Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Paradigma Keselamatan

Ibadah

Paradigma Keselamatan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 15 November 2015

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 3:7-11

Jika kita membaca secara kesuluruhan kitab Hakim-Hakim, maka kitab Hakim-Hakim pasal 1 sampai pasal 3 ayat 6 yang merupakan bagian besar pertama yang diberi judul Kegagalan Generasi Kedua (The Failure of the Second Generation) dari Israel. Dan selanjutnya, dari kitab Hakim-Hakim 3:7 sampai Hakim-Hakim 16:31 merupakan bagian kedua yang diberi judul  Keselamatan dari Allah yang Sabar (The Salvation of a Long Suffering God). Dalam misi penyelamatan bangsa Israel, Tuhan banyak membangkitkan Hakim-Hakim. Hakim disini bukan seperti yang kita pikirkan yaitu orang yang ada di ruang sidang pengadilan, melainkan orang yang menyelamatkan bangsa Israel, dia  bisa berupa seorang penyelamat, pemimpin atau seorang pahlawan perang.

Kalii ini kita membaca tentang Otniel, yaitu orang atau hakim pertama yang dibangkitkan Tuhan.  Kejadian dalam kitab Hakim-Hakim 3:7-11 bisa diberi judul Paradigma Keselamatan (Paradigm of Salvation) yang dikerjakan Tuhan. Ini merupakan contoh bagaimana Tuhan membangkitkan seorang Hakim yaitu Otniel dalam menyelamatkan bangsa Israel. Hari ini kita boleh merenungkan 4 hal dari Paradigma Keselamatan.

Pertama, kita bisa melihat ketidaksetiaan bangsa Israel dan murka Yahwe. Hal ini tercatat dalam kitab Hakim-Hakim 3:7-8 "7. Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera. 8. Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel, sehingga Ia menjual mereka kepada Kusyan-Risyataim, raja Aram-Mesopotamia dan orang Israel menjadi takluk kepada Kusyan-Risyataim delapan tahun lamanya". Disini Kita membaca bagaimana serangkaian rencana Tuhan bekerja dalam menyelamatkan bangsa Israel, bangsa yang sudah lupa akan Tuhan serta melayani dan beribadah kepada Baal. Mungkin akibat kekalahan perang, bangsa Israel dijual sebagai budak. Mereka dijual kepada Kusyan-Risyataim, seorang raja yang jahat. Kita boleh menyaksikan bagaimana akhirnya Tuhan mengizinkan bangsa Israel jatuh dan dikuasai oleh raja yang jahat. Dan sebagai budak, mereka menderita selama delapan tahun lamanya. Dari cerita ini, kita bisa menyimpulkan bahwa rencana dan kehendak Tuhan bisa berbeda dengan rencana dan kehendak manusia dimana Tuhan yang berdaulat kadangkala mengizinkan umat-Nya jatuh, menderita dan dikuasai oleh  orang yang jahat.  Dalam murka-Nya, Tuhan bisa memakai teroris, orang jahat dan berbagai cara untuk memperingatkan dan mendisiplinkan umat-Nya. Tuhan berbuat demikian untuk kebaikan umat-Nya, agar bangsa Israel bisa keluar dari genggaman Baal, kembali kepada Tuhan dan berjalan ke jalan yang benar.

Kedua, tangisan Israel dan penyelamatan Yahwe. Bisa dibaca di kitab Hakim-Hakim 3: 9  "9. Lalu berserulah orang Israel kepada TUHAN, maka TUHAN membangkitkan seorang penyelamat bagi orang Israel, yakni Otniel, anak Kenas adik Kaleb". Kesulitan dan penderitaan sebagai budak yang dialami bangsa Israel selama 8 tahun, dan didalam ketidakberdayaan, akhirnya mereka berseru dan meminta tolong kepada Tuhan.  Lalu Tuhan menjawab seruan bangsa Israel dengan mengirimkan Otniel, yang akhirnya membebaskan orang Israel dari Kusyan-Risyataim. Bangsa Israel berseru kepada Tuhan karena mereka tidak sanggup menahan  kesusahan dan penderitaan, mereka belum sungguh-sungguh bertobat waktu itu. Yang terindah dalam kejadian ini ialah walaupun mereka belum sungguh-sungguh bertobat, Tuhan menunjukkan belas kasihan kepada umat-Nya yang menderita dan yang berseru minta tolong. Tuhan tidak dapat  menahan hati-Nya untuk menolong mereka. Dia yang penuh dengan cinta kasih tidak tahan melihat penderitaan dan tangisan umat-Nya. Sekali lagi, Tuhan yang ada di surga menginginkan yang terbaik untuk umat-Nya. Kasih anugerah dan belas kasihan Tuhan tetap akan tercurah kepada umat yang berseru kepada-Nya walaupun umat-Nya belum sungguh-sungguh bertobat. Di dalam hidup, kitapun kerap kali seperti bangsa Israel. Walaupun kita belum sungguh-sungguh bertobat, Tuhan tetap mencurahkan pertolongan dan kasih-Nya kepada kita ketika kita berseru kepada-Nya. Tuhan yang maha pengasih dan penyayang itu, sangat menginginkan anak-anak-Nya sungguh-sungguh bertobat, hidup suci di hadapan-Nya dan memuliakan nama-Nya.

Ketiga, penganiayaan Israel dan kuasa Yahwe.  Kitab Hakim-Hakim 3: 10 ”10. Roh TUHAN menghinggapi dia dan ia menghakimi orang Israel. Ia maju berperang, lalu TUHAN menyerahkan Kusyan-Risyataim, raja Aram, ke dalam tangannya, sehingga ia mengalahkan Kusyan-Risyataim”.  Dari ayat ini, kita sesungguhnya dapat menyaksikan bagaimana rencana Tuhan begitu sempurna yang bekerja sepanjang sejarah. Tuhan mengizinkan periode-periode sulit atau penganiayaan terjadi bagi bangsa Israel yang dimulai dari kekalahan perang bangsa Israel, lalu orang Israel dijual sebagai budak kepada Kusyan-Risyataim dan mengalami penderitaan selama 8 tahun. Kemudian Tuhan memilih dan membangkitkan Otniel, yang akhirnya Otniel memenangkan peperangan atas Kusyan-Risyataim.  Melalui serangkaian proses ini, perbuatan bangsa Israel yang pada mulainya berdosa kepada Tuhan ini “dihakimi”. Dan melalui semua proses ini pula,  akhirnya bangsa Israel dibebaskan dari tangan Kusyan-Risyataim. Semua proses itu berada dalam rencana Tuhan, sekaligus kuasa Tuhan bekerja di dalamnya. Tuhan yang berdaulat atas sejarah dunia ini. Biarlah kita memiliki iman yang dihinggapi oleh roh kudus, sehingga kita sungguh-sungguh bertobat dan hidup taat dalam kebenaran firman Tuhan, serta percaya bahwa Tuhan yang berdaulat yang selalu berbelas kasihan dan memberi kebaikan kepada umat-Nya dan Tuhan yang memimpin jalan hidup kita.

Terakhir, kesempatan Israel dan anugerah Yahwe. Kitab Hakim-Hakim 3:11 “11. Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya. Kemudian matilah Otniel anak Kenas”.  Ayat ini menyatakan bahwa Tuhan akhirnya memberikan keamanan, kedamaian dan  kemakmuran kepada bangsa Israel selama 40 tahun lamanya. Suatu kebaikan dan kesempatan yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel.

Seluruh kejadian ini mengingatkan kita semua yang hidup di tempat yang tenang, damai dan aman, agar tidak melupakan kebaikan Tuhan, tidak melupakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita. Seperti yang tertulis dalam kitab Roma 2: 4: “4. Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?”.  Sebagai umat-Nya yang telah menerima anugerah,  kebaikan dan kemurahan Tuhan, marilah kita sungguh-sungguh bertobat, belajar hidup taat dalam firman-Nya dan hidup suci dan mengkuduskan diri di hadapan Tuhan. 

Ringkasan oleh Budi Walujo | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya