Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Instrumen Keselamatan

Ibadah

Instrumen Keselamatan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 6 Maret 2016

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 10:17-18 Hakim-Hakim 11:1-11

Melalui pembacaan Alkitab di atas, kita belajar dari Yefta yang sebenarnya menjadi bayang-bayang dari Kristus. Kita melihat bagaimana Yefta dibuang dan ditolak oleh manusia tapi kemudian dia menjadi penyelamat bangsa Israel.

Kita akan melihat 3 hal dari kisah Yefta:

  1. Instrumen daripada keselamatan (The instrument of salvation)

Tuhan menyelamatkan bangsa Israel dan Ia memakai Yefta sebagai instrumen keselamatan-Nya. Sebelum kita mempelajari apa yang Yefta kerjakan dalam menyelamatkan Israel, mari kita melihat terlebih dahulu latar belakang Yefta.

Dalam pasal 11 ayat 1-3 memberikan latar belakang yang penting akan siapa Yefta itu. Di sini kita melihat bahwa Yefta adalah anak seorang pelacur. Ayahnya adalah orang Gilead (Israel). Ketika Yefta besar maka saudara-saudara tirinya mengusir dia. Maka pergilah Yefta dan berkumpul dengan para perampok. Karena dia adalah seorang yang gagah perkasa, kemungkinan besar hebat di dalam berperang maka dia menjadi pemimpin di situ. Inilah latar belakang Yefta.

Hal yang boleh kita renungkan di sini adalah:

  • Yefta diusir oleh saudara-saudaranya padahal bukan salah dia. Bukan keinginannya dilahirkan sebagai seorang anak pelacur, tetapi karena alasan itulah maka saudara-saudaranya mengusir dia. Menjadi pemimpin para perampok mungkin juga bukan keinginan dia,  tapi karena dia pandai dan hebat dalam berperang maka otomatis dia menjadi pemimpin dari para perampok itu. Kita boleh melihat di sini akan keadaan Yefta yang sebenarnya mengalami kehidupan yang boleh dikatakan tidak adil; dia menjadi dirinya pada saat itu karena keadaan yang menuntun dia seperti itu.

Tetapi yang mengherankan adalah Tuhan kemudian memakai Yefta untuk memimpin orang-orang Israel, khususnya suku Gilead dan memenangkan peperangan dengan suku-suku yang menjadi musuh dari bangsa Israel. Tuhan menyelamatkan bangsa Israel melalui Yefta, seorang anak pelacur dan seorang yang dibuang dan ditolak oleh saudara-saudaranya.

Di sini kita boleh melihat bahwa Tuhan bisa memakai, bahkan seringkali Tuhan memakai orang-orang yang tidak terpikirkan oleh manusia untuk melakukan kehendak-Nya, menyatakan akan kemuliaan-Nya. Dalam Yohanes pasal 9 ketika murid-murid Tuhan Yesus bertemu dengan seorang anak yang lahir buta, maka kemudian anak ini dibawa kepada Tuhan Yesus dan mereka bertanya “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”. Maka Tuhan menyatakan “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia”.  

Tuhan bisa memakai orang-orang yang dibuang, yang dianggap tidak berarti oleh masyarakat, yang tidak diperhitungkan oleh manusia untuk mengerjakan pekerjaan-Nya, menyatakan kemuliaan-Nya.

Ini menjadi suatu encouragement bagi setiap kita di dalam pergumulan hidup kita. Jika kita dilahirkan dalam keadaan yang tidak ideal (mungkin orang tua yang bercerai, ada cacat, orang tua yang terus bertengkar, orang tua yang suka berjudi, banyak kerumitan-kerumitan) maka biarlah kita belajar dari apa yang Tuhan kerjakan kepada Yefta; bahwa Tuhan bisa memakai kita ketika kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan seperti seorang anak kecil yang hanya memiliki 5 roti dan 2 ikan dan menyerahkannya kepada Tuhan dan Tuhan memakai itu untuk memberi makan 5000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak.

Contoh lainnya adalah Joni Eareckson Tada, seorang yang cacat karena kecelakaan, tapi Tuhan bisa memakai dia menjadi orang yang luar biasa. Begitu pula dengan Nick Vujicic. Tuhan memakai dia menjadi seorang pembicara yang kemana-mana memberitakan Injil kepada orang-orang yang mengalami pergumulan. 

  • Ada satu pararel yang sangat dekat antara Yefta dengan Yahweh (Tuhan).  Dalam pembacaan Alkitab pasal 11,  tua-tua Gilead datang kepada Yefta ketika mereka sedang dalam kesulitan berperang melawan bani Amon yang menyerang mereka. Ketika para tua-tua ini dalam pergumulan, kesulitan, tantangan yang besar dan berpikir siapakah yang dapat menolong mereka, maka mereka mengingat Yefta karena mereka tahu bahwa Yefta adalah pahlawan yang gagah perkasa dan kuat. Maka mereka datang kepada Yefta dan memintanya untuk menolong dan membela mereka untuk melawan bani Amon. Dan jika Yefta menang, maka dia akan menjadi pemimpin mereka.  Dari percakapan antara Yefta dengan para tua-tua Gilead itu sangat mirip dan pararel dengan apa yang terjadi antara Yahweh dengan orang Israel, yaitu kedua-duanya sama-sama ditolak; Tuhan pun ditolak oleh orang Israel. Dan kedua-duanya juga sama yaitu ketika orang Israel dan Gilead itu sama-sama menghadapi kesulitan yang besar, mereka minta tolong dan datang: Israel kepada Yahweh, Gilead kepada Yefta.

Tuhan dan juga Yefta mengetahui bahwa orang-orang itu datang kepada mereka walaupun sudah membuang dan menolak mereka  karena orang-orang itu hanya ingin mempergunakan, karena mereka dalam kesusahan saja maka mereka minta tolong. Meskipun tahu dan tidak ingin menolong sebenarnya, tetapi akhirnya berbelas kasihan dan menolong juga.

Seperti Kristus katakan bahwa seorang hamba itu tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jika mereka menganiaya Kristus, maka mereka juga pasti menganiaya kita. Hidup kita haruslah juga pararel, mengikuti dengan apa yang Kristus jalani hidup di tengah-tengah dunia ini.

Sebagai orang Kristen, kadang-kadang kita diperlakukan dengan tidak adil atau mungkin karena salah kita sendiri, kita ditegur atau disalahmengerti. Kalau memang teguran itu datang dan kita sadar bahwa kita itu salah, maka kita haruslah berubah. Tapi kadang-kadang walaupun kita hidup benar dan melakukan sebaik-baiknya, anak-anak Tuhan yang lain bisa salah mengerti dan kita diperlakukan tidak adil. Biarlah ketika kita mengalami itu, sekali lagi kita mengingat pararel Yefta dengan Yahweh, mengingat bagaimana kalau Kristus diperlakukan demikian, kita pun harusnya diperlakukan demikian.

Janganlah kita kecewa ketika kita disalah mengerti ketika kita menjalani pelayanan dengan sungguh-sungguh. Justru itu adalah penghiburan. Orang-orang Kristen dan para Rasul melayani Tuhan. Tetapi kemudian mereka ditangkap, dipenjara, dianiaya. Ketika mereka keluar dari penjara, mereka bersukacita karena mereka dianggap layak menderita demi Kristus.  

2. Sejarah keselamatan  (Hakim-Hakim 11:12-28)

Melalui pembacaan Hakim-Hakim 11: 12-28  kita boleh belajar bahwa peristiwa Tuhan mengalahkan Raja Sihon itu tidak sedasyat peristiwa Israel menyeberang laut Teberau, tidak sedasyat runtuhnya tembok Yerikho. Tetapi peristiwa Tuhan menyerahkan Raja Sihon dan bani Amon ke dalam tangan Yefta adalah peristiwa yang menjadi bagian dari karya keselamatan Allah yang besar yang dicatat juga di dalam Alkitab (Mazmur 136:17 – 19), masuk ke dalam pujian dari bangsa Israel, memuji Tuhan karena sejarah keselamatan, karya-Nya di dalam sejarah.

Yang bisa kita renungkan adalah apakah yang sekarang kita kerjakan di dalam hidup Gereja Tuhan di tempat ini dan juga di dalam hidup kita pribadi lepas pribadi juga merupakan bagian dari karya keselamatan Allah yang besar?

 3. Tragedi keselamatan (Hakim-Hakim 11: 29-40)

Dalam ayat 32-33  kita membaca kemenangan Yefta berperang melawan bani Amon dengan begitu singkat, hanya dalam 2 ayat. Kemudian sepertinya memang penulis ingin memfokuskan kita kepada akibat dari nazar Yefta.

“Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran”.

Ada 2 hal penting yang penulis ingin ajarkan kepada kita:

  • Secara negatif: apa yang dinazarkan Yefta.

Peristiwa kemenangan yang besar dari Yefta dan bangsa Israel di over shadowed dengan kesedihan Yefta ketika melihat anaknya yang  tunggal yang sangat dikasihinya.

Mengapa Yefta bernazar seperti itu? Tuhan tidak pernah perintahkan Yefta untuk dia bernazar. Yefta ingin memberikan yang terbaik kepada Tuhan, yang paling dia kasihi, yang paling berharga.

Kalau kita melihat kembali siapakah Yefta? Yefta adalah seorang yang tidak diterima. Dia sangat terpukul, sedih, terluka hatinya karena dia tidak diterima. Tetapi kemudian dia diterima ketika tua-tua Gilead datang kepadanya. Hal ini karena dia hebat, gagah perkasa. Jadi dia diterima bukan karena who he is, but what he does. Karena dirinya terluka seumur hidupnya, dia berpikir bahwa dia selalu tidak diterima, tetapi dia akan diterima ketika dia melakukan sesuatu yang baik (when he does something good). Ketika dia menghadapi tantangan yang besar berperang melawan bani Amon, dia tidak sanggup dan minta tolong kepada Tuhan sehingga waktu dia deal dengan Tuhan, dia berpikir hal yang sama: Tuhan akan menolong saya, menerima saya, memberkati saya kalau saya melakukan sesuatu untuk Tuhan. Ini menjadi sesuatu pelajaran yang penting karena banyak orang Kristen yang berpikir demikian ketika kita deal dengan Tuhan. Kita berpikir bahwa kita harus melakukan sesuatu yang besar bagi Tuhan, baru dia akan menerima kita.

  • Secara positif - penulis ingin mengajar kepada kita bahwa keselamatan Tuhan yang dikerjakan oleh manusia selalu ada nodanya, tragedinya, kebodohannya, ketidak sempurnaannya. Jika kita menginginkan keselamatan yang sempurna, maka kita harus memandang kepada seorang yang lebih besar dari siapapun hamba-hamba Tuhan di dalam dunia ini yaitu Kristus. Melalui kematian Kristus di kayu salib kembali menunjukkan kasih Allah yang begitu besar ketika kita masih berdosa bahkan ketika kita masih menjadi musuh daripada Allah.  Kristus sempurna, Dia tidak bersalah, tidak mengatakan nazar apapun yang salah, tidak menyerahkan orang lain menjadi korban tetapi Dia menyerahkan diri-Nya sendiri menjadi korban tebusan bagi banyak orang.

Tidak ada apapun yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk menerima kasih-Nya itu. Kita hanya percaya, menerima apa yang Tuhan kerjakan bagi kita. Kita menerima dengan beriman di dalam Kristus dan ketika kita bisa beriman pun ini adalah anugerah-Nya. Ketika kita boleh mendengar Injil, bertobat, beriman, menyerahkan diri dan percaya kepada Tuhan, maka sebenarnya waktu kita percaya kita makin belajar dan makin mengerti kita bisa percaya, bisa beriman karena Tuhan sudah memilih kita sebelum dunia dijadikan, Tuhan sudah mengasihi kita, mengenal kita sebelum kita ada.

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya