Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Q&A: Setara tetapi tak Sama

Ibadah

Q&A: Setara tetapi tak Sama

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 27 September 2015

Bacaan Alkitab: Kejadian 1:26-28: Ibrani 4: 15-16, Roma 10:17

Pertanyaan 1:

Apakah derajat laki-laki dan wanita setara? Bila ya, mengapa istri harus tunduk kepada suami dan kenapa wanita tidak diperbolehkan menjadi Gembala Sidang?

Jawaban sederhananya ialah derajat laki-laki dan perempuan setara tetapi tidak sama.

Dengan firman, Tuhan menciptakan bumi langit serta isinya. Yang terindah pada saat Tuhan menciptakan manusia yang merupakan puncak dari segala penciptaan (the crown of God’s creation) ialah dimana Allah Tritunggal menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, menurut gambar dan rupa-Nya. (Kejadian 1:26: Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi). Disini kita dapat melihat bahwa laki-laki dan perempuan setara, sama-sama agung, sama-sama mulia, sama-sama berharga dan sama-sama merupakan image of God. Mereka merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang menjadi wakil Tuhan di dunia ini. Pada Kejadian 1:28, Tuhan juga memberkati mereka, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi". Jadi sekali lagi, laki-laki dan perempuan setara dan sama-sama berharga, agung dan mulia di mata Tuhan.

Jika mereka setara, pertanyaan selanjutnya ialah, apakah laki-laki dan perempuan itu sama dalam segala hal? Laki-laki dan perempuan tidak hanya berbeda secara fisik (jenis kelamin) saja, namun secara naluri atau instink juga tidak dapat dipungkiri bahwa laki-laki dan perempuan tidak sama dimana laki-laki memiliki natur maskulinitas dan perempuan memiliki natur femininitas.

Memang benar Alkitab menunjukkan adanya kesetaraan antara laki-laki dan wanita, yaitu sama-sama mulia, sama-sama agung dan sama-sama image of God, tetapi Alkitab juga mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda. Alkitab berkata: “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan”. Ajaran Alkitab berbeda dengan paham egalitarianisme yang mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan setara dan sama di dalam segala hal, tergantung siapa yang memiliki kemampuan, siapa yang paling bisa. Dimana saja dan kapan saja, bila perempuan memiliki kemampuan dan bisa memimpin, dia yang menjadi pemimpin. 

Alkitab mengatakan laki-laki dan perempuan setara tetapi tidak sama Tidak sama di dalam fungsinya (peran). Dimana laki-laki adalah kepala dari wanita atau isterinya, dan isteri merupakan penolong yang sepadan. Di awal penciptaan manusia, Allah menciptakan Adam (laki-laki) menurut gambar dan rupa-Nya sebagai wakil manusia di dunia. Adam diciptakan terlebih dahulu dari debu tanah, kemudian Hawa (perempuan) diciptakan dari dari tulang rusuk Adam. Kejadian 2:22-23 “(22) Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia (Adam) itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia (Adam) itu. (23) Lalu berkatalah manusia (Adam) itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki”. Urutan penciptaan itu merupakan sesuatu yang penting, bukan sesuatu yang sembarangan. Memang benar Alkitab berkata bahwa isteri harus tunduk kepada suaminya, tetapi bukan berarti isteri atau perempuan bisa diperlakukan seenaknnya, disuruh-suruh atau diinjak-injak. Tetapi alkitab juga berkata “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”. Dari awal penciptaan, laki-laki (Adam) telah diberi peran dan tanggung jawab oleh Allah untuk menjadi pemimpin yaitu mewakili Tuhan di dunia. Suami atau laki-laki diberi peran dan tanggung jawab sebagai pemimpin atau kepala rumah tangga. Hal ini juga nantinya berimplikasi terhadap peran dan tanggung-jawab laki-laki sebagai Gembala Sidang (pemimpin jemaat) di dunia ini. Sebagai anak Allah yang setia serta taat dan yang mengakui kedaulatan Allah, maka kita harus benar-benar mengerti esensi dari perintah Allah tersebut terhadap peran dan tanggung-jawab laki-laki sebagai leadership di dunia ini. Kedaulatan Allah yang memberi peran kepada laki-laki sebagai pemimpin atau wakil manusia di dunia bukanlah diskriminasi.  Laki-laki yang menerima perintah itu sebagai panggilan Allah yang harus dilaksanakan

Mungkin ada yang bertanya kenapa perempuan tidak boleh menjadi Gembala Sidang? Gembala Sidang  merupakan satu fungsi (peran) dari sekian banyak fungsi (peran) di dalam gereja. Masih banyak sekali peran dan tanggung jawab yang bisa dilakukan perempuan dalam gereja contohnya guru sekolah minggu, song leader, pemain piano, kepala usher dan lain sebagainya. Awal kejatuhan manusia dalam dosa juga memiliki pola yang sama yang dilakukan oleh iblis. Dalam Kejadian 2:16-17: “(16) Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, (17) tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati". Kita lihat bagaimana iblis kemudian mempengaruhi manusia untuk mempertanyakan dan meragukan larangan Allah itu sehingga pada akhirnya iblis dengan mudah menggoda manusia untuk melanggar perintah Allah tersebut. Iblis membawa manusia berfokus hanya pada buah pada satu pohon terlarang tersebut. Tuhan memberikan manusia begitu banyak pohon yang buahnya dapat dimakan dalam taman eden, namun iblis berhasil menggoda manusia hingga manusia kemudian memutuskan memakan buah dari satu pohon yang dilarang Tuhan.

Sekali lagi laki-laki dan perempuan memiliki atau diberi peran dan tanggung jawab yang berbeda, yang ditentukan oleh Allah, namun tetap dinilai setara oleh Allah. Yang menjadi pemimpin maupun yang dipimpin, sama-sama memiliki kemuliaan di mata Tuhan. 

Pertanyaan 2:

Mengapa Allah mengizinkan penderitaan dan peperangan terjadi di tengah-tengah dunia ini. Bisakah  anda menjawab masalah kejahatan? 

Pertanyaan ini dibuat sebenarnya ingin mengetahui apakah Allah itu Maha Kuasa, apakah Allah itu Maha Kasih. Jika Allah itu Maha Kuasa maka menurut pendapat mereka, Allah seharusnya mampu menghentikan kejahatan dan hal-hal buruk terjadi, dan jika Allah itu Maha Kasih maka Allah seharusnya tidak mengizinkan penderitaan terjadi di tengah-tengah dunia ini.

Tuhan merupakan Sang Pencipta (Creator) yang memiliki berbagai sifat keagungan diantaranya Maha Kuasa dan Maha Kasih. Sedangkan manusia merupakan ciptaan-Nya (created), yang memiliki keterbatasan untuk mengetahui dan mengerti rencana Tuhan yang begitu kompleks, besar dan agung atas kehidupan manusia di dunia ini. 

Untuk proses pembelajaran, kematangan, kemajuan dan kebaikan suatu bangsa, suatu negara, suatu suku atau bahkan seorang pribadi, sesuai dengan rencana dan kehendak Tuhan, bisa saja Tuhan mengizinkan kesulitan, penderitaan, atau hal-hal buruk terjadi yang seolah-olah Tuhan menutup mata dan telinga serta tidak berbuat apa-apa pada saat itu. Seringkali manusia hanya berfokus dan hanya bertanya serta mengeluh atas kejadian buruk, hanya berfokus pada penderitaan dan kesulitannya pada saat itu padahal begitu banyak berkat, hal-hal baik dan luar biasa yang telah diberikan oleh Tuhan kepadanya.   Ketika Ayub yang menderita, yang dikisahkan dalam Perjanjian Lama menyadari bahwa ia tidak berhak menuntut jawaban dari Allah, ia berkata, "Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui" (Ayub 42:3). Namun Allah telah memberi kita beberapa jawaban. Meskipun kita mungkin tidak dapat memahami mengapa seseorang bisa terserang penyakit, tetapi kita dapat mengerti sebagian alasan mengapa penyakit itu muncul. Dan bahkan meskipun kita tidak mengerti mengapa kita mengalami suatu masalah tertentu, kita dapat mengerti bagaimana kita mengatasi masalah itu dan menanggapinya dengan cara yang berkenan bagi Tuhan. Jika hidup kita penuh penderitaan, seperti Tuhan Yesus juga pernah dicobai dan mengalami penderitaan di dunia ini, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (Ibrani 4:15-16). Masih banyak peristiwa yang akan terjadi yang belum kita ketahui. Namun satu hal yang pasti, bila kita hidup di dalam Tuhan dan Tuhan hidup di dalam kita maka kita akan melihat kebaikan Tuhan dan akan semakin sadar bahwa jalan yang disediakan oleh Tuhan merupakan jalan terbaik buat hidup kita.

Mengapa Tuhan yang Maha Kuasa tidak menghentikan kejahatan? Manusia yang diciptakan oleh Tuhan memiliki kehendak bebas, yaitu kebebasan untuk memilih, memutuskan serta melakukan suatu tindakan termasuk melakukan kebaikan dan melakukan kejahatan. Sebenarnya di dalam diri manusia, Tuhan telah memberikan standar, standar untuk mengetahui yang baik dan mana yang jahat atau buruk. Tuhan tidak merancang kejahatan tetapi mengizinkan kejahatan itu terjadi. Manusialah yang melakukan kejahatan karena di dalam dirinya telah kehilangan kebaikan. Ada satu cerita, yang bercerita tentang seorang kepala mafia yang membutuhkan seorang akuntan jujur. Untuk mendapatkan uang dan kekuasaan, secara sadar kepala mafia ini melakukan berbagai tindakan kejahatan termasuk pembunuhan. Tetapi di sisi lain, mafia ini juga secara sadar memerlukan sesuatu yang baik dari seorang akuntan yaitu kejujuran untuk mengatur keuangannya. Illustrasi ini sebenarnya ingin menggambarkan bahwa si mafia atau setiap manusia, sebenarnya secara sadar mengetahui mana yang baik dan mana yang jahat.  Tetapi ada manusia memilih untuk melakukan kejahatan.

Manusia bisa saja diciptakan seperti robot yang dijalankan dengan baterei. Namun Allah mempunyai rencana lain. Dia menciptakan manusia yang berkehendak bebas, selain manusia dapat mengasihi Allah, manusia juga dapat melakukan hal yang tak terpikirkan, misalnya memberontak terhadap Penciptanya. Godaan, pilihan-pilihan yang buruk, dan konsekuensi yang tragis menghancurkan kedamaian Adam dan Hawa. Kitab Kejadian 2 dan 3 menunjukkan secara rinci bagaimana Setan mencobai kasih mereka terhadap Tuhan, dan mereka gagal. Di dalam istilah Alkitab, kegagalan itu disebut dosa. Seperti halnya virus AIDS yang menginfeksi tubuh, meruntuhkan sistem kekebalan tubuh, dan kemudian membawa kita pada kematian, demikian juga dosa menyebar seperti infeksi mematikan yang menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap generasi baru mewarisi akibat dari dosa dan keinginan untuk berbuat dosa (Roma 1:18-32; 5:12,15,18).

Pertanyaan 3:

Apakah iman harus selalu berdasarkan pada firman Tuhan? Apakah iman hanya mengenai karya Allah melalui Yesus Kristus? Bagaimana dengan percaya bahwa Tuhan mampu  dan mau yang terbaik bagi kita, percaya bahwa Tuhan pasti membuka jalan dll? Contoh jika kita berdoa meminta gereja tertentu maju, Tuhan bisa kabulkan bisa tidak. Bolehkah kita beriman bahwa Tuhan mau dan mampu memajukan gereja tersebut. 

Iman harus berdasarkan firman Tuhan. Iman selalu berdasarkan pada janji Allah dalam alkitab, yang disebut sebagai iman yang sejati. Dalam kaitan dengan doa, baiklah kita selalu mengingat 2 hal ketika kita berdoa. Yang pertama, kita harus memiliki iman, bersungguh-sungguh percaya bahwa Allah akan bekerja membawa kebaikan dan kita harus benar-benar mengasihi Dia, Yang kedua, kita harus tunduk kepada Allah. Perlu diingat bahwa kebaikan yang terkandung dalam kalimat “Tuhan membawa kebaikan”, ialah kebaikan menurut kehendak Tuhan bukan menurut kehendak kita. Kita harus tekun berseru meminta dalam doa dan percaya Tuhan yang paling berdaulat dan berkuasa yang akan menjawab doa kita menurut kehendak-Nya.

Ringkasan oleh Budi Walujo | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya