Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Arti Kematian Kristus (KKR Sabtu Paskah 2016)

Ibadah

Arti Kematian Kristus (KKR Sabtu Paskah 2016)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Sabtu, 26 Maret 2016

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 3:21-26

Saya akan mulai dengan suatu buku yang ditulis oleh CS Lewis, yang berjudul The Chronicles of Narnia. Buku ini adalah cerita anak-anak tetapi berdasarkan kebenaran Alkitab. Di dalam cerita itu diceritakan seekor Singa yang melambangkan Kristus itu sendiri. Di situ diceritakan seorang anak, Edmund, yang melakukan kejahatan yang besar yang patut dihukum mati. Tetapi Edmund kemudian berhasil melarikan diri dan meminta pertolongan singa yang bernama Aslan. Aslan mengatakan aku akan menyelamatkan kamu. The Witch yang jahat itu menuntut Edmund mati karena berdasarkan aturan yang Aslan berikan sendiri bahwa yang berbuat jahat harus mati. Namun Aslan mengatakan bahwa dia sendiri yang akan menggantikan Edmund. Maka hari itu Aslan ditangkap dan dibawa untuk dibunuh. Seluruh pengikut the Witch mencaci maki dan mengolok-olok, menggunting surainya, meludahi Aslan dan membawa Aslan ke suatu batu yang besar untuk diikat. Ada saudara Edmund, yaitu Susan dan Lusi, mereka begitu sedih sekali karena Aslan yang gagah itu dikalahkan. The Witch berkata “siapa yang menang, kau orang bodoh, dan setelah engkau matipun, Edmundpun akan kubunuh”. The Witch menikamkan pisau ke Aslan dan matilah Aslan. Semua orang meninggalkan Aslan. Di tengah-tengah kegelapan, Susan dan Lusi menangisi Aslan. Mereka menangis dengan sedihnya sampai mereka lelah dan tertidur. Kemudian tibalah fajar. Tiba-tiba mereka bangun dan berjalan menghampiri matahari. Mereka sadar sesuatu telah terjadi, batu tersebut retak, tali-tali sudah terlepas, dan Aslan tidak ada di situ. Mereka berteriak-teriak mencari Aslan. Muncullah Aslan, seluruh surainysudah kembali, dan dia berdiri gagah kembali. Susan dan Lusi menanyakan bagaimana semua itu terjadi? Aslan mengatakan sesuatu kalimat kepada mereka: The Witch hanya tahu sampai pada permulaan segala penciptaan, kalau saja the Witch itu bisa melihat ke dalam kekekalan sebelum ciptaan ada maka dia akan mengetahui jika seorang yang tak bersalah rela mati menggantikan seorang pengkhianat, maka batu itu akan retak dan kematian itu sendiri akan dikalahkan.

CS Lewis memang mengarang cerita itu berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab. Batu itu melambangkan tuntutan keadilan Allah. Allah sudah meletakkan hukum-Nya, dan siapa melanggar hukum itu harus mati. Manusia yang berdosa harus mati, dan manusia yang sudah mati di dalam dosa tidak memiliki pengharapan. Sampai Kristus, Singa dari Yehuda itu datang ke dalam dunia. Ketika Dia mati menanggung hukuman dosa, maka kematian yang merupakan sengat daripada dosa sudah dikalahkan. Keadilan Allah dipenuhi dan manusia diselamatkan. Ini bukan hanya cerita dongeng tetapi kisah yang sesungguhnya menyentuh hati yang terdalam dari hidup manusia.

Kita hari ini akan merayakan kebangkitan Kristus yang mengubah hidup manusia secara radikal. Khususnya kebangkitan Kristus mengubah hidup murid-murid Kristus. Ketika Yesus mati di atas kayu salib, murid-murid begitu sedih dan begitu ketakutan. Mereka sudah tidak memiliki pengharapan lagi karena yang mereka harapkan sebagai Mesias itu sekarang mati. Mereka lari dan bersembunyi di rumah-rumah. Tetapi ada sesuatu yang sangat dahsyat yang tidak dapat dijelaskan dengan apapun, yaitu Kristus dibangkitkan. Murid-murid yang begitu ketakutan itu tiba-tiba menjadi sangat berani. Ketika mereka berhadapan dengan pembesar-pembesar, mereka dengan berdiri dan berani mengatakan kebenaran. Petrus yang tadinya sangat ketakutan ketika dituduh oleh seorang budak perempuan, tetapi ketika dia bertemu dengan Kristus yang bangkit, maka dia betul-betul berubah.

Hari ini kita merenungkan bagaimana kebangkitan  Kristus merupakan suatu konfirmasi terhadap apa yang digenapi oleh kematian-Nya. Apa yang telah digenapi oleh kematian Kristus? Ini memberikan jawaban atas persoalan manusia yang paling dalam.

Dari ayat-ayat Roma di atas, ada empat hal yang dapat kita renungkan, yang dicapai Kristus di dalam kematian-Nya.

1)      Kematian Kristus adalah kematian yang membenarkan kita. Bagi Paulus ada persoalan tentang keadilan Tuhan, kematian Kristus adalah untuk menunjukkan keadilan Tuhan.  Khususnya kalau kita membaca ayat 25-26 “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.”

Firman Tuhan , keadilan Allah, menjadi sesuatu yang penting sekali. Tetapi bagi manusia modern ini adalah konsep yang asing, khususnya bagi mereka yang sering mendengarkan tentang kasih Allah, tentang Allah yang maha kasih dan maha pengampun. Mereka berpikir Allah harus maha kasih, bahkan ketika mereka berbuat yang paling jahatpun maka Allah harus mengampuni mereka. Kadang-kadang kita menganggap kasih Allah itu murah, seperti “seharusnya Tuhan mengampuni saya”.

Tetapi Alkitab dalam bagian ini menyatakan bukan kasih Allah yang menjadi problem tetapi keadilan Allah yang menjadi problem. Karena itu Kristus datang untuk menyatakan keadilan Allah. Ini adalah salah satu pengertian dalam Alkitab tentang salib Kristus. Alkitab menyatakan kepada kita khususnya kitab Roma menyatakan manusia yang sudah berdosa dihadapan Tuhan. Bagaimana manusia yang sudah melawan kehendak Tuhan dan Tuhan berkata engkau harus mati.

Alkitab dalam Roma 1 dan 2 menegaskan betapa manusia sudah berdosa. Bahkan bukan hanya suicide bomber, tetapi dari anak-anak kecil, kita melihat bahwa mereka juga orang-orang yang berdosa. Kita tidak pernah mengajarkan mereka untuk berbohong, atau untuk mementingkan diri sendiri, tetapi mereka melakukan hal-hal itu dengan sendirinya. Ada suatu eksperimen, yang menempatkan 10 toddler dengan dipantau oleh CCTV. Guru mereka menaruh satu sepeda dan keluar ruangan. Mereka mulai memperebutkan sepeda tersebut, dan mulai bertengkar. Kita harus selalu mengajar mereka berbagi, tetapi kita tidak perlu mengajarkan untuk merebut karena mereka bisa belajar berebut dengan sendirinya.

Kalau kita heran tentang konsep keadilan dari Tuhan, kita bisa mengambil satu contoh keadilan dari Alkitab, yaitu kisah tentang raja Daud, yang memiliki banyak kekayaan dan banyak istri. Kita tahu saat dia sedang menganggur, dia melihat Batsyeba sedang mandi, dan dia tergoda. Maka Daud tidur dengan Batsyeba. Daud kemudian tahu bahwa Batsyeba hamil oleh Daud, karena suami Batsyeba sedang pergi berperang. Maka Daud memanggil Uria, suami Batsyeba, pulang untuk bersenang-senang dengan istrinya. Uria menolak dan mengatakan bagaimana dia bisa pulang dan bisa bersenang-senang dengan istrinya sedang teman-temannya mempertaruhkan nyawa di medan peperangan. Maka Daud makin bingung, lalu dia menaruh Uria di tempat yang paling depan, supaya dia mati. Uria kemudian memang mati, dan Daud mengambil Batsyeba sebagai istrinya. Ini adalah dosa yang sangat besar. Tidak ada orang yang berani menegur Daud, sampai nabi Natan datang kepada Daud, dan memberikan suatu cerita. Ada seorang kaya yang memiliki banyak lembu dan domba. Suatu kali dia hendak menjamu tamu-tamunya di dalam pesta dengan menyembelih domba. Tetapi ketika dia mau mengambil salah satu dombanya maka dia sayang sekali. Maka dia melihat tetangganya yang miskin sekali, yang tidak mempunyai apa2 kecuali anak domba yang sangat dia sayangi seperti putrinya sendiri. Orang yang kaya tersebut penuh kuasa dan dia merebut domba tetangganya untuk menjamu tamu-tamunya. Ketika Daud mendengar cerita itu maka dia marah sekali, “katakan kepada saya siapa orang itu , dia harus dihukum mati”. Maka nabi Natan berkata, “Engkaulah orang itu, engkau melakukan segala kejahatan, merebut istri Uria dan membunuh Uria. Allah sudah memberikan harta begitu melimpah dan kalau itu masih kurang maka Allah akan menambahkan lagi, mengapa engkau melakukan sesuatu yang begitu jahat di mata Tuhan?”. Maka hancurlah hati Daud dan dia bertobat di hadapan Tuhan. Mazmur 51 adalah mazmur pertobatan Daud.

Ketika Daud bertobat Tuhan mengampuni Daud. Ini adalah problem yang sangat besar. Namun bagi jaman modern ini, orang menganggap ini bukan masalah sama sekali. Memang seharusnya Tuhan mengampuni bukan? Tetapi kalau engkau menempatkan dirimu sebagai orang tua Uria maka ini problem yang besar. Uria satu-satunya putra yang sangat engkau cintai, dia sangat berbakti kepada Tuhan dan kepada orang tua, berbakti kepada negaranya dan raja Daud dengan begitu habis-habisan. Dia sangat mengasihi Batsyeba istrinya satu-satunya, dan Batsyeba satu-satunya anak menantumu. Kalau engkau menempatkan diri sebagai orang tua Uria, maka ketika Tuhan mengampuni Daud ini adalah suatu ketidak adilan.

Yang seharusnya Tuhan lakukan adalah seperti apa yang Daud rasakan waktu dia mendengarkan cerita nabi Natan. Daud harus mati, karena dia sudah melakukan kejahatan yang begitu besar. Tetapi mengapa Daud bisa diampuni Tuhan. Sesungguhnya inilah yang dikatakan oleh Roma 3. Daud bisa diampuni Tuhan, karena berdasarkan darah Kristus yang dicurahkan di atas kayu salib. Karena Daud beriman ke depan, karena memang Yesus belum lahir, kepada kematian Yesus di salib. 1 Yoh 1:9 mengatakan “Jika kita mengaku dosa kita maka Dia adalah Allah yang setia dan adil, maka Dia mengampuni dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”. Kita boleh dibenarkan karena Kristus mati untuk menggantikan kita. Karena keadilan Allah dinyatakan melalui kematian Kristus bagi kita. Karena tanpa kematian Kristus, maka sungguh-sungguh semua orang harus mati, karena kita semua adalah orang berdosa.

Tetapi ada persoalan lain di sini. Mengapa Allah yang adil itu boleh menghukum orang yang benar yaitu Kristus, untuk mengantikan orang yang berdosa, yaitu saya. Bukankah kalau saya yang berdosa maka saya yang harus dihukum. Kalaupun orang yang benar itu rela menggantikan saya, maka hakim yang adil tidak memperbolehkan itu terjadi. Tidak ada orang lain yang boleh menggantikan orang yang melakukan kejahatan, betapapun dia rela menggantikannya.

Jawaban Alkitab memberikan insight yang lebih dalam. 2 Kor 5:14-15 “Jika satu orang mati maka semua orang mati”. Ini menjadi suatu kaitan yang unik di dalam kematian Kristus. Allah bisa mengampuni kita karena ada Kristus yang menggantikan kita. Karena kematian Kristus bukan hanya kematian pada diri-Nya sendiri, tetapi kematian Kristus adalah kematian yang mewakili semua orang yang dipersatukan dengan Kristus. Karena jika satu orang mati maka semua orang di dalam orang itu juga akan mati. 2 Kor 5:21 juga mengatakan Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Ini adalah satu-satunya yang boleh terjadi di dalam apa yang dikerjakan Kristus bagi kita. Ketika Kristus mati maka kita semua yang beriman kepada Kristus juga mati bersama-sama dengan Dia. Bagaimana kita boleh percaya kepada Kristus? Ketika kita mendengar Injil Tuhan, Roh-Kudus bekerja di dalam hati kita. Roh Kudus bekerja secara misterius, mempersatukan kita dengan Kristus. Ketika kita beriman kepada Kristus maka kita dipersatukan dengan Kristus, kita juga dipersatukan di dalam kematian Kristus, kita juga akan dipersatukan di dalam kebangkitan Kristus.

Paulus di dalam Gal 2:19-20 mengatakan “Aku sudah disalibkan bersama-sama dengan Kristus,  Aku sudah mati bersama-sama dengan Kristus, tetapi aku masih hidup, tetapi hidupku yang sekarang ini adalah hidup oleh iman di dalam anak Allah yang mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk Aku”. Ini adalah berita yang sangat indah. Bahwa Kristus mati untuk menggantikan kita dan kematian-Nya boleh membenarkan kita. Dia menggantikan kita untuk menegakkan keadilan Allah dan kita boleh diselamatkan. Tetapi hanya kepada mereka yang beriman dan percaya kepada Kristus. Sehingga kita yang sudah menerima hukuman itu di dalam Kristus, aku sudah mati bersama-sama dengan Kristus, aku juga boleh dipersatukan dengan kebangkitan Kristus. Ini adalah aspek yang indah di dalam berita Injil, bahwa Kristus Yesus telah ditentukan menjadi jalan pendamaian karena iman dalam darah-Nya, hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya kepada kita.

2)      Hal kedua yang boleh kita renungkan bahwa Salib Kristus bukan hanya menegakkan keadilan Allah. “Keadilan” di sini adalah bahasa/istilah pengadilan, tetapi Paulus juga menggunakan bahasa-bahasa lain untuk menggambarkan kelimpahan salib. Hal yang kedua adalah ketika Paulus menggunakan bahasa bait Allah. Ayat Roma 3:25a “Kristus Yesus telah ditentukan Allah untuk menjadi pendamaian karena iman dalam darah-Nya”. Jalan pendamaian atau “Sacrifice of Atonement” adalah bahasa yang yg dipakai oleh imam-imam di bait Allah. Kristus adalah Domba Paskah, dan di dalam bagian ini Paulus menekankan bahwa Kristus adalah Imam Besar yang membawa Darah Domba sebagai korban. Di dalam budaya Israel, di dalam Hari Pendamaian (the Day of Atonement), maka setahun sekali iman besar membawa domba ke dalam bait Allah. Setiap tahun sekali mereka membawa domba untuk mewakili dirinya dan juga umat Israel. Imam besar membawa darah domba ke dalam ruang maha suci dan memercikan darah itu ke tabut perjanjian Allah. Domba yang mati itu adalah symbol yang mewakili orang yang berdosa. Ketika domba ini mati dan darahnya dipercikkan, Allah yang murka terhadap dosa itu diredamkan murka-Nya. Sekaligus darah yang dipercikkan itu menghapus/menutupi dosa. Alkitab mengajarkan bahwa Yesus adalah imam besar yang agung. Kitab Ibrani (lihat Ibrani 9) khususnya menegaskan bahwa Dia pada hari the Day of Atonement, Dia bukan membawa darah domba, karena Dia sendiri adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Dia membawa diri-Nya sendiri dan membawa darah-Nya sendiri di atas kayu salib. Ketika Dia mati di atas kayu salib, maka tempat yang memisahkan ruang Suci dan Maha Suci itu terbelah dua. Sehingga tidak ada lagi pemisahan atas manusia yang berdosa dan Allah yang Maha Suci. Kristuslah satu-satunya pengantara antara manusia yang berdosa dan Allah yang Maha Suci. Ketika Kristus mati di atas kayu salib maka dosa diampuni.

Kita bisa mengerti kenajisan hidup manusia, ketika kita mengambil contoh dari orang-orang yang sakit kusta. Mereka harus berteriak “unclean-unclean”, jangan datang dan bersentuhan dengan saya karena engkaupun akan menjadi najis. Ketika Yesus berjumpa dengan seorang kusta, mereka berkata “Tuhan tolonglah aku, berbelas kasihanlah kepada aku, kalau Engkau mau sembuhkanlah aku”. Maka Yesus mengulurkan tangan-Nya dan menyentuh orang yang sakit kusta itu. Hal itu sangat mengagetkan orang-orang saat itu. Pada jaman itu, orang-orang kusta mengucilkan diri dan menghindari orang-orang lain. Ketika bertemu dengan orang-orang biasa mereka harus berteriak “unclean-unclean”, dan orang-orang takut sekali dan menjauhkan diri dari mereka. Tetapi ketika Yesus mengulurkan tangan-Nya ini adalah peristiwa yang sangat menegangkan, dan Yesus berkata Aku mau dan dan sembuhlah/tahirlah engkau.

Saudara sekalian ini adalah contoh ketika Kristus mati di atas kayu salib, Dia juga menyucikan, mengampuni dosa kita. Bukan hanya menghapuskan dosa, tetapi Kristus juga meredam murka Allah. Namun mengapa Allah harus murka terhadap dosa manusia? Bukankah ini adalah konsep dari agama-agama kafir, di mana jika ada gunung meletus, gempa bumi, itu adalah pertanda tuhan mereka sedang marah; dan mereka harus memberikan sesajen kepada allah yang sedang marah. Apakah Allah kita seperti allah yang demikian. Secara luar kita melihat adanya persamaan tetapi kalau kita mengerti lebih mendalam ada 2 perbedaan yang mendasar:

  • Ketika Kristus datang ke dunia untuk meredam murka Allah, maka persembahan bukan muncul dari manusia. Allah yang murka terhadap dosa manusia, maka Allah sendirilah yang memberikan korban itu.
  • Peredaman murka Allah (Propiciation) oleh Kristus bukanlah untuk mendapatkan anugerah Allah, tetapi Propiciation adalah ekspresi anugerah Allah itu sendiri. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, maka Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, bahkan Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal sehingga Dia boleh mati untuk menyatakan keadilan dan juga untuk meredam murka Allah. Kematian Kristus bukan supaya kita mendapatkan anugerah Allah, tetapi kematian Kristus adalah ekspresi kasih Allah yang mau menyelamatkan kita. Sumbernya adalah Allah terlebih dahulu yang ingin mengasihi kita. Kristus adalah jalan pendamaian , dalam darah-Nya, sehingga manusia yang berdosa yang seharusnya menerima murka Allah, boleh disucikan dan murka Allah ditimpakan kepada Kristus. Kita bersyukur siapapun yang di dalam Kristus maka mereka boleh memiliki damai sejahtera dari Tuhan.

3)      Hal yang ketiga yang boleh kita renungkan adalah Paulus memakai istilah dari pasar budak. Ayat 23-24 mengatakan “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”. Penebusan (Redemption) adalah bahasa pasar budak. Pada jaman itu, budak-budak dijual di pasar. Kita bisa melihat gambarannya di dalam film kolosal : Benhur ataupun film Gladiator.  Gladiator itu lari, ditangkap dan dijual di pasar budak. Maka pembeli budak memilih budak dan membeli mereka dengan sejumlah uang. Budak itu kemudian dilepaskan dan menjadi kepunyaan pembeli. Ini adalah yang disebut redemption.

Alkitab menegaskan bahwa kita adalah budak dosa. Setiap orang yang berbuat dosa diperbudak oleh dosa. Meskipun kita mengatakan aku tidak diperbudak dosa, aku melakukan apa yang aku inginkan sendiri, tetapi sesungguhnya tidak ada orang yang diluar Kristus yang bisa secara aku akan melayani Tuhan. Tidak ada orang di luar Kristus yang bisa berkata aku mau mengasihi Tuhan atau berkata Kristus sumber suka-citaku. Setiap orang yang diluar Kristus adalah budak dosa.

Alkitab mengatakan Kristus datang menebus kita bukan dengan perak dan emas, tetapi dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus sendiri. Ini adalah berita yang begitu agung. Tidak ada allah manapun yang menyelamatkan manusia dengan mengalirkan darah anak-nya yang tunggal. Inilah yang dilakukan Kristus bagi kita.

Dia menebus kita dan menjadikan kita milik-Nya. Alkitab memang mengatakan kita adalah budak Kristus, tetapi ini adalah satu-satunya perbudakkan yang membebaskan kita. Ketika kita tunduk dan taat kepada Kristus maka kita menemukan kemerdekaan yang sejati yang dapat ditemukan oleh manusia. Karena Kristus mengatakan kalau Aku memerdekakan engkau maka engkau betul-betul merdeka. Kita tidak lagi diperbudak oleh apapun di dalam dunia ini, tidak oleh boss kita, tidak oleh orang-tua, tidak oleh apapun. Ketika Kristus menjadi tuan kita maka Dia akan memerdekakan kita dengan sempurna.

4)      Hal yang terakhir yang kita renungkan adalah ketika Paulus menggunakan bahasa medan peperangan. Ayat 25 mengatakan “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.” Kata Pendamaian (Atonement) mengacu kepada reconciliation. Kita hidup di dalam dunia yang penuh dengan peperangan dan kebencian. Sejak manusia jatuh di dalam dosa, maka Adam berkata kepada Tuhan “Karena perempuan yang kamu tempatkan disisiku aku jatuh di dalam dosa”. Sebelum kejatuhan di dalam dosa, persekutuan antara Adam dgn Allah, antara Adam dgn Hawa adalah begitu indah. Sebelum jatuh di dalam dosa, Adam berkata-berkata kepada Allah seperti sabahat. Ketika Tuhan menciptakan Hawa sebagai istri yang sepadan dengan Adam, Adam begitu bersuka cita dan berkata “inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”. Tetapi ketika mereka jatuh di dalam dosa, kehadiran Tuhan menjadi suatu yang menakutkan. Mereka bersembunyi dan ketakutan. Ketika Tuhan berkata di mana engkau Adam, mengapa engkau bersembunyi, apakah engkau memakan buah yang Aku larang engkau memakannya. Maka Adam berkata “Perempuan yang engkau tempatkan disisiku itu”, Adam bukan hanya menyalahkan Hawa tetapi juga menyalahkan Allah. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, maka manusia hidup penuh dengan peperangan dan kebencian satu dengan yang lain.

Tentu kita melihat peperangan dan kebencian terus menerus sampai hari ini. Setelah bom di Brussel ada juga bom di Irak. Peperangan dan kebencian tidak akan berhenti di dunia ini, sampai kita boleh melihat Kristus Domba yang tersembelih itu. Kematian Kristus memperdamaikan manusia dengan Allah, juga memperdamaikan manusia dengan sesamanya, juga memperdamaikan manusia dengan dirinya sendiri. Kristus datang ke dunia menjadi jalan pendamaian karena iman dalam darah-Nya. Inilah karya Kristus bagi kita sekalian. Kita bersyukur mendengar berita yang begitu indah, begitu berharga. Hanya di dalam Kristus kita dapat mengalami damai yg sejati. Tanpa Kristus maka manusia terus membenci sesamanya, sampai kita menerima korban Kristus yang mati di atas kayu salib maka kita akan terus mengorbankan anak-anak kita.

Hari ini kita boleh menerima Injil yang sejati, kita boleh disegarkan dan dibawa kepada Salib Kristus. Kematian Kristus adalah kematian yang membenarkan kita, yang menggantikan kita sebagai korban, yang menebus kita menjadi milik-Nya, yang memperdamaikan kita dengan Allah, dengan sesama dan dengan diri kita sendiri.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya