Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak mengenal Dia

Ibadah

Setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak mengenal Dia

Pdt. DR. Stephen  Tong

Pengkhotbah: Pdt. Dr. Stephen Tong
Date: Minggu, 8 November 2015

Bacaan Alkitab: 1 Yoh 3:3-6

Pada waktu sebelumnya kita telah membahas bahwa barangsiapa yang mengharapkan kedatangan Kristus, dia akan menyucikan dirinya. Ini merupakan salah satu dorongan atau salah satu motivasi yang paling besar untuk manusia hidup suci di dalam dunia ini. Kita begitu mudah digoda, disesatkan, tertarik ke dalam segala macam kejahatan, dosa, kecemaran dan segala sesuatu yang melawan kebenaran yang diwahyukan Tuhan karena dunia ini adalah dunia yang begitu rusak, membawa manusia menuju kepada kebinasaan. Seperti apa yang dikatakan di Alkitab, dunia ini beserta segala nafsunya akan lewat, akan binasa. Tetapi hanya mereka yang menjalankan kehendak Allah itu tetap selama-lamanya, kekal selama-lamanya. Jadi dengan kesucian itu, maka kita menjadi mirip seperti Dia.

Dalam mengharapkan kedatangan Kristus, ada motivasi yang berbeda-beda. Ada yang karena hidupnya terlalu sulit, dia mau melarikan diri dari kesulitan-kesulitan, penyakit dan segala sesuatu di dunia ini. Orang ini berpendapat bahwa kalau Yesus datang maka semua beres. Ini adalah motivasi yang negatif dan agak egois karena untuk menyelesaikan kesulitan sendiri. Waktu dia sehat, kaya, lancar maka dia tidak mengharapkan Yesus datang, malah mengharapkan Yesus jangan datang dulu supaya bisa menikmati hidup dalam dunia ini.

Kedatangan Yesus merupakan suatu program yang sudah ditetapkan oleh Tuhan bagi dunia yang diciptakanNya dan bukan tergantung oleh iman. Ini berarti kekuatan Tuhan yang menopang dunia ini pada akhirnya akan berhenti pada waktu dia mengirim Yesus pada saat dunia kiamat. Di  akhir zaman anugerah Tuhan akan diambil, sehingga menyusutnya anugerah umum mengakibatkan rusaknya moral; kerusakan moral karena Allah tidak lagi menahan dan mencegah. Banyak dosa terjadi karena Tuhan membiarkan manusia, pada akhir zaman, yang jahat akan menjadi makin jahat.

1 Yohanes 3: 3 mengatakan “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci”. Mengapa orang Kristen mengikuti cara hidup orang dunia? Mengapa orang Kristen yang melayani sambil melayani juga berbuat hal yang berlawanan dengan Alkitab? Karena dunia ini terlalu rusak.

Kristus akan datang kembali suatu saat; barangsiapa yang menaruh pengharapan kepada Dia di dalam hal ini, pasti akan menguduskan diri seperti Dia bersih, suci adanya. Kita harus sadar mengapa kita menjadi orang Kristen dan sadar bagaimana kita harus hidup suci sehari lepas sehari sesuai dengan apa yang Tuhan nyatakan dalam dunia ini sehingga kita bisa menjadi seperti Dia.

Di dalam teologi Reform, kesucian seseorang dibagi 3 tahap:

  • Tahap ke 1: Kesucian yang diberikan secara posisi orang kudus. Paulus menuliskan surat kepada jemaat Korintus sebagai orang-orang suci/kudus  Allah yang ada di kota Korintus. Di sini maksudnya adalah kudus secara posisi, status.
  • Tahap ke 2: Progressive sanctification. Penyucian yang bersifat progresif; dari hari ke hari, dari titik permulaan sampai pada waktu Kristus  datang kembali atau pada waktu kita bertemu dengan Dia pada waktu kita mati.
  • Tahap ke 3: Consumation of the sanctification yaitu penggenapan atau penyempurnaan di dalam kesucian yang dijanjikan oleh Tuhan. Itulah sebabnya pada waktu Dia datang, kita akan seperti Dia, kita akan menjadi suci karena Tuhan kita itu suci adanya.

Apa yang dimulai oleh Tuhan akan digenapi oleh Tuhan. Alkitab mengatakan yang mulai kebajikan itu adalah Allah,maka yang menyempurnakan kebajikan itu juga adalah Allah. Yang mulai iman itu adalah Kristus, maka yang menyempurnakan iman itu juga adalah Kristus.

1 Yohanes 3: 4 menyatakan: “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah”

Dalam Alkitab ada 7 definisi yang besar mengenai apa itu dosa, dan salah satunya adalah Taurat. Pelanggaran Taurat itu sendiri merupakan sesuatu keberanian untuk melawan dalil yang ditetapkan oleh Tuhan. Itulah satu sikap dosa. Manusia selalu berpikir bahwa dosa itu adalah suatu perbuatan; kalau saya sudah mencuri, saya berdosa. Tetapi Alkitab melihat dosa sebelum kita lakukan, sebelum kita ingin langgar. Keinginan melanggar hukum itu merupakan satu motivasi dosa dan etika orang Kristen adalah etika motivasi, bukan etika behavior. Itulah sebabnya pada waktu hati kita mempunyai motivasi  melanggar, itu mulai kita dianggap dosa oleh Tuhan. Karena dosa adalah pelanggaran hukum, dan pelanggaran hukum itu mulai dari keinginan keberanian melanggar hukum.

Melanggar hukum itu adalah berdosa dan dosa adalah melanggar hukum. Allah memberikan hukum Taurat kepada manusia supaya manusia sadar itu mustahil dilakukan oleh manusia. Taurat diberikan kepada pelanggar-pelanggar supaya mereka tahu bahwa mereka sudah melanggar. Paulus mengatakan bahwa motivasi Tuhan Allah memberikan Taurat adalah agar manusia mengenal bahwa Allah itu adalah Allah yang suci, Allah yang baik, Allah yang adil. Melalui Taurat kita mengenal kesucian dan kebaikan Allah, pada saat yang sama kita sadar bahwa kita terlalu jahat.  Kita tahu bahwa kita tidak mungkin melakukan Taurat dan sudah melanggar Taurat, tetapi bagaimanapun juga kita harus mempunyai motivasi bahwa kita harus menghindarkan diri dari melakukan segala sesuatu yang melanggar Taurat karena melanggar Taurat itu adalah dosa.

Dalam 1 Yohanes 3:6 dikatakan: “Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.” Apakah arti ayat ini? Ini adalah dari Bahasa Grika, bukan tenses biasa, tapi present continues tense, terus menerus. Jadi artinya setiap orang yang terus menerus berada di dalam Dia, maka orang itu tidak akan terus menerus berbuat dosa lagi. Tapi setiap orang yang terus menerus berbuat dosa, tidak berhenti-henti maka ini adalah orang yang tidak hidup di dalam Dia dan belum pernah melihat dan tidak mengenal Dia. Keinginan hidup suci itu adalah kemauan, sedangkan sudah hidup suci itu kemampuan. Orang yang punya kemauan, tidak tentu mempunyai kemampuan.  Orang yang punya kemampuan kadang-kadang tidak utarakan kemauan.

Kadang-kadang kita meleset, tertipu oleh iblis, tergoda dan jatuh dalam dosa. Tetapi bedanya orang yang diselamatkan ketika jatuh langsung bangun. Kalau ada orang yang memberitahu kita, hendaknya kita langsung bersyukur karena telah memberitahu kita dengan sungguh-sungguh. Jangan marah terhadap orang yang menegur kita atas dosa kita, tetapi marah terhadap diri kita yang terus mau melakukan dosa. Jangan marah ketika dosa kita diketahui, tetapi harus merasa malu karena dosa sudah merusak peta teladan Tuhan dalam diri kita.  Membenci dosa, peka akan dosa, membuang dosa, sungguh-sungguh lepas dari dosa itu perlu hidup yang baru. Sudahkah itu kita miliki?

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya