Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Nyanyian Pujian Debora dan Barak

Ibadah

Nyanyian Pujian Debora dan Barak

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 17 Januari 2016

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 5:1-31

Hakim-Hakim pasal 5 ini merupakan nyanyian pujian kemenangan dari Debora dan Barak yang menyatakan kebesaran dan keagungan Tuhan. Pasal ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah kontras antara Tuhan yang berkuasa dan Israel yang tidak berdaya (ayat 2-11c). Bagian kedua adalah kontras antara pahlawan yang mempertaruhkan nyawa dengan orang-orang yang mencari aman (ayat 11d-23). Bagian ketiga adalah kontras antara 2 wanita: Yael dan ibu Sisera (ayat 24-30). Kemudian, pasal ini ditutup dengan kesimpulan teologis pada ayat 31.

Dalam bagian pertama, ayat 4 dan 5 menyatakan Tuhan yang berkuasa. Ayat 4 menyatakan pekerjaan Tuhan yang mengacaukan tentara Sisera dengan menurunkan hujan besar. Yang kita perlu perhatikan adalah ketika Debora dan Barak memuji Tuhan pada ayat 5, ada refrensi; bukan hanya memuji Tuhan pada kemenangan mereka waktu itu, tetapi juga pada kemenangan yang terjadi di masa lalu, yaitu di gunung Sinai.  Kemenangan di Sinai bukan terjadi pada saat itu, tetapi pada waktu Israel dilepaskan dari Mesir; Tuhan memimpin umat Israel di gurun Sinai sampai akhirnya mereka masuk ke tanah perjanjian. Sangat peting untuk mengingat, menghitung berkat pada masa yang lalu karena itu memberi kekuatan pada kita dalam masa sekarang dan masa yang akan datang; pimpinan-Nya, penyertaan-Nya, pertolongan-Nya dan kebaikan-Nya yang sudah terbukti berkali-kali di dalam kehidupan kita akan mendorong kita untuk menghadapi apapun kesulitan yang kita hadapi karena Tuhan akan menyertai, memimpin, dan tidak meninggalkan uma-tNya. Kalau kita tidak mengingat dan menghitung berkat Tuhan maka kita akan lupa dan kita tidak lagi tahu ketika kita menghadapi tantangan dan kesulitan; kita tidak mempunyai modal untuk menghadapi kesulitan kita.

Kemudian, Tuhan yang berkuasa, menolong, dan menyertai juga  diletakan  didalam konteks ketidakberdayaan umat-Nya . Ayat ke 6 sampai 8 menyatakan kesulitan yang besar dan keadaan yang lemah yang dialami bangsa Israel. Disini, Barak dan Debora menyadari kebesaran Tuhan dalam konteks kelemahan manusia; Tuhan yang berkuasa dan berdaulat justru menjadi nyata ditengah kelemahan dan kesulitan. Terkadang, Tuhan ijinkan kelemahan dan kesulitan terjadi. Tetapi, ketika dalam kesulitan, janganlah kita lari dari Tuhan supaya jangan kehendak setan yang jadi; seperti yang terjadi di kisah Ayub, waktu itu setan berkata kepada Tuhan: “Engkau bikin dia (Ayub) susah pasti ia akan meninggalkan Engkau”. Tetapi, marilah kita bergumul dengan Tuhan seperti pemazmur di dalam Mazmur 73, atau Paulus, atau Ayub karena Tuhan ingin mengajar kita. Tuhan mengijinkan kesulitan terjadi supaya kita datang kepada Tuhan, makin bersandar kepada dia, mengenal Dia, dan be still and know that He’s God. Terlebih lagi, Tuhan juga berkarya ditengah segala kelemahan kita. Oleh sebab itu, Paulus berkata (2 Kor 12:9-10) “ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." "Because when I am weak, then I am strong” - maksud perkataan Paulus ini adalah ketika aku lemah aku datang kepada Tuhan aku berseru kepada Tuhan aku bersandar kepada Dia dan aku mengalami kekuatan dan penyertaan Tuhan; Roh Kudus yang memimpin, memberi penghiburan, mendorong. Bahkan ketika Paulus dianiaya, dicambuk, dimasukan penjara yang paling dalam, ia bisa memuji dan berdoa kepada Tuhan. Bergumul boleh, bertanya kepada Tuhan boleh tetapi jangan tinggalkan Tuhan.

Ketika Tuhan Yesus berbincang-bincang dengan orang muda yang kaya (lihat Matius 19:16-26) dan akhirnya Tuhan Yesus berkata: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”. Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Dan Tuhan Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. ekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Maka gemparlah para murid dan berkata: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?”. Maka Tuhan berkata: “With man this is impossible, but with God all things are possible." Biarlah kita pegang perkataan itu dalam hidup kita dan menyadari dalam hidup kita ketika kita mentaati Tuhan dan mau sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan. It’s impossible dengan kekuatan kita tetapi ketika kita bersandar kepada Tuhan, bergantung kepada Dia, melihat Dia yang berkuasa, everything is possible with God. Kita melihat Tuhan bekerja memberi kekuatan dan memimpin. Datanglah kepada Tuhan biarlah Tuhan yang berkuasa ditengah” ketidakberdayaan kita.

Kemudian, bagian kedua mengkontraskan antara  pahlawan yang mempertaruhkan nyawa dengan orang-orang yang mencari aman (ayat11b-23). Menyadari ketidakberdayaan kita dan Tuhan yang bekerja dan memimpin kita tidak berarti kita kemudian berpangku tangan, pasif dan melihat Tuhan yang bekerja. Malahan, justru  kita didorong untuk berperang dan mempertaruhkan nyawa. Kita mungkin belum sampai pada situasi seperti itu tapi kita perlu belajar dari pahlawan yang gagah perkasa ini. Pada  ayat 14 sampai ayat ke 18, pujian kepada Zebulon dikontraskan dengan suku yang mengecewakan Tuhan dan Tuhan mencela akan suku-suku ini (suku Ruben, Dan, Asyer); suku-suku ini tidak maju berperang malahan sibuk dengan perdagangan, urusan pribadi dan tidak berpikir bagi umatNya yang sedang berperang. Contohnya, pasukan suku Ruben yang  banyak pertimbangan (selalu melihat sisi negatif). Puncaknya adalah  penduduk kota Meros di ayat 23: "Kutukilah kota Meros!" firman Malaikat TUHAN, "kutukilah habis-habisan penduduknya, karena mereka tidak datang membantu TUHAN, membantu TUHAN sebagai pahlawan"

Kata “membantu Tuhan” disini harus dimengerti dalam konteksnya. Bukan berarti kita membantu Tuhan seolah-olah Tuhan membutuhkan bantuan kita, karena Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat dan berkuasa, maka Ia tidak membutuhkan bantuan kita untuk melaksanakankan pekerjaan-Nya. Jadi, membantu Tuhan artinya kita berbagian didalam pekerjaan Tuhan; karena Tuhan ingin kita ikut didalam pekerjaan Tuhan yang besar. Prinsip pelayanan ini terlihat di kisah Ester: kakak orang tua angkat dari Ester, Mordekai, berkata kepada Ester (lihat Ester 4): “Maju, kau maju, maju menghadap raja meskipun kau harus mempertaruhkan nyawamu jikaupun kau harus mati; bukan berarti Tuhan bergantung kepada kamu; kalau engkau tidak maju Tuhan akan memimpin umatNya, engkau dan seluruh keluargamu  justru yang akan binasa”. 

Tuhan berdaulat, Tuhan berkuasa, Tuhan memimpin; sekali lagi, janganlah kita membantu Tuhan seolah-olah Dia membutuhkan kita, tidak; tetapi Tuhan yang berdaulat dan berkuasa ingin memakai kita, ingin mengajak kita  untuk berbagian dalam pelayanan yang Tuhan ingin kita masuk didalamNya. Marilah kita juga menjadi saksi Tuhan, karena kalau kita tidak pergi memberitakan injil maka bagaimana mereka yang belum mendengar injil bisa mendengar injil? Tuhan yang berdaulat, mengutus, dan berencana adalah juga Tuhan yang akan memimpin dan mengutus kita dan mengajak kita untuk aktif berbagian bahkan sampai mempertaruhkan nyawa; bukan berarti kalau kita tidak taat memberitakan injil orang itu tidak aan diselamatkan, karena kalau dia umat pilihan dia pasti diselamatkan. Melainkan, kalau kita tidak taat, maka Tuhan akan pakai orang-orang lain; Tuhan akan memakai umat lain, atau bahkan Tuhan akan memakai orang kafir untuk memberitakan injil untuk membawa orang datang kepadaNya. Tuhan yang berdaulat dan berkuasa ingin dan membawa kita seperti pujian ini yang memuji suku Benyamin dan Zebulon yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk berperang bagi Tuhan. Tapi bukan berarti kita semua harus mengambil semua pelayanan; masing-masing dari kita harus mengukur diri. Tetapi disisi lain kita harus ingat kalau kita bisa mendengar injil karena ada orang-orang yang mengasih dan berkorban. Justru ketika mereka rela kehilangan nyawa, mereka akan mendapatkan nyawa. Tetapi orang-orang di Meros, yang tidak berbagian dalam pekerjaan Tuhan; mereka berusaha menyelamatkan nyawanya tapi justru mereka kehilangan nyawanya. 

Pekerjaan yang paling tidak ada habisnya adalah memberitakan injil, dan ladangnya adalah seluruh kota Melbourne; itu kalau saudara tidak tahu apa yang saudara harus lakukan. Jadi, bagian ini menyatakan bahwa Tuhan berkenan kepada orang-orang yang berjuang dan Tuhan mengutuk orang-orang yang tidak melakukan apa-apa; kalau kita berbagian, kita akan diberkati, meski tentu didalamnya ada kesulitan dan pengorbanan.

Kemudian pada bagian yang ketiga, Yael dan ibu Sisera dikontraskan (Ayat 24-30). Bagian tentang ibu Sisera di ayat 28-30 penuh dengan “Holy sarcasm”. Pada ayat 30, kata “…gadis seorang dua untuk setiap orang…” merupakan referensi atas kejahatan Sisera; 1 orang mendapat jatah memperkosa 2 gadis. Hal ini dikontraskan dengan Yael; Yael yang diberkati Tuhan karena membantu Tuhan di ayat 24-27. Bagian tersebut memang kejam,  tetapi harus diingat bahwa bangsa Israel sudah berpuluh-puluh tahun dijajah oleh Sisera; perempuan-perempuan mereka diperkosa dan mereka ditekan habis-habisan. Kita boleh melihat contoh seorang Yael yang ikut berbagian dalam pekerjaan Tuhan.

Pasal ini ditutup dengan doa supaya kerajaan Allah segera datang (ayat 31): “…demikianlah akan binasa segala musuhMu, ya TUHAN!”. Menurut Heidelberg Cathecism, berdoa “datanglah kerajaan-Mu?” artinya berdoa supaya Tuhan “…destroy the devil’s work destroy every force the revolt against you o Lord and every conspiracy against Your work… do this until Your Kingdom is so complete and perfect and in it You are all in all”. Itulah doa yang pasti akan Tuhan jawab dengan menghancurkan pekerjaan iblis. Selain itu, doa  tersebut adalah penghiburan bagi kita menghancurkan pekerjaan iblis; kalau kita sungguh-sungguh mau taat kepada Tuhan dan mau melakukan kehendak Tuhan, maka kita akan berdoa dengan sungguh-sungguh: “datanglah kerajaan-Mu” karena kerajaan Tuhan belum nyata bagi banyak orang-orang di dunia ini. Tetapi bagi kita umat dan anak-anak Tuhan, seharusnya Kristus sudah menjadi Raja; kita ingin memuliakan Dia, kita ingin mentaati Dia, kita berjuang untuk melakukan kehendak Dia. Meskipun di tengah dunia ini Ia belum dinyatakan sebagai raja; orang menghina Dia, orang tidak peduli kepada Dia. Jadi, berdoa “datanglah kerajaan-Mu” berarti berdoa supaya Tuhan menyatakan kuasa dan keadilan-Nya.

Bagian kedua dari ayat ini: “Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya.”, adalah suatu panggilan bagi kita untuk mengasihi Tuhan. Seperti panggilan utama di Keluaran 6: 5-6 . Lalu, bagaimana mengasihi Tuhan? ayat ke 6 dalam Keluaran pasal 6 menjelaskan hal itu. Terlebih lagi, hal ini paralel dengan apa yang Tuhan Yesus katakan di Perjanjian Baru (lihat Yoh 14;21): “barangsiapa yang mengasihi Aku, Ia akan melakukan segala perintah-Ku”. Orang yang benar akan terbit seperti matahari terbit dengan kekuatan dan kemegahannya. Sebaliknya, kalau kita tidak mengasihi Tuhan, berarti kita termasuk pada orang-orang yang akan binasa, orang-orang yang akan menjadi musuh Tuhan.

Marilah kita periksa sedalam hati kita apakah kita orang yang mengasihi Tuhan atau orang yang mencoba menyelamatkan nyawa tapi justru kehilangan nyawa. Atau kita orang yang rela kehilangan nyawa karena Kristus, yang justru akan memperolehnya. Tentu kita sudah gagal mengasihi Tuhan, tapi biarlah kita bersyukur karena Kristus sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Kristus sudah mati bagi kita; sewaktu kita masih berdosa, sewaktu kita masih gagal, sewaktu kita masih menjadi musuh daripada Allah. kasih-Nya yang besar, yang dalam, lebar, tinggi, dan panjang menggerakan hati kita; aku boleh mengasihi Tuhan karena Dia terlebih dahulu telah mengasihi aku. Biarlah kasih-Nya mendorong kita sekali lagi untuk kita boleh mengasihi Tuhan dan bukti dari kita mengasihi Dia adalah kita mentaati segala perintah-Nya.

Di tahun yang baru ini banyak pekerjaan Tuhan, marilah kita taat dan mengambil bagian, sesuai dengan iman yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing. Tetapi setidaknya kita harus maju dari tahun yang lalu; maju lebih lagi bersama-sama mengerjakan pekerjaan Tuhan karena kita mengasihi Tuhan. Biarlah kita mengerti kasih-Nya yang sudah menggerakan kita; untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita, mengasihi mahasiswa yang datang, mengasihi orang-orang yang dalam kesulitan dan pergumulan, mengasihi orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan, dan mengasihi saudara-saudara seiman. Biarlah kita boleh saling mengasihi, mendorong, membangun dan menjadi orang-orang  bagaikan matahari yang terbit dalam kemegahan.

                                            

Ringkasan oleh David Hartana | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya