Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > The Story of Salvation

Ibadah

The Story of Salvation

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 29 November 2015

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 3:12-30

Bagian kitab Hakim-Hakim kali ini penuh dengan kekejaman, yang penuh dengan darah, yang bisa dikategorikan sebagai R-rated. Bagian ini menceritakan tentang Ehud, seorang pahlawan kidal yang membunuh Raja Moab dan mengalahkan bangsa Moab dengan membantai mereka. Kalau saudara bayangkan cerita ini, maka banyak kekerasan yang ada. Apa yang Tuhan ingin kita belajar dari bagian ini?

Dalam satu cerita kartun Peanuts, ada dua tokoh :Linus dan Lusi. Suatu kali digambarkan Linus sedang makan peanut butter dan jelly sandwich dengan semangat sekali. Dia mulai memperhatikan tangan dan jari-jarinya yang berlepotan jelly, namun dia mulai mengagumi tangannya. Lusi kemudian datang, Linus berkata bahwa tangannya ini suatu hari akan membangun jembatan, mengobati orang sakit, menulis novel yang besar, dan mengubah sejarah. Lusi menatap tangan itu dan berkata ada jelly yang menempel di tanganmu. Linus begitu bersemangat melihat tangannya, tetapi Lusi tidak melihat itu semua, dan cuma melihat jelly.

Waktu kita membaca bagian ayat kali ini, kita bisa seperti Lusi, bisa terdistract dengan segala macam aspeknya, kita bisa lupa apa yang Tuhan inginkan untuk kita mengerti di dalam bagian ini.

Apa yang ingin diceritakan dalam bagian ini khususnya bisa dilihat di ayat 14-15 ”(14) Delapan belas tahun lamanya orang Israel menjadi takluk kepada Eglon, raja Moab. (15) Lalu orang Israel berseru kepada TUHAN, maka TUHAN membangkitkan bagi mereka seorang penyelamat yakni Ehud, anak Gera, orang Benyamin, seorang yang kidal. Dengan perantaraannya orang Israel biasa mengirimkan upeti kepada Eglon, raja Moab”. Inilah temanya, ini adalah the Story of Salvation, ini adalah cerita Tuhan yang mengangkat orang Israel, orang Israel yang 18 tahun diperbudak oleh Raja Eglon. Tetapi mereka kemudian berseru kepada Tuhan di dalam kesulitannya, minta pertolongan Tuhan. Tuhan kemudian membangkitkan Ehud untuk menyelamatkan Israel. Ini adalah the Story of Salvation.

Kisah ini adalah kisah yang menarik, yang penting, dan relevant bagi anak-anak Tuhan sepanjang jaman. Khususnya bagi kita yang sedang bergumul di dalam kesulitan, di dalam apapun yang kita hadapi, dan kita sedang berseru kepada Tuhan. Berita ini adalah berita yang kita perlukan yaitu bahwa kita memiliki Allah yang berbelas kasihan, yang mendengar seruan umatnya. Anak-anak Tuhan berseru, dan Tuhan mendengar seruan mereka, memberikan pertolongan sesuai dengan waktu dan hikmat Tuhan.

Tuhan membangkitkan Ehud, pahlawan yang gagah perkasa, untuk menyelamatkan umat-Nya. Ini adalah kisah keselamatan sepanjang jaman. Apapun kesulitan kita, kita boleh datang berseru kepada Tuhan. Kadang-kadang ada waktu-waktu yang kita tidak tahu bagaimana jalan keluarnya. Tetapi biarlah ketika kita datang kepada Tuhan, yakinlah Tuhan pasti mendengar dan memimpin, memelihara anak-anak-Nya.

Mari kita melihat apa yang Tuhan kerjakan di dalam kisah Ehud dari kacamata Israel. Saudara bisa membayangkan Raja Eglon yang gendut itu menekan, menarik pajak dari bangsa Israel selama 18 tahun. Di dalamnya ada humor, ada satir, ada juga kesukaan dari bangsa Israel setelah Tuhan menyelamatkan mereka. Ehud adalah seorang yang biasa membawa upeti kepada Raja Moab. Upeti ini kemungkinan besar adalah buah-buahan dan makanan yang terbaik, yang khusus disimpan dan dibawa kepada Raja.

Ehud secara spesifik disebutkan sebagai seorang yang kidal yang menaruh pedang di sebelah kanan. Keunikan Ehud ini Tuhan pakai, sehingga dia bisa membawa pedang dengan tidak ketahuan, karena kebanyakan orang waktu itu menaruh pedang di sebelah kiri. Kita bisa belajar di sini, setiap keunikan, setiap keadaan, bahkan di dalam kekuranganpun Tuhan bisa pakai. Ada tugas-tugas yang Tuhan percayakan, yang tidak ada orang lain yang bisa lakukan. Seperti banyak dari kita yang pulang kampung, dan banyak dari saudara-saudara kita yang belum percaya kepada Tuhan. Seringkali orang yang terbaik untuk memberitakan Injil kepada mereka adalah kita. Juga pembantu-pembantu di rumah saudara, banyak dari mereka yang belum percaya kepada Tuhan. Siapa yang bisa memberitakan Injil kepada mereka? Seperti Pendeta Amin Cung, yang dalam keadaan sakit kanker, justru Tuhan pakai untuk melayani orang-orang yang sakit kanker di rumah sakit. Mereka sangat senang dengan pendeta Amin Cung, karena dia telah mengalami kanker itu sendiri. Tuhan bekerja dalam segala sesuatu bagi orang-orang yang mengasihi Dia.

Demikian Tuhan memberikan karakter yang unik kepada Ehud, sehingga dia bisa membawa pedang setengah meter dengan tidak ketahuan.

Ayat 20-22: (20) “Lalu Ehud masuk mendapatkan dia (Raja Moab, Eglon), sedang ia duduk sendirian di kamar atas di rumah peranginannya. Berkatalah Ehud: "Ada firman Allah yang kubawa untuk tuanku." Lalu bangunlah ia berdiri dari tempat duduknya. (21)Kemudian Ehud mengulurkan tangan kirinya, dihunusnya pedang itu dari pangkal paha kanannya dan ditikamkannya ke perut raja (22) sehingga hulunya beserta mata pedang itu masuk. Lemak menutupi mata pedang itu, sebab pedang itu tidak dicabutnya dari perut raja. Lalu keluarlah ia melalui pintu belakang“.

Kita boleh melihat di sini, ada sarcasm dalam ayat-ayat ini. (NIV) ayat 24-25 “(24) After he had gone, the servants came and found the doors of the upper room locked. They said, “He must be relieving himself in the inner room of the palace.” (25) They waited to the point of embarrassment, but when he did not open the doors of the room, they took a key and unlocked them. There they saw their lord fallen to the floor, dead.

 “Relieving himself” bahasa aslinya adalah “he surely covering his feet” adalah euphemism untuk orang yang pergi ke toilet. Di dalam Bahasa Ibraninya, ini adalah tulisan literatur yang menarik, yang memakai partikel hine - “behold”, atau “tentulah”, yang menunjukkan ada sesuatu yang mengagetkan. Mereka menunggu-nunggu ,disangkanya raja sedang membuang air, namun ayat 25 “tetapi Raja tidak membuka pintu”, dan setelah itu “maka tampaklah tuan mereka mati tergeletak di lantai”.

Ehud kemudian mengumpulkan orang Israel, dan berbalik menyerang, membunuh 10000 orang Moab, mengalahkan bangsa Moab.

Di dalam kisah ini kita boleh mempelajari tiga hal

1. Yang pertama, sesuatu yang berbahaya jika seseorang menganiaya umat Tuhan.

Siapa yang menganiaya umat Tuhan akan berhadapan dengan Tuhan sendiri. Misalnya Saulus yang membenci pengikut Kristus dan mengejar, menangkap, memenjarakan dan membunuh mereka. Sampai Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Saulus dalam perjalanannya ke Damsyik. Tuhan berkata (KPR 9:4) “Saulus, Saulus, mengapakah kamu menganiaya Aku?”. Padahal Saulus tidak menganiaya Yesus secara langsung. Sebenarnya Tuhan ingin mengatakan, jika engkau menganiaya umat-Ku maka engkau menganiaya Aku sendiri. Orang-orang yang melawan Tuhan, betapa besarpun mereka, maka mereka berada di dalam keadaan yang sangat berbahaya. Dalam Mazmur 73, kita diingatkan bahwa Tuhan kadang-kadang mengijinkan umat-Nya untuk menderita bahkan dibunuh, sedangkan orang-orang fasik,yang tidak percaya Tuhan, bahagia. Pemazmur di sini bergumul, dia merasa Tuhan tidak memperhatikan dia, melihat orang yang fasik, yang tidak takut akan Tuhan, mereka hidupnya seperti senang, seperti lancar; sedangkan pemazmur mengalami banyak pergumulan. Meskipun kadang kadang Tuhan mengijinkan umat-Nya dibunuh, mengalami kesulitan. Biarlah kita seperti pemazmur dalam Mazmur 73, awalnya dia sulit mengerti, bukankah janji Tuhan adalah damai sejahtera, sampai dia masuk ke dalam tempat kudus Allah dan mengetahui kesudahannya. Pemazmur bergumul, mengenal isi hati Tuhan, bersekutu dengan Tuhan, dia mulai mengerti apa yang terjadi ini dari sudut pandang Tuhan, bukan dari sudut pandang manusia yang terbatas. Biarlah kita bergumul dan mengerti apa yang Tuhan inginkan dan sedang kerjakan di dalam hidup kita, melalui segala kesulitan yang Tuhan ijinkan bagi anak-anak-Nya. Pemazmur semakin mengenal dirinya, semakin bersandar kepada Dia. Bukan karena semua kebaikan yang telah diterima, tetapi karena Tuhan sendiri sebagai harta yang paling berharga. Seperti lagu “dulu ku mau berkat kini mau Tuhan”. Mulai point yang pertama ini kita boleh dikuatkan, khususnya bagi yang dianiaya, ktia diingatkan bahwa Tuhan tidak tinggal diam, Dia memimpin, memelihara umat-Nya.

2. Yang kedua, di dalam segala kesulitan, Tuhan ingin kita bersuka cita.  

Kalau kita membaca bagian ini ada hal yang lucu, ada kisah para pengawal menunggu lama sekali, dikira mereka Raja sedang membuang air, tetapi lama sekali tidak keluar-keluar. Ini bisa membuat umat- Nya tertawa dan tersenyum kembali. Tuhan ingin umat-Nya bersuka cita, Dia tidak ingin umat-Nya terus-menerus tertekan. Dia memberikan pertolongan pada waktunya, Dia ingin kita bersuka, bukan hanya di dalam segala anugerah yang Dia berikan, tetapi di dalam segala pekerjaan-Nya di dalam hidup kita.

3. Yang ketiga, kita bisa melihat karya Tuhan seringkali melalui cara yang mengagetkan, yang tidak  sesuai dengan yang kita pikir dan rencanakan.

Jalan Tuhan kadang kala tidak kita mengerti, biarlah kita   terus taat dan bersandar kepada Tuhan, setia kepada Firman-Nya, melakukan apa yang menjadi  kehendak-Nya. Dia adalah Tuhan yang kadang-kadang mengijinkan kesulitan dan kesedihan di malam  yang gelap. Tetapi ada kesegaran dan kasih setia yang baru di pagi hari yang Tuhan berikan. Dia adalah Tuhan yang tidak akan meninggalkan kita.

Tuhan memiliki cara pemeliharaan yang berbeda-beda, mengikut Tuhan itu tidak pernah membosankan. Saudara harus expect the unexpected. Biasanya kita menganggap hidup kita sebagai rutinitas, yang membosankan. Tetapi kalau saudara mengikut Tuhan, ada banyak surprise, ada banyak pembentukan Tuhan yang kita tidak sangka. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Biarlah kita terus setia mengikut Tuhan dan Tuhan akan memimpin kita dengan cara-Nya yang beragam.

Cerita ini juga menceritakan tragedi. Di dalam pasal 4:1 “Setelah Ehud mati, orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata Tuhan.”  Ini adalah tragedi, dan kalimat seperti ini ‘orang Israel melakukan pula apa yang jahat dimata Tuhan’ terus diulang. Setelah Tuhan menolong orang Israel, namun setelah pahlawan itu mati, maka mereka kembali melupakan Tuhan. Maka Israel once again did evil in the eyes of the Lord. Mari kita renungkan - meski Tuhan memberikan keamanan selama 80 tahun. Ehud sebenarnya hanyalah bayang-bayang dari pada Kristus -.

Persoalan utama dari bangsa Israel, adalah hati mereka yang diperbudak oleh dosa, hati yang terus menerus berkubang di dalam dosa.

Setelah pahlawan mereka mati, mereka kembali lagi melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Ehud, betapapun hebatnya dia, dia tidak bisa membebaskan umat-Nya daripada dosa. Kita tahu hanya Kristus yang dapat menyelamatkan umat-Nya. Kalau Ehud bisa membuat hidup orang Israel damai selama 80 tahun dengan membunuh Eglon. Namun Yesus justru harus mati di atas kayu salib, bukan sebagai pahlawan dengan tangan kidal, tetapi dengan tangan yang terpaku di kayu salib. Dia kelihatan kalah, kelihatan lemah, namun dengan kelemahan itulah, Dia menyelamatkan umat-Nya dari musuh yang terbesar yaitu dosa yang mendatangkan maut. Bukan tangan kidal yang menyelamatkan umat-Nya tetapi tangan yang terpaku di atas kayu salib-lah yang menyelamatkan umat-Nya. Kristus adalah penggenapan seluruh tokoh dalam Perjanjian Lama. Dia menyelamatkan umat-Nya untuk selama-lamanya. Dia melepaskan hati umat-Nya yang berdosa itu, dari cengkeraman dosa. Dia memberi hati yang baru, memberi hidup yang baru dan mempersatukan kita dengan-Nya. Ini adalah berita yang harus terus kita beritakan bahwa Kristus adalah Juruselamat satu-satunya yang dapat menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Ehud hanya memberi kedamaian selama 80 tahun, tetapi Kristus memberikan keselamatan dan kedamaian bagi umat Tuhan, bagi setiap kita yang dipersatukan dengan Kristus, bukan hanya 80 tahun, bukan hanya seumur hidup kita, tetapi untuk selama-lamanya.

Saat ini kita masih bergumul di dalam dosa, masih terus berjuang untuk mematikan dosa. Tetapi bagi kita yang sudah di dalam Tuhan, Tuhan mengampuni dosa, bukan hanya dosa yang dilakukan dimasa lalu, dosa di masa sekarang tetapi juga dosa di masa yang akan datang. Sungguh kita yang di dalam Tuhan, kita masih mungkin melakukan dosa, tetapi seluruh dosa tersebut sudah ditebus oleh Kristus. Kesadaran ini bukan membuat kita terus menerus hidup di dalam dosa, tetapi kesadaran ini membuat kita dengan iman terus bersandar kepada Tuhan.

Dengan iman kita sadar, kalau kita milik Tuhan, kalau kita sudah dipersatukan dengan Kristus, biarlah kita boleh mentaati Dia, melakukan kehendak-Nya, menjauhi diri dari dosa. Biarlah kita tidak lari dari Tuhan, tetapi kita boleh datang kembali mendekat kepada Tuhan, bertobat kembali, dan Tuhan akan memulihkan kita. Saudara yang jatuh di dalam dosa, kalau engkau beriman kepada Tuhan, percaya kepada Dia, maka kembalilah kepada Tuhan karena sebesar apapun dosamu, Tuhan sudah sucikan seluruhnya di atas kayu salib. Hal ini membuat kita dengan hati yang hancur dan lega boleh datang kepada Tuhan.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya