Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kitab Hakim Hakim

Ibadah

Kitab Hakim Hakim

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 25 Oktober 2015

Download audio

Bacaan Alkitab: Hakim-Hakim 1:1-2:5

Sebelum kita masuk ke dalam kitab hakim-hakim, kalau kita membaca Perjanjian Lama, kita melihat banyak perbedaan dengan bacaan Perjanjian Baru.   Kitab Perjanjian Lama mengandung sejarah, dan banyak nama-nama tempat yang tidak ketahui. Juga ada banyak peperangan dan kekerasan seperti cerita Raja Adoni-Bezek yang dipotong jempolnya dalam bacaan kita kali ini. Ini mengerikan sekali, khususnya bagi orang orang jaman sekarang yang memiliki empati bagi mereka yang menjadi korban. Tetapi kita perlu mengerti siapa orang Kanaan itu, mengapa Tuhan menyuruh orang Israel untuk mengusir bahkan membunuh mereka semua. Konteksnya di sini adalah perang, memang Tuhan yang memerintahkan bangsa Israel untuk membinasakan bangsa Kanaan. Ini bukan memperlihatkan kekejaman Tuhan. Kalau kita membaca kitab Ulangan pasal 9 dan pasal 18 juga kitab Imamat pasal 18, kita melihat bahwa orang Kanaan ini bukanlah orang yang baik-baik, bahkan orang-orang Kanaan adalah orang yang sangat jahat. Orang-orang Kanaan mengorbankan anak-anak mereka sebagai korban bagi dewa-dewa mereka. Anak-anak mereka berhubungan seks dengan orang tuanya, dengan tantenya, dengan sesama jenis, bahkan dengan binatang. Maka Tuhan memerintahkan bangsa Israel supaya terpisah dari orang Kanaan. Ketika Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk membinasakan mereka, itu karena Tuhan tidak mau bangsa Israel terpengaruh oleh bangsa Kanaan, dan menjadi rusak seperti mereka.

Hal ini juga memperlihatkan keadilan Tuhan bagi kejahatan mereka, seperti apa yang dialami oleh raja Adoni Besek. Bukan karena bangsa Israel lebih suci dari bangsa Kanaan, tetapi Tuhan mau menghukum orang-orang yang jahat untuk menyatakan keadilan-Nya, dan Tuhan juga akan menghukum umat-Nya ketika umat-Nya tidak taat kepada Tuhan.

Juga disebutkan banyak nama-nama tempat, kita tidak perlu tahu kota-kota itu secara lebih detail. Tetapi di balik seluruh kisah-kisah yang ada di dalam kitab Hakim-hakim, kita harus sadar bahwa kitab Hakim-Hakim adalah untuk mewahyukan Firman Allah, yang berbicara tentang diri-Nya melalui sejarah yang sedang terjadi. Tujuan utama kitab ini adalah untuk menyatakan kebesaran, keagungan, belas kasihan, kesucian, sekaligus juga murka Allah. Tuhan adalah aktor yang utama, ini adalah Firman Tuhan yang diberikan kepada kita di dalam sejarah, yang juga merupakan bagian dari hidup kita. Kita bisa melihat sejarah sebagai kisah dari pada Tuhan, karena History adalah His Story.

Mulai dari ayat yang pertama kita menemukan Tuhan sebagai Allah orang Israel (Hakim-Hakim 1:1) --- “Sesudah Yosua mati, orang Israel bertanya kepada Tuhan, siapakah dari pada kami yang harus maju terlebih dahulu menghadap orang Kanaan untuk berperang kepada mereka? Firman Tuhan, suku Yehuda-lah yang harus maju, sesungguhnya telah Kuserahkan negeri itu ke dalam tangannya”.--- Tuhan memberikan petunjuk dan penyertaan-Nya bahwa Israel akan menang dan negeri itu akan diberikan kepada bangsa Israel. Keberhasilan orang-orang Yehuda adalah karena Tuhan menyertai mereka sehingga mereka berhasil di dalam peperangan.

Masuk ke dalam kitab Hakim Hakim, kita melihat bahwa janji Tuhan memberikan penyertaan-Nya dalam konteks yang unik, yaitu “sesudah Yosua mati”. Ini adalah sesuatu yang penting karena ini menempatkan kitab Hakim-Hakim ke dalam waktu sejarah yang mana, yaitu ketika Yosua sudah mati, yaitu sekitar 1400SM setelah mereka masuk ke dalam Kanaan, mengalahkan bangsa Kanaan dan mulai mengadakan pembagian tanah. Kitab Hakim-Hakim yang terakhir itu sampai 1050 SM, jadi ada sekitar 350 tahun yang diceritakan di dalam kitab ini. Mulai dari penaklukkan Kanaan sampai pada jaman Samuel, seorang Nabi yang mengurapi raja pertama Israel yaitu Saul.

Kita melihat kalimat pertama yang sangat menarik, “Sesudah Yosua mati”.

Kalau kita melihat dalam Perjanjian Lama, maka permulaan suatu jaman yang baru seringkali ditandai dengan matinya hamba-hamba Tuhan yang dipakai secara luar biasa.

Kitab Keluaran dimulai dengan sesudah matinya Yusuf, kitab Yosua di mulai dengan sesudah matinya Musa, kitab 1 Raja-Raja, dimulai dengan matinya Daud. Satu jaman yang baru justru ditandai dengan matinya seorang hamba Tuhan. Kita melihat di sini, ketika hamba Tuhan itu mati, maka kerajaan Allah tidak runtuh, Tuhan tetap berfirman dan terus memimpin umat-Nya.

Ini adalah pelajaran yang penting bagi kita. Khususnya banyak orang yang kuatir tentang apa yang akan terjadi jika pdt Stephen Tong meninggal. Karena banyak hal yang Pak Tong kerjakan yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Bagaimana jika pak Tong tidak ada lagi?

Tentu seperti ayat-ayat yang kita pelajari, karena kita menyadari apa yang dikerjakan ini adalah pekerjaan Tuhan, maka Tuhan akan terus berfirman, dan menyertai umat-Nya.

Ada suatu jaman yang baru, kemungkinan keadaan berubah, ada tantangan yang berbeda, tetapi kalau umat Tuhan terus mau taat kepada-Nya, maka pasti Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Tuhan akan terus memimpin melalui jaman yang baru, dengan pelayanan yang mungkin berbeda. Ini menjadi suatu penghiburan dan kekuatan dari Firman Tuhan.

Pimpinan Tuhan ini juga nyata di dalam kitab Hakim-Hakim, di dalam konteks ketika umatnya bekerja dengan kesatuan hati.

Hakim Hakim 1, ayat 3 “Lalu berkatalah Yehuda kepada Simeon :’majulah bersama-sama dengan aku kebagian yang telah diundikan kepadaku dan baiklah kita berperang melawan orang Kanaan. Maka akupun akan maju bersama sama dengan engkau kebagian yang telah diundikan kepadamu ”.   

Ayat 4 ”Maka majulah suku Yehuda bersama suku Simeon, lalu Tuhan menyerahkan orang Kanaan dan orang Feris ke dalam tangan mereka, dan mereka memukul orang-orang itu dekat Besek, 10000 orang banyaknya”.

Juga di dalam Hakim-Hakim 1:17 “Yehuda maju bersama dengan Simeon lalu mereka memukul kalah orang Kanaan penduduk Zefat, mereka menumpas kota itu, sebab itu kota itu dinamai Horma”.

Ayat 22: “Keturunan Yusuf” adalah suku Manasye dan Efraim. Mereka bersatu menyerang Betel dan Tuhan menyertai mereka. Ini adalah analisa yang bukan mengada-ada, tetapi ini adalah salah satu tujuan utama kitab Hakim-Hakim. Ketika orang Israel bersama-sama bekerja melakukan pekerjaan Tuhan, maka Tuhan menyertai mereka, memimpin mereka sehingga berhasil dan memberkati . Sebaliknya ketika mereka terpecah-pecah, maka ada kegagalan-kegagalan terjadi di dalam bangsa Israel.

Mazmur 133:1-3 mengatakan “How good and pleasant it is, when God's peolple live together in unity, ... for there the Lord bestow His blessing, even life forever more”. “Seperti embun yang dari gunung Hermon yang turun ke gunung Sion”. Kesanalah Tuhan akan menurunkan berkatnya, kehidupan selama-lamanya. Ketika kita bersatu melakukan kehendak Tuhan, maka kita boleh percaya bahwa Tuhan akan memberkati kita.

Sebaliknya ketika umat Tuhan bertengkar satu sama lain, maka pekerjaan Tuhan banyak yang terbengkalai. Dan saat kita bersatu mengerjakan pekerjaan Tuhan bersama-sama kita akan mengalami kesukaan yang mendorong kita untuk menjadi saksi Tuhan.

Dalam perayaan Natal yang akan datang, biarlah kita sehati dan bekerja bersama-sama, dan Tuhan akan memimpin dan memberkati umat-Nya, ketika kita bersatu.

Di dalam Efesus 3:18, Paulus mengatakan “Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan segala orang Kudus dapat memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus”. Ini menyatakan bahwa kita tidak bisa mengalami kasih Tuhan itu sendirian, karena kasih Tuhan itu boleh kita alami dalam persekutuan dengan yang lain. Tidak mungkin kasih Tuhan itu kita alami seorang diri, karena kasih Tuhan itu boleh kita alami bersama-sama dengan yang lain. Kita mengalami kasih Tuhan melalui mereka, dan ini menjadi kekuatan bagi hidup kita.

Saya sangat bersyukur ketika di dalam wawancara katekisasi, salah seorang pemudi yang sedih makin stress karena saudara-saudaranya satu persatu pergi belajar ke luar negeri, dan ia mulai menjauh dari Tuhan. Tetapi ketika dia melihat perubahan dari saudara-saudaranya, yang menjadi lebih mengenal Tuhan, maka hal itu mendorong dia untuk mencintai dan mengenal Tuhan kembali.

Hidup kita tidak bisa sendiri , kita memerlukan orang lain, saudara-saudara seiman ,untuk bertumbuh. Apakah hidup kita menjadi teladan dalam menjalani kebenaran Tuhan yang bukan hanya suatu teori yang muluk-muluk, tetapi menjadi suatu fakta bahwa Tuhan adalah yang memimpin kita. Tetapi sebaliknya ,jika kita aktif di Gereja, dan ketika orang lain melihat hidup kita yang tidak beres dan bermuka dua, ini menjadi berbahaya sekali. Apalagi di dalam keluarga, anak-anak yang makin besar akan semakin kritis, semakin melihat apakah hidup rohani kita hanya di mulut saja. Itu menjadi berbahaya lagi. Biarlah hidup kita berintegritas, Tuhan yang memimpin kita dan kita menjadi berkat bagi orang-orang lain. Di manapun kita berada, biarlah kita bertumbuh bersama-sama dan memancarkan keindahan Tuhan. Ketika umat Tuhan bersatu melakukan kehendak Tuhan maka Tuhan akan memimpin dan memberkati.

Di dalam kitab Hakim-Hakim 1 : 27-36, ada tujuh kali disebutkan “tidak menghalau ...”.

  • ayat 27 “Suku Manasye tidak menghalau penduduk Bet-Sean”,
  • ayat 28 “setelah orang Israel menjadi kuat, mereka membuat orang Kanaan itu menjadi orang rodi dan tidak menghalau mereka sama sekali”.
  • Ayat 29 “Suku Efraimpun tidak menghalau orang Kanaan,..."
  • ayat 30 “Suku Zebulon tidak menghalau penduduk Kitron. ..."
  • Ayat 31 “Suku Asyer tidak menghalau penduduk Ako ..."
  • ayat 32 “ ... , sebab orang-orang itu tidak dihalaunya”.
  • Ayat 33 “Suku Naftali tidak menghalau penduduk Bet-Semes dan penduduk Bet-Anat”.

Perhatikan, kalau ada kata yang diucapkan berulang-ulang, maka ini adalah berarti kata itu penting.

Ini bukanlah masalah strategi perang, tetapi ini adalah masalah rohani.

Karena di dalam Keluaran 23:33 Tuhan sudah memberikan perintah, bahwa orang Kanaan tidak boleh tinggal di antara bangsa Israel, karena mereka dapat mempengaruhi hidup bangsa Israel. Sedikit-demi sedikit orang Kanaan dapat mempengaruhi mereka, apalagi kalau mereka mulai saling kawin mengawini.

Mengapa bangsa Israel tidak mentaati perintah Tuhan, walaupun Tuhan sudah berkali-kali mengatakan perintah tersebut? Kemungkinan secara logika, orang Israel berpikir mengapa mereka harus mengusir bangsa Kanaan, mengapa bangsa Israel tidak disuruh bekerja saja untuk pekerjaan-pekerjaan yang kasar? Maka orang-orang Kanaan dipaksa menjadi pekerja rodi mengerjakan segala pekerjaan yang keras.

Kita-pun seringkali seperti itu. Ada banyak alasan yang bisa memberikan peluang kompromi dengan prinsip Firman Tuhan.    

Ada suatu kelompok orang-orang yang melayani ke tempat-tempat yang jauh; mereka sepanjang perjalanan selalu bercanda, lalu mulai menjurus kearah yang hal-hal porno. Berkali-kali mereka melakukan itu, akhirnya ada yang jatuh ke dalam perjinahan. Kalau kita kompromi terhadap hal-hal yang kelihatan sepele, yang seolah-olah tidak apa-apa, ini menjadi berbahaya sekali. 

Bangsa Israel kelihatan sukses, tetapi mereka tidak berkenan kepada Tuhan. Karena Tuhan sudah jelas sekali memerintahkan untuk membinasakan dan mengusir orang Kanaan dari kota-kota bangsa Israel.

Saya tidak mau terjebak ke dalam legalistik tetapi baiklah kita boleh peka, bahwa hal prinsip yang Alkitab nyatakan dengan begitu jelas, baiklah kita ikuti.

Kalau saudara mulai kompromi bahwa kebaktian Minggu itu bisa tidak dihadiri kalau ada halangan-halangan yang ‘sepele’. Kalau saudara sudah mulai bersikap seperti ini, maka akan pelan-pelan, tidak secara langsung, lama-lama tidak akan datang ke kebaktian Minggu. Demikian juga dengan persekutuan doa. Banyak alasan/halangan/masalah yang membuat kita absen , padahal kita tau masalah akan terus ada. Tetapi kalau kita commit, maka Tuhan akan terus pimpin.

 Ayat 28 “Setelah orang Israel menjadi kuat mereka membuat orang-orang Kanaan menjadi orang rodi dan tidak menghalau mereka sama sekali”, ayat 35 “orang Amori berkeras untuk tetap tinggal di Har-Heres, di Ayalon, dan di Saalbim, walaupun mereka mendapat tekanan berat dari keturunan Yusuf, sebab mereka menjadi orang Rodi.

Inilah kisah bangsa Israel yang sepertinya berhasil, tetapi secara rohani, mereka tidak taat kepada Tuhan. Kalau kita berbangga atas hasil-hasil secara fisik, tetapi kalau tidak diikuti dengan hati yang taat kepada Tuhan, ini menjadi berbahaya sekali. Gereja-Gereja yang dari luar kelihatan sukses, tetapi yang tidak memberitakan Firman yang sejati, maka Tuhan akan murka, dan menjadikan semuanya gagal di mata Tuhan. Kita bisa menipu diri sendiri dan hal ini menjadi berbahaya sekali. Inilah yang menjadi hukuman Tuhan yang dapat kita lihat di dalam pasal 2.

Di dalam pasal 2 kita bisa melihat betapa hancurnya hati Tuhan, ada janji Tuhan, covenant, tetapi mengapa orang Israel tidak mentaati-Nya. Kita selanjutnya melihat orang Israel mulai rusak, mulai hancur karena ada orang-orang Kanaan yang membawa orang Israel kepada ilah-ilah mereka. Kita melihat respons dari umat Tuhan, mereka sadar bahwa mereka sudah berdosa, maka menangislah mereka dengan keras. Sampai sejauh ini kelihatan bagus, orang Israel menangisi dosa mereka dan memberikan persembahan kepada Tuhan. Ketika orang Kristen sadar akan kesalahannya, bahkan berkomitment, sebenarnya merupakan tanda yang baik. Tetapi kalau kita melihat bagian ini, ada sesuatu yang menggantung. Pada prinsipnya, tidak cukup untuk hanya menangisi dosa, Alkitab memberikan peringatan tidak cukup untuk berkata aku menangisi dosa, aku mau, tetapi komitmen itu harus kita lakukan. Komitmen itu harus kita lakukan di dalam hidup kita hari lepas hari.

Seperti Paulus mengatakan “ Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan ….. “(2 Kor 7:10). Pertobatan itu bukan hanya menangisi dosa, tetapi pertobatan adalah meninggalkan dosa. Inilah yang Tuhan inginkan.

Seperti di dalam Yoel 2:12-13 Tuhan berkata kepada umat-Nya “…..berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, ....”.

Biarlah ini menjadi respons kita kepada Tuhan, bukan perubahan bagian luar dari tubuh kita , tetapi hati kita yang berubah dan kita mau taat melakukan kehendak-Nya.

Apakah hidup kita berubah, apakah kita semakin mencintai Tuhan, apakah hidup kita berjuang melakukan kehendak Tuhan. Masih banyak orang yang masih belum percaya kepada Tuhan, yang undur imannya, yang mengalami kesulitan, biarlah kita bisa memberitakan Injil untuk membawa mereka kembali kepada Tuhan.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya