Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Memilih Pemimpin

Ibadah

Memilih Pemimpin

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 21 Februari 2016

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 8:33-9:24

Saya akan memulai dengan suatu cerita, tentang seorang ibu yang menceritakan pengalaman pahitnya sebagai seorang miskin. Suaminya adalah penjudi, dan membuat hidupnya susah. Saudara-saudaranya selalu memaki-maki dia karena mempunyai suami seperti itu. Penghinaan seperti itu kemudian membentuk hidupnya, dan dia bersumpah untuk berjuang sekuat tenaga supaya jangan dihina lagi sebagai orang miskin. Dia berjuang berpuluh-puluh tahun, dan memang  kemudian dia berhasil membangun keluarga khususnya dalam hal ekonomi.

Hal-hal yang kita ingat seringkali membentuk hidup kita. Banyak pengalaman pahit membentuk ingatan kita secara luarbiasa dan mendorong sesuatu yang bisa positif atau negatif. Namun kita sering kali tidak mengingat kebaikan orang. Sebaliknya kalau orang berbuat jahat kepada kita, kita selalu mengingatnya, bahkan berpuluh-puluh tahun. Ketika kita melupakan kebaikan orang lain, sebenarnya jiwa kita menjadi mundur.

Alkitab mengajar kepada kita khususnya mengingat pekerjaan Tuhan. Spiritualitas Kristen salah satunya adalah “mengingat”. Tuhan Yesus ketika melakukan perjamuan terakhir mengatakan (Lukas 22:19) “Lakukanlah ini menjadi peringatan akan Aku”. Setiap kali kita melakukan perjamuan kudus, kita mengingat  pekerjaan Tuhan, anugerah-Nya, kasih-Nya, kebaikan-Nya. Mengingat itu menjadi suatu hal yang penting sekali di dalam kehidupan kita.

Kita melihat Hakim-Hakim 8 “orang Israel tidak ingat kepada TUHAN, Allah mereka, yang telah melepaskan mereka dari tangan semua musuhnya di sekelilingnya, juga tidak menunjukkan terima kasihnya kepada keturunan Yerubaal-Gideon seimbang dengan segala yang baik yang telah dilakukannya kepada orang Israel.”. Ketika orang Israel tidak ingat kepada Tuhan Allah mereka, bukan berarti mereka tidak tahu siapa Yahwe itu, bagaimana Dia sudah melepaskan mereka dari musuh-musuh mereka yang lalu. “Tidak ingat” – artinya adalah apa yang dilakukan Tuhan pada masa yang lalu tidak mempunyai pengaruh apapun juga terhadap hidup mereka sekarang.

Waktu kita mengikuti pelajaran Agama dan ikut ujian, kita bisa menjawabnya dengan baik. Namun jika apa yang kita ketahui, apa yang kita bisa tuliskan itu tidak memberi dampak, tidak memberi kekuatan apapun hari ini, maka kita sebenarnya tidak-mengingat akan pekerjaan kita. Ini menjadi sesuatu yang berbahaya sekali.

Mengingat akan pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita, peringatan itu memberi dorongan kepada kita. Bukan hal-hal yang pahit yang membentuk kita, tetapi hal-hal yang positif, yang Tuhan kerjakan di dalam hidup kita, yang seharusnya membentuk kita. Pada konseling suami-istri yang bertengkar, salah satu yang bisa dilakukan adalah mencoba mengingat saat berpacaran mereka. Ajak mereka mengingat mengapa mereka bisa tertarik satu sama lain beberapa puluh tahun yang lalu.

Bangsa Israel tidak ingat akan Allah Tuhan mereka; Tuhan tidak mempunyai pengaruh kepada kehidupan mereka. Mereka juga tidak berterimakasih kepada Gideon. Gideon sudah mengerjakan banyak hal yang baik kepada mereka, khususnya memimpin bangsa Israel melawan musuh-musuh mereka. Mereka tidak mengingat itu semua, mereka tidak berterima kasih kepada keturunan Gideon seimbang dengan apa yang baik yang telah dilakukannya kepada bangsa Israel. Meskipun Alkitab melarang kita untuk mengidolakan pemimpin kita/ hamba Tuhan, tetapi Allah memerintahkan kita untuk menghormati pemimpin kita, tua-tua, dan pengurus Gereja. Kita tidak mengidolakan Pak Tong, karena dia juga manusia biasa, tetapi kepada orang yang sudah Tuhan tempatkan sebagai pemimpin, biarlah kita hormati dan berterima kasih kepadanya. Memang lebih mudah mengkritik pemimpin kita, dari pada menghormati mereka. Ketika kita hanya mengkritik itu akan menjadi berbahaya sekali. Alkitab dengan jelas mengkaitkan penghinaan akan hamba Tuhan dengan penghinaan akan Tuhan itu sendiri.  Penyelewengan Israel dan sikap Israel terhadap keturunan Gideon terjadi secara bersamaan.

Ketika saya mengamati bagian ini, orang-orang yang sering mengkritik seringkali adalah orang-orang yang tidak sadar akan kelemahan diri mereka sendiri. Mereka sendiri tidak berbuat apa-apa, namun karena mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan mereka mulai mengkritik. Justru orang-orang yang sudah melakukan banyak pekerjaan bagi Tuhan, seringkali mereka tidak mengeritik, karena mereka mengetahui bagaimana susahnya pelayanan itu. Salah satu peristiwa yang menarik, seorang hamba Tuhan yang diundang berkotbah, dia seorang yang sangat rendah hati dan berkotbah dengan sangat luar biasa. Namun ada seorang bapa yang mengkritik “Bapak melakukan kesalahan grammar kira-kira tiga belas kali”. Response dari pendeta ini menunjukkan kematangannya dan kerendahan hatinya; dia menjawab “Betul 13 kali?, mungkin saya rasa lebih dari itu, but I have tried my best, how about you?”. Justru orang itu tidak pernah mengkoreksi diri mereka sendiri.

Bangsa Israel tidak mengingat pekerjaan Tuhan, dan mereka tidak berterima kasih kepada Gideon. Bukan berarti kita tidak boleh mengkritik dan menyatakan kebenaran, betul sekali kita harus mengatakan kebenaran. Ravi Zakarias mengatakan salah satu problem yang besar dari hidup raja Salomo, seorang yang pada mulanya begitu bijaksana dan baik, namun akhirnya jatuh sedemikian rusaknya, adalah karena tidak ada nabi yang menegur Salomo. Tidak demikian dengan Daud, dia melakukan berzinah, membunuh, dan mengambil istri orang, tetapi ada Nabi Natan yang berani mengkritik Daud. Sehingga raja Daud berbalik dari jalan yang salah.

Namun bukan berarti kita tidak boleh mengkritik. Kalau kita mengetahui sesuatu yang benar, maka kita harus mengatakannya. Tetapi waktu kita mau mengkritik, semangatnya harus dengan peka melihat, tetapi sekaligus waktu kita mengatakannya, maka kita terlebih dahulu perlu mengkoreksi diri. Apakah yang sudah saudara lakukan, apa saudara sudah berdoa dan bergumul untuk hal itu.

Waktu saya akan menegur ketidakbenaran akan hidup seseorang, saya harus memeriksa diri saya terlebih dahulu. Apakah betul saya mengkritik itu karena saya mengasihi dia, apakah saya mendoakan dia.

Kita perlu menegur dengan keras pemimpin-pemimpin yang tidak benar, termasuk kepada hamba Tuhan, kita harus menyatakannya.

Selanjutnya kita melihat Abimelekh sebagai seorang pemimpin yang gagal. Abimelekh muncul karena Gideon ayahnya, juga melakukan hal yang salah. Kalau Gideon mempunyai satu istri saja, maka masalah ini tidak akan ada. Dari salah satu gundiknya, muncullah Abimelekh, seorang pemimpin yang kejam, yang membunuh 70 saudaranya sendiri. 

Abimelekh seolah-olah berkata kepada orang-orang di Sikem (Hakim-Hakim 9) “saya bukan mentakuti-takuti kamu ya, tetapi kamu pilih mana, dipimpin oleh 70 orang atau satu orang yaitu saya; daripada diperas oleh 70 orang lebih baik kamu hidup di bawah perintah saya.” Mereka setuju, dan kemudian dengan preman-preman dan Abimelekh, mereka membunuh ke 70 saudara Abimelekh. 

Tetapi ada satu orang saudaranya yang lari yaitu Yotam. Waktu Abimelekh akan dinobatkan sebagai raja, maka Yotam dari salah satu puncak gunung meneriakkan suatu fabel yang cukup panjang. Inti fabel ini terlihat dari kalimat yang terakhir (Hakim-Hakim 9:14-15) “Lalu kata segala pohon itu kepada semak duri: Marilah, jadilah raja atas kami! Jawab semak duri itu kepada pohon-pohon itu: Jika kamu sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kamu, datanglah berlindung di bawah naunganku; tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon-pohon aras yang di gunung Libanon”.

Inti dari fabel ini adalah kebodohan bangsa Israel yaitu mengangkat “semak duri”, yang menggambarkan Abimelekh, sebagai pemimpin mereka. Akibat dari mereka mengangkat semak duri itu sbg raja , yaitu semak duri itu akan membunuh mereka, dan mereka akan membunuh semak duri itu. Inilah yang dikatakan Yotam dan itulah yang betul-betul terjadi.

Hal yang kedua dari cerita ini adalah begitu penting sekali bagaimana kita memilih pemimpin yang berkenan kepada Tuhan.  Sebagai pemimpin dia bukan menjadi semak duri bagi orang-orang yang dipimpin. Syarat-syarat dari pemimpin diberikan oleh Paulus di dalam 1 Timotius 3:1-7

“Benarlah perkataan ini: "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah." Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis .”

Kadang-kadang di Gereja-Gereja syarat-syarat ini tidak pernah dibicarakan waktu memilih majelis atau tua-tua. Kualifikasi pemimpin sudah Alkitab berikan seperti dalam ayat-ayat di atas. Sebagai pemimpin, kita harus melihat diri apakah aku qualified untuk menjadi seorang pengurus, sebagai tua-tua dsb.

Selanjutnya kalau kita melihat ayat Hakim-Hakim 9:22-57, ada banyak intrik-intrik dan pembunuhan, dan secara singkat bisa disimpulkan bahwa yang terjadi adalah (Hakim-Hakim 9:49) “Kemudian rakyat itu juga masing-masing memotong dahan-dahan, lalu mengikuti Abimelekh, meletakkan dahan-dahan itu di atas liang dan membakar liang itu di atas kepala orang-orang itu. Demikianlah semua penduduk kota Menara-Sikhem juga mati, kira-kira seribu orang laki-laki dan perempuan.”

Abimelekh membunuh mereka yang tadinya setuju untuk mengangkat Abimelekh sebagai pemimpin mereka. Abimelekh membunuh mereka seperti membunuh tikus dengan membakar liang-liang mereka. Mereka salah memilih pemimpin; mereka mementingkan kepentingan diri mereka sendiri, dan tidak memperdulikan Tuhan.

Selanjutnya Abimelekh terus mengejar mereka sampai ke kota Tebes (Hakim-Hakim 9:50), namun seorang perempuan “had a crush on” Abimelekh. “A crush” di sini bukan artinya jatuh cinta, tetapi kali ini betul betul batu kilangan yang di lempar dari atas, memecahkan kepala Abimelekh.  Saat hampir mati, Abimelekh kemudian menyuruh seorang bujangnya untuk membunuh dia supaya jangan orang tahu bahwa dia dibunuh seorang perempuan.

Sepanjang cerita ini, kata “Tuhan” hampir tidak disebut sepanjang berpuluh-puluh ayat, dan hanya pada bagian akhir. Maka penulis menyimpulkan peristiwa ini: (Hakim-Hakim 9:56-57) “Demikianlah Allah membalaskan kejahatan yang dilakukan oleh Abimelekh kepada ayahnya, yaitu pembunuhan atas ketujuh puluh saudaranya; juga segala kejahatan orang-orang Sikhem ditimpakan kembali oleh Allah kepada kepala mereka sendiri. Demikianlah kutuk Yotam bin Yerubaal mengenai mereka.”

Ada dua hal yang bisa renungkan dari peristiwa ini

1) Peristiwa yang sepertinya sangat natural, tetapi ini adalah God Revelation. Tuhan berikan ini supaya kita dapat melihat cerita ini dari sudut pandang Tuhan, yaitu: ini adalah penghukuman dari Allah. Penghukuman Tuhan seringkali bersifat gradual dan tidak kelihatan. Terhadap umat-Nya yang melawan kehendak Tuhan dan hidup di dalam dosa, Tuhan sepertinya tidak hadir tetapi sebenarnya penghukuman Tuhan sedang bekerja.

Suatu kali seseorang mempunyai ring basket, tetapi suatu kali, tiba-tiba ringnya patah dan copot semuanya, karena kayu penyangga ring basket itu sedang mengalami pelapukan pelan-pelan. Demikan juga hidup kita, ketika kita tidak merenungkan Firman setiap hari, ketika kita terus hidup di dalam dosa, melihat pornografi, sepertinya tidak terjadi apa-apa, berhati-hatilah. Suatu hari akan tiba masanya penghukuman Tuhan yang nyata.

JC Ryle mengatakan “Man falls in private long before he falls in public”. Harap kita boleh buru-buru peka, buru-buru sadar sehingga tidak ada penghukuman Tuhan yang besar.   

Sebaliknya ketika kita setia melakukan apa yang Tuhan perintahkan hari demi hari. Mungkin orang-orang tidak tahu, namun Tuhan melihat dan menghargai apa yang saudara kerjakan secara private. Tuhan akan pimpin, akan berkati, dan di waktu-waktu tertentu ada anugerah Tuhan yang besar.

2) Evil destroys evil, kejahatan menghancurkan kejahatan itu sendiri. Orang-orang Sikem dibunuh oleh Abimelekh sendiri. Namun Abimelekh kemudian dibunuh oleh orang-orang Tebes. Allah seringkali menggunakan orang-orang jahat untuk menghabisi orang  jahat lainnya. Kejahatan itu selalu self-destroying. Seperti sekelompok penipu yang sedang rapat untuk menipu, syaratnya penipu-penipu tersebut harus jujur satu sama yang lain. Penipu yang harus jujur adalah suatu kontradiksi. Kejahatan selalu mempunyai suatu kelemahan yang menghancurkan diri mereka sendiri. Itulah yang terjadi terus menerus di dalam dunia ini.

Wahyu 17 menggambarkan bahwa anti kristus dan pengikut-pengikutnya, mereka sendiri akan menghancurkan budaya dari anti Kristus yang mereka bangun sendiri. Kalau saudara bertemu orang-orang Mormon, saudara bisa bawa berita dari saksi Yehova. Mereka akan bertengkar sendiri.

Terakhir, ada penghiburan yang terselubung, dari kematian Abimelekh di tangan seorang perempuan. Ini menandakan bahwa Allah akan menghancurkan orang-orang yang menghancurkan umat Allah. Ketika Saulus dengan otoritas daripada Yerusalem untuk mengejar dan membunuh anak-anak Tuhan, maka Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya dan berkata (Kis 9:4) “Saul, Saul why do you persecute Me? ”. Padahal Saulus tidak sedang menganiaya Yesus, dia sedang menganiaya orang Kristen. Tetapi Yesus berkata “Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku”. Ini menjadi penghiburan bagi kita. Ketika orang-orang melakukan aniaya terhadap anak-anak Tuhan, mereka sedang menganiaya Tuhan sendiri. Tuhan pasti tidak akan tinggal diam, dan Tuhan memimpin dan menyertai anak-anak-Nya.

Biarlah kita sebagai anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh beriman dan dipersatukan dengan Kristus, hidup kita “bukanlah aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”, maka kita harus sungguh-sungguh menghidupi kebenaran Kristus, seperti Kristus hidup, dan Tuhan akan memimpin dan menyertai kita. Ini menjadi penghiburan yang besar, bahkan mautpun tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Kristus.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya