Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Glory to God in the Highest

Ibadah

Glory to God in the Highest

Pengkhotbah: Pdt. Henk de Ward
Date: Minggu, 13 Desember 2015

Bacaan Alkitab: Lukas 8:22-25

Saya baru saja kembali dari Myanmar (Burma) melayani Gereja Reform di Negara itu, yang sangat miskin dan tidak ada kebebasan memberitakan Firman Tuhan. Kita di Negara ini masih sangat diberkati untuk melayani Firman Tuhan dan bersaksi di Negara ini.

Kita ada di dalam masa Advent, Advent berarti kedatangan / coming / arrival. Siapakah yang akan datang? Ada seseorang yang akan datang. Pada umumnya Advent berarti persiapan untuk perayaan Natal, dan sebenarnya kita tidak menantikan siapapun. Namun kita sungguh-sungguh mengharapkan kedatangan Tuhan Yesus.

Tadi kita baru menyanyikan tentang menjawab panggilan Tuhan. Tetapi sungguhkah kita mau dipanggil Tuhan hari ini? Belum tentu kita berminat. Kalau saya bertanya siapa mau ke Surga semua akan angkat tangan, tetapi siapa yang mau ke Surga hari ini? Tidak ada. Tetapi itulah yang sebenarnya saya tekankan, yaitu bahwa sebenarnya Gereja harus menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Bukan lagi sebagai bayi melainkan sebagai Tuhan yang berkuasa. Karena itu saya memilih satu pelayanan Tuhan Yesus dari Lukas 8:22-25 “Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan Ia berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang danau." Lalu bertolaklah mereka. Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur. Sekonyong-konyong turunlah taufan ke danau, sehingga perahu itu kemasukan air dan mereka berada dalam bahaya. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Guru, Guru, kita binasa!" Iapun bangun, lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu. Dan angin dan air itupun reda dan danau itu menjadi teduh. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Di manakah kepercayaanmu?" Maka takutlah mereka dan heran, lalu berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepada-Nya?"

Tentu ini adalah suatu mukjijat, tetapi pada jaman ini orang susah percaya akan Mukjijat. Percaya atau tidak percayanya seseorang akan mukjijat tergantung pada pandangan orang itu kepada Tuhan sendiri. Seperti dalam Yesaya 40:18 “Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?”, dan kemudian di jawab Yesaya 40:28 “TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.”.

Kalau kita tidak dapat mengerti Tuhan, bagaimanakah kita dapat mengenal Dia. Tuhan Yesus berkata barangsiapa yang telah melihat Aku, dia telah melihat Bapa (Yohanes 14:9). Yang kita lihat Yesus mempunyai segala kuasa seperti Tuhan sendiri. Jadi jangan heran, Tuhan Yesus mengadakan banyak mukjijat. Kalau kita tidak percaya akan mukjijat dulu ataupun sekarang, maka Lukas 8 tidak lebih dari pious imagination, khayalan manusia biasa. Tetapi pandangan orang Kristen berbeda,kita percaya Tuhan campur tangan dalam kehidupan manusia. Mazmur 29:5-8 mengatakan “Suara TUHAN mematahkan pohon arasj, bahkan, TUHAN menumbangkan pohon arasj Libanon. Ia membuat gunung Libanon melompat-lompat seperti anak lembu, dan gunung Siryon seperti anak banteng. Suara TUHAN menyemburkan nyala api. Suara TUHAN membuat padang gurun gemetar, TUHAN membuat padang gurun Kadesh gemetar” ,membuat gunung gemetar. Jadi apa saja yang terjadi di dunia ini ada di dalam pengawasan Tuhan. Semua kejadian seperti ombak besar, gempa bumi, letusan gunung berapi dlsb, ada di dalam pengawasan Tuhan sendiri. Ada suatu lagu (Hymn of Praise - no 14 – “I sing the mighty power of God”) yang mengungkapkan apa yang disebutkan dalam Mazmur 29 ini:

“There is not a plant or flower below. But makes Thy glory known. And clouds arise and tempests blow by order from Thy throne”. “While all that borrows life from Thee is even in Thy care, and everywhere that man can be, Thou God art present there”.

Di dalam Lukas 8 ini, kita dihadapkan dengan Dia yang menguasai angin ribut dan ombak laut.

Ada tiga hal yang ingin saya tekankan. Pertama, kita melihat pernyataan dari kuasa dan kemuliaan Kristus. Jadi waktu kita merayakan Natal, jangan hanya memikirkan Yesus sebagai bayi, tetapi juga sebagai Tuhan yang berkuasa yang melaksanakan mukjijat sebagai tanda-tanda akan kerajaan-Nya yang akan datang. Itu yang sebenarnya yang harus kita harapkan, seperti yang Paulus katakan (2 Tim 4:8) “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya”. Apakah kita merindukan kedatangan-Nya sebagai Tuhan yang berkuasa?

Peristiwa angin ribut diredakan juga ada di dalam Injil Markus, Matius dan Lukas. Masing-masing dengan penekanan yang berbeda.

Kedua ,di Injil Lukas penekanannya adalah supaya kita mendengar dan mentaati Firman Tuhan. Lihat di dalam Lukas 8:15 yang mengajar kita untuk mendengar: “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan”. Lukas 8:18 “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.” Lukas 8:21 “Tetapi Ia menjawab mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya."”.

Kalau angin ribut, ombak laut mentaati Firman Tuhan, mengapa kita tidak mentaati-Nya. Kita patut mendengarkan-Nya dan mentaati-Nya. Jadi Kristus menguasai segala sesuatu termasuk alam semesta ini. Mukjijat yang Yesus lakukan yang menyangkut alam tidak terjadi setiap hari, seperti merubah air menjadi anggur, berjalan di atas air, memberi makan 5000 orang, mengutuk pohon ara sehingga kering, membangkitkan Lazarus. Jadi jangan heran ketika murid-murid bertanya Who is this? Baru setelah kebangkitan-Nya mereka mulai sungguh-sungguh mengerti siapakah Dia. Sebenarnya mereka harus tahu. Perjanjian lama sudah memberitakannya, seperti dalam Mazmur 89:9 “Engkaulah yang memerintah kecongkakan laut, pada waktu naik gelombang-gelombangnya, Engkau juga yang meredakannya.” Yesus memang satu dengan Allah sendiri.

Ketiga , melalui mukjijat ini, Yesus menyatakan siapakah Dia. Dia adalah Tuhan yang menjadi manusia dengan segala kemuliaan-Nya. Setelah mengubah air menjadi anggur, Firman Tuhan mengatakan (Yoh 2:11) “dengan itu Dia telah menyatakan kemuliaan-Nya”. Kita melihat kemuliaan Tuhan di dalam banyak hal. Tetapi kemuliaan-Nya paling menjadi nyata dalam pengorbanan-Nya demi keselamatan manusia. Oleh karena itu pada hari Natal kita dengar lagu Glory to God in the highest, dan the Gloryusually associated with His Cruxifiction. Dalam Yohanes, ketika Dia mulai menuju ke kayu salib, Dia berdoa agar Bapa akan mempermuliakan Dia. Kemuliaan-Nya dikaitkan dengan pengorbanan-Nya sebagai anak domba.

Mukjijat selalu disebut sebagai tanda-tanda, sebagai tanda-tanda kerajaan yang akan datang, tanda bahwa Dia sedang mendirikan kerajaan-Nya tetapi belum dalam kesempurnaannya. Tanda yang menunjuk kepada yang sempurna itu. Inti Injil adalah mengenai kuasa dan kemuliaan Kristus. Karena itu jangan hanya memusatkan perhatian kepada bayi yang manis itu. Bayi itu telah menjadi dewasa, telah menderita, telah mengorbankan diri, telah mati, dan telah bangkit, dan telah menjadi raja surga yang penuh kuasa dan kemuliaan. Jangan hanya pikirkan apa yang Yesus dapat lakukan bagi saya. Memang banyak yang Dia lakukan, seperti menghapuskan dosa, memberi kekuatan untuk hidup suci, memberi kesehatan dan kecukupan, mendengarkan doa dan tentu kita bersyukur. Tetapi Injil menunjuk kepada realita yang lebih besar lagi yaitu kemuliaan Allah yang nampak dalam wajah Kristus. Kita melihat kemuliaan-Nya ketika Dia menyentuh orang yang sakit kusta, ketika Dia mencuci kaki para murid, ketika menghibur mereka yang ada dalam kesusahan, ketika menghadapi penderitaan menuju kayu salib, kita melihat kemuliaan-Nya dalam kebangkitan-Nya dan kedatangan-Nya kembali. Karena itu Glory to God in the Highest.

Menghadapi kuasa dan kemuliaan Tuhan, ada dua alternatif sebagai respons kita: entah kita menyembah Dia atau kita mengutuk Dia. Suatu kali seorang bapa yang mempunyai putri yang sakit leukemia, yang sedang ada di rumah sakit, dan sedang membelikan kue bagi putrinya. Dalam perjalannya bapa tersebut mendapat berita bahwa putrinya sedang dalam keadaan gawat, dan ternyata putrinya meninggal. Bapak itu mengambil botol minuman dan menjadi mabuk. Dia mampir ke Gereja dan melemparkan kue tersebut ke salib. Dia begitu kecewa dg yang terjadi, dan dia tumpahkan itu ke Allah. Beberapa tahun yang lalu saya mempunyai seorang saudara perempuan yang menderita Leukimia, dan kemudian meninggal juga, sama seperti cerita di atas. Ayah saya menjadi marah sekali kepada Allah dan dia tidak pernah ke Gereja lagi. Menyedihkan sekali, tetapi ini adalah salah satu reaksi yang tidak mau mengampuni Tuhan. Ingat akan istri Ayub (Ayub 2:9), dia berkata “kutukilah Allahmu dan matilah”. Ini terjadi setelah Ayub kehilangan segala sesuatu, termasuk anak-anaknya mati semua. Sedangkan Ayub responsnya (Ayub 1:20) adalah “mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah”.

Bagaimanakah response saudara-saudara, kalau kita menghadapi keadaan yang sukar, apakah kita memuji nama Tuhan ataukah justru memarahi Tuhan, karena Dia telah mengecewakan kita. Ada suatu lagu yang terkenal yang mengungkapkan sikap percaya itu dalam keadaan susah:

Be still, my soul; the Lord is on Thy side;

Bear patiently the cross of grief or pain;

Leave to Thy God to order and provide;

In every change He faithful will remain.

Be still, my soul; the waves and winds still know

His voice who ruled them while He dwelt below.

Kita harus menerapkan iman kita ke dalam keadaan yang konkrit. Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya “di manakah kepercayaanmu”, jadi ini adalah suatu ajakan untuk menerapkan iman dalam setiap keadaan. Dalam keadaan susah kita sering berpikir bahwa Tuhan tidak memperdulikan kita. Bahwa Dia tidak sanggup mengatasi keadaan kita, dan kita mau mengatasi keadaan tersebut dengan kekuatan sendiri.

Iman adalah respons kita secara menyeluruh terhadap kebenaran Tuhan. Jangan berpikir iman itu seperti pemanas air di rumah, jika suhu turun pemanas itu akan otomatis bekerja. Iman tidak otomatis, iman harus dilatih dalam keadaan konkrit. Bagaimana caranya?

Pertama jangan sampai saudara dikuasai oleh keadaan yang dihadapi, seperti para murid yang panik melihat ombak yang besar. Ini sering menjadi masalah kita, kita membayangkan hal-hal yang akan terjadi dan memusatkan perhatian ke hal-hal yang negatif dan menjadi tidak tenang. Filipi 4:6-7 mengajarkan kita untuk berdoa sehingga hati dan pikiran dipelihara dan dibela oleh Tuhan, sehingga tidak memikirkan hal-hal yang akan mengambil dari kita ketenangan dan keteduhan di dalam hati.

Yang kedua tolong ingatkan apa yang saudara yakini, dalam keadaan tertentu yang saudara yakini, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Kalau sehelaipun dari rambut kepalamu tidak akan hilang, kalau burung pipit yang tidak berharga Tuhan pelihara juga diperhatikan oleh Tuhan, apakah Tuhan tidak memperhatikan kamu. Bahkan ketika kita masih musuh Tuhan, Kristus telah mati, akankah Dia akan meninggalkan kamu sekarang?

Yang ketiga, Roma 8:28 mengatakan “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” “Segala sesuatu” tidak berarti segala sesuatu akan beres dan tidak akan ada kesulitan. Tetapi Dia telah memilih kamu, dan ini semua adalah sarana untuk membuat kita menjadi serupa dan segambar dengan Anak-Nya. Tuhan memakai peristiwa seperti ini supaya kita menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, supaya kita menjadi kudus.

Ada yang merasa imannya lemah, atau merasa tidak beriman sama sekali. Hati-hati, iman para murid saat itu sangat lemah, tetapi dengan iman yang sangat lemah itu, mereka berseru kepada Yesus, barangkali Dia dapat menolong. Jadi iman yang sekecil biji sesawi pun bisa berharga, asalkan iman itu membawa kita kepada Yesus. Yesus tidak akan membuang kita, Dia penuh kasih sayang dan kemurahan hati. Di manakah imanmu, pastikan bahwa imanmu ada,diperlukan, dan di mana engkau lemah. Di mana saya perlu, di mana saya lemah terapkan iman.

Tidak berarti mengikuti Yesus bebas daripada penderitaan. Para murid mungkin berpikir mereka akan mengalami hal-hal yang menyenangkan, mereka bersama-sama dengan Yesus di dalam kapal, cuaca bagus dan airnya tenang. Kalau saudara mengikut Kristus jangan heran kalau saudara menghadapi tantangan berat, karena tidak ada jaminan bahwa kita tetap sehat, kaya dan sejahtera.

Itulah sebabnya orang Kristen sering juga mengharapkan hal-hal yang tidak pernah Tuhan janjikan.Itulah sebabnya banyak orang Kristen kecewa dengan Tuhan. Tuhan tidak berjanji bahwa anak tidak akan menderita Leukimia, tidak ada janji seperti itu. 1 Petrus 5:8 mengatakan “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Panggilan kita adalah untuk mengikuti Tuhan Yesus di dalam segala macam keadaan.

Kalau kita melihat Lukas 8 secara menyeluruh kita melihat para murid menghadapi angin ribut, orang yang dikuasai roh jahat, seorang wanita yang sakit pendarahan, dan mayat seorang anak. Ini semua dalam Lukas 8. Inilah konteks yang harus kita hadapi dengan iman dan pengharapan. Inilah keadaan manusia sekarang, karena kita adalah bagian dari broken world, dan kita hidup dalam broken community.

Tetapi kita melihat dalam setiap peristiwa di Lukas 8 ada happy ending: roh jahat diusir, wanita dengan perdarahan itu disembuhkan, putri yang telah meninggal itu dibangkitkan, angina ribut diredakan. Tetapi saya tidak dapat menjamin bahwa di dalam hidup saudara akan ada happy ending itu. Karena ingat yang Yesus kerjakan adalah tanda dari kerajaan yang akan datang. Tidak semua disembuhkan, tidak semua roh jahat di usir. Hanya satu orang yang dapat juga berjalan di atas air yaitu Petrus, dan dia tidak terlalu berhasil juga.

Kita ingat dalam masa Advent, kedatangan Kristus untuk pertama kalinya sebagai manusia. Tuhan berada di tengah kita, dia mengerjakan segala sesuatu demi kebaikan kita, tetapi Dia tidak selalu meluruskan jalan sesuai dengan keinginan kita. Doa tidak selalu dikabulkan sesuai dengan keinginan kita. Para murid perlu mempelajari karena dalam Lukas 9, mereka diutus ke dalam dunia, untuk memberitakan kerajaan Allah. Lukas 8 adalah persiapan bagi mereka untuk melakukan misi mereka. Misi mereka itu bukan suatu piknik. Melalui masa susah kita juga dipersiapkan untuk misi Tuhan sendiri. Bagaimana kita menjadi lebih percaya, menjadi saksi Tuhan yang credible, kalau tidak pernah ada tantangan, tidak pernah melalui keadaan yang sukar?

Inilah mukjijat yang kita beritakan: Kristus berkuasa, Dia yang sanggup menenangkan angin dan laut, Dia juga sanggup menenangkan hati kita masing-masing. Di dalam Dia, kita lebih daripada orang-orang yang menang. Oleh karena itu tenangkanlah hatimu, lihat  kuasa, kemuliaan Tuhan Yesus yang dapat menguasai angin ribut, dan Tuhan yang sama memimpin saudara sampai sekarang menuju ke masa depan. For the wind and the waves still know His voice, who ruled them while He dwelt below.

Kuasa Tuhan tidak berkurang, biarpun dalam masyarakat kita jaman ini tidak ada percaya akan mukjijat, kita tetap harus berpegang kepada Firman-Nya. Kita sedang menuju dunia yang baru yang tidak ada dosa lagi, dan kehidupan yang tidak akan berakhir. Oleh karena itu dalam masa Natal kita juga bernyanyi, Glory to God in the Highest.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya