Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Dosa itu Membosankan

Ibadah

Dosa itu Membosankan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 3 Januari 2016

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 3:31, Hakikm-Hakim 4:1-24

Cerita Hakim-Hakim Ini adalah salah satu cerita yang menarik dan sekaligus juga mengerikan, karena ada pembunuhan dengan patok tenda. Namun yang boleh kita lihat di dalam bacaan kali ini, adalah Tuhan memimpin dengan cara yang ajaib. Tuhan mengarahkan hidup kita sesuai dengan kedaulatan-Nya. Ada hal-hal yang kita rencanakan tetapi Tuhan membelokkan, dan memimpin hidup kita dengan ajaib. Kita bersyukur akan hal itu.

Sebelumnya di Hakim-Hakim 3, Tuhan memakai Ehud, seorang yang kidal, untuk mengalahkan musuh yang menindas bangsa Israel. Juga dalam pasal 3:31, disebutkan ada Samgar, bahkan diceritakan hanya dalam 1 ayat, seluruh hidupnya direduksi dalam 1 ayat. Samgar memakai hanya tongkat penghalau lembu untuk mengerjakan kehendak Tuhan. Dalam hal itupun Tuhan bekerja. Kita melihat juga Yael yang menggunakan patok tenda untuk membunuh Sisera, panglima musuh. Tuhan bisa memakai orang-orang yang tidak pernah dipikirkan oleh kita, menggunakan alat-alat yang tidak kita duga.

Kali ini khususnya kita akan melihat kisah Deborah, Barak dan Yael, dan melihat beberapa hal yang penting yang boleh kita pelajari.

Hal yang pertama adalah the need of salvation. Cerita di dalam Hakim-Hakim adalah cerita akan Tuhan yang menyelamatkan umat-Nya dengan cara yang beragam-ragam, di dalam konteks adanya kebutuhan akan keselamatan bagi umat Israel. Hakim-Hakim 4:1 memulai dengan kalimat “Setelah Ehud mati, orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN”. Israel kembali meninggalkan Tuhan, maka bangsa Israel kembali ditindas. Tuhan menyerahkan mereka kepada  Yabin, raja Kanaan. Sisera, panglima pasukan Yabin menindas bangsa Israel dengan keras. Bangsa Israel kemudian mulai berteriak, memohon pertolongan Tuhan. Di sini, kita melihat bahwa sebenarnya bangsa Israel bukan hanya perlu ditolong dari Sisera, tetapi juga perlu ditolong dari dosa mereka, yang mereka terus lakukan berulang-ulang. Tuhan menggunakan cara yang beragam-ragam untuk membentuk umat-Nya. Cerita-cerita ini menyatakan bahwa dosa itu adalah sesuatu yang membosankan. Dalam terjemahan Inggris (NIV) Hakim-Hakim 4:1 “(Once) Again the Israelites did evil in the eyes of the Lord …”. “Sekali-lagi” bangsa Israel jatuh di dalam dosa yang sama, walaupun mereka sudah berulang-ulang melakukan dosa yang sama, sepertinya dosa itu membosankan. Sebaliknya secara kontras, mengikut Tuhan itu adalah exciting, Alkitab mengajarkan hal seperti demikian. Tetapi di dalam dunia ini, kita sering menganggap sebaliknya: bahwa mengikut Tuhan itu membosankan sedangkan dosa itu exciting. Dalam cerita-cerita Hakim-Hakim, Alkitab mengajarkan bahwa dosa itu membosankan.

Seperti orang-orang Indonesia yang sudah sedemikian eneg/mual dengan korupsi, sehingga orang sudah apatis dengan masalah korupsi, menganggap bahwa dosa itu sudah sedemikian umum, sudah membosankan.

Dosa itu membosankan apalagi ketika murka Tuhan datang. Sebaliknya mengikut Tuhan itu menggairahkan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, selalu ada tantangan-tantangan yang kita tidak duga sebelumnya, tetapi akan selalu ada pimpinan, ada jalan-keluar dan ada penghiburan yang besar, ada damai sejahtera yang dari Tuhan. Maka ini yang membuat mengikut Tuhan itu exciting. Harap hidup kita juga memancarkan hal ini, mengikut Tuhan itu adalah kehidupan yang indah.

Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa dosa bukan hanya membosankan tetapi juga dosa tidak akan memberikan apa yang dijanjikan oleh dosa. Setelah melakukan dosa, saudara akan pergi dengan hati yang kosong, karena apa yang sebenarnya ditawarkan oleh dosa tidak saudara dapatkan. Salah satu drama yang ditulis Albert Camus seorang existensialis dari Perancis, yang berjudul “The Adulterous Woman”. Di dalam cerita ini ada sepasang suami-istri dari satu desa kecil pergi ke kota yang besar. Sampai di hotel, suaminya bertemu dengan teman-teman bisnisnya. Istrinya turun sendiri ke pub, dan ingin bergaul dengan anak-anak muda di situ. Tetapi dia takut, dan menunggu sampai suaminya datang. Ketika malam, istrinya tidak bisa tidur karena masih ramai sekali di luar. Dia lihat suaminya tidur, dan dia ganti pakaian pesta, pergi ke pub dan berkencan dengan anak-anak muda. Setelah kembali ke kamar hotelnya, dia lihat suaminya masih tidur pulas. Dia tidak bisa tidur, makin gelisah, maka dia tidak tahan dan mulai menangis. Suaminya kaget dan terbangun menanyakan apa yang terjadi. Maka Albert Camus mengakhiri cerita itu dengan satu jawaban yang diberikan oleh istrinya: “Nothing, just nothing”. Drama ini mengingatkan kita bahwa dosa itu membawa kekosongan jiwa. Dosa tidak pernah memuaskan jiwa kita. Hanya Tuhan yang ketika kita mengenal Dia, maka Dia mengerjakan untuk kemuliaan-Nya, tetapi juga untuk our enjoyment. The chief end of man is to glory Him and for us to enjoy Him forever; untuk memuliakan Dia dan menikmati Dia selamanya. Inilah yang Tuhan inginkan, dan yang Tuhan inginkan ini adalah very exciting.

Apa yang menyebabkan orang Israel sekali lagi jatuh ke dalam dosa? Setelah Ehud mati, orang Israel melakukan lagi apa yang jahat di mata Tuhan. Ada sesuatu yang salah kalau ketaatan itu hanya dilakukan karena pengaruh luar, seperti lingkungan yang baik, ada orang tua yang menyuruh kita, ada pemimpin yang berkharisma, dan bukan karena pekerjaan Roh-Kudus di dalam hati kita. Kita harus sungguh-sungguh mengenal Dia dan memiliki relasi pribadi dengan-Nya, kalau tidak maka ini menjadi problem yang besar. Meskipun lingkungan dan segala yang baik itu diambil dari kita, kita harus tetap taat dan mengasihi Tuhan. Tuhan ingin kita memiliki iman seperti ini.

Tuhan menyetujui permintaan Setan untuk mengambil semua apa yang ada pada Ayub, asal Setan jangan apa-apakan Ayub. Tuhan ingin Ayub mencintai Tuhan bukan karena semua berkat yang Tuhan berikan. Sehingga ketika semua itu diambil Ayub berkata (Ayub 1:21) “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Dalam hal ini, Ayub tidak bersalah dan melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Tuhanpun setuju dengan permintaan Setan selanjutnya, Setan boleh mengapa-apakan Ayub asal tidak mengambil nyawanya. Di sini kita melihat Tuhan berdaulat, Tuhan ingin menguji Ayub. Dengan segala kesulitan hidup ini Tuhan ingin membentuk hati kita yang paling dalam, Tuhan ingin kita mengasihi Dia dengan seluruh hati kita, segenap jiwa kita. Dia tidak ingin adanya saingan atas kasih kita kepada Tuhan, seperti kasih kita kepada materi, anak, dll, meskipun itu adalah hal yang baik.

Hal yang kedua adalah Tuhan menolong, Dia adalah sumber keselamatan. Di dalam ayat Hakim-Hakim ini, sekali lagi ditekankan sumber keselamatan, seperti yang dikatakan Debora di dalam Hakim-Hakim 4:6-7 “Bukankah TUHAN, Allah Israel, memerintahkan demikian: Majulah, bergeraklah menuju gunung Tabor dengan membawa sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon bersama-sama dengan engkau,

dan Aku akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dengan kereta-keretanya dan pasukan-pasukannya menuju engkau ke sungai Kison dan Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu”.  Sekali lagi kita lihat karya Tuhan di sini, dan kita juga ingin melihat karya Tuhan di dalam kehidupan kita.

Juga di dalam Hakim-Hakim 4:14 Debora mengatakan kepada Barak“Bersiaplah, sebab inilah harinya TUHAN menyerahkan Sisera ke dalam tanganmu. Bukankah TUHAN telah maju di depan engkau?”.  Ayat ini menggambarkan Tuhan adalah sebagai pahlawan perang yang gagah perkasa- ini adalah metaphor yang penting sekali di dalam Perjanjian Lama. Dia adalah pemimpin yang berperang, yang memimpin bangsa Isreal untuk mengalahkan musuh. Ini adalah gambaran yang penting sekali di dalam Alkitab.

Di dalam jaman ini, gambaran Tuhan sebagai pahlawan yang berperang bagi umatnya sudah jarang ditekankan lagi. Tuhan hanya digambarkan sebagai Tuhan yang lembut, Tuhan yang baik. Hal ini tidak salah, namun jika hanya menekankan satu sisi itu saja, maka ini salah, karena memberikan pengertian yang timpang. Kita tau Allah juga seperti api yang menghanguskan; Allah yang adil yang tidak berkompromi dengan dosa; dan juga di bagian ini, digambarkan Allah adalah pahlawan perang. Tremper Longman menyebutkan “God is divine warrior”.  

Allah mempunyai karakter yang beragam dan kita perlu mengerti semuanya, sehingga iman kita menjadi kokoh dan tidak mudah digoyangkan. Alkitab menggambarkan seutuhnya karakter Allah, dan di dalam Gereja ini, kita ingin untuk sesetia mungkin memberitakan apa yang Alkitab sudah nyatakan kepada kita. Sehingga kita tidak mudah terjatuh dan menjadi goyah ketika menghadapi sakit kanker atau anak yang mati. Seluruh pertumbuhan iman kita adalah untuk semakin mengenal siapakah Allah itu dengan segala karakter-Nya. Ini adalah hidup yang berkelimpahan yang Tuhan inginkan. Seperti memotong mangga, kita perlu memegang manga tsb dg firm sekaligus gentle. Kalau tidak firm maka mangga itu tidak akan terpotong. Tetapi kalau terlalu firm, tidak gentle, maka mangga itu akan bonyok. Tuhan mengasihi kita dengan gentle, namun Allah itu juga tegas dan tidak kompromi dengan dosa-dosa kita. Dealing with people juga sama, itu memerlukan ketegasan dan sekaligus juga kelembutan.

Tuhan juga memakai sarana, seperti di dalam ayat 15 “Dan TUHAN mengacaukan Sisera serta segala keretanya dan seluruh tentaranya oleh mata pedang di depan Barak, sehingga Sisera turun dari keretanya dan melarikan diri dengan berjalan kaki “. Kata “mengacaukan” di sini adalah Tuhan memakai alam, Dia memakai hujan badai mengubah tanah menjadi lumpur yang sulit dilewati kereta-kereta perang Sisera. Begitu simple, namun berantakanlah pasukan Sisera. Alampun ada di dalam kuasa Tuhan. Kita harus mengerti peristiwa-peristiwa alam lebih dalam daripada pengertian orang-orang dunia ini. Hidup kita di tempat yang tenang ini, tidak ada polusi, dengan cuaca yang indah, bersyukurkah kita kepada Tuhan? Ini adalah anugerah Tuhan dan kita harus mengerti hal ini sebagai kesempatan yang baik untuk melakukan apa yang berkenan kepada Tuhan, memberitakan Injil dan membangun hidup banyak orang. Hidup bagi diri sendiri itu membosankan, sebaliknya melayani Tuhan itu menyenangkan, menumbuhkan hidup kita.

Hal yang terakhir, Tuhan bisa memakai orang yang lemah. Di dalam cerita di atas, Tuhan memakai seorang perempuan, Yael, yang dianggap lemah dan tidak diperhitungkan. Sisera adalah seorang pahlawan yang besar, dan kalau dia tahu pada akhirnya dia mati di tangan seorang ibu rumah tangga, mungkin dia akan malu luar biasa. Sebelum itu terjadi, Debora sudah menubuatkan di dalam Hakim-Hakim 4:9: “sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.” Perkataan Barak kepada Debora (ayat 8) “Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju.” jangan dimengerti sebagai lemahnya iman Barak. Dale Davis mengatakan perkataan Barak kepada Debora, jangan dianggap sebagai kurangnya iman, namun karena Barak menyadari kelemahannya, dia memerlukan pimpinan Tuhan yang jelas, melalui konfirmasi dari Debora. Selanjutnya Barak memang memimpin bangsa Israel untuk berperang, tetapi untuk itu, dia memerlukan konfirmasi dari Debora. Sisera akhirnya mati melalui tangan Yael, seorang yang tidak diperhitungkan, seperti yang sudah dinubuatkan sebelumnya, menjadi penegasan bahwa perkataan Tuhan itu benar.

Jangan meremehkan diri kita, apapun keadaan kita, siapapun kita, ketika kita mau taat, maka Tuhan akan memakai kita sebagai alat dari Tuhan yang besar. Anak kecil yang membawa lima roti dan dua ikan, karena ketaatannya , ia menjadi berkat bagi banyak orang. Di sini pula Tuhan memakai Yael, seorang perempuan untuk mengalahkan Sisera, seorang panglima yang gagah perkasa.   

Kita boleh juga melihat keselamatan dalam bentuk miniature. Hakim-Hakim 4:11 mengatakan “Adapun Heber, orang Keni itu, telah memisahkan diri dari suku Keni, dari anak-anak Hobab ipar Musa, dan telah berpindah-pindah memasang kemahnya sampai ke pohon tarbantin di Zaanaim yang dekat Kedesh.”. Sepintas kita tidak melihat ada kaitan ayat ini dengan konteks keselamatan orang Israel. Ayat ini muncul tiba-tiba, namun kita selanjutnya melihat, bahwa Sisera melarikan diri persis ke tempat itu.  

Hal yang kecil, yang begitu remeh, soal berpindah tempat, tetapi menyatakan pimpinan Tuhan, menunjukkan karya Tuhan yang sedang dikerjakan melalui hidup anak-anak-Nya. Tuhan masih terus bekerja di dalam hal-hal yang kelihatan kecil di dalam hidup kita. Tetapi sesungguhnya Dia sedang melakukan karya-Nya yang besar, di dalam hidup umat-Nya, dan Dia ingin mengerjakan itu melalui kita. Jangan kita menganggap hal hal yang remeh itu terjadi secara kebetulan. Di dalam rencana Tuhan, tidak ada yang kebetulan.

Jangan kita marah kalau ada hal-hal yang terjadi dalam hidup dan kehidupan kita yang tidak sesuai dengan rencana kita. Tuhan belokkan dan Tuhan ijinkan itu. Kita harus taat saja, dan Tuhan akan mengerjakan apa yang menjadi kehendak-Nya. Jangan kita berontak, lari, dan melawan Firman-Nya. Tuhan kadang memang mengijinkan hidup kita stuck, bahkan ada kesulitan yang harus kita embrace. Tuhan memanggil kita untuk taat kepada-Nya, menyangkal diri, dan memikul salib, tetapi di dalam perjalanan itu Tuhan memimpin. Kehilangan nyawa karena Kristus justru kita mendapatkannya, tetapi kalau menyelamatkan nyawamu demi dirimu sendiri, justru akan kehilangan nyawamu. Taat melewati apapun bahkan melalui lembah bayang-bayang maut. Pemazmur dalam Mazmur 23 : 4 - ”Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku”. Tantangan di depan semakin besar, banyak ketidakpastian, tetapi di dalam segala kesempatan yang Tuhan berikan, baiklah kita bersaksi dan membangun satu dan yang lain.

Sepanjang jalan Tuhan pimpin.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya