Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Pemimpin yang Gagal

Ibadah

Pemimpin yang Gagal

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 7 Februari 2016

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 8:22-35

Di pasal Hakim-Hakim sebelumnya, kita melihat Gideon yang penakut, dan melihat Allah menggunakan cara-cara yang ajaib bahkan menggunakan mulut musuh untuk menguatkan Gideon. Ini menguatkan Gideon yang kemudian dengan hanya 300 orang mengalahkan orang Amalek dan Midian yang banyaknya seperti belalang di rumput. Bukan dengan kekuatan Gideon dan orang-orang Israel, tetapi dengan bantuan Tuhan sendiri.  Tuhan sendiri yang mengerjakan dan mengacaukan musuh. Seringkali Tuhan membuat kita sadar akan kelemahan kita, dan kita berseru kepada Tuhan, sehingga keberhasilan kita bukan karena kekuatan kita, tetapi semata-mata karena anugerah Tuhan. Gods get all the Glory, dan kita mendapat segala kebaikan yang kita terima. Bukan berarti kita menjadi orang yang minder, kalau kita mempunyai resources/bakat yang kita punyai, namun biarlah kita sadar bahwa itu semua berasal dari Tuhan juga.

Kita diingatkan bahwa kita perlu percaya dan bersandar kepada Dia, dan Dia akan memimpin kita. Dia sudah menyatakan kehendak-Nya kepada kita di dalam Firman-Nya. Ketika kita sadar bahwa betapa sulit hal itu, seperti dalam memberitakan Injil ke jalan-jalan, maka kita mengerti bukan karena kehebatan kita orang bisa kembali percaya kepada Tuhan. Namun karena Tuhan sendiri yang membuat mereka untuk kembali kepada-Nya. 

Tetapi persoalannya adalah kadang-kadang kita tidak mau bersandar, percaya dan taat kepada Tuhan. Di sinilah kita boleh belajar bagaimana ketika orang sudah tahu akan Firman-Nya, kita melihat ada orang-orang Efraim, Sukot dan Pnuel, yang menjadi contoh yang negatif. Bagaimana karena kesombongan Efraim dan ketidak percayaan orang-orang Sukot dan Pnuel, Tuhan menghukum mereka.

Khususnya, di dalam Hakim-Hakim 8: 5-6 ---  berkatalah Gideon kepada orang-orang Sukot “Tolong berikan beberapa roti untuk rakyat yang mengikuti aku ini, sebab mereka telah lelah, dan aku sedang mengejar Zebah dan Salmuna, raja-raja Midian.--- Tetapi jawab para pemuka di Sukot itu: "Sudahkah Zebah dan Salmuna itu ada dalam tanganmu, sehingga kami harus memberikan roti kepada tentaramu?”

Perkataan dari orang-orang Sukot menunjukkan ketidakpercayaan mereka akan Firman, kehendak dan rencana Tuhan. Meskipun di satu sisi kita bisa mengerti keberatan mereka, karena suku Sukot dan Pnuel ini tinggal di daerah yang terbuka dan sangat dekat dengan orang Midian. Orang-orang Sukot ini tidak mau menolong Gideon, karena takut, jika Gideon kalah, maka mereka akan dihabisi oleh musuh. Ini menjadi bentuk ketidak percayaan dari orang-orang Sukot.

Pelajaran yang dapat kita renungkan dari bagian ini adalah :

Pertama, kadang-kadang umat Allah seperti suku Sukot, yang sebenarnya bangsa Israel juga, yang justru menjadi sumber kekecewaan kita. Kadang-kadang orang Kristen sendiri justru menjadi sumber kekecewaan kita. Mereka yang tidak mau melayani bahkan mengkritik orang-orang yang melayani. Mereka tidak mau berkorban, bahkan menghambat orang-orang yang mau berkorban. Ini adalah realita hidup gerejawi di tengah-tengah dunia ini. Kita perlu mengerti supaya jangan kita menjadi kecewa.

Di dalam gereja, kita sering menemui orang-orang yang mengecewakan kita. Sebenarnya mereka ingin menjustifikasi ke tidak inginan mereka untuk melayani di dalam gereja dengan mengkritik orang lain. Jangan mudah kecewa akan hal ini. Baiklah kita memandang kepada Kristus, karena kita melayani Tuhan, dan Dia akan terus memimpin dan tidak akan mengecewakan umat-Nya.

Yang kedua, janganlah kita mengecewakan orang-orang Kristen yang lain. Kegagalan beberapa suku ini mengingatkan kita supaya kita tidak menjadi batu-sandungan di dalam gereja. Kita juga melihat hidup Gideon yang menjadi pemimpin dan Tuhan beri kekuatan, tetapi di akhir dari hidupnya ,sebenarnya dia adalah contoh pemimpin yang gagal.

Di dalam Hakim-Hakim 8:22, orang Israel mengatakan kepada Gideon "Biarlah engkau memerintah kami, baik engkau baik anakmu maupun cucumu, sebab engkaulah yang telah menyelamatkan kami dari tangan orang Midian”. Kemungkinan besar kalimat ini bukan berarti mereka tidak memperdulikan Allah, mungkin pengertiannya adalah suatu respect mereka terhadap Gideon dan keluarganya. Tetapi yang menarik adalah perkataan Gideon ketika dia menjawab mereka (ayat 23): “Aku tidak akan memerintah kamu dan juga anakku tidak akan memerintah kamu tetapi TUHAN yang memerintah kamu.” Perkataan ini sekilas terlihat sangat baik. Tetapi kalau kita melihat selanjutnya dari apa yang Gideon lakukan, kita melihat sesuatu motivasi yang tidak beres di dalam diri Gideon. Diam-diam dia ingin menjadi raja. Dia meminta mereka mengumpulkan semua anting-anting jarahan dan segala yang mahal-mahal untuk diberikan kepada Gideon sebagai upeti seolah-olah dia seorang raja. Juga istri dan anak-nya 70  orang, banyak sekali sama seperti seorang raja. Bahkan seorang anak-nya diberi nama Abimelekh yang berarti my father is the king. Kita melihat inkonsistensi dari perkataan Gideon sebelumnya. Bahkan kemudian Gideon memimpin mereka untuk menyembah berhala.

Ini menjadi peringatan bagi setiap kita, khususnya para pemimpin di gereja ini. Ada pemimpin-pemimpin yang Tuhan yang percayakan di dalam bentuk yang beragam-ragam, seperti pemimpin pujian, pemimpin pemuda, pemimpin sekolah minggu dlsb. Biarlah apa yang kita katakan, dan ajarkan betul-betul kita lakukan sendiri di dalam kehidupan kita.

Gideon bukan hanya salah satu pemimpin yang berhasil, dia juga salah satu pemimpin yang gagal bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga bangsanya. Ini menjadi suatu kegentaran dari setiap kita. Kita memerlukan doa dari jemaat sehingga Tuhan menjaga para pemimpin kita, supaya mereka bisa mengerjakan kebenaran  dari Firman, bukan hanya di dalam pengajaran, tetapi juga di dalam hidup mereka sendiri. Orang-orang yang memimpin di atas mimbar, orang-orang akan melihat dan tahu di dalam kehidupan mereka sehari-hari, di dalam keluarga, di dalam pekerjaan dlsb. Jika mereka menjadi pemimpin yang mengecewakan, mereka bisa menjadi jerat bagi banyak orang.

Kita juga harus realistis di dalam menghadapi pemimpin-pemimpin yang gagal. Sebagai contoh, banyak orang yang ketika memasuki sekolah Teologi dengan semangat awal yang ideal, mereka pikir setiap yang masuk seperti malaikat. Apa yang terjadi setelah 1-2 tahun, mereka melihat banyak hal yang tidak beres. Ada yang menyontek, yang tidak rajin mengerjakan piket, ada yang sombong, juga bahkan ada orang-orang yang berzinah. Namun kita harus realistis, mereka bukan malaikat, mereka adalah juga orang-orang berdosa yang perlu diselamatkan oleh anugerah Tuhan, sinners saved by His grace.

Kalau kita melihat pemimpin-pemimpin kita, kita harus menyadari mereka juga orang-orang yang berdosa; ada banyak kelemahan, ada banyak ketidak bijaksanaan, ada banyak kemalasan ada banyak yang self-centered.

Tetapi mereka harus terus belajar, harus terus bertumbuh, terus menyandarkan diri kepada anugerah Tuhan, terus menyadari mereka belum sempurna.

Kita juga tidak boleh kecewa kalau ada pemimpin yang mempunyai kelemahan, kita jangan kecewa ketika melihat pemimpin jatuh di dalam dosa, karena mata kita harus terus memandang kepada Tuhan, Pemimpin kita yang sempurna. Janganlah hal ini membuat kita mundur dari Tuhan, dari Gereja dan tidak mengatakan “seluruh orang Kristen sama, pemimpinnya saja seperti itu”.

Jangan men-generalisasi seperti itu, karena realitanya we are all the sinners, saved by grace alone, termasuk para pemimpin dan hamba-hamba Tuhan.

Kita tidak boleh menggantungkan iman kita kepada pemimpin kita. Iman kita harus kita gantungkan hanya kepada Kristus, Tuhan, dan Juruselamat kita yang sudah mati bagi kita, dan tidak akan mengecewakan kita.Yesaya 28:16 mengatakan “sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: "Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!” Iman kita hanya digantungkan kepada Dia.

Dari para pemimpin kita, segala hal yang baik kita terima. Karena at the end, masing-masing kita, pribadi lepas pribadi bukan berdiri atas nama pemimpin kita, pemimpin saudara, tetapi kita akan mempertanggungjawabkan iman kita sendiri di hadapan Tuhan. Kita menggantungkan diri kita hanya kepada pemimpin kita yang besar, batu karang yang teguh, yaitu Yesus Kristus, kita bersandar dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya.

Yang ketiga, kegagalan Gideon adalah membuat Efod (ayat 27). Efod adalah baju seperti rompi panjang yang dipakai imam besar , yang memiliki 12 batu berharga dan yang mewakili setiap suku Israel. Ada juga kantung yang berisi Urim dan Tumim, yang seperti coin, untuk menunjukkan kehendak Tuhan di dalam perkara-perkara yang mereka hadapi. Ini adalah cara yang dipakai Tuhan di dalam perjanjian lama untuk menyatakan rencana Tuhan. Persoalannya adalah efod itu hanya boleh dipakai oleh imam besar.

Gideon membuat efod, sehingga sebenarnya Gideon ingin menjadi alternative channel untuk datang kepada Allah. Gideon ingin hal yang lebih dari apa yang Tuhan sudah tetapkan menjadi sarana untuk menyatakan kehendak-Nya yaitu melalui para imam.

“Kehausan Kuasa” seperti Gideon yang menginginkan lebih dari apa yang Tuhan tetapkan ,menjadi hal yang sering terjadi di dalam kehidupan kita.

Banyak orang Kristen yang tidak puas dengan hal yang Tuhan berikan kepada masing-masing kita. Tuhan memberikan Firman-Nya dan Roh Kudus memimpin kita kepada kelimpahan Firman. Seharusnya kita taat kepada pimpinan Roh Kudus dan merenungkan hal-hal apa yang sudah ditetapkan.

Banyak orang Kristen yang tidak puas akan hal ini, dan menginginkan sesuatu yang rasanya lebih personal. Kemudian menyatakan “Roh Kudus berkata kepada saya”, ini adalah response dari ketidakpuasan seseorang akan apa yang sudah Tuhan nyatakan.

Suatu kali seorang bapak dengan semangat ingin menunjukkan kesalahan satu jemaat yang lain. Maka dia pergi ke rumah orang itu, namun hanya menjumpai  istrinya. Bapak itu berkata “Saya datang ke sini, karena Tuhan sudah berkata untuk menegur suami ibu”. Tetapi ibu itu menjawab “Kalau itu memang keinginan Tuhan, maka pasti suami saya saat ini ada di sini”.

Hal-hal seperti ini menjadi berbahaya sekali. Bukan berarti Tuhan tidak bisa bekerja dengan cara-cara yang khusus seperti menggunakan mimpi. Tetapi kita tidak boleh men-generalisasi, dan itu tidak boleh menjadi hal yang utama. Yang harus diutamakan adalah Firman yang sudah Tuhan nyatakan. Memang ada orang-orang tertentu yang mendapat karunia-karunia khusus. Jangan meminta hal-hal seperti itu, itu adalah mukjijat yang extraordinary, karena Tuhan terutama bekerja melalui Firman-Nya.

Dalam Mazmur 1 : 3-4 --- Orang benar itu seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air , yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya ; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik :  mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. ----

Musim keringpun ia/orang benar akan bertumbuh, akarnya makin mendalam karena ada aliran air. Mengapa dia seperti itu? Karena dia adalah orang yang merenungkan Firman Tuhan siang dan malam.

Saya kadang-kadang meragukan betulkah orang menganggap Firman itu lebih berharga dari pada emas. Bukan hanya berharga secara nilai konseptual, tetapi juga lebih manis, yang dapat kita cicipi, bahkan dari madu murni yang langsung diambil dari sarang lebah. Biarlah kita pegang Firman yang menjadi pimpinan utama dari hidup kita, jangan meminta yang lebih daripada yang Tuhan tetapkan.

Apa yang dilakukan Gideon di sini, kemudian menjadi jerat yang luarbiasa.

Kalau kita membaca (ayat 30) “Setelah Gideon mati, kembalilah orang Israel berjalan serong dengan mengikuti para Baal dan membuat Baal-Berit menjadi allah mereka;” (NIV) “No sooner had Gideon died than the Israelites again prostituted themselves to the Baals.”. Kata “prostituted themselves” (berlaku serong) adalah kata yang keras sekali, karena menyembah kepada allah lain, bahkan kepada efod, menjadi sama seriusnya dengan berzinah.  

Ketika suami berzinah dengan wanita lain, maka sebenarnya dia menganggap istrinya sudah mati. Bahkan Alkitab mengatakan (lihat Matius 19) tidak boleh apa yang disatukan Allah diceraikan manusia, kecuali karena satu hal, yaitu karena zinah. Dengan itu, Allah ingin menyatakan betapa seriusnya pernikahan itu, dan betapa seriusnya perzinahan. Karena itulah Covenant yang dibuat oleh suami-istri berlaku sampai kematian memisahkan mereka. Namun setelah pasangannya meninggal dia boleh menikah lagi.

Sumber dari pernikahan adalah dari covenant kita dengan Allah, Dia adalah Allah kita dan kita adalah umat-Nya. Ketika Israel menyembah Allah lain maka bangsa Israel dianggap seperti pelacur.

Saudara sekalian, kegagalan Gideon harus membuat kita berhati-hati. Meskipun masih ada peace selama masih hidup (ayat 28) “Demikianlah orang Midian tunduk kepada orang Israel dan tidak dapat menegakkan kepalanya lagi; maka amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya pada zaman Gideon.”. Kalimat ini secara implisit menyatakan bahwa meskipun ada aman selama 40 tahun,  namun seperti ada api yang ada di dalam sekam. Karena ini adalah “rest” yang terakhir, dan setelah itu tidak ada lagi rest di dalam bangsa Israel. Bahkan mereka akan tidak mengetahui lagi apa artinya rest.

Ketika kita tidak menghargai kebaikan Tuhan maka hal yang baik itu akan di ambil daripada kita. Anugerah Tuhan yang kita anggap sepi, take it for granted, suatu hari Tuhan akan ambil anugerah itu, dan kita baru sadar betapa berharganya anugerah Tuhan itu, dan betapa mengerikannya kalau anugerah itu diambil dari kita. Maka kalau ada kesempatan yang baik yang ada di dalam hidup kita, begitu banyak kesempatan melayani, don’t take all that for granted. Jangan kita anggap sepi, jangan kita pergunakan untuk berbuat dosa, jangan anggap sebagai hal yang normal, bahkan dari hal-hal yang simple, seperti badan yang sehat, atau cuaca yang baik. Apalagi ada anak, ada pekerjaan, apalagi ada Firman yang diberitakan. Baiklah kita boleh sadar, dan pakai anugerah tersebut untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Jika ada Firman Tuhan yang boleh kita baca dan dengar setiap minggu, jangan take it for granted, karena Tuhan bisa mengambil semuanya itu dari hidup kita.

Seorang historian, Thomas Carlyle, menikah dengan seketarisnya yang cantik Jane Welsh. Tetapi setelah beberapa tahun menikah, istrinya mendapat sakit kanker, kesehatannya makin turun dan akhirnya meninggal. Di saat penguburan, dalam hujan yang besar, Thomas terpukul dan dia membaca buku harian istrinya. “Yesterday he spent an hour with me, and it was like heaven, I love him so” “I have listened all day to hear his steps in the hall, but now its late and I guess he won’t come today”. Setelah membaca hal ini, Thomas berkata “If I had only known” betapa istrinya mencintainya dan membutuhkan dia, dan betapa dia harus memperhatikan istrinya, tetapi semuanya sudah terlambat.

Selanjutnya kita melihat kerusakan bangsa Israel, maka sejak itu peace di ambil dari bangsa Israel. Biarlah ini menjadi peringatan bagi kita supaya kita tidak menyia-nyiakan segala hal yang baik yang sudah Tuhan anugerahkan kepada kita.

Semoga ini membawa kita kepada pertobatan seperti di dalam Roma 2:4 “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? “.

Baiklah kita tidak menganggap sepi kebaikan Tuhan, dan kita boleh memakai semuanya itu untuk semakin taat. Khususnya yang paling berharga adalah waktu yang masih Tuhan berikan kepada kita. Kita harus pergunakan untuk mengerjakan rencana-Nya dengan sungguh-sungguh, dan kita akan melihat Tuhan memimpin, memberkati, membentuk dan memberi hidup yang berkelimpahan, yang dunia tidak bisa berikan.

Dunia tidak akan memuaskan jiwa kita yang paling dalam. Hanya Tuhan dan Firman-Nya yang sanggup memuaskan .

                                               

 

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya