Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kristus Domba Paskah (Kebaktian Jumat Agung 2016)

Ibadah

Kristus Domba Paskah (Kebaktian Jumat Agung 2016)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Jumat, 25 Maret 2016

Download audio

Bacaan Alkitab: Keluaran 12:1-14

Kalau kita mengikuti berita, kita melihat keadaan yang tegang, setelah ada teroris yang meledakkan bom di airport di Brussels. Kalau seseorang bisa meledakkan di departure hall di airport, maka dia bisa meledakkan bom di mana saja. Keadaan ini mengingatkan saya akan percakapan Ravi Zakaria dengan seorang pemimpin Hamas. Dia mengatakan kepada Ravi bahwa dia mengirim salah satu anak-nya untuk meledakkan dirinya. Dia mengatakan itu dengan kebanggaan, karena anaknya mati martir untuk alasan yang mereka percaya. Tetapi Ravi mengatakan suatu kalimat yang memorable: “tidak jauh dari sini ada satu tempat yang bernama Golgota, di situ Anak Allah yang tunggal dikorbankan untuk manusia berdosa. Sampai engkau dan saya menerima korban yang Tuhan berikan bagi kita, maka sesungguhnya kita akan selalu terus mengorbankan anak-anak kita.”

Hari ini kita merenungkan domba Allah yang dikorbankan. Yesus Kristus yang mati untuk menebus dosa-dosa kita. Ini adalah peristiwa yang menyedihkan tetapi sekaligus memberikan harapan yang besar. Peristiwa yang mengerikan tetapi sekaligus peristiwa yang sangat menyentuh hati. Ini adalah satu hari penghakiman (Judgement) sekaligus adalah hari keselamatan (Atonement). Dalam ayat-ayat ini, penyembelihan domba yang dikerjakan oleh bangsa Israel pada waktu Paskah pertama ini, menjadi bayang-bayang daripada Kristus, Domba Allah yang tersembelih itu. Yohanes Pembaptis mengatakan, “Lihatlah Anak domba Allah, yang menebus dosa dunia” (Yoh 1:29). Rasul Petrus mengatakan kita telah ditebus bukan dengan perak dan emas, tetapi dengan darah yang mahal yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat (1 Petrus 1:18-19).

Saudara sekalian, dalam Kel 12 kita boleh mengerti akan Kristus sebagai Domba Paskah yang pertama disembelih. Kita akan merenungkan tentang Paskah dan domba Paskah; dan menyatakan Kristus-lah satu-satunya Domba Paskah yang dapat menebus dosa manusia.

Hal pertama yang kita renungkan bersama adalah bagaimana orang Israel harus memilih domba.

Kel 12 :3,5 dan 6 berkata “(3) Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga. (5) Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing. (6) Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja”. Domba yang dipilih pada hari itu adalah domba yang sempurna, yang tak bercacat dan tak bercela.

Apa yang disebut sebagai yang tak bercacat dan tak bercela? Imamat 22 mengajarkan kita lebih detail bahwa domba tersebut tidak boleh buta dan tidak boleh memiliki tulang yang patah, tidak boleh memiliki penyakit, kurap, bisul dlsb. Ini menjadi hal yang penting karena Alkitab menyatakan berkali kali khususnya di dalam Perjanjian Baru menyatakan bahwa Kristus adalah seorang sempurna. Tidak ada perkataan-Nya yang salah, tidak ada perkataan-Nya yang ditarik kembali ataupun dimodifikasi. Dia tidak pernah meminta maaf. Bagi kita, meminta maaf adalah tanda greatness. Bagi mereka yang bersalah maka secara gentlemen harus meminta maaf. Namun kalau kita melihat Tuhan Yesus, ini adalah salah satu hal yang tidak boleh kita ikuti dari Tuhan Yesus, yaitu Yesus tidak pernah meminta maaf. Dia tidak pernah mengaku dosa, Dia tidak pernah meminta nasihat dari orang lain, Dia tidak pernah menjustifikasi perbuatannya yang mungkin membuat orang salah mengerti. Sebagai contoh adalah murid-murid hampir tenggelam di danau Galilea, dan Yesus tidur di tengah-tengah gelombang itu (Matius 8:24). Dia tidak pernah menjelaskan atau meminta maaf mengapa Dia tidur di tengah kesulitan mereka. Dia tidak perlu menjustifikasi apa yang Dia lakukan. Kepada musuh-musuh-Nya Dia berkata, siapa yang dapat membuktikan Aku telah berbuat dosa. Bahkan Yudas pengkhianat itu sendiri, setelah menjual Tuhan Kristus, boleh sadar dan berkata I’ve betrayed innocent blood (Mat 27:4). Pilatus berkata kepada orang Yahudi “Kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” (Mat 27:23) Pilatus tidak menemukan kesalahan apapun pada Yesus. Paulus menyimpulkan dalam salah satu suratnya “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Kor 5:21)

Domba Paskah yang sempurna. Kalau kita mempelajari hidup Tuhan Yesus, maka Dia adalah satu-satunya pribadi yang layak menjadi domba Paskah. Kalau ada sedikit saja dosa, atau satu saja perkataan-Nya yang salah, maka Dia tidak boleh menjadi Juruselamat, Dia tidak boleh menjadi domba Paskah yang disembelih untuk kita. Kita bersyukur kepada Tuhan karena Kristus yang seluruh hidup-Nya menyatakan Dia adalah Domba Paskah yang sempurna itu.

Hal yang kedua yang boleh kita pelajari dari kitab Keluaran ini adalah darah yang dialirkan. Pada malam Paskah pertama itu semua pria di dalam setiap rumah akan mengambil domba, menarik kepalanya dan memotong lehernya. Bisakah kita bayangkan pada saat yang bersamaan mereka melakukan itu? Di dalam setiap rumah ada darah yang mengalir. Betapa peristiwa ini memberi kesan yang sangat mendalam bagi bangsa Israel. Apa yang dilakukan pada darah itu (ayat 7)? Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya.” Kemudian ayat 22: “Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi.” Ayat 22 menekankan satu tambahan informasi, yaitu bukan hanya darah itu dioleskan di tiang pintu dan di ambang atas pintu, tetapi orang-orang di dalam rumah itu tidak boleh keluar dari rumah, sepanjang malam itu. Mengapa demikian? Karena kalau mereka keluar mereka-pun akan mati.

Saudara sekalian kita boleh melihat murka Tuhan berlaku bagi semua orang pada jaman itu dan juga pada kita sekarang. Malaikat Tuhan akan membunuh semua anak sulung dari siapapun yang ada pada waktu itu. Kalau anak sulung Israel tidak ada yang mati, itu bukan karena kebaikan mereka, bukan karena kebenaran dan kesucian hidup mereka. Tetapi semata-mata karena belas kasihan Tuhan melalui darah anak domba. Darah yang dialirkan itu menjadi tanda bahwa sudah ada yang mati di rumah itu.  Kalau tidak ada anak domba yang mati pasti akan ada seorang yang mati di rumah itu. Darah menjadi tanda bahwa kematian telah terjadi, karena darah melambangkan hidup. Ketika darah sudah dialirkan, ini menjadi pertanda bahwa kematian sudah terjadi.

Mengapa harus ada darah yang dialirkan? Karena Alkitab sudah menjelaskan kepada kepada kita bahwa manusia sudah berdosa dan upah dosa adalah maut, the wages of sin is death (Roma 6:23). Manusia yang berdosa sudah selayaknya menerima hukuman yaitu mati.  Tetapi kita bersyukur karena ada Domba yang sudah disembelih dan darah-Nya melindungi kita. Ayat 13 “Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.”

Ketika Aku melihat darah maka I will pass-over you. Di sinilah muncul pengertian dari Pass-over, kita belajar bahwa malaikat Tuhan yang diutus untuk membunuh akan melewati, karena darah sudah dialirkan. Karena keadilan Allah telah ditegakkan, dan manusia yang berlindung di bawah darah itu akan diselamatkan.

Keselamatan hanya terjadi pada mereka yang bernaung di bawah darah anak Domba Allah. Konsep tentang keadilan dan murka Allah ini susah diterima oleh orang. Tetapi ketika kita diperlakukan tidak adil, maka baru kita tahu bahwa keadilan itu harus ditegakkan. Beberapa hari yang lalu, Pak Jusuf Kalla, wakil presiden Indonesia, yang sering menjadi mediator perdamaian di beberapa tempat di Indonesia seperti di Aceh, di Poso dan di Ambon, dia mengatakan ada ribuan orang yang mati di Ambon, ada banyak rumah ibadah yang dibakar, bahkan universitas yang terbesar di Ambon dibakar. Dia tahu sekali mengapa mereka saling membunuh, karena masing-masing merasa diperlakukan tidak adil. Mereka merasa tidak didengar oleh penguasa dari pihak yang berlawanan.

Keadilan ada di dalam hati setiap manusia tapi tidak dalam pikiran tiap manusia, sehingga waktu kita memandang kepada Allah, kita seringkali berpikir Allah tidak seharusnya menyatakan keadilan-Nya, tetapi Allah harus mengasihi kita. Kalau kita melihat Alkitab, Allah adalah Allah yang adil dan suci, sekaligus Allah yang mengasihi kita. Dia adalah Allah yang tidak boleh tidak adil, karena keadilan itu adalah karakter Allah sendiri yang ditanamkan dalam hati manusia yang diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah.

Maka ketika manusia berdosa, Allah tidak bisa mengampuni dosa begitu saja. Allah sudah mengatakan bahwa upah dosa adalah maut, maka keadilan Allah harus ditegakkan. Kalau orang Israel tidak menerima darah itu maka mereka-pun akan menerima keadilan dan murka Allah. Kita bersyukur bahwa Kristuslah domba Allah yang disembelih bagi kita. Bagi setiap kita yang beriman di dalam Kristus, murka Allah sudah dinyatakan di dalam Kristus sehingga Kristus harus dipaku di atas kayu Salib, Dia harus mengalirkan darah-Nya bagi saudara dan saya. Ini adalah kabar yang begitu indah, bahwa keadilan Allah ditegakkan di dalam Kristus, sekaligus kasih-Nya dinyatakan di dalam Kristus bagi kita.

Aspek yang ketiga yang boleh kita renungkan dari ayat-ayat ini adalah cara memakan daging domba Paskah. Kita melihat ayat 6 “Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.” Pada “waktu senja” adalah satu hal yang penting. Itu berarti orang-orang Israel menyembelih domba Paskah sekitar jam 3-6 sore. Hal ini penting karena kemudian kita mengetahui dari Injil, bahwa dari mulai jam 12 sampai jam 3 siang, kegelapan menyelimuti tempat di mana Yesus disalibkan. Ketika sedang terang-terangnya hari itu, langit menjadi gelap, ini bukan gerhana matahari, karena saat itu tidak mungkin gerhana matahari terjadi pada saat itu. Ini adalah pernyataan bahwa langitpun turut berduka menyaksikan Anak Allah yang tunggal disembelih di atas kayu Salib. Pada jam 3 sore, Tuhan Yesus berteriak dengan suara keras “My God, My God why has Thou forsaken me, Eli eli lama sabakhtani. Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46) Kita kemudian membaca perkataan-perkataan Yesus selanjutnya “Bapa kedalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku” (Luk 23:46). Tuhan Yesus mati persis ketika domba Paskah disembelih. Dia menjadi Domba yang sesungguhnya ketika orang Israel mempersembahkan domba di bait Allah.

Di katakan juga pada ayat Kel 12:46 “Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikitpun dari daging itu keluar rumah; satu tulangpun tidak boleh kamu patahkan.” Begitu banyak detail-detail dalam kitab Keluaran, yang digenapi dengan begitu detail juga di dalam hidup Yesus. Kita tahu tidak ada satu tulangpun yang dipatahkan dalam tubuh Yesus. Ini menjadi suatu yang mengherankan, karena ketika orang mati di atas kayu salib, dia mati bukan karena kesakitan atau karena banyaknya darah yang keluar. Karena darah keluar hanya sedikit demi sedikit. Yang menjadi kesusahan orang yang disalib adalah setiap kali menarik nafas, karena tangan dan kaki dipaku di atas kayu salib, sehingga untuk bernafas maka dia harus menarik tubuhnya ke atas dan kemudian turun lagi. Kesakitan-kesakitan yang terus-menerus yang menyiksa bahkan sampai berhari-hari di atas kayu salib.

Maka kalau kita membaca Alkitab, saat gelap gulita datang, orang mulai panik. Pada waktu itu adalah hari Jumat persiapan untuk Paskah. Bagi orang Yahudi orang yang disalib mereka harus mati sebelum jam 6 sore. Karena jam 6 sore mulailah Sabat yang khusus, yaitu Sabat Paskah. Mereka tidak mau ada mayat yang tergantung disalib pada hari Paskah. Kalau kita membaca cerita tentang dua orang penjahat yang di salib di samping Kristus, kedua kakinya dipatahkan. Mengapa tulang kaki mereka dipatahkan? Supaya waktu menarik nafas mereka tidak bisa lagi mendorong kakinya, akibatnya mereka tidak bisa lagi bernafas; dan akhirnya mati.

Tetapi ketika prajurit-prajurit tsb sampai pada salib Kristus, mereka kaget karena Yesus sudah mati. Mati-Nya pun begitu mukjijat. Kalau kita membaca selanjutnya ketika Yusuf dari Arimatea datang untuk meminta mayat Yesus, maka Pilatuspun kaget bahwa Yesus sudah mati. Karena biasanya orang mati setelah beberapa hari. Dan kaki-Nya tidak dipatahkan karena Dia sudah mati. Hanya ada seorang yang menusuk lambung-Nya untuk memastikan bahwa Yesus sudah mati. Alkitab menegaskan bahwa Yesus ketika mati, maka tidak ada tulang-Nya yang dipatahkan, seperti domba Paskah yang disembelih.

Dagingnya harus dimakan dan dipanggang sampai habis. Ini menyatakan seluruh keberadaan Kristus harus kita terima. Ketika kita datang kepada meja Tuhan untuk menerima Perjamuan Kudus, biarlah kita menerima tubuh dan darah Kristus yang dicurahkan bagi kita. Menerima seluruh kebenaran Kristus didalam hidup kita, sehingga hidup kita bukanlah kita lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam hidup kita. Kita juga mengingat perkataan Tuhan Yesus di dalam Yohanes 6:53-57: “(53) Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. (54)  Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. (55)       Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. (56) Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. (57) Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku”.

Ketika kita makan roti dan minum anggur, kita tidak sungguh-sungguh memakan daging dan darah Yesus. Tetapi roti dan anggur ini menuju kepada realita sesungguhnya yaitu tubuh dan darah Kristus. Ketika kita menerima itu maka kita mengakui dan menyadari bahwa kita menerima Kristus di dalam keseluruhan kelimpahan Kristus. Kita menerima Kristus menjadi Juru selamat kita, dan kita akan diselamatkan.

Ketika kita makan roti dan minum anggur, bukan saja mengingatkan akan keselamatan yang kita terima, tetapi juga sebagai makanan yang menguatkan kita. Tuhan Yesus menyatakan bahwa daging-Ku itu adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Ketika kita makan roti dan anggur, biarlah itu boleh menyegarkan iman kita, menghibur dan melepaskan dahaga dalam perjalanan kita di tengah-tengah dunia ini. Karena kita adalah musafir di tengah-tengah dunia ini.

Aspek ke empat, kita kembali kepada Keluaran 12: 11--- “Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN.” Kita melihat sesuatu yang janggal, karena apa yang mereka makan adalah supper, sudah menjelang tidur tetapi mereka memakan dengan baju dimasukkan ke dalam, memakai kasut di kaki dan tongkat di tangan. Mereka makan supper tetapi seolah-olah mereka sedang makan pagi. Ini mengingatkan kita bahwa kita adalah musafir (pilgrim) yang sedang dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian. Kita harus ingat bahwa dunia ini bukanlah rumah kita. Kadang-kadang ketika bertemu orang yang sedang menunggu akan selesainya proses Permanent Residency, keadaan mereka seperti tidak jelas. Sesungguhnya kita sebagai anak-anak Tuhan, kita harus memiliki perasaan sebagai temporary resident. Selalu ada unsur proses di dalam hidup kita, bahwa kita boleh sampai ke rumah. Sehingga kita tidak boleh sombong ketika kita berhasil, dan kita tidak boleh pegang terlalu erat segala apa yang kita miliki di dunia ini.  Kita tidak boleh terlalu sedih ketika kita gagal, karena sebagai musafir kita sadar bahwa ada banyak kesulitan , ada banyak bahaya , ada banyak ketidakpastian.

Mazmur peziarah, Mazmur 121 mengatakan “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?”. Ini menunjukkan pemazmur menyadari ada tantangan yang dia hadapi. Dalam perjalanan sebagai seorang musafir ada kelemahan. Sebagai musafir, kita perlu berhenti sejenak untuk beristirahat dan tidur di dalam perjalanan kita. Tetapi penghiburan dan kekuatan kita adalah karena Tuhan yang menjaga kita dan Dia tidak akan terlelap dan tidak akan tertidur. Kita akan bangun lagi dan bergerak kembali menuju jalan yang Tuhan arahkan bagi kita. Dalam perjalanan ini kita akan mengajak sebanyak mungkin orang ke dalam rumah yang kekal dan mulia ini.

Hari Jumat Agung ini, ketika kita mengingat keselamatan di dalam Kristus, Domba Allah yang tersembelih bagi umat-Nya. Kita harus diingatkan bahwa keselamatan yang sudah kita terima itu tidak boleh berhenti pada diri kita sendiri. Keselamatan yang sudah kita cicipi itu belum seluruhnya kita alami. Masih ada kesulitan, tantangan dan kegagalan dalam hidup kita. Masih banyak dosa dan pergumulan dalam hidup kita. Mari kita memandang kepada Tuhan, penjaga kita yang bukan hanya mati tetapi juga bangkit bahkan memimpin hidup kita. Pergilah ke seluruh dunia dan jadikanlah segala bangsa murid-Ku, dan ingatlah Aku menyertai kamu sampai pada akhir jaman. Kita bersyukur akan anugerah-Nya yang besar. Sekaligus kita boleh melanjutkan pekerjaan Tuhan yang besar yang sudah dimulaiNya.

Kita menginginkan hari Paskah ini menjadi kesempatan untuk mengajak banyak orang untuk mendengarkan Injil yang sejati. Bukan hanya orang-orang berbahasa Indonesia tetapi juga orang-orang berbahasa Inggris, sehingga Injil Tuhan boleh diberitakan ke banyak orang. Ketika kita menerima roti dan anggur yang boleh menguatkan kita, karena janji Tuhan yang menyertai kita, biarlah kita diingatkan akan tugas dan panggilan kita yang belum selesai. Berjuang bersama saudara-saudara seiman di dunia ini. Kita akan membagikan berita baik ini ke sebanyak mungkin orang, sehingga orang-orang lain boleh juga mengalami pengampunan dan keselamatan Kristus. Kita mengajak sebanyak mungkin orang maju berjalan menuju kekekalan yang sudah Tuhan sediakan bagi kita. Di mana di situ tidak ada lagi kesulitan dan penderitaan, di mana setiap air mata akan di hapus, setiap dosa akan selesai secara total. Kita boleh bersyukur dan memuji Tuhan selama-lamanya. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya