Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Tuhan Sumber Kekuatan Kita

Ibadah

Tuhan Sumber Kekuatan Kita

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 24 April 2016

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 15: 1-20

Hakim-Hakim pasal 14 diakhiri dengan kemarahan Simson yang pulang ke rumahnya. Namun, karena itu keadaan di Timna, yaitu tempat dimana mertua dari Simson tinggal, menjadi tenang. Kemudian Hakim-hakim pasal 15 dimulai dengan suasana yang ceria (Hakim-Hakim 15:1), Simson membawa anak kambing karena dia ingin berpesta; Simson is in the mood for love. Lalu tiba-tiba, suasana berubah, karena ketika Simson berkata kepada ayah dari isterinya: "Aku mau ke kamar mendapatkan isteriku."(Hakim-Hakim 15:1), muka ayah dari isteri Simson langsung menjadi pucat karena ia telah menyerahkan isteri Simson kepada teman baik Simson (Hakim-Hakim 15:2). Karena ketakutan, ayah dari isteri Simson menambahkan: “Bukankah adiknya lebih cantik dari padanya? Baiklah kauambil itu bagimu sebagai gantinya.” (Hakim-Hakim 15:2). Mendengar hal itu Simson menjadi marah sekali, lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah pikirkan: ia menangkap 300 anjing hutan, mengikat ekornya dua-dua dan memakaikan obor ditengahnya. Kemudian, dilepaskanlah anjing hutan itu ke ladang gandum dan membakar habis lumbung dan tumpukan gandum orang Filistin.

Disini kita bisa melihat suatu patrun dari kitab Hakim”, pola yang terjadi di kehidupan Simson: ada solution lalu ada failure. Solusi yang ditawarkan bangsa Filistin tidak benar-benar menyelesaikan permasalahan yang ada, tapi malah menghasilkan kegagalan yang lebih besar lagi akibat segala sesuatu yang dikerjakan oleh Simson. Kita melihat misalnya di pasal 14, ada kesulitan yang dialami bangsa Filistin karena Simson membuat teka-teki (Hakim-Hakim 14:12), dan akhirnya orang Filistin mendapatkan jawabnya dengan cara mengancam isteri Simson. Sepertinya orang Filistin menang, tapi solusi itu menghasilkan kegagalan yang besar karena Simson kemudian pergi dan menghabisi 30 orang Filistin di Askelon (Hakim-Hakim 14:19).

Sama halnya ketika kita melihat kerangka pasal 15: dimulai dengan Simson pulang ke kota Timna dengan aman, tapi kemudian kita melihat kekacauan lebih besar: anjing-anjing hutan yang membakar lumbung-lumbung gandum orang Filistin. Lalu kemudian kita melihat orang Filistin melakukan pembalasan dendam dengan membunuh dan membakar anak dan isteri Simson dan mertuanya dan rumah mereka. Sepertinya pembalasan dendam sudah selesai, namun ternyata belum selesai: Simson membunuh orang Filistin lebih banyak lagi (Hakim-Hakim 15:6-8). Kita melihat kemudian Simson sembunyi digunung, lalu berhasil diikat dan diserahkan kepada orang Filistin, orang Filistin sepertinya menang dan mereka bersorak-sorak, tapi kita membaca selanjutnya malah justru Simson mematahkan ikat talinya dan membunuh 1000 orang Filistin dengan tulan rahang keledai. Jadi adanya solusi, namun dilanjutkan kegagalan. Kita juga akan melihat pola itu sampai di pasal 16.

Dari pasal 15 kita bisa belajar 3 hal penting:

Yang pertama, kita belajar bahwa ada aspek humor dari karya keselamatan Yahweh. Kalau kita membaca bagian-bagian pertama, ini kisah yang penuh dengan satir dan ironi yang kuat. Kita melihat Filistin yang merasa berhasil tapi ternyata gagal total, dan kisah tentang anjing-anjing hutan ini tentu menjadi kisah yang menarik. Satir adalah cerita yang menggunakan humor yang digunakan untuk membongkar kebodohan seseorang. Alkitab tidak selalu serius dan tegang (meski tentu ada bagian-bagian seperti itu ketika misalnya membicarakan manusia dan dosa) tapi juga menggunakan satir. Ini berarti ada unsur humor yang ingin Tuhan nyatakan untuk membongkar kebodohan orang” Filistin  yang dijadikan bahan tertawaan untuk orang” Israel (dan hidup kita sebarnya juga begitu: kita perlu humor kalau tidak suasana menjadi galau dan murung, serius sekali: meski bercanda bukan berarti tidak dalam kebenaran.).

Hal ini dilakukan untuk menunjukan nasib orang-orang yang melawan Tuhan. Berbahaya sekali melawan Tuhan, mereka menjadi bahan tertawaan Ilahi. Hal ini juga ditunjukan di Mazmur 2:1- 5. Biarlah kita mengerti dan melihat perpektif yang jelas dalam ironi: kita mengerti Tuhan yang besar, agung, yang ada dari kekal sampai kekal, siapakah manusia, bahkan sekelompok manusia yang melawan Tuhan. Perbedaan antara manusia dengan Tuhan itu lebih daripada perbedaan setetes air dengan samudera, sepotong es batu dengan es yang ada di atlantik utara; bagaimanakah manusia melawan Tuhan?

Hal ini juga menjadi kekuatan bagi umat Tuhan; kita mengenal dan bersandar kepada Tuhan yang besar dan mulia yang memimpin umat-Nya. Didalam sejarah, ada seorang filsuf ateis yang bernama Voltaire yang sangat melawan Tuhan.  Maka ia berkata didalam masa hidupnya: “Didalam 100 tahun, Alkitab menjadi buku yang dibuang dan tidak dibaca orang”. Tuhan betul-betul tertawa; karena setelah Voltaire mati, rumahnya dibeli oleh Bible Society di Perancis, dan rumah itu dijadikan tempat percetakan Alkitab. Hal-hal seperti itu mendorong kita untuk terus taat kepada Dia dan percaya kalau Allah dipihak kita, siapa yang bisa melawan kita.  Tentu pertanyaanya bagi kita adalah apakah kita dipihak Allah? Kalau kita ada dijalan yang benar, Tuhan berjanji untuk ada dipihak kita. Biarlah kita boleh taat dan setia dengan berjalan dalam kehendak-Nya dan Tuhan akan memimpin dan memberkati  akan umat-Nya.

Hal yang kedua, kita melihat bahwa umat Tuhan tidak selalu ada dipihak Tuhan, maksudnya umat Tuhan tidak selalu taat dan percaya kepada Tuhan. Ada orang yang pergi ke gereja Tuhan namun tidak lagi mengenal Tuhan pencipta langit dan bumi yang besar. Mereka melihat hidup berdasarkan apa yang bisa dilihat oleh mata, secara fenomena, dan hidup mulai dijalani dengan penglihatan dan bukan oleh iman. Disini kita bisa melihat hal ini didalam diri orang-orang Yehuda: setelah Simson membunuh cukup banyak orang (Hakim-Hakim 15:8). Maka orang Filistin datang mau mengankap Simson (Hakim-Hakim 15:9). Maka berkata-katalah orang Yehuda, orang sebangsa Simson: “ Mengapa kamu maju menyerang kami?” (Hakim-Hakim 15: 10).Mereka juga ingin membalas dendam dengan mau menangkap Simson (Hakim-Hakim 15:10). Kemudian, turunlah 3000 orang dari Suku Yehuda ke Gua di bukit batu Etam, menghampiri Simson dan berkata: “Tidakkah kauketahui, bahwa orang Filistin berkuasa atas kita? Apakah juga yang telah kauperbuat terhadap kami?” (Hakim-Hakim 15:11).

Ini adalah kata-kata yang sangat menyedihkan  yang keluar dari mulut suku Yehuda, yang sebelumnya di Hakim-hakim pasal pertama, berperang dengan gagah perkasa membela umat Tuhan dengan melawan musuh-musuh yang memperbudak umat Tuhan; dan mereka menang, karena Tuhan memimpin mereka. Suku Yehuda yang gagah berperang melawan musuh Yahwe, sekarang tunduk dan menganggap musuh Yahwe sebagai penguasa dan pelindung mereka. Yehuda, yang begitu mudah meninggalkan Yahwe, sekarang berfikir pun tidak berani untuk melawan dan meninggalkan Filistin. Ini adalah sesuatu yang tragis yang terjadi pada suku Yehuda. Simson yang sedang melawan orang Filistin sekarang dianggap sebagai musuh dan pengacau.

Ada orang-orang Kristen yang mengira bahwa menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh disegala aspek kehidupan mereka adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena begitu banyak orang-orang yang melawan Tuhan. Orang seperti ini adalah orang yang tidak mengenal Tuhan orang Kristen, tidak mengetahui kehendak Tuhan, dan tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan yang mendorong setiap orang Kristen untuk hidup sesuai yang Tuhan inginkan. Kalau Tuhan memerintahkan kita untuk hidup melaksanakan kehendak-Nya, untuk menjadi kudus karena Tuhan itu kudus, dan kita berkata hal itu sama sekali tidak mungkin bisa kita lakukan, maka sebenarnya kita sedang mengkhianati dan melawan seluruh perintah Tuhan. Tentu bukan berarti kita lalu menjadi naïf, kita tahu kita hidup di dunia yang berdosa, kita tahu kerumitan dan sistem yang begitu berdosa. Tetapi kalau kita punya semangat bahwa kita pasti tidak mungkin untuk hidup bersih di dunia ini, maka sebenarnya kita adalah orang-orang yang tidak pernah mengenal Tuhan dan apa yang Ia kehendaki, dan hidup kita hanya melihat fenomena saja. Kita perlu belajar dari kegagalan orang-orang Yehuda yang sudah menyerah dan tidak berpengharapan, tidak mengerti apa yang Tuhan inginkan, tidak berseru, bergumul dan berdoa dan mengerti apa yang Tuhan inginkan didalam hidup kita bersama-sama sebagai gereja Tuhan.

Contoh yang paling indah ada didalam perjalanan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang adalah anak-anak Tuhan yang mengenal akan Tuhan mereka (lihat Daniel 3). JI Packer dalam bukunya Knowing God berkata: “Orang yang mengenal Tuhan memiliki energy yang besar untuk Tuhan”. Orang ini akan melakukan dengan berani apa yang menjadi kehendak Tuhan.  Sadrakh, Mesakh, dan Abednego juga ada didalam sistem yang korup dan berdosa; mereka disuruh menyembah patung daripada Nebukadnezar, dan kalau mereka menyembah maka mereka bisa hidup bebas dan normal. Kalau mereka tidak mau menyembah, maka mereka dilemparkan ke dapur perapian yang menyala-nyala. Allah yang mana yang bisa melepaskan kalian dari tanganku , kata Nebukadnezar. Merekapun menjawab: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:17-18). Mereka adalah orang-orang yang berani mati.

Biarlah kita baik secara pribadi maupun sebagai satu gereja, biarlah kita terbuka terhadap pimpinan Roh Kudus didalam hidup kita. Biarlah kita mengenal Dia, bersekutu dengan Dia, berdoa, membaca Alkitab untuk mengenal Tuhan yang hidup dan apa yang menjadi kehendak-Nya didalam hidup kita. Kiranya kita sadar didalam masa hidup kita yang singkat dan sebentar lagi ini, seperti rumput yang berkembang pada waktu pagi dan sore layu dan hilang, yang menyadari waktu hidup kita bukan bertambah tetapi berkurang; apa yang kita mau isi didalam hidup yang Tuhan masih berikan? Untuk kenikmatan diri? Salomo, sang penulis kitab Pengkhotbah, berkata semua adalah sia-sia (lihat Pengkotbah 1). Seorang Salomo yang memiliki kekayaan yang begitu besar, menikmati segala kenikmatan yang paling bisa dinikmati manusia, yang memiliki hikmat pengetahuan yang terbanyak, ia yang sudah mendapatkan secara maksimal apapun yang dicari manusia, berkata semua sia-sia; semua sia-sia ketika engkau melihat segala sesuatu dibawah matahari, sampai engkau melihat menembus matahari dan melihat sang Pencipta langit dan bumi dan apa yang Ia kehendaki. Takutlah akan Tuhan, maka seluruh hidup kita tidak akan menjadi sia-sia. Marilah kita bersama-sama memikirkan untuk berbagian didalam pekerjaan Tuhan. 

Yehuda membawa 3000 orang untuk menangkap Simson. Ini adalah orang-orang yang pengecut. Tetapi Simson berkata: “Oke saya ikut kamu, tapi janji jangan bunuh saya”. Mereka berkata “Tidak, kami hanya mau mengikat engkau dan menyerahkan engkau ke dalam tangan mereka, tetapi membunuh engkau kami tidak mau.”(Hakim-Hakim 15:13). Sekali lagi kalimat yang sangat ironis; Simson mengatakan kalimat yang demikian karena ia sadar bahwa suku Yehuda adalah suku sebangsa ia sendiri, ia tidak mau bertempur dengan mereka. Malahan, Yehuda berkata: “Oke kami hanya akan mengikat kamu, menyerahkan engkau ke tangan orang Filistin untuk dibunuh”.

Mengenai hal ini, seorang penafsir kitab Hakim-Hakim berkata: “It’s always a dark day in the history of Yahwe’s people, when they’re content to allow his enemy to hold sway; something is wrong with us when we’re no longer despise our true enemy”. Selalu menjadi waktu yang gelap di dalam sejarah umat Tuhan, ketika kita tidak lagi melawan akan musuh-musuh kita. Kita harus ingat bahwa permusuhan kita dengan iblis adalah kehendak Tuhan (lihat Kejadian 3:15). Tuhan tidak akan membiarkan umat-Nya berdamai dengan setan dan digendong dan dininabobokan oleh iblis. Yohanes berkata dalam 1 Yohanes 3:8b: “Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan iblis itu.”

Kita harus menyadari bahwa hidup kita ada unsur peperangan; kita bukan melawan kawan, melainkan berperang melawan dosa, pikiran-pikiran yang jahat, melawan kehidupan yang pelan-pelan menarik kita menjauh dari Firman Tuhan. Kita harus berperang melawan itu dan karena kita sibuk berperang melawan hal-hal itu, maka sebenarnya kita tidak ada waktu untuk berperang melawan teman sendiri, yaitu saudara seiman kita.

Negara New Zealand adalah negara yang mempunyai tingkat persentasi bunuh diri paling tinggi, meskipun negara tersebut mempunyai Social Security yang bagus, pemandangan yang indah, dan es krim yang enak. Orang bunuh diri adalah orang yang sudah kehilangan makna hidup. Mereka bunuh diri bukan karena tidak punya uang, atau kurang nyaman; malahan justru karena terlalu nyaman, dininabobokan oleh keadaan yang nyaman. Keadaan nyaman ini tidak memberikan apa yang Tuhan inginkan untuk umat-Nya untuk kerjakan. Mari kita kembali, bersama-sama berbagian dalam pekerjaan Tuhan dan berperang melawan dosa.

Yang ketiga, ketika kita berperang melawan iblis, kita harus ingat kalau Tuhan akan memimpin dan memberi kekuatan kepada umat-Nya. Ini yang terjadi pada Hakim-Hakim 15:14-20. Musuh-musuh Tuhan selalu lupa akan satu hal: yaitu Tuhan yang memimpin umat-Nya. Setelah Simson menang, ia merasa kelelahan (Hakim-Hakim 15:18). Ini adalah hal yang sering terjadi pada hamba Tuhan, setelah mengalami peperangan yang besar dan menang atas pertolongan Tuhan, mengalami kelelahan. Hal ini terjadi untuk menyatakan betapa lemahnya hamba Tuhan dan sumber keberhasilan mereka adalah hanya dari Tuhan. Tuhan senang ketika umat-Nya berseru kepada Dia dan menyatakan ketidakberdayaan mereka. Ketika kita berjuang dan mengalami banyak tantangan dan kesulitan, biarlah kita seperti Simson berseru kepada Tuhan. Yeremia 32:41 mengatakan bahwa Tuhan bersukacita dalam melakukan kebaikan bagi umat-Nya: "Aku akan bergirang karena mereka untuk berbuat baik kepada mereka dan Aku akan membuat mereka tumbuh di negeri ini dengan kesetiaan, dengan segenap hati-Ku dan dengan segenap jiwa-Ku."

Kiranya kita boleh sadar sebagai umat Tuhan kalau kita jangan berjalan berdasarkan penglihatan tetapi dengan iman kepada Tuhan, untuk berperang melawan dosa, dan mengingat Tuhan sebagai sumber kekuatan kita.

Ringkasan oleh David Hartana | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya