Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Tuhan yang Menyertai

Ibadah

Tuhan yang Menyertai

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 24 Januari 2016

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 6:1-24

Bagian kitab Hakim-Hakim kali ini membicarakan bagaimana Tuhan mempersiapkan Gideon untuk menjadi hakim dan penyelamat bagi Israel.

Dalam pembacaan ayat-ayat Alkitab diatas kembali dibuka dengan hal yang sama yaitu dosa yang membosankan: “Tetapi orang Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan”.

Sekali lagi bangsa Israel melakukan dosa, terus mengulang hal yang sama: melawan Tuhan.   Pada ayat ke 1 sampai ke 6, dengan jelas diceritakan akibat dari bangsa Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan yaitu membuat kesulitan yang besar selama 7 tahun lamanya.

Sebelumnya Tuhan sudah memberi peringatan apa yang akan terjadi bagi orang yang melawan Tuhan, bagi yang melanggar perjanjian yang sudah Tuhan buat dengan bangsa Israel. Misalnya dalam Ulangan 28: 29, 31: “…engkau meraba-raba pada waktu tengah hari, seperti seorang buta meraba-raba di dalam gelap; perjalananmu tidak akan beruntung, tetapi engkau selalu diperas dan dirampasi, dengan tidak ada seorang yang datang menolong. Lembumu akan disembelih orang di depan matamu, tetapi engkau tidak akan memakan dagingnya. Keledaimu akan dirampas dari depanmu, dan tidak akan dikembalikan kepadamu. Kambing dombamu akan diberikan kepada musuhmu dengan tidak ada orang yang datang menolong engkau.”

Tuhan sudah memberi peringatan, tapi bangsa Israel masih terus menerus melakukan dosa dan mereka kemudian mengalami segala kesulitan yang betul-betul terjadi seperti dalam firman Tuhan. 

Kita bersyukur Tuhan tidak meninggalkan umatNya. Ketika dalam kesusahan, penderitaan orang Israel mulai berseru kepada Tuhan dan kita melihat sekali lagi cara Tuhan yang tidak terpikir oleh manusia berdosa, cara dan pekerjaan Tuhan yang kreatif. Sebelum menolong, pertama tama Tuhan datang mengutus seorang nabi untuk menyatakan kepada bangsa Israel supaya mereka sadar terlebih dahulu kenapa mereka mengalami kesulitan seperti itu, bahwa Tuhan menyerahkan mereka ke tangan Midian karena mereka tidak mendengarkan firman Tuhan. Ini sesuatu yang penting bagi bangsa Israel untuk mengingat. Tuhan bukan hanya menyatakan bahwa mereka tidak mendengarkan firman sehingga mengalami segala kesulitan ini, tetapi juga Tuhan menyatakan sebelumnya sudah melakukan anugerah yang besar: (Hakim-Hakim 6:8b-9“… Akulah yang menuntun kamu keluar dari Mesir dan yang membawa kamu keluar dari rumah perbudakan. Aku melepaskan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan semua orang yang menindas kamu, bahkan Aku menghalau mereka dari depanmu dan negeri mereka Kuberikan kepadamu.”

Di sini kita melihat ada beberapa hal yang penting:

1) Mengenal Allah dan firman-Nya lebih penting daripada melepaskan diri kita dari kesulitan dan kesakitan. Kadang-kadang ketika kita mengalami kesulitan, penderitaan, kita ingin segera lepas, selesai, ada solusi supaya kita lepas dari kesulitan dan penderitaan itu. Tetapi seringkali Tuhan datang kepada kita untuk kita mendengarkan firman-Nya terlebih dahulu. Sebelum Tuhan menolong, Tuhan memberikan anugerah-Nya kepada kita untuk boleh mengenal, mengerti Tuhan, mengerti kesalahan kita, dan mengoreksi hati kita yang paling dalam. Ini adalah anugerah dan kebaikan yang Tuhan lakukan kepada kita. Tuhan tahu apa yang kita perlukan, bukan yang kita inginkan. Tuhan seringkali datang membereskan akar persoalan dalam kehidupan kita sebelum Dia menyelesaikan segala hal yang di luar. Biarlah kita sungguh-sungguh mendengarkan Firman, dan kita boleh melihat hal ini sebagai anugerah Tuhan yang besar.

2) Ketika Tuhan berfirman, kita harus sadar ini adalah kebaikan dan anugerah Tuhan. Ketika Tuhan memberitakan firman-Nya kepada bangsa Israel melalui nabi dan juga menyatakan kesalahan mereka, kita melihat bahwa sering kali nabi tersebut tidak menyelesaikan khotbahnya”. Seharusnya sesudah semua ini dinyatakan, secara logis yang harus datang selanjutnya adalah hukuman, dan penghakiman. Sebagai contoh adalah di dalam Yeremia 11: 9 – 11. Berkali-kali Alkitab menyatakan bahwa setelah manusia berbuat dosa dosa, kesalahan dinyatakan. dan yang datang selanjutnya adalah hukuman. Namun kali ini nabi yang diutus Tuhan kepada bangsa Israel tidak melanjutkan dengan hukuman, tetapi Tuhan langung mengerjakan karya keselamatan-Nya melalui hamba-Nya, yaitu Gideon. Hal ini seharusnya membuat kita kagum. Ketika kesalahan bangsa Israel sudah dinyatakan dengan jelas, tetapi tidak dilanjutkan dengan penghakiman dari Tuhan maka ini seharusnya membuat kita bersyukur dan kagum atas kebaikan anugerah-Nya.

Di hadapan Tuhan, diri kita adalah orang-orang yang helpless, hopeless, dan lifeless. Hopeless: misalnya dalam kitab Efesus bahwa kita adalah orang-orang yang berdosa dan patut menerima murka Tuhan, tidak ada pengharapan bagi diri kita sendiri. Helpless karena kita dikuasai oleh setan, penguasa kerajaan angkasa dan menjadi budaknya. Lifeless karena kita adalah orang yang sudah mati di dalam dosa-dosa kita. Tetapi dalam Efesus pasal 2 dikatakan Allah yang kaya dengan anugerahNya, rahmat-Nya, oleh karena kasih-Nya yang besar telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus.   

Ketika kita berhadapan dengan Tuhan, ada kesadaran kemuliaan, keagungan Tuhan dan kesadaran bahwa kita adalah manusia yang tidak layak. Biarlah kita tidak menjadi orang-orang yang take for granted atas segala anugerah, kebaikan Tuhan atau yang merasa bahwa seharusnya Tuhan menolong, memimpin, memberkati kita. Dia adalah Tuhan yang berkuasa, berdaulat dan dihadapan-Nya seharusnya kita sadar bahwa kita adalah manusia berdosa dan tidak layak. Ketika kita menyadari hal itu dan bahwa Tuhan yang berbelas kasihan, mengampuni kita, menolong kita, memberi hidup yang baru, anugerah yang besar dalam hidup kita maka hati kita adalah orang-orang yang penuh dengan ucapan syukur dan mendorong hidup kita untuk menjadi berkat bagi orang lain.

3) Kesadaran Gideon akan ketidaklayakan dirinya, betapa besar dan mulianya Tuhan terjadi setelah Tuhan hadir menyatakan diri-Nya dan berfirman bahwa Dia akan menyertai. Sebelumnya Gideon tidak menyadari bahwa Tuhan sendiri yang hadir dan menyertai akan hidup dia (Hakim-Hakim 6: 12). Gideon perlu menyadari bahwa bukan tangan Tuhan kurang panjang untuk menyelamatkan, bukan pendengaran-Nya kurang tajam untuk mendengar, tetapi yang menjadi pemisah antara Tuhan dan bangsa Israel adalah kejahatan, dosa mereka. Tuhan terus mengkonfirmasi kepada Gideon bahwa Dia menyertainya. Hal terbaik yang Tuhan berikan adalah janji-Nya bahwa Dia akan menyertai dan memimpin kita, umat-Nya. Kadang-kadang kita tidak terlalu sadar betapa penyertaan Tuhan itu sangat berharga. Kita seringkali lebih sadar kalau kita kehilangan sesuatu yang kita lihat atau alami.

Biarlah kita sebagai anak-anak Tuhan boleh sungguh-sungguh menyadari kehadiran Tuhan dan penyertaan-Nya yang begitu berharga di dalam hidup kita. Ketika Tuhan memimpin hidup kita, Dia membentuk, menyertai, mengarahkan hidup kita dan dia akan memberkati kita dan hidup kita boleh berkenan dan memuliakan Dia.

4) Ketika Tuhan menyertai kita, maka bukan berarti kita boleh diam dan berpangku tangan, tetapi hal ini berarti tidak boleh ada allah yang lain dalam hidup kita. Ketika Tuhan memimpin, menyertai maka Dia harus menjadi tempat yang paling utama di dalam hati kita dan tidak boleh ada ilah lain. Tuhan memerintahkan Gideon untuk mengambil, meruntuhkan mezbah baal, membakar tiang-tiang berhala dan di atasnya membawa persembahan kepada Allah. Ini adalah perintah yang menuntut resiko melawan ayahnya, kota itu, bangsanya.

Biarlah kita boleh belajar dari Gideon bagaimana pengenalannya akan Tuhan, bagaimana dia boleh menyadari penyertaan Tuhan, bagaimana kemudian penyertaan itu mendorong dia untuk melakukan sesuatu yang radikal.

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya