menjadi Tuhan diseluruh hidup kita.

Saya mau bertanya, siapa yang mengatur hidupmu? Apakah orang-tua kita, atau diri kita sendiri? Bagaimana aku mengatur uangku, waktuku, pekerjaanku? Sadarkah kita bahwa Kristus adalah Tuhan bagi hidup kita? Aku ingin mentaati Engkau, kehendak-Mulah yang terbaik di dalam hidupku. Aku tidak dapat mengatur hidupku sesuai dengan keinginanku sendiri. Bahkan ketika mendengar Firman Tuhan, jangan kita kemudian menyaring, jangan kita menganggap diri dapat menilai akan Firman Tuhan, dan mulai menanggapi apa yang kita anggap baik, tetapi tidak mau menerima apa yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Firman yang diberitakan seharusnya menguasai seluruh hidup kita, seperti seorang anak kecil yang menerima Firman, haus akan Firman Tuhan. Firman Tuhan itu menguasai seluruh hidup kita, mengarahkan sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan. Bukan saya yang menjadi Tuhan, yang mengarahkan hidup kita sendiri. Apakah kita mempunyai sikap hati yang tunduk kepada Tuhan? Karena kalau tidak maka Dia bukan Tuhan sama sekali di dalam hidup kita.

Pak Tong pernah bercerita ketika dia masih kecil, dia bandel dan berantem dengan saudara-saudaranya, mamahnya pulang dan marah sekali. Semuanya diam, akhirnya mamahnya mengajak berdoa dan menyuruh mereka mengaku siapa yang memulai pertengkaran itu. Maka mamahnya memukul kaca sampai tangannya berdarah-darah, mereka mulai menangis dan mulai mengaku. Kemudian mamahnya mengatakan “Kalau kalian tidak taat sama mamah itu tidak apa-apa, tetapi kalau kalian tidak taat kepada Tuhan, kalian mau jadi apa ?”

Biarlah cerita hidup Simson menjadi peringatan bagi kita. Simson yang bermain-main dengan hidupnya, yang sudah menerima begitu banyak anugerah, kekuatan; tetapi kemudian dia menganggap semuanya itu adalah hal yang biasa, take-it-for-granted. Dia kemudian bermain-main melupakan Tuhan, mengatur hidupnya sesuai pikirannya sendiri. Dia kemudian kaget, ketika mengetahui bahwa Tuhan sudah meninggalkan dia. Dia ditangkap, dicungkil matanya, dibelenggu, diperbudak di penggilingan, disiksa bertahun-tahun, ditertawakan dan dihina, karena Tuhan sudah meninggalkan dia. Jangan kita menjadikan Tuhan sampingan di dalam hidup kita, karena Dia tidak akan membiarkan diri-Nya berada di samping. Dia tidak akan membiarkan diri-Nya bukan menjadi Tuhan di dalam hidup kita. Kita anak-anak-Nya, maka Dia ingin berkuasa atas hati kita, Dia akan terus bekerja dalam hidup kita untuk melakukan kehendak-Nya.

Ultimately, Tuhan tidak akan meninggalkan umat-Nya yg sejati. Kita melihat itu di dalam kisah Simson selanjutnya di mana orang Filistin mempermainkan Simson, dan kemudian Simson berdoa kepada Tuhan. (Hakim-Hakim 16:23-28) "Sesudah itu berkumpullah raja-raja kota orang Filistin untuk mengadakan perayaan korban sembelihan yang besar kepada Dagon, allah mereka, dan untuk bersukaria; kata mereka: "Telah diserahkan oleh allah kita ke dalam tangan kita Simson, musuh kita." Dan ketika orang banyak melihat Simson, mereka memuji allah mereka, sambil berseru: "Telah diserahkan oleh allah kita ke dalam tangan kita musuh kita, perusak tanah kita, dan yang membunuh banyak teman kita." Ketika hati mereka riang gembira, berkatalah mereka: Panggillah Simson untuk melawak bagi kita." Simson dipanggil dari penjara, lalu ia melawak di depan mereka, kemudian mereka menyuruh dia berdiri di antara tiang-tiang. Berkatalah Simson kepada anak yang menuntun dia: "Lepaskan aku dan biarkanlah aku meraba-raba tiang-tiang penyangga rumah ini, supaya aku dapat bersandar padanya." Adapun gedung itu penuh dengan laki-laki dan perempuan; segala raja kota orang Filistin ada di sana, dan di atas sotoh ada kira-kira tiga ribu orang laki-laki dan perempuan, yang menonton lawak Simson itu. Berserulah Simson kepada TUHAN, katanya: "Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin."”

Simson termasuk umat-Nya, walaupun dia sudah gagal, dia sudah berdosa, dan dia sudah tidak taat kepada Tuhannya. Tetapi sebagaimana kitab Ibrani (Ibrani 11:32), dia disebut sebagai umat Tuhan. Mengapa Tuhan tidak akan meninggalkan umat-Nya? Karena Tuhan tidak akan memberikan kemuliaan kepada yang lain. Yesaya berkata (Yesaya 48:11 NIV): “For my own sake, for my own sake, I do this. How can I let myself be defamed? I will not yield my glory to another.”

Tuhan tidak akan tinggal diam ketika Dagon dipuji, dan Dia akan melakukan sesuatu yang dahsyat, melalui umat-Nya yang sejati. Meskipun umat-Nya melawan Dia, tidak taat kepada-Nya, Tuhan tetap akan membangkitkan mereka. Kalau kita perhatikan apa yang terjadi di saat-saat terakhir pada kehidupan Simson. Tuhan bekerja di dalam hal-hal yang terjadi seolah-olah secara “natural”, tetapi sebenarnya semuanya terjadi di dalam rencana Tuhan. Ketika semua pemimpin-pemimpin Filistin, raja-raja mereka, jendral-jendral mereka berkumpul untuk mengolok-olok Simson dan Tuhan, dan untuk memuji-muji Dagon allah mereka, justru itu menjadi tempat yang sempurna untuk mematikan pemimpin2 Filistin. Seluruhnya terjadi di dalam pimpinan Tuhan yang sempurna. Ketika mereka berkumpul bersama-sama, Simson merobohkan tiang-tiang utama bangunan itu dan akhirnya kuil Dagon menjadi kuburan mereka semua.

Kita bisa melihat lebih detil akan doa Simson, kita bisa melihat hal yang paralel di dalam pasal 15 dan pasal 16, kedua pasal ini diakhiri dengan doa Simson, dalam kelemahan-nya, Simson berseru kepada Tuhan dan Tuhan menjawabnya. Di dalam pasal 15, Simson berdoa supaya dia tetap hidup, ketika hampir mati karena kehausan, namun di dalam pasal 16, dia berdoa supaya dia mati. Simson berdoa kepada Yahwe yang berkuasa atas hidup dan mati, Dia adalah Tuhan yang mendengar seruan umat-Nya. Yang menjadi kontrasnya, di dalam pasal 15 Simson berdoa di dalam kesulitan yang besar, sedangkan di dalam pasal 16 dia berdoa di dalam kegagalan yang besar.

Tuhan bahkan mendengar doa Simson yang gagal, yang lebih suka bermain-main dengan Delilah, yang tidak menghargai anugerah Tuhan. Tetapi bahkan di dalam keadaan Simson yang gagal total, Tuhan masih mendengarkan doa Simson, yang berteriak minta tolong dan menyadari dosanya. Tuhan bukan hanya mendengar doa umat-Nya yang sedang mempunyai kebutuhan yang besar, tetapi Tuhan bahkan mendengarkan doa umat-Nya di dalam kegagalan umat-Nya yang besar. Ketika kita sadar akan dosa kita dan kegagalan kita, Tuhan ingin kita datang kepada-Nya dan berseru kepada Tuhan. Dia adalah Tuhan yang pasti akan menjawab doa kita, bukan karena Dia telah menolong Simson, tetapi karena Dia telah menyatakan kasih-Nya yang terbesar melalui Kristus, yang adalah the true and better Samson.

Hidup Simson adalah bayang-bayang hidup Kristus, meskipun kita tahu begitu banyak kontras antara Simson dan Kristus. Kristus adalah Israel yang sejati, Simson adalah Israel yang gagal. Namun kita bisa melihat ada hal-hal yang paralel antara kegagalan Simson dan keberhasilan Kristus. Kalau kita melihat cerita kelahiran Simson, itu adalah mirip dengan kelahiran Kristus. Simson dikhianati dengan ciuman orang yang dekat dengannya. Kristus juga dikhianati oleh Yudas yang adalah murid-Nya. Simson diserahkan kepada bangsa Filistin, dianiaya, dihina, diejek. Kristus juga mengalami itu semua. Simson mati dengan tangan yang terrentang di antara dua pilar kuil Dagon, yang dia rubuhkan. Hal ini juga menggambarkan bagaimana Kristus mati di atas kayu salib. Tetapi kontrasnya adalah kematian Simson mematikan semua orang yang ada di dalam kuil Dagon termasuk dirinya. Ketika Kristus mati, Dia menanggung murka Allah terhadap diri-Nya, tetapi Dia berdoa di atas kayu salib itu (Lukas 23:24): “Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ini adalah kasih Tuhan yang begitu besar yang kita lihat di dalam hidup Kristus.

Kalau orang yang berdosa seperti Simson, berdoa, Tuhanpun mendengar, apalagi doa daripada Kristus, Tuhan mendengar. Supaya setiap orang yang di dalam Dia, yang percaya kepada-Nya, yang beriman kepada-Nya, pasti akan mendapat pengampunan, karena murka Allah telah ditanggungkan di atas kayu Salib. Kita yang percaya dan beriman di dalam Kristus maka murka Allah sudah ditimpakan kepada kita di dalam Kristus. Sehingga kita menjadi orang-orang yang boleh mengalami pengampunan, kasih dan kebaikan Tuhan.

Dari hidup Simson, kita sebagai umat Tuhan yang sejati, kita juga bisa hidup seperti Simson, yang bisa jatuh dalam ketidaksetiaan, yang jatuh ke dalam dosa, yang tidak menghargai kebaikan dan anugerah Tuhan, tidak taat pada apa yang Tuhan inginkan di dalam hidup kita. Tetapi seperti Simson, kita boleh kembali dan berseru kepada Tuhan. Seperti berita baik di dalam Hakim-Hakim 16, ketika umat Tuhan yang tidak setia sekalipun namun kemudian sadar akan dosanya, dan berseru kepada Tuhan, dalam keadaan seperti inipun, Tuhan masih mendengar akan seruan umat-Nya, dan Dia akan menolong kita sesuai dengan kedaulatan dan kasih-Nya yang begitu besar.

Pernahkah kita mendengar lagu:

Bila kau pernah cinta Yesus, mengapa tak cinta Dia sekarang,

Meski kau telah menjauhkan Dia, kasihNya tak berubah;

Oh dengarlah panggilan-Nya, agar kau lekas pulang,

Bila kau pernah cinta Yesus, haruslah lebih cinta.

Inilah panggilan bagi anak-anak Tuhan yang pernah mencintai Dia, yang sungguh-sungguh beriman kepada-Nya, tetapi telah meninggalkan Tuhan, menganggap sepi akan anugerah-Nya, menjalani hidup sesuai dengan apa yang aku inginkan. Kembalilah kepada Tuhan, beriman kepada Tuhan, lebih mengasihi Dia. Kalau kita belum pernah sungguh-sungguh beriman kepada Kristus, biarlah Firman kali ini juga boleh mendorong kita untuk percaya kepada-Nya. Dia adalah Juruselamat , yang tidak kompromi terhadap dosa, karena itu Kristus harus mati di atas kayu salib, demi menyatakan kesucian Allah. Tetapi Dia adalah Tuhan yang penuh kasih yang menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak binasa, namun beroleh hidup yang kekal. Baiklah kita belajar dari Simson, yang walaupun diakhir hidupnya yang gagal itu, dia tetap berdoa kepada Tuhan, dan Tuhan menolongnya.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya