Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Peringatan-Peringatan Tuhan

Ibadah

Peringatan-Peringatan Tuhan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 13 Maret 2016

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 12:1-15

Pada pembahasan yang lalu, kita membahas tentang Yefta yang diakhiri dengan kisah tragedi dimana Yefta harus mengorbankan anaknya sebagai kurban kepada Tuhan. Walaupun tidak tertulis secara jelas di dalam alkitab, apakah pada akhirnya Yefta benar-benar melaksanakan janjinya kepada Tuhan untuk mempersembahkan anaknya sebagai kurban bakaran di hadapan Tuhan. Tetapi paling tidak, alkitab menulis bahwa akibat tragedi itu, Yefta mengalami kesedihan yang luar biasa, hatinya hancur luluh ketika ia mengetahui bahwa yang menjadi korban bakaran itu adalah anaknya sendiri.

Jika cerita di atas merupakan tragedi pertama dimana keselamatan Allah atas bangsa Israel melalui Yefta dicemari oleh Yefta sendiri karena over jealous, dimana dia berjanji kepada Allah sepertinya tanpa berpikir sehingga pada akhirnya menjadi kesedihan yang mendalam bagi dirinya sendiri. Maka cerita dalam kitab Hakim-Hakim 12:1 merupakan tragedi kedua dari keselamatan Allah atas bangsa Israel yang dicemari karena kesombongan manusia yaitu kesombongan suku Efraim yang ingin menonjolkan diri.

Cerita ini berawal ketika peperangan hebat terjadi antara Yefta dan rakyatnya melawan bani Amon. Ketika itu Yefta mengajak suku Efraim bergabung dalam peperangan  melawan bani Amon, namun panggilan tersebut tidak dijawab. AKhirnya Yefta bersama rakyatnya tanpa pasukan suku Efraim berperang melawan musuh. Berkat pimpinan Tuhan, pasukan bani Amon akhirnya dikalahkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Yefta. Setelah kemenangan diraih Yefta, maka datanglah pasukan suku Efraim. Tujuan mereka datang ialah ingin menonjolkan diri sehingga mereka ingin membunuh Yefta. Dengan berbohong mereka beralasan bahwa Yefta tidak pernah mengajak dan mengikutsertakan pasukan suku Efraim untuk berperang melawan bani Amon. Untuk melawan pasukan suku Efraim ini, Yefta mengumpulkan orang dari suku Gilead, lalu berperang melawan pasukan suku Efraim yang pada akhirnya dimenangkan oleh pasukan Yefta.

Yefta kemudian menjadi hakim dan memimpin bangsa Israel enam tahun lamanya. Peristiwa ini dapat kita baca dalam kitab Hakim-Hakim 12:1-7 (1. Dikerahkanlah orang Efraim, lalu mereka bergerak ke Zafon. Dan mereka berkata kepada Yefta: "Mengapa engkau bergerak untuk memerangi bani Amon dengan tidak memanggil kami untuk maju bersama-sama dengan engkau? Sebab itu kami akan membakar rumahmu bersama-sama kamu!". 2. Tetapi jawab Yefta kepada mereka: "Aku dan rakyatku telah terlibat dalam peperangan yang hebat dengan bani Amon; lalu aku memanggil kamu, tetapi kamu tidak datang menyelamatkan aku dari tangan mereka. 3. Ketika kulihat, bahwa tidak ada yang datang menyelamatkan aku, maka aku mempertaruhkan nyawaku dan aku pergi melawan bani Amon itu, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tanganku. Mengapa pada hari ini kamu mendatangi aku untuk berperang melawan aku?". 4. Kemudian Yefta mengumpulkan semua orang Gilead, lalu mereka berperang melawan suku Efraim. Dan orang-orang Gilead mengalahkan suku Efraim itu. Sebab orang-orang itu mengatakan: "Kamulah orang-orang yang telah lari dari suku Efraim!" --kaum Gilead itu ada di tengah-tengah suku Efraim dan suku Manasye. 5. Untuk menghadapi suku Efraim itu, maka orang Gilead menduduki tempat-tempat penyeberangan sungai Yordan. Apabila dari suku Efraim ada yang lari dan berkata: "Biarkanlah aku menyeberang," maka orang Gilead berkata kepadanya: "Orang Efraimkah engkau?" Dan jika ia menjawab: "Bukan,". 6. maka mereka berkata kepadanya: "Coba katakan dahulu: syibolet." Jika ia berkata: sibolet, jadi tidak dapat mengucapkannya dengan tepat, maka mereka menangkap dia dan menyembelihnya dekat tempat-tempat penyeberangan sungai Yordan itu. Pada waktu itu tewaslah dari suku Efraim empat puluh dua ribu orang. 7. Yefta memerintah sebagai hakim atas orang Israel enam tahun lamanya. Kemudian matilah Yefta, orang Gilead itu, lalu dikuburkan di sebuah kota di daerah Gilead.).

Yang dapat kita belajar dari peristiwa ini ialah kesombongan suku Efraim merupakan sumber kehancuran mereka. Peristiwa ini bukan hanya memberi kehancuran bagi bangsa Efraim, namun peristiwa tersebut telah menodai keselamatan Allah atas bangsa Israel sekaligus memberikan peringatan kepada kita semua. Khususnya kepada hamba-hamba Tuhan, kepada orang-orang yang melayani Tuhan bahwa seringkali kita tidak bisa bersukacita melihat karya keselamatan Tuhan yang dilakukan orang lain kecuali diri kita menjadi pusat atau menjadi peran utama. Kita baru bersyukur kepada Tuhan bila kita yang mengerjakan atau ketika kita ikut memberi kontribusi. Kita tidak bisa memuji Tuhan dan bersukacita terhadap karya keselamatan yang dilakukan oleh orang lain atau kelompok lain. Kita tidak suka melihat pekerjaan orang lain berhasil atau diberkati Tuhan dimana kita tidak berbagian didalamnya. Sifat ini menunjukkan kesombongan diri seperti sifat yang ditunjukkan oleh suku Efraim dimana mereka tidak bisa bersukacita ketika Yefta diberkati Tuhan dan menang didalam peperangan ketika orang suku Efraim tidak berbagian didalamnya.

Kita perlu mencontoh kehidupan positif Yohanes Pembaptis ketika murid-muridnya datang dengan penuh kuatir dan bertanya kepadanya tatkala mereka melihat lebih banyak orang yang mengikuti Yesus dibandingkan dengan Yohanes Pembaptis. Maka sesuai dengan kitab Yohanes 3: 29-30, Yohannes Pembaptis menjawab, “29. Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. 30. Ia (yaitu Yesus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”. Inilah sikap yang paling indah, ketika Yohanes Pembaptis sadar dan mengerti siapa dirinya serta sadar dan mengerti siapa Yesus Kristus. Orang-orang yang datang kepada Yesus itu sesungguhnya merupakan mempelai perempuan sedangkan Yesus merupakan mempelai laki-laki. Biarlah kita juga bisa mencontoh sifat Yohannes Pembaptis ini, dimana kita turut bersukacita ketika melihat teman-teman kita berhasil dalam pelayanan dan ketika kita melihat pekerjaan teman-teman lebih diberkati Tuhan walaupun kita tidak berbagian didalamnya. Kita hanya memandang Tuhan sebagai pusat, Dia yang memiliki rencana, kuasa dan berdaulat, bukan kita lagi yang menjadi pusat. Yesus harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

Ayat-ayat selanjutnya dari kitab Hakim-Hakim pasal 12 yaitu ayat 8 sampai 15 (8. Sesudah dia, maka Ebzan dari Betlehem memerintah sebagai hakim atas orang Israel. 9. Ia mempunyai tiga puluh anak laki-laki. Tiga puluh anaknya perempuan dikawinkannya ke luar kaumnya dan tiga puluh anak perempuan diambilnya dari luar kaumnya untuk anak-anaknya lelaki itu. Ia memerintah atas orang Israel tujuh tahun lamanya. 10. Kemudian matilah Ebzan, lalu dikuburkan di Betlehem. 11. Sesudah dia, maka Elon orang Zebulon memerintah sebagai hakim atas orang Israel. Ia memerintah atas orang Israel sepuluh tahun lamanya. 12. Kemudian matilah Elon, orang Zebulon itu, lalu dikuburkan di Ayalon, di tanah Zebulon. 13. Sesudah dia, maka Abdon bin Hilel, orang Piraton, memerintah sebagai hakim atas orang Israel. 14. Ia mempunyai empat puluh anak laki-laki dan tiga puluh cucu laki-laki, yang mengendarai tujuh puluh ekor keledai jantan. Ia memerintah atas orang Israel delapan tahun lamanya. 15. Kemudian matilah Abdon bin Hilel, orang Piraton itu, lalu dikuburkan di Piraton, di tanah Efraim, di pegunungan orang Amalek), menceritakan sangat singkat kisah 3 hakim setelah Yefta dengan total lama kepemimpinan mereka atas bangsa Israel ialah 25 tahun. Penulis memaparkan kisah setiap hakim begitu singkat, tidak seperti kisah hakim lainnya seperti Gideon, Yefta dan hakim lainnya, dimana penulis hanya menceritakan waktu kepemimpinan setiap hakim lalu kematiannya. Apa yang sesungguhnya ingin disampaikan penulis di dalam ayat-ayat penutup yang begitu singkat? Tuhan ingin kita belajar apa dari Alkitab?

Yang pertama, penulis ingin mengatakan bahwa alkitab ditulis bukan untuk menceritakan kisah pribadi Ebzan, Elon atau Abdon tetapi tujuan alkitab ditulis ialah untuk menyatakan karya dan pekerjaan Allah. Tuhan ingin mengajarkan kita bahwa Alkitab bersifat teosentris yang menyatakan bahwa Allah sebagai pusat, yang menyatakan keberadaan-Nya di sepanjang sejarah hidup manusia. Jika kita perhatikan seluruh kisah dalam kitab Hakim-Hakim, memang didalamnya ada melibatkan orang-orang seperti Otniel, Gideon, Yefta dan lain-lain, namun di dalam setiap kisah tersebut, karya dan penyertaan Tuhan menjadi pusat. Tuhan berkarya melalui hidup mereka untuk menyatakan kebesaran dan kemuliaan-Nya.

Dari cerita di atas, kita dapat menyaksikan bahwa keselamatan Allah atas bangsa Israel yang dilakukan melalui manusia tetap ada ketidaksempurnaannya, tetap ada nodanya. Kita sekali lagi diingatkan agar tidak sombong seperti suku Efraim yang ingin menonjolkan diri, dan kita harus selalu memandang Tuhan sebagai pusat dalam hidup kita. Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menceritakan history (His Story) yaitu kisah keberadaan dan penyertaan Tuhan di sepanjang sejarah hidup manusia. Walaupun manusia juga berperan penting dan selalu dilibatkan dalam menyatakan karya Tuhan, namun Tuhan ingin menyadarkan kita bahwa manusia bukanlah pusat dari pekerjaan Tuhan. melainkan Dialah yang menjadi pusatnya. Seluruh kemuliaan hanya dimiliki dan dikembalikan kepada Tuhan.

Yang kedua, yang boleh kita pelajari dari ayat yang 8 sampai 15, dari ayat-ayat yang cukup singkat ini ialah kontras antara Yefta dan Ebzan, khususnya mengenai keturunan mereka. Kita tahu bahwa bahwa Yefta hanya memiliki seorang putri sedangkan Ebzan memiliki 30 orang putra dan 30 orang putri. Dan jika akhirnya Yefta harus mengorbankan putrinya kepada Tuhan maka Yefta tidak memiliki keturunan dari putrinya. Sedangkan seluruh putra puti Ebzan menikah dan beranak cucu. Yefta dan Ebzan merupakan Hakim yang sama-sama dipilih dan diberkati Tuhan, namun kehidupan khususnya keturunan mereka bisa berbeda sekali. Banyak sekali kisah dalam alkitab yang seringkali membuat kita bertanya-tanya tentang karya Tuhan terhadap kehidupan manusia. Misalnya kenapa Tuhan menyelamatkan Yesus dari tangan Herodes sedangkan pada saat yang sama, banyak anak-anak seusia Yesus dibunuh. Petrus berkotbah, 3000 orang bertobat, Stefanus berkotbah, 3000 batu datang kepada dia. Kenapa ada orang yang diberi Tuhan hidup sampai 100 tahun, dan kenapa ada yang hidup tidak sampai 100 hari? Kenapa ada yang keluarga hidup dengan harta berlimpah, sedangkan ada keluarga yang hidupnya sangat miskin? Kenapa ada orang yang mati dalam kecelakaan, dan kenapa ada orang yang selamat dari kecelakaan? Sebagai manusia yang lemah dan memiliki keterbatasan, bisa saja kita tidak pernah memperoleh jawaban yang tuntas dan memuaskan atas semua kejadian di dunia ini, kenapa Tuhan bisa mengizinkan sesuatu yang kurang atau buruk (menurut manusia) ini terjadi. Kita seringkali tidak mengerti secara detil, cara Tuhan mengasihi dan memimpin umatnya. Namun sebagai orang yang percaya akan kedaulatan, keagungan dan kekuasaan Tuhan (Yesaya 55:9: Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu), dan sebagai orang yang percaya akan kasih dan rencana-Nya yang sempurna untuk manusia, maka kita harus percaya dan selalu bersandar kepada-Nya serta meyakini satu hal bahwa jalan terbaik akan disediakan oleh Tuhan yang pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan. Sekali lagi kita boleh belajar dari sesuatu yang kontras, perbedaan antara Yefta dan Ebzan. Tuhan tidak akan meninggalkan umat yang mengasihi-Nya, Dia akan menyertai dan berkerja di dalam segala sesuatu, dan akan memimpin dengan cara-Nya sendiri terhadap setiap kehidupan orang Kristen yang berbeda-beda (Roma 8:28: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah). 

Yang ketiga, yang boleh kita belajar dari ayat yang cukup singkat ini ialah ada 3 macam formula waktu di dalam kitab Hakim-Hakim.

  • Formula waktu yang pertama ialah  berapa lama Israel ditindas oleh musuh-musuhnya. Contohnya dapat kita baca dalam kitab Hakim-Hakim 13: 1 “Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya”. Kita sering menemukan kalimat seperti ini di dalam kitab Hakim-Hakim.
  • Formula waktu yang kedua ialah berapa lama negeri Israel mengalami aman dan damai. Kita bisa membaca jenis formula waktu itu di dalam kitab Hakim-Hakim 8:28 “Demikianlah orang Midian tunduk kepada orang Israel dan tidak dapat menegakkan kepalanya lagi; maka amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya pada zaman Gideon”. 
  • Dan formula waktu yang ketiga ialah berapa lama negeri Israel dipimpin oleh seorang Hakim. Kita bisa membaca jenis formula waktu ini dari kitab Hakim-Hakim 12: 7 “Yefta memerintah sebagai hakim atas orang Israel enam tahun lamanya. Kemudian matilah Yefta, orang Gilead itu, lalu dikuburkan di sebuah kota di daerah Gilead”.

Yang menarik dari kitab Hakim-Hakim ini ialah formula waktu yang kedua yaitu waktu negeri Israel mengalami aman dan damai, dimana hal ini tidak pernah terjadi lagi setelah Gideon. Yang menarik lainnya, ialah jenis formula waktu yang ketiga yaitu waktu Israel dipimpin seorang hakim, dimana formula waktu itu baru ada atau ditulis setelah Gideon. Sebelum Gideon, formula waktu ini tidak pernah ditulis. Kita akan mengerti hal ini akan setelah kita membaca dan menyelidiki seluruh kitab Hakim-Hakim. Para teolog menyelidiki bagian ini, lalu memetik sesuatu yang penting yakni seolah-olah ada substitusi waktu dimana berapa lama negeri yang aman (jenis formula waktu kedua) itu diganti (disubstitusi) dengan berapa lama hakim-hakim itu memerintah (jenis formula waktu ketiga). Hal ini memberikan implikasi yang sangat penting dimana kitab Hakim-Hakim seolah-olah ingin mengatakan kepada kita bahwa karena penyelewengan Israel yang terus menerus, penyelewengan yang semakin parah maka damai yang datang dari Tuhan tidak lagi dialami bangsa Israel. Meskipun sepertinya semua berjalan seperti biasa, meskipun masih adanya pemimpin yang memerintah. Damai dari Tuhan itu tidak ada lagi setelah Gideon memimpin bangsa Israel, diganti dengan berapa lama bangsa Israel dipimpin oleh seorang hakim.

Jika kita merenungkan hal ini, maka seharusnya akan menggentarkan kita semua. Bagaimana bila gereja-gereja dan aktivitas pelayanan makin berkembang, umat-umat semakin bertambah, segala sesuatu tampaknya berjalan baik dan lancar, semakin banyak hamba Tuhan, namun semua orang dan aktivitasnya tanpa penyertaan Tuhan? Hal ini tentunya memberikan peringatan kepada setiap kita. Tanpa kehadiran dan penyertaan Tuhan, maka  segala pemberitaan injil, setiap kegiatan dan pelayanan gereja hanya merupakan aktivitas biasa dan kosong. Aktivitas yang demikian tentu tidak dapat memberikan berkat kepada banyak orang, Akan sangat berbahaya sekali, jika Tuhan sudah tidak lagi menjadi pusat dan kemuliaan Tuhan tidak lagi ditinggikan. Janganlah kita seperti bangsa Israel dimana damai dan berkat dari Tuhan sudah tidak ada lagi di tanah Israel, penyertaan Tuhan sudah tidak ada lagi walaupun segala sesuatu berjalan seperti biasanya. Segala pelayanan merupakan peperangan rohani. Doa kita, biarlah kita tidak tertipu dan terpengaruh kepada fenomenal, namun teruslah kita berdoa, tetap beriman dan bersandar kepada Tuhan saja.

Yang terakhir, dari ayat-ayat singkat itu, kita bisa membaca kematian pemimpin-pemimpin Israel. Dalam kitab Hakim-Hakim kita bisa membaca kematian Josua, Otniel, Gideon dan seterusnya. Dari bacaan mengenai kematian ini, alkitab seolah-olah berkata secara staccato kepada kita. “lihatlah Josua mati, lihatlah Yefta mati, lihatlah Ebzan mati..”. Kematian itu dihadapkan kepada kita dan membuat kita sadar bahwa sejak manusia jatuh ke dalam dosa, maka manusia itu mati. Mirip dengan Kejadian 5:5 “Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati”. Setelah itu Seth Hidup selama 912 tahun, lalu ia mati, Enos hidup sekian tahun, lalu ia mati.

Silsilah dalam kejadian 5 terus begitu, siapa hidup berapa tahun, LALU IA MATI. Ini menjadi peringatan dan kesadaran kepada kita, dimana penulis kitab Hakim-Hakim ingin kita belajar dan mengacu ke Kejadian 5 yang mengatakan bahwa betapa hebatnya kita, betapa bijaksananya kita, betapa kayanya kita, betapa pintarnya kita, satu hal yang pasti bahwa kita lalu mati. Bila kita melayat ke rumah duka dan melihat seseorang di peti, maka kita pasti akan berada disana suatu saat. Kita akan diingatkan bahwa kita hanya hidup sekali saja yang diakhiri dengan kematian. Kalau hidup itu hanya satu-satunya hidup yang harus kita jalani, maka apa bedanya kematian seorang penjahat dengan kematian seorang Kristen yang taat. Sama saja bukan?

Namun yang menjadi perbedaan, sekaligus merupakan berita baik dan satu-satunya pengharapan orang percaya ialah ketika Allah membangkitkan seorang pemimpin yang hidup untuk selama-lamanya, bukan seperti Gideon Yefta, Ebdon dan lain-lain, melainkan anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus datang ke dunia ini dan kita dipilih menjadi pengikut-Nya. Kita boleh berbahagia karena Yesus Kristus telah datang, lalu mati bagi kita dan kita akan hidup bersama-Nya untuk selama-lamanya. Justru dengan kematian-Nya, maut atau kematian itu sendiri telah dikalahkan, “The death of death, in the death of Christ”, sehingga kematian itu bukan merupakan akhir dari kehidupan manusia. Kita bersyukur, bagi kita yang didalam Tuhan, dengan kematian Yeus di kayu salib dan melalui kebangkitan-Nya, maka maut atau kematian telah dikalahkan. Kematian atau maut ditantang, “Oh maut, dimanakah kemenanganmu. Oh maut dimanakah sengatmu?”. Dan maut tidak menjawab lagi karena maut sudah dikalahkan.

Biarlah kita boleh merayakan dan memberitakan, berita yang sangat berharga dan mulia ini, yang merupakan pengharapan satu-satunya umat manusia yang pasti akan mati. Kita harus percaya, Kristus merupakan satu-satunya Juru Slamat yang pernah mati lalu bangkit untuk hidup selama-lamanya, Dia satu-satunya yang berkuasa dan berdaulat, yang akan memimpin hidup kita, bukan hanya saat ini tapi sampai selama-lamanya.

Ringkasan oleh Budi Walujo | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya