Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Hidup yang Penuh Pengharapan

Ibadah

Hidup yang Penuh Pengharapan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 27 Maret 2016

Download audio

Bacaan Alkitab: 1 Petrus 1:3-9

Di dalam cerita Narnia, buku yang ditulis oleh CS Lewis, ada empat orang bersaudara, Peter, Susan, Edmund dan Lusi. Lusi adalah anak yang paling kecil, yang pertama menemukan dunia Narnia. Suatu hari mereka sedang pergi ke suatu kastil, dan waktu mereka bermain, Lusi menemukan suatu lemari, yang begitu dia masuk, di dalam lemari itu ada dunia yang lain, yaitu dunia Narnia, dunia yang berbeda sekali, yang penuh dengan salju, dan dia amat terpesona karenanya. Saat dia kembali lagi ke dunia yang real, ternyata waktu tidak berubah sama sekali, seolah-olah dunia Narnia berada di luar dimensi waktu. Saat Lusi mengajak saudara-saudaranya untuk masuk ke dalam lemari itu, ternyata mereka tidak menemukan dunia Narnia. Keesokan paginya, Lusi dan Edmund masuk ke dalam lemari itu lagi, dan ternyata mereka bisa menemukan dunia Narnia itu lagi. Waktu Lusi kembali lagi ke dunia real dan mau meyakinkan Susan dan Peter, malah Edmund yang membantah keberadaan dunia Narnia. Peter dan Susan menjadi bingung, Lusi begitu mengotot, tetapi Edmund tetap mengatakan bahwa dunia Narnia itu cuman khayalan Lusi saja. Maka mereka datang kepada Professor pemilik Kastil itu, dan bertanya kepadanya, betulkah ada dunia Narnia di dalam lemari itu. Professor itu bertanya mengapa mereka menanyakan hal itu, yang mana yang betul, perkataan Lusi atau Edmund.  Professor itu kemudian mengatakan suatu kalimat yang merupakan apologetika CS Lewis: “Menurut kalian, siapa yang lebih mungkin menceritakan yang benar”. Mereka langsung tahu jawabannya yaitu Lusi. Karena mereka tahu bahwa Lusi selalu mengatakan kebenaran, dan mereka juga tahu bahwa Edmund adalah tukang bohong.

Hidup kita sangat menentukan apa yang kita beritakan sebagai kebenaran. Meskipun berita itu hampir tidak mungkin diterima akal sehat, atau hampir tidak mungkin untuk dipercaya, tetapi kalau hidup kita menyatakan kebenaran, menyatakan suatu integritas dari apa yang kita katakan dan kita lakukan, maka meskipun berita itu terlalu sulit untuk dipercaya, orang akan mendengar apa yang kita katakan. Itulah yang terjadi ketika Kristus bangkit dari kematian. Tidak pernah ada orang yang bangkit dari mati sebelumnya, dan kemudian tidak mati lagi. Lazarus dibangkitkan dari kematian, tetapi kemudian mati lagi.  Yesus begitu jelas mati di atas kayu salib, dan murid-murid bertemu dengan Kristus yang bangkit. Itu mengubah seluruh hidup mereka. Perubahan hidup mereka adalah suatu kesaksian yang paling powerful dari bukti-bukti lain daripada kebangkitan Kristus. Murid-murid sebelum kebangkitan begitu ketakutan dan mengunci pintu, bahkan Petrus sampai yang bersumpah tiga kali menyangkal Kristus, karena ketakutan ketika ditanya seorang budak perempuan kecil. Namun ketika mereka bertemu dengan Kristus yang bangkit, hidup mereka totally berubah. Terang Kristus menerangi hati mereka, dan roh kudus memimpin hidup mereka. Mereka menjadi saksi Tuhan di tengah-tengah dunia ini, meskipun beritanya sangat susah diterima oleh orang-orang dunia ini.

Apa yang digambarkan oleh Petrus dalam 1 Petrus 1:3 “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” memberi kepada umat-Nya, murid-murid pada waktu itu, dan juga kita pada waktu ini, hidup yang penuh pengharapan. Maukah saudara memiliki hidup yang penuh pengharapan. Petrus dalam 1 Petrus 3 mengatakan “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan dan siap sedialah memberikan pertanggungan jawab atas pengharapan yang kita memiliki”. Petrus ingin kita mengetahui pengharapan apa yang kita miliki, Petrus juga ingin kita memberikan pertanggung jawaban atas pengharapan yang kita miliki.

Kali ini kita akan merenungkan bagaimana kebangkitan Kristus memberikan hidup yang penuh dengan pengharapan. Ada tiga pertanyaan yang ada jawabannya di dalam ayat-ayat ini: apa yang menjadi dasar pengharapan kita? apa pengharapan itu? dan apa dampaknya sekarang bagi hidup kita?

Apa yang menjadi Dasar Pengharapan Kita.

Ada tiga hal yang menjadi dasar pengharapan di sini:

  1. Oleh karena rahmat-Nya yang besar, sebagaimana dituliskan dalam 1 Petrus 1:3 “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar...” Segala sesuatu mulai dengan rahmat Tuhan, tidak ada yang berhak menerima pengharapan karena keinginnannya sendiri. Seperti tidak ada orang yang secara fisik dilahirkan karena ingin dilahirkan. Mercy and grace adalah dua sisi dari satu mata uang. Mercy adalah Tuhan tidak memberikan kita apa yang seharusnya kita terima. Kita seharusnya menerima murka Allah, namun karena belas kasihan Allah kita tidak menerimanya. Sebaliknya grace adalah Tuhan memberikan kita apa yang tidak seharusnya kita terima. Dia memberikan keselamatan yang tidak layak kita terima. Semua karena rahmat Tuhan yang besar. Ketika kita menyadari hidup kita seluruhnya adalah anugerah Tuhan, maka ini akan membawa dampak yang dalam di seluruh hidup kita. Kalau kita boleh beribadah dengan tenang, boleh mendengarkan Firman dengan bebas, kalau memiliki kesempatan belajar, kalau kita sadar itu adalah rahmat-Nya yang besar, maka itu akan mengubah seluruh hidup kita.  Kita boleh menyadari bahwa kita tidak layak menerima semua kebaikan itu. Kita harus menyadari bahwa kita ada sebagaimana kita ada, dan seluruh yang kita miliki adalah karena anugerah Tuhan.
  2. Karena kelahiran baru. Apa kaitannya kelahiran baru (born again) dengan kematian Kristus. Bukankah kematian Kristus itu terjadi 2000 tahun yang lalu, dan kelahiran baru yang kita alami itu adalah sekarang? Roma 6:5 mengatakan “Sebab kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan dengan kebangkitan-Nya”. Ini adalah semata-mata pekerjaan Roh Kudus, yang bekerja secara misterius di dalam hidup kita, untuk memberikan hidup yang baru. Efesus mengatakan bahwa kita adalah orang yang sudah mati di dalam dosa-dosa kita, kita mati secara rohani, berarti apapun yang dikerjakan kepada kita kalau bukan Roh-Kudus yang terlebih dahulu memberikan hidup yang baru, maka kita tidak bisa berrespons dan menjadi percaya.  Kita tidak tahu bagaimana Roh Kudus bekerja. Roh Kudus secara misterius membuat hidup yang baru yang membuat kita bisa berespons terhadap panggilan Firman dan menjadi percaya.
  3. Roh Kudus mempersatukan kita secara misterius dengan Kristus. Persatuan dengan Kristus adalah doktrin yang sangat penting. Ketika Roh Kudus melahirbarukan, Dia mempersatukan kita dengan Kristus di dalam kematian-Nya, kita juga akan dipersatukan di dalam kebangkitan-Nya. Kita yang mati di dalam dosa, dipersatukan dengan Kristus yang menanggung dosa kita. Sehingga kematian Kristus diperhitungkan sebagai kematian kita, dan kebangkitan Kristus juga diperhitungkan sebagai kebangkitan kita. Galatia 2:19b mengatakan “Aku telah disalibkan dengan Kristus.”, padahal tidak pernah Paulus disalibkan secara fisik. Ini artinya adalah Paulus dipersatukan dengan Kristus, manusia lamanya disalib bersama-sama dengan Kristus, manusia lamanya sudah mati bersama-sama dengan Kristus di atas kayu salib. Selanjutnya Paulus mengatakan Gal 2:20 --“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang  hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” “Dalam Anak Allah” menyatakan bahwa kita dipersatukan dengan Kristus.

Ini adalah kaitan lahir kembali dengan kebangkitan Kristus: Roh-Kudus mempersatukan kita sehingga kita memiliki hidup yang baru, dan hidup yang baru itu adalah hidup yang dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus. Ini adalah pengharapan yang sejati yang boleh kita alami.

Pekerjaan Roh Kudus, bagaimana aku disalibkan bersama-sama dengan Kristus, adalah sangat abstrak. Tetapi apa artinya lahir kembali di dalam hidup kita secara konkrit? Kunci utamanya adalah di dalam Kristus (union with Christ). Union with Christ adalah doktrin yang sangat penting di dalam keselamatan kita. Barangsiapa di dalam Kristus dia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Kor 5:17). Artinya ada hidup yang baru; hidup yang baru itu seperti apa? Di dalam hidup yang baru itu ada Roh Kudus di dalam jiwa kita, pasti ada arah yang baru, ada keinginan yang baru, ada sumber suka cita yang baru.

Ada beberapa contoh yang real, ada pemuda yang dulunya setiap hari pergi clubbing sampai pagi, ada pemuda yang lain yang menjadi drug dealer, yang kemudian berubah secara drastis dan kemudian menjadi pelayan-pelayan yang aktif. Sebelum ada lahir baru maka tidak ada kesukaan untuk mengasihi Tuhan. Memang ada banyak kesukaan yang orang bisa punyai, seperti mencari uang, suka makan, tetapi tidak ada orang yang belum lahir baru, yang kesukaannya adalah mencari Tuhan. Seperti Pemazmur mengatakan (Mzm 42:1) “Seperti rusa yang merindukan sungai yang air, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah”. Seperti rusa yang merindukan air, suatu hal yang paling dasar, yang tanpanya dia tidak bisa hidup.

Di dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang yang mencari harta yang terpendam (lihat Matius 13:44), yang setelah menemukan harta yang begitu berharga itu maka dengan suka cita dia menjual seluruh miliknya. Sumber suka citanya berubah.

Petrus meinginkan supaya kita bertanggung jawab atas pengharapan yang sudah kita terima. Jika orang bertanya mengapa hidupmu bisa berubah seperti ini, mengapa engkau tidak lagi clubbing, mengapa engkau rajin ke Gereja, mengapa rajin melayani, mengapa suka mendengarkan Firman? Bisakah kita menjawab bahwa itu adalah karena pengharapan yang ada pada kita. Bisakah kita menjawab, bahwa setelah mendengarkan berita Injil, Roh Kudus bekerja di dalam hati, ada sesuatu yang berubah, dan ada kesukaan yang baru. 2 Kor 4:6  mengatakan ”Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”

Pengharapan apa yang kita peroleh

Pengharapan untuk menerima warisan inheritance yang seperti 1 Petrus 1:4 katakan “untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” Warisan yang tidak pernah binasa, yang tidak dapat cemar, yang tidak dapat layu yang tersimpan di surga bagi kamu. Kita tidak pernah mengerti apa artinya selama-lamanya, apakah kita tidak akan bosan? Apa yang akan kita lakukan di situ? Ravi Zakarias memberikan suatu contoh, kalau ada anak kecil yang diberi balon gas maka dia suka melepaskan balon itu, maka dia naik ke bangku dan menggapai balon itu. Kemudian apa yang dia lakukan? Dia akan melepaskan balon itu dan kemudian berusaha mengambilnya lagi. Terus menerus, berkali-kali dan setiap kali dia tertawa dan exited. Ketika kita bertemu dengan Tuhan, warisan tersebut bersifat kekal, murni dan kita akan bertemu dengan Tuhan yang semakin lama semakin kita kagumi, karena Allah itu adalah Allah yang tidak terbatas kemuliaan-Nya.

Secara lebih detil, 1 Petrus 1:7 mengatakan “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. “. Kalau kita melihat bagian menyebutkan, sehingga kamu bukan Tuhan, yang memperoleh puji-pujian dlsb, namun tentu puji-pujian, kemuliaan dan kehormatan yang terbesar adalah bagi anak Domba. Kita akan kagum akan kemuliaan Anak Domba dengan tidak habis-habisnya, namun kita juga akan berbagian dalam puji-pujian hormat dan kemulian daripada Kristus.

Ayat yang ke 7 ini juga memberikan konteks bahwa kemurnian ini diuji seperti emas, yang diuji engan api. Emas yang belum murni harus dibakar melalui apa ribuan derajat sampai kotoran-kotorannya muncul diluar. Melalui proses itu emas tersebut menjadi murni. Setelah seorang pandai emas itu melihat emas itu, maka dia kagum dan memuji emas itu. Tentu pujian, hormat dan kemuliaan itu bagi anak domba Allah yang tersembelih itu. Tetapi ketika kita taat kepada Dia, melalui ujian, kesulitan dan pergumulan dalam hidup kita, maka Tuhan melihat hidup kita yang teruji dengan api, Tuhan menguji apakah Dia adalah yang paling berharga, yang menjadi sumber suka-cita yang utama di dalam hidup kita. Setelah Tuhan melihat iman yang seperti ini, maka Tuhan berkata (lihat Mat 25)  hai hamba-Ku yang baik dan setia, engkau telah beriman dengan sungguh-sungguh. Iman seperti itulah yang kemudian Tuhan akan puji, Tuhan akan hormati, dan Tuhan akan muliakan.

Andaikan kalau kita diperhadapkan dengan teroris, seperti teroris masuk ke kampus di Afrika, dan bertanya apakah kamu Kristen atau Islam, dan yang mengaku Kristen akan ditembak. Ketika teroris itu datang dan bertanya kepada kita seperti itu, iman yang seperti apa yang kita miliki. Biarlah kita memiliki pengharapan yang pasti di dalam hidup kita, yang meninggikan Kristus di atas segala-galanya bahkan di atas hidup kita sendiri. Biarlah kita memiliki iman yang rela menyangkal diri, memikul salib, yang mengikut Kristus, iman yang rela mati untuk Kristus, kehilangan nyawa karena Kristus, karena justru orang yang sedemikian yang akan mendapatkan puji-pujian, hormat dan kemuliaan dari Tuhan.

Apa dampaknya buat hidup kita sekarang ini?

Secara singkat ada lima dampak yang terjadi di dalam hidup kita sekarang ini:

  1. Ada iman, seperti yang dikatakan di dalam 1 Petrus 1:5 “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.” Kita memiliki pengharapan karena kita menjadi orang yang beriman di dalam Tuhan. Di dalam segala kesulitan, pergumulan, tantangan, ujian, kita memiliki iman yang bersandar kepada Tuhan.
  2. Kita mengasihi Tuhan, 1 Petrus 1:8 mengatakan “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,”. Kita mengasihi Dia meskipun kita tidak melihat Dia. Ini menarik karena kalau kita pikir kalau saja Kristus ada di tengah-tengah kita maka kita akan mengasihi Dia. Tetapi bahkan di jaman itu ketika Petrus menuliskan bagian ini, Petrus tahu sebagian besar dari pembaca surat-surat ini, belum pernah melihat Kristus. Bagaimana kita bisa mengasihi seseorang yang belum pernah kita lihat. Yaitu kalau kita mengenal orang itu. Kalau kita tidak mengenal dan mengasihi orang itu, maka ini menjadi masalah, dia tidak berarti apa-apa. Tetapi kalau saya tidak melihat dia (misalnya karena tempat tinggalnya jauh) namun saya mengenal orang itu, pernah bersekutu dengannya, maka itu menjadi kasih yang menjadi nyata. Kalau kita memiliki pengharapan, maka kita mengasihi Tuhan, walaupun kita tidak pernah melihat-Nya. Kita bersekutu dengan-Nya dan merasakan kehadiran-Nya.
  3. Kita mengalami sukacita, seperti yang dikatakan dalam 1 Petrus 1:6 dan 8:“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” “Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan” Apa artinya suka cita yang mulia? Kita tahu kita akan berbagian dalam kemuliaan Kristus. Ini adalah suka cita yang besar.
  4. Seperti yang dikatakan dalam ayat 6, ada suka-cita namun pada saat yang sama ada duka-cita. Inilah paradox dari kehidupan Kristen. Dalam hidup orang Kristen akan selalu ada alasan untuk berduka cita. Kalau engkau berdoa bagi pekerjaan Tuhan, maka engkau akan berduka cita, kalau engkau melihat orang-orang yang belum percaya, maka engkau berduka cita, kalau kita menyadari dosa kita sendiri, melihat orang-orang Kristen yang dibunuh di mana-mana, maka kita berduka cita. Kalau kita melihat anak-anak kita yang melawan Tuhan maka kita akan berduka cita. Tetapi kita memiliki alasan yang lebih besar untuk bersuka cita di dalam Tuhan. Di tengah-tengah segala duka cita ini, kita bisa bersuka cita karena Tuhan-lah yang berdaulat, Tuhan yang bekerja, memimpin umat-Nya.
  5. Kita dipelihara oleh Tuhan, seperti yang dikatakan dalam 1 Petrus 1:5 “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.”. Yang kita alami sekarang adalah kita dipelihara oleh Allah. Ini menarik sekali kalau kita kaitkan dengan ayat 4, tentang warisan yang disimpan di sorga bagi kita. “Di simpan di sorga” itu artinya dipelihara oleh Tuhan bagi kita.   Namun sekarang ini, bukan hanya warisan itu yang dipelihara, tetapi “kamu” - kita juga dipelihara oleh Tuhan, sehingga tidak ada apapun yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus.

Di dalam Paskah kali ini, kita boleh mengisi hidup kita dengan kehidupan yang penuh pengharapan karena kita mengetahui bahwa Dia-lah yang menjadi pengharapan kita, rahmat-Nya yang besar, Kristus yang bangkit yang sudah memberikan hidup yang baru. Kita boleh memiliki pengharapan akan warisan yang kekal dan tidak akan cemar. Pengharapan bahwa Tuhan akan menjaga kita sekarang, memberi kekuatan, iman, kasih, suka cita dan duka cita di dalam hidup menantikan pengharapan itu.  Biarlah kita menjadi orang-orang yang hidup dengan penuh pengharapan, berjuang di tengah-tengah dunia dan boleh menyatakan hidup yang Tuhan inginkan di tengah dunia yang penuh dengan dosa ini. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya