Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Karakter Tuhan yang Ajaib

Ibadah

Karakter Tuhan yang Ajaib

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 1 November 2015

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 2:6-23

Ada satu maskapai penerbangan memberikan demo safety yang menarik, yang tidak membosankan. Sebagaimana kita tahu kita tidak boleh merokok di pesawat, namun pramugara tersebut mengatakan bahwa saudara tidak boleh merokok di dalam pesawat bahkan di dalam toilet, tetapi kalau saudara betul-betul ingin merokok, saudara boleh merokok di luar (pesawat). Seperti kita pergi ke satu kota, kita bisa pergi ke information center untuk melihat kota itu. Kitab Hakim-Hakim pasal 2 adalah seperti overview dari kitab Hakim-Hakim. Dalam ayat 18-19, jelas sekali adanya overview “Setiap kali apabila TUHAN membangkitkan seorang hakim bagi mereka, maka TUHAN menyertai hakim itu dan menyelamatkan mereka dari tangan musuh mereka selama hakim itu hidup; sebab TUHAN berbelas kasihan mendengar rintihan mereka karena orang-orang yang mendesak dan menindas mereka. Tetapi apabila hakim itu mati, kembalilah mereka berlaku jahat, lebih jahat dari nenek moyang mereka, dengan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya; dalam hal apapun mereka tidak berhenti dengan perbuatan dan kelakuan mereka yang tegar itu.” Pasal 2:6 sampai 3:6 adalah overview dari keseluruhan kitab Hakim-Hakim, khususnya apa yang Allah lakukan dalam keberdosaan bangsa Israel.

Kali ini kita akan memperhatikan beberapa hal yang penting di dalam overview ini.

Hal pertama adalah realita peperangan, khususnya peperangan rohani, meskipun ada juga peperangan secara physical. Untuk mengerti hal ini kita harus mengerti dulu tentang Baal, di mana Israel  terus menerus jatuh ke dalam penyembahan Baal. Dalam ayat 13 “Demikianlah mereka meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada Baal dan para Asytoret”.

Kalau kita kembali ke kejadian 1 dan 2, di mana Allah menciptakan segala sesuatu dan manusia, kita sudah sangat familiar dengan peristiwa itu. Ada salah satu hal yang radikal, yaitu adalah seks itu adalah aktifitas manusia dan bukan aktifitas dewa. Aktifitas seksual itu bukan aktivitas Allah, tetapi di berikan kepada manusia yang diciptakan sebagai sexual being. Allah adalah sangat berbeda dengan allah-allah lain pada jaman itu, karena tidak beristri. Hal itu sangat radikal pada jaman itu. Cerita penciptaan di dalam Baal, yaitu Enuma Elis, sangat berbeda sekali dengan apa yang diceritakan dalam Alkitab. Dewa Baal itu sangat berbeda sekali dengan Allah orang Israel. Dewa Baal itu adalah dewa kesuburan, baik untuk ternak, tanah yang subur, yang menghasilkan buah dan panen yang berlimpah, juga dalam manusia. Tentu kalau Baal adalah dewa kesuburan ,maka Baal harus mempunyai istri, yaitu dewi Asytoret. Waktu Baal dan Asytoret melakukan sexual intercourse, maka mereka mendatangkan kesuburan bagi ternak, bagi tanah dan juga lahirnya anak-anak bagi manusia. Waktu datang masa kekeringan, tanah mulai kering, binatang-binatang mulai mati, dan manusia mendapat kesulitan maka orang-orang Kanaan datang kepada kuil dewa Baal. Selain memberikan persembahan, untuk mendatangkan kesuburan bagi tanah dan hidup mereka, Mereka berhubungan seks dengan sacred prostitute (pelacur bakti), yang bekerja seperti iman, yang melayani di dalam kuil-kuil Baal. Mereka melakukan itu dengan tujuan supaya menstimulir dewa Baal dan dewi Asytoret juga melakukan hal yang sama, sehingga mendatangkan kesuburan.

Bagi orang Kanaan hal itu adalah very logical, namun ini adalah perbedaan yang paling mendasar dari dewa-dewa Baal dan Allah orang Israel. Dewa-dewi ini harus diencourage untuk melakukan apa yang manusia inginkan, tetapi Allah Yahwe adalah Allah yang harus dipercaya.

Alex Mortier, seorang teolog, membandingkan ajaran Baal ini seperti seorang ayah yang mengajarkan anaknya bagaimana membuang ingus waktu pilek. Dewa-dewa seperti anak-kecil yang harus dikasih contoh bagaimana melakukan sesuatu. Dewa-dewa tersebut harus dikasih contoh dan ini seperti menghina sekali. Alktab berkali-kali membandingkan dewa-dewa dengan patung-patung yang dibuat dengan tangan manusia. Patung-patung yang harus dipaku supaya tidak gampang goyang. Dewa-dewa mereka itu seperti orang-orangan di kebun mentimun yang dipasang untuk mengusir burung (lihat Yeremia 10:5). Karena itu Allah begitu murka saat umat-Nya bisa jatuh menyembah dewa-dewa seperti ini. Ini menjadi isi hati Tuhan yang mempertanyakan hal itu. Mengapa engkau melakukan hal itu, engkau yang sudah dibebaskan dari perbudakan di Mesir,  engkau  yang sudah melihat pekerjaan Allah yang begitu besar seperti membelah laut Teberau, mengapa engkau terus menerus jatuh kepada penyembahan berhala. Ini menjadi suatu yang begitu tidak masuk akal. Sebenarnya kita juga bisa jatuh dalam hal-hal yang seperti itu di jaman sekarang.

Mengapa orang Israel mudah terbawa untuk menyembah sesuatu yang bukan Allah. Juga by implication, mengapa orang mudah menyembah sesuatu yang bukan Allah.

Bangsa Israel tidak menjaga hidup mereka dengan suci dan mengikuti kehendak Tuhan. Mereka tidak memisahkan diri dari orang-orang Kanaan. Mereka mengawinkan anak-anak mereka dengan orang-orang Kanaan (Hakim-Hakim 3:5-6). Istri-istri Kanaan mungkin berkata memang Allah Yahwe hebat, menyelamatkan kamu dari perbudakkan mesir, tetapi itu adalah masa lalu, dan sekarang banyak masalah riil yang dihadapi sekarang ini. Kita perlu panen dan perlu makan setiap hari. Kita perlu ternak yang subur, tanah yang subur, kita perlu anak-anak. Maka mengapa engkau tidak ke Baal, dan mencoba meminta kesuburan kepada mereka. Orang Israel mulai mengikuti ajakan itu, dan jatuhlah mereka ke dalam dosa ini.

Seperti juga di jemaat Efesus, di mana Paulus, Petrus, dan Timotius pernah berkotbah di situ. Tuhan memperingatkan jika engkau tidak bertobat, Aku akan mengambil kaki dian dari antaramu (lihat Wahyu 2:5). Celakanya mereka tetap tidak bertobat, dan akhirnya Allah mengambil kaki dian itu dari antara mereka. Sampai sekarang kota Efesus itu ada di Mesir dan menjadi kota Islam. Kita perlu berhati-hati dan belajar dari sejarah bangsa Israel. Kalau kita tidak ketat menjaga iman kita, dan sedikit-demi sedikit mengikuti semangat dari dunia, maka kita akan jatuh juga. Allah mengatakan kita seperti domba yang diutus ke tengah-tengah serigala, kita ada di tengah-tengah dunia ini tetapi kita harus ingat bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Masalahnya adalah bukan kita ada di dalam dunia, karena itu adalah panggilan Tuhan, kita di utus ke dalam dunia ini; tetapi masalahnya adalah ketika dunia ada di dalam kita maka kita akan jatuh. Seperti kapal yang memang harus di dalam air, tetapi kalau air ada di dalam kapal maka mulai tenggelamlah kapal itu.

John Stott dalam bukunya “Berani Tampil Beda” (sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia) mengatakan salah satu panggilan bagi orang Kristen adalah untuk menjadi berbeda dengan dunia ini. Seperti Roma 12:2 mengatakan “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,…”

Orang-orang muda dalam jaman ini selalu bereksperimen melakukan segala sesuatu untuk menjadi berbeda, tetapi yang terjadi adalah mereka menjadi serupa dengan kelompok-kelompok tertentu.  Kalau saudara mentaati firman Tuhan maka saudara akan berbeda, dan menjadi berbeda sama sekali dan menjadi sangat indah.

Do not be confirmed but be transformed, berubahlah dengan pembaharuan budimu. Ada penetapan hati (be confirmed) seperti Daniel yang tidak menajiskan dengan makanan dan minuman raja.

Diubahkan adalah suatu proses yang perlu kerja keras, yang berlangsung terus menerus, tidak boleh santai, dan tidak boleh lupa, dan berjuang terus. Kalau kita mulai santai, kita mulai melambat, lama-kelamaan berhenti dan kemudian berjalan mundur. Yang harus menjadi contoh adalah pemimpin-pemimpin di dalam Gereja, para pengurus dan aktivis Gereja. Kita sudah tahu pentingnya persekutuan doa, tetapi mengapa ada pengurus yang tetap tidak mau datang. Bagaimana mereka menjadi teladan kalau tidak mau datang ke persekutuan doa?  Kalau para pemimpin Gereja tidak memberi teladan bagaimana jemaatnya bisa mengikuti.

Kalau kita tidak maju dan diubahkan pikiran kita dengan kebenaran Firman, maka kita mulai terbawa dengan spirit dunia ini. CS Lewis mengatakan “there is no neutral ground in the universe, every square inch, every split second is claimed by God and counter claim by Satan”. Kita harus sadar kita ada di dalam peperangan rohani. Kita begitu mudah di nina-bobokan dan pelan-pelan menjadi serupa dengan dunia ini. Tidak ada tempat yang netral di dunia ini. Seperti yang dikatakan Abraham Kuyper juga, tidak ada satu incipun di mana Kristus tidak berhak berkata bahwa ini adalah milik-Ku. Dia adalah Tuhan yang berhak dan yang harus dimuliakan dalam setiap waktu dalam hidup anak-anak-Nya.

Penyebab lain bangsa Israel menyembah bangsa berhala, adalah munculnya generasi baru yang tidak mengenal Allah. Ayat 10-13 “Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel. Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal. Mereka meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, lalu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka, dan sujud menyembah kepadanya, sehingga mereka menyakiti hati TUHAN. Demikianlah mereka meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada Baal dan para Asytoret“.

Dikatakan “mereka tidak mengenal Tuhan”, bukan mereka tidak mengetahui tentang Tuhan. Mereka mengetahui tentang Tuhan, orang-orang tua mereka mengajarkan Allah, tetapi mereka tidak mengenal Allah secara pribadi. Mereka tidak memiliki relasi dengan Tuhan. Mereka adalah generasi yang hatinya dingin dan tidak mengenal Tuhan. Bukankah ini menjadi hal yang sangat menakutkan bagi kita sebagai orang tua. Tentu anak-anak mempunyai free-will. Kalau kita melihat sejarah Gereja, kebanyakan orang-orang tua yang Godly biasanya menghasilkan orang-orang yang Godly juga. Seperti Billy Graham, salah satu anaknya (Franklin Graham) menjadi pecandu narkoba, namun karena teladan orang-tua, akhirnya anaknya bertobat dan menjadi hamba Tuhan juga. Biarlah orang tua jangan hanya membentuk tindakan luar tetapi juga membentuk hati mereka. Saya kuatir sekali banyak anak-anak kita yang tidak mengalami pekerjaan Tuhan. Kita perlu menasihati dan berdoa juga bagi anak-anak kita, supaya mereka juga mengalami apa yang kita alami, mengalami pekerjaan Tuhan. Mengalami murka Tuhan melalui murka kita, mengalami kasih Tuhan melalui kasih kita, mengalami kehadiran Tuhan di dalam hidup kita.  Biarlah kita jangan memaksa anak-anak kita untuk boleh percaya kepada Tuhan, namun dengan menasihati, memberi pengertian dan dorongan bagi mereka, dan tentu melalui hidup kita sendiri.

Mereka melupakan Tuhan, dan amnesia itu menghasilkan penyelewengan. Biarlah kebenaran itu menjadi bagian dari kisah hidup anak-anak kita. Pemazmur berkali-kali mengingatkan bangsa Israel, bagaimana Allah bekerja di masa yang lalu, supaya generasi selanjutnya ingat. Biarlah cerita-cerita Alkitab ini menjadi bagian juga dari cerita kita. Ini adalah kisah kita dari nenek-moyang kita secara iman. Kita juga berbagian di dalam kisah itu. Kisah-kisah dalam hidupmu yang membentuk hidupmu, yang membentuk karaktermu. Biarlah yang membentuk hidupmu adalah kisah-kisah bagaimana Allah yang berkarya di masa yang lalu.  Biarlah kita mengingat pekerjaan Tuhan, karena kalau tidak kita bisa melupakan Tuhan dan lama kelamaan kita akan meninggalkan Tuhan.

Kita ada seperti kita ada sekarang karena Kristus telah mati dan bangkit bagi kita. Bagaimana Kristus datang ke dalam dunia, itu adalah kisah kita juga. Kita harus selalu mengingat darah Kristus yang dicurahkan bagi kita. “Lest we forget”, jangan kita lupa Getsemani, itu penting sekali. Seperti di Australia setiap tahun pada hari pahlawan di sebutkan Lest we forget, sebagai bangsa Australia tidak tiba-tiba ada, tetapi melalui perjuangan para pahlawan.

Hal yang kedua, kita juga bisa melihat karakter Allah yang ajaib, ayat 14-15 “Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel. Ia menyerahkan mereka ke dalam tangan perampok dan menjual mereka kepada musuh di sekeliling mereka, sehingga mereka tidak sanggup lagi menghadapi musuh mereka. Setiap kali mereka maju, tangan TUHAN melawan mereka dan mendatangkan malapetaka kepada mereka, sesuai dengan apa yang telah diperingatkan kepada mereka oleh TUHAN dengan sumpah, sehingga mereka sangat terdesak“. Kesesatan bangsa Israel, membuat Allah menyerahkan mereka ke tangan perampok. Jangan pikir Allah akan selalu memberikan apa yang terbaik kalau kita tetap hidup di dalam dosa. Kalau kita adalah anak-anak Tuhan, tangan-Nya akan melawan kita. Allah terlalu mengasihi kita dengan tidak membiarkan kita untuk terus hidup di dalam dosa. Dia tidak akan membiarkan kita untuk mundur, Dia ingin menarik kita. Kalau kita anak-anak-Nya, tangan-Nya akan melawan dan mendesak kita, membuat kita susah.  Seorang penulis mengatakan "it is the price that we have to pay for being loved."

Justru karena Allah mengasihi, ada anugerah, waktu orang-orang Israel berseru, merintih walaupun belum bertobat, Tuhan berbelas kasihan. Ayat 16 mengatakan “Maka TUHAN membangkitkan hakim-hakim, yang menyelamatkan mereka dari tangan perampok itu.” Di sini orang-orang Israel belum bertobat,  namun Allah sudah berbelas kasihan kepada mereka.

Kalau kita adalah anak-anak Tuhan yang sejati maka Tuhan tidak biarkan kita. Firman Tuhan kali ini juga harus menjadi teguran bagi saudara. Kalau saudara merasa tertegur, saudara bisa marah tetapi bisa juga berbalik dan bertobat. Karakter Tuhan yang ajaib, yang begitu paradoks, di satu sisi Dia marah dan menghukum, tetapi di sisi lain Dia dalam seluruh murkanya itu didorong oleh kasih-Nya dan Dia akan menyelamatkan umat-Nya untuk kembali kepada-Nya.

Biarlah karakter ini adalah karakter kita juga, kita bisa murka terhadap dosa, tetapi kita juga bisa mengasihi orang yang berdosa. Biarlah seluruhnya digerakkan oleh belas kasihan Tuhan yang puncaknya dinyatakan dengan begitu jelas di atas kayu salib. Tidak ada murka Allah yang begitu besar yang dinyatakan dengan mengirim anak-Nya yang tunggal mati bagi kita, dan ditinggalkan oleh Allah, mengalami neraka untuk sementara waktu. Tetapi sekaligus kita bisa melihat kasih Allah yang begitu besar. Melalui kematian Kristus kita boleh diselamatkan dari dosa kita.   

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya