Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kemarahan Tuhan

Ibadah

Kemarahan Tuhan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 28 Februari 2016

Bacaan Alkitab: Hakim-hakim 10:1-16

Sekarang kita masuk ke dalam Hakim-Hakim pasal 10. Bagian ada kaitannya dengan Allah yang adalah kudus dan yang adalah kasih yang boleh kita renungkan bersama. David Wells, seorang profesor theologi, pendeta yang sangat dipakai oleh Tuhan di dalam hidupnya, di dalam bukunya yang terbaru “God in the Whirlwind”, mengatakan bahwa berdasarkan pergumulan, research, mengajar dan melayani di gereja selama puluhan tahun, maka semakin jelas apa yang menjadi persoalan utama di banyak gereja yaitu adalah pengenalan akan karakter Allah yang keliru. Pengenalan yang keliru ini juga sebenarnya diekspresikan di dalam tata cara ibadah. Buku ini khususnya membahas tentang the holy love of God, yaitu tentang karakter Allah yang kudus dan penuh kasih. Pengenalan akan karakter Allah sebenarnya membentuk dan mengarahkan akan seluruh kehidupan kita.

Bagian kitab Hakim-Hakim kali ini juga berbicara tentang karakter Allah, ketika berhadapan dengan Israel yang terus menerus hidup di dalam dosa dalam segala hal yang mereka lakukan. Khususnya ketika hakim-hakim yang Tuhan bangkitkan mati, kemudian mereka kembali lagi berbuat dosa (ayat 6-16). Orang Israel itu melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN. Kitab Hakim-hakim sudah berulang kali menyebutkan akan bagian ini bahwa berkali-kali orang Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Tetapi bedanya dalam bagian ini adalah bukan hanya dikatakan mereka melakukan apa yang jahat tetapi mereka melakukan apa yang betul-betul jahat.

Ayat 6 menegaskan kepada kita bahwa mereka beribadah kepada para Baal dan para Asytoret, kepada para allah orang Aram, para allah orang Sidon, para allah orang Moab, para allah bani Amon dan para allah orang Filistin, tetapi TUHAN ditinggalkan mereka dan kepada Dia mereka tidak beribadah. Inilah konteks dari pasal 10. Mereka bukan hanya melakukan yang jahat, bukan hanya mengulang-ngulang kejahatan mereka setelah hakim-hakim tertentu mati tetapi saat ini mereka semakin rusak dan semakin masuk terperosok ke dalam dosa. Mereka melakukan apa yang betul-betul jahat di mata Tuhan.

Kemudian dalam ayat ke 7-8, Tuhan murka kepada mereka. Ini satu hal yang perlu kita pelajari dan mengerti. Hakim-Hakim 10:7-8 "Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel, dan Ia menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin dan bani Amon. Dalam tahun itu juga orang Israel ditindas dan diinjak mereka; delapan belas tahun lamanya mereka memperlakukan demikian semua orang Israel yang di seberang sungai Yordan di tanah orang Amori yang di Gilead." Ini juga adalah respon yang sangat ekstrim yang dari Tuhan. Kata yang dipakai di sini adalah Tuhan murka kepada mereka dan kemudian Tuhan membiarkan orang Filistin, bani Amon itu, menindas dan menginjak orang Israel. They shattered and crushed the Israel. Kata shattered di sini hanya dipakai satu kali lagi saja di seluruh Perjanjian Lama yaitu ketika Tuhan menghancurkan tentara Mesir yang sedang mengejar bangsa Israel. Tuhan menghancurkan mereka ketika mereka mengejar dan masuk ke dalam laut Teberau dan memutarbalikan dan menghancurkan tentara Mesir. Tetapi di sini yang terjadi adalah orang Israel sendiri yang ditindas, ditekan dan diinjak oleh Filistin. Ini sebenarnya mengagetkan banyak orang.

Saya tidak tahu apakah saudara kaget ketika orang Israel datang kepada Tuhan dan melakukan apa yang jahat dan kemudian Tuhan murka seperti demikian. Apakah saudara terkaget-kaget oleh murka Tuhan yang membiarkan umat-Nya yang ditindas dan diinjak oleh orang Filistin. Bahkan terlebih lagi ketika mereka mengalami kesulitan dan penderitaan yang sangat. Maka mereka berseru (ayat 10) kepada Tuhan "Kami telah berbuat dosa terhadap Engkau, sebab kami telah meninggalkan Allah kami lalu beribadah kepada para Baal." Sepertinya bagus, sepertinya mengaku telah berbuat dosa, mengaku bersalah di hadapan Tuhan. Ayat 11-13 merupakan respon Tuhan terhadap perkataan mereka, "Bukankah Aku yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir, orang Amori, bani Amon, orang Filistin, orang Sidon, suku Amalek dan suku Maon yang menindas kamu, ketika kamu berseru kepada-Ku? Tetapi kamu telah meninggalkan Aku dan beribadah kepada allah lain; sebab itu Aku tidak akan menyelamatkan kamu lagi."

Wah ini mengerikan sekali. Jawaban Tuhan kepada Israel, umat-Nya ini mungkin mengagetkan orang Kristen termasuk kita. Kenapa Tuhan berespon seperti demikian? Khususnya orang-orang yang dibesarkan di dalam gereja-gereja bangsa barat termasuk Australia, menjadi kaget. Bahkan ketika orang Israel sudah mengaku salah, sepertinya Tuhan marah dan tidak ada pengampunan. Pergi sajalah berseru kepada para allah yang telah kamu pilih itu; biar merekalah yang menyelamatkan kamu, pada waktu kamu terdesak.

Mengapa hal ini mengagetkan banyak orang Kristen? Orang yang bukan Kristen pun ketika membaca hal ini tidak akan bisa terima Tuhan yang seperti demikian. Karena seringkali pengenalan kita akan Allah itu lebih banyak dibentuk oleh budaya di sekitar kita, dan bukan dibentuk oleh Kitab Suci. Budaya di sekitar kita salah satu cirinya (khususnya dunia barat dan termasuk negara-negara yang semakin makmur) adalah sikap / an attitude of entitlement. Suatu sikap yang merasa bahwa aku berhak atas segala sesuatu yang baik. Attitude ini di dalam buku David Wells dikatakan muncul seiring dengan semakin makmurnya suatu bangsa. Tentu juga bukan hanya di Barat tetapi juga di Asia, negara-negara tertentu termasuk Indonesia. Semakin makmurnya suatu bangsa, semakin kita dibesarkan di dalam keluarga yang segala sesuatu ada, segala sesuatu disediakan, diberikan kepada kita maka ketika kita bertumbuh dalam konteks hidup lingkungan yang seperti demikian maka ada sikap hati di dalam jiwa kita bahwa aku berhak mendapat apa yang aku inginkan dan yang aku rasa baik.

Salah satu nya ada penelitian yang mengatakan keadaan di Australia tahun 1983-84, dalam satu tahun itu orang-orang Australia yang overseas untuk berlibur ada 750 ribu orang dalam satu tahun. Tetapi 30 tahun kemudian, menjadi 5 juta orang. Saudara melihat berapa makmurnya. Orang yang semakin makmur hidupnya, semakin merasa berhak mendapatkan hal-hal yang mereka inginkan. Kita juga yang disini, kalau dibandingkan dengan orang tua kita tentu kebanyakan kita melihat anak-anak kita itu terlalu enak, apa saja yang mereka perlu mereka dapat. Dan banyak kemewahan sebenarnya mereka dapat. Saya ingat pertama kali saya keluar negeri naik pesawat itu adalah waktu kuliah. Anak-anak sekarang dari bayi sudah keluar negeri. Kemana-mana, ke Eropa, Amerika, Asia, keliling dunia. Naik kapal cruise yang mewah luar biasa.

Tetapi ada bahaya yang besar. Saudara perlu mengerti, kita tidak terlepas hidup di tengah-tengah dunia seperti ini. Yang menjadi bahaya adalah ketika kita semakin banyak menikmati kemewahan, kelimpahan secara materi, justru secara ironisnya ketika diteliti orang-orang jaman sekarang ini justru semakin banyak yang merasa tidak puas. Heran sekali. Seorang yang bernama David Myers, menulis buku berjudul American Paradox. Dunia Barat tetapi tentu mewakili banyak termasuk Australia dan negara/ keluarga yang semakin makmur. Saya percaya juga banyak di antara saudara yang dari kecil sudah menikmati banyak kemewahan. Paradoksnya adalah dengan semakin makmurnya suatu negara, sebenarnya orang-orang di negara itu (secara umum, tidak semua) lebih memiliki banyak pilihan, akses pendidikan lebih mudah, mereka lebih memiliki kebebasan, memiliki gadget lebih canggih, mobil lebih bagus, rumah lebih besar, hidupnya lebih comfortable. Tetapi herannya di dalam konteks keluarga / bangsa yang demikian justru depresi semakin banyak, anxiety jauh lebih tinggi, perceraian keluarga semakin tinggi, anak-anak semakin banyak yang tidak berpengharapan (demoralized), tidak ada perjuangan lagi, angka bunuh diri remaja terus meningkat dari tahun ke tahun. Dalam konteks yang berbeda-beda di seluruh dunia bahkan di Australia khususnya pemakaian ice (drugs) menjadi problem besar.

Belum lama ini juga tertangkap pangeran Arab yang membawa kokain, ice, dsb untuk diselundupkan ke Arab untuk berpesta, kalau tidak salah 2 ton. Saya beri komentar: rasain mereka! Tidak jadi pesta seks, tidak jadi pesta ice dan masuk ke dalam penjara. David Myers mengatakan suatu paradok:  We have never had so much and at the same time we have never had so little. Kita rasa mendapat begitu banyak secara materi seperti begitu bebas, begitu makmur tetapi hati semakin kosong.

Attitude seperti ini seringkali kita bawa juga ketika berhadapan pada Tuhan. Ketika kita datang kepada Tuhan, kita masuk ke gereja, kita juga pikir Tuhan itu seperti vending machine yang besar. Kita masukan koin, beli $2/$3 dan kita tekan yang kita mau, dan mengharapkan hasilnya pasti keluar. Tuhan itu seperti vending machine yang besar di langit yang memberikan apa saja yang kita inginkan asal kita tahu caranya dan tekniknya. Pakai minyak urapan, perjamuan kudus, pakai apa saja segala macam dan saudara akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Kita akan datang kalau kalau perlu sesuatu. Kalau tidak, kita tidak datang kepada vending machine di langit itu.

Maka orang-orang yang punya sikap seperti demikian akan kaget ketika mendengar apa yang Tuhan katakan kepada orang Israel. “Aku tidak akan menyelamatkan engkau, bukankah Aku telah menyelamatkan engkau berkali-kali. Ketika engkau mulai lancar lagi, engkau mulai meninggalkan Aku. Kali ini no more! You have to understand, you have to know who I am.” Kita perlu mendengar siapa Tuhan itu. Tuhan mau mengatakan bahwa engkau harus mengenal kemuliaan-Ku, keagungan-Ku, kebesaran-Ku. Tidak ada yang seperti Aku. Yeremia berkata di pasal 10:6 "Tidak ada yang sama seperti Engkau, ya TUHAN! Engkau besar dan nama-Mu besar oleh keperkasaan", pasal 10:5 "Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baikpun tidak dapat"; pasal 10:10 "Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murka-Nya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geram-Nya."

Kita perlu mengenal siapa Tuhan. Penulis kitab Hakim-hakim menginginkan kita mengenal siapa Dia, mengenal akan kesucian-Nya, kebesaran-Nya, keagungan-Nya, kekudusan-Nya. Kita perlu mengenal siapa Allah itu sehingga Dia sungguh-sungguh menjadi Tuhan di dalam hidup kita. Dia yang berkuasa, Dia yang memimpin, Dia yang menyatakan kehendak-Nya yang harus kita taati. Dia adalah Allah yang besar dan yang mulia itu. Ketika kita mengenal Allah yang demikian maka kita akan sadar betapa besar, mulia-Nya Dia dan sekaligus berapa besar dan mengerikannya dosa kita.  Disepanjang Alkitab orang-orang yang bertemu dengan Tuhan, pertama-tama responsnya bukan bersyukur, bukan bersukacita, namun adalah mati aku, binasa aku! Mazmur 8 menyatakan kebesaran Tuhan baru hanya melalui ciptaan-Nya (general revelation). Setelah melihat keagungan Tuhan yang begitu besar lalu mulai sadar siapakah aku manusia sehingga Engkau mengindahkannya, siapakah anak manusia sehingga Engkau mengingatnya. Maka apakah kita menyadari di dalam hati kita berapa besar mulianya Tuhan dan menyadari juga berapa besar dan mengerikannya dosa kita?

Yesaya (Yesaya 6) ketika melihat seraphim yang memuji-muji Tuhan dengan 6 sayap (2 sayap dipakai untuk terbang, 2 sayap dipakai untuk menutup mukanya karena kemuliaan Tuhan begitu besar, 2 sayap dipakai untuk menutup kakinya karena hormat kepada Tuhan) berkata: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya”, maka Yesaya yang menyaksikan kemuliaan Tuhan itu bukan memuji Tuhan, bukan ikut bersama-sama seraphim memuji Tuhan, bersyukur melihat kemuliaan yang besar, dan sepertinya terangkat hatinya. Tetapi pertama-tama dia sadar akan dosanya. Itulah respons sepanjang umat Tuhan, sepanjang ketika orang-orang bertemu dengan Tuhan yang sejati. Respons pertama adalah sadar – betapa celakanya, binasa, habislah aku karena aku adalah manusia yang berdosa, aku orang yang najis bibir dan aku hidup di tengah-tengah bangsa yang najis bibir tetapi mataku sudah melihat Tuhan yang mulia, yang agung, yang besar itu.

Ketika Petrus bertemu dengan Tuhan (lihat Lukas 5), Tuhan menyuruh untuk menebarkan jalanya. Sepanjang malam dia sudah menebarkan jala bersama-sama dengan teman-temannya. Tidak dapat satu ekor ikan pun. Tetapi karena Tuhan Yesus yang menyuruh, dia tebarkan juga dan dapat ikan penuh hampir robek jalanya. Petrus juga pertama-tama tidak memuji dan bersyukur kepada Tuhan. Tetapi dia tersungkur di hadapan Tuhan dan berkata: “Tuhan pergilah daripadaku karena aku orang berdosa.”, menyadari ketidaklayakan, ketidakberdayaan. Karakter pertama dari orang Kristen adalah dia sadar dia adalah orang yang miskin di hadapan Allah. Itulah kalimat pertama dari khotbah di bukit. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. Sadar dirinya miskin, kosong, tidak berdaya, bangkrut, tidak memiliki apa-apa. Karena melihat Tuhan yang besar dan mulia, maka menyadari diri yang kosong dan berdosa. Justru itu membawa kita kepada pertobatan yang sejati. Kita baru kagum menyadari kebaikan, anugerah, kasih Tuhan yang begitu besar di dalam kehidupan kita. Ketika kita sadar hal ini maka ketika kita mengaku dosa, meminta pengampunan dari Tuhan, kita tidak lagi mengatakan kepada Tuhan (yang mengampuni kita dan yang menyerahkan Yesus mati bagi kita): “memang Engkau harus mengampuni saya.” Sebaliknya bila tidak sadar, justru ketika tidak diampuni menjadi marah: “kenapa Engkau tidak mengampuni? Sudah seharusnya Engkau mengampuni saya. That is your job.” Orang yang memiliki attitude of entitlement akan merasa begitu, pengampunan Tuhan bukan lagi sesuatu yang berharga dan menggetarkan.

Sebaliknya bagi umat Tuhan yang sejati justru ketika dia bertemu dengan Tuhan, menyadari dosanya, yang mengagetkan bukanlah Tuhan yang murka, karena memang sudah seharusnya Tuhan murka, melainkan yang membuat kaget, terpesona adalah karena kasih-Nya yang begitu besar kepada kita yang berdosa. Inilah yang ingin dimengerti oleh penulis kitab Hakim-hakim ketika kemudian ayat 15 berkata: "Kami telah berbuat dosa. Lakukanlah kepada kami segala yang baik di mata-Mu. Hanya tolonglah kiranya kami sekarang ini!" Penulis ingin kita mengerti bukan hanya kesucian, kekudusan Tuhan tetapi juga hati Tuhan yang mengasihi kita (ayat 16),”…maka Tuhan tidak dapat menahan hati-Nya melihat kesukaran mereka.”

Jangan salah mengerti bagian ini, ini bukan respons yang natural dari “pertobatan mereka”. Mereka sebenarnya juga belum bertobat. Seruan ini hanya karena kesakitan penderitaan mereka, bukan sungguh-sungguh karena pertobatan dan sadar akan dosa. Ketika Tuhan melihat penderitaan mereka, kesengsaraan daripada umat-Nya, pertobatan bukan menjadi dasar Tuhan mengasihi dan mengampuni kita. Pengharapan kita satu-satunya adalah bukan di dalam pertobatan kita yang sungguh-sungguh. Pengharapan kita satu-satunya adalah di dalam belas kasihan dan cinta kasih dari Tuhan sendiri. Salah satu commentary tentang bagian ini mengatakan: our hope does not rest in the sincerity of our repentance but in the intensity of Yahwe’s compassion. Bukan berarti kita tidak perlu bertobat, tetapi pengharapan itu bukan berasal dari diri kita bahkan bukan dari pertobatan kita itu sendiri. Semata-mata pengharapan kita ada di dalam belas kasihan dan hati Allah yang mengasihi umat-Nya, meskipun umat-Nya berdosa, melawan Dia. Ketika kita mengalami penderitaan yang sangat dan Tuhan melihat penderitaan kita, muncul belas kasihan yang besar dari diri Allah sendiri.

Penulis yang sama mengatakan: It is very difficult for us to imagine how much Israel’s misery moves Yahwe’s. It is as if He can not stand to see His people even His sinfull people crushed in all their affliction, God is afflicted. Di dalam segala penderitaan umat-Nya maka Tuhan sendiri juga menderita karena Tuhan mengasihi kita. Saudara sekalian, biarlah kita boleh mengerti akan dua aspek daripada karakter Tuhan ini: kesucian-Nya dan kasih-Nya yang begitu besar.

Saya ingin tutup dengan memberi contoh sekali lagi di dalam Perjanjian Lama agar kita makin mengerti dalam hati saudara betapa kasih dan pengampunan Allah itu adalah sesuatu yang menggetarkan dan menggugah hati kita dan bagaimana kasih dan pengampunan Allah itu tidak bisa dilepaskan dari kesucian, kemuliaan dan kekudusan dari pribadi-Nya. Kasih-Nya adalah kasih yang kudus, dan kekudusan-Nya adalah kekudusan yang penuh kasih kepada kita. Kita tahu Daud yang berdosa, berzinah dengan Batsyeba, dan ketika dia tahu bahwa Batsyeba mengandung anaknya, dia ketakutan maka dia merencanakan Uria yang sedang berperang untuk dipanggil pulang, diberi cuti supaya bisa tidur bersenang-senang dengan istri. Tapi Uria tidak mau melakukan itu karena dia prajurit yang sangat setia. Maka Daud berpikir kalau dia tidak mau pulang, lebih baik dikirim di tempat paling depan biar dia mati dan Batsyeba bisa menjadi istrinya. Maka Nabi Nathan datang kepada Daud berkata: Ada seorang kaya yang punya begitu banyak kambing dan domba. Kemudian ada tamu-tamu yang datang ke rumahnya dan dia ingin untuk menjamu tamu-tamunya. Tetapi waktu dia mau mengambil salah satu anak dombanya, dia merasa sayang. Maka dia lihat ke tetangganya yang tidak punya harta apapun kecuali anak domba satu-satunya. Itulah hartanya yang dia sayang seperti puterinya sendiri. Tetapi karena orang itu kaya dan berkuasa, maka diambilah anak domba milik tetangganya itu dan disembelih dibagikan untuk pesta. Daud mendengar hal itu marah luar biasa. Kadang-kadang kalau kita mendengar cerita atau mengalami sendiri ketidakadilan, kita akan marah sekali. Maka Daud marah, “Katakan kepada saya siapa orang itu, dia harus dihukum mati!” Maka nabi Nathan berkata, “Engkaulah orang kaya itu. Tuhan sudah memberi begitu banyak, tetapi engkau mengambil satu-satunya istri dari Uria dan bahkan membunuh Uria.

Saudara, kita akan mengerti kemarahan dari Daud, tetapi yang menjadi problemnya ada ditulis di Roma 3. Paulus memunculkan persoalan itu dan dia mengatakan problemnya adalah ketika Daud mendengar jawaban nabi Nathan, maka Daud sadar akan dosa serta kejahatannya dan bertobat. Dia menuliskan Mazmur 51 sebagai mazmur pertobatannya. Dia minta ampun kepada Tuhan. Hancur hati Daud.

Problemnya adalah ketika Daud bertobat, mengakui dosanya, maka Tuhan mengampuni dia. Justru ini adalah problem. Bagi orang yang memiliki sikap the attitude of entitlement, ini bukan problem, seharusnya memang begitu, bukankah memang seharusnya jika orang bertobat minta ampun, Tuhan mengampuni? Tidak! Alkitab mengangkat hal itu tidak seharusnya terjadi. Bukankah kita juga seharusnya mengerti ketika kita mengaku dosa kita, maka tidak seharusnya Tuhan mengampuni. Kalau kita mengaku kesalahan kita di depan polisi, maka pengakuan itu dipakai untuk memasukkan kita ke penjara.

Tapi 1 Yohanes 1:9 mengatakan: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."  Seharusnya kalau Dia Allah yang setia dan adil – Allah yang tidak pernah mengingkari janjiNya, perintah Tuhan yang suci dan benar itu, Dia yang mengatakan barangsiapa yang melanggar, upah dosa adalah maut – maka harusnya kita dihukum, hukumannya adalah hukuman mati. Tapi heran sekali Alkitab mengajar kepada kita, biarlah kita sekali lagi kagum akan kasih-Nya, akan pengampunan-Nya, akan anugerah-Nya yang begitu besar yang tidak layak kita terima. Ini suatu berita yang sangat baik, yang tidak ada di dalam dunia ini. Berita yang tidak kita terima di dalam dunia yang berdosa ini. Ketika kita mengaku dosa kita maka Dia akan mengampuni segala dosa dan menyucikan kita. Ini sesuatu kekaguman yang besar.

Coba kita mengerti menempatkan diri kita, membayangkan diri kita sebagai orang tua Uria yang punya anak satu-satunya, anak yang sangat setia, sangat baik, sangat mengasihi orang tua, sangat berbakti kepada negara, sangat mencintai Raja Daud, melakukan segala perintahnya. Dan dia punya istri satu-satunya yang sangat dia kasihi dan belum punya anak. Bukan hanya Daud menyetubuhi anak menantu mereka, tetapi dia juga membunuh anak mereka. Maka saudara akan tahu betapa tidak adil sesungguhnya kalau Tuhan mengampuni dia. Harusnya betul yang Daud katakan (keadilan yang dalam hati Daud) ketika dia mendengar cerita perumpamaan yang diberikan Nathan itu, harusnya yang adil adalah Daud mati. Harus mati karena dosanya yang besar. Itulah juga seharusnya saudara dan saya, karena dosa kita yang besar. Kalau kita bicara tentang keadilan Tuhan, maka seharusnya kita semua adalah orang yang mati, karena tidak ada yang tidak berbuat dosa.

Mengapa akhirnya Tuhan boleh membenarkan kita dan mengampuni dosa kita seperti yang dikatakan di Mazmur (lihat Mzm 103): "sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita". Aku mengampuni kamu, menghapus dosamu, membuang dosamu seperti jauhnya timur dari barat demikianlah dosamu kubuang dari hadapan-Ku. Aku buang dan Aku tanam sedalam-dalamnya dan Aku melihat engkau seperti tidak berdosa, seperti Anak-Ku yang tunggal Yesus Kristus.” Mengapa ini bisa terjadi? Apakah Allah berkompromi terhadap keadilan-Nya? Apakah kesucian dan keadilan-Nya berarti murahan? Tidak, karena keadilan dan kesucian-Nya itu yang menuntut Allah harus menghukum dosa sebagaimana seharusnya, tetapi bukan seluruh dunia yang dihukum mati, melainkan mengirim Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Inilah argumen dari 1 Yohanes 1. Darah Yesus itu yang menyucikan kita dari segala kejahatan. Karena Yesus Kristus mati menebus dosa kita demikianlah kita mengetahui kasih Allah yang mengutus AnakNya yang tunggal untuk mati. Kasih Allah itu dinyatakan di dalam keadilan, kesucian-Nya. Kesucian-Nya tidak bisa kompromi. Kasih-Nya dinyatakan justru di dalam kematian Anak-Nya yang tunggal. Satu-satunya Allah Anak yang Dia kasihi dengan segenap hati, seluruh jiwa dari kekekalan sampai kekekalan. Dia adalah pribadi kedua Allah Tritunggal yang dikasihi (Mat 3:17) – This is my Son, whom I love; with him I am well pleased. Seluruh hidup Yesus dari kekekalan, dan juga waktu datang ke dunia dari lahir sampai mati, menaati memuliakan Bapa-Nya, tidak pernah melawan, tidak pernah melanggar perintah-Nya, melakukan seluruh yang Bapa lakukan, sempurna.

Tetapi Dia harus mati di kayu salib karena keadilan Allah. Karena sekali lagi, itulah satu-satunya jalan. Itulah kasih Tuhan. Meskipun itu Perjanjian Lama, Daud boleh diampuni dosanya dengan darah yang sama, darah Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru. Setelah Perjanjian Baru, kita yang sekarang juga diampuni dengan darah yang sama Yesus Kristus yang mati di kayu salib. Kita melihat ke belakang, sedangkan Daud dan orang-orang Perjanjian Lama imannya melihat ke depan di dalam Kristus yang mati menebus dosa manusia.

Sebagai aplikasi, biarlah kita hari ini makin menyadari, kita ingin makin mengenal Tuhan, makin mengenal kekudusanNya, dan Tuhan Yesus berkata dalam Injil: Seperti Bapa mengasihi Aku, demikianlah Aku mengasihi Engkau. Dengan kasih yang sama, Bapa mengasihi Anak-Nya dengan sepenuhnya, seluruh jiwa Bapa ada di dalam diri Anak, seluruh kasihNya ada di dalam diri Anak, sekarang dengan kasih itu Anak mengasihi kita. Oh how precious, how wonderful, how amazing the love of God yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Inilah yang Tuhan inginkan dari kitab Hakim-hakim untuk kita mengerti kesucian, kekudusan Allah sekaligus hati Allah yang mengasihi, yang tidak dapat menahan, "He could not bear Israel’s misery no longer". Dia tidak dapat lagi melihat penderitaan umat-Nya.

Bagi kita yang di dalam Kristus, murka Tuhan dinyatakan di dalam Kristus. Bagi kita yang di luar Kristus, yang tidak beriman, tidak percaya kepada Dia, murka Tuhan juga akan dinyatakan kepada orang-orang yang demikian. Hanya mereka yang di dalam Kristus, murka Tuhan tidak lagi menimpa kita untuk kedua kalinya, karena murka Tuhan sudah dinyatakan di dalam Kristus.

Sehingga 1 Yoh1:9 sebaliknya mau mengatakan: di dalam terang kematian Kristus, di dalam terang Anak-Nya yang tunggal yang menebus dosa kita, yang menanggung seluruh dosa kita di dalam diri-Nya, maka ketika Tuhan tidak mengampuni kita maka justru Dia menjadi Allah yang tidak adil. Karena dosa kita sudah ditanggung oleh Kristus, dibayar lunas di dalam Kristus, sudah selesai, sehingga hidup kita boleh bersyukur tidak habis-habisnya. Bukan kita lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita.

Hidup kita yang masih di dunia ini, di dalam daging ini adalah hidup oleh iman di dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku, dan yang telah menyerahkan nyawanya bagi aku.

Aplikasi kedua, biarlah engkau sekarang saling mengasihi satu sama lain dengan kasih yang sama juga. Biarlah kita mengerti, bertumbuh, menjadi gereja yang mengenal Tuhan seakurat, sebenar-benarnya sesuai yang Dia inginkan sekaligus juga mengalami kasih-Nya, anugerah-Nya yang besar itu bagi hidup kita.

Ringkasan oleh Dewi Sanjaya | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya