Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Q&A: Pengambilan Keputusan dan Tawanan Roh

Ibadah

Q&A: Pengambilan Keputusan dan Tawanan Roh

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 20 September 2015

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 1:10-15, Kisah Para Rasul 20:22

Pertanyaan ke 1:

Di dalam mengambil keputusan-keputusan di dalam hidup kita, bagaimana mempertimbangkan pilihan-pilihan yang sama-sama baik di mata Tuhan?

Apakah Tuhan memberikan kebebasan kita untuk memilih?

Pembahasan:

Ada persoalan yang lebih besar daripada pertanyaan ini, yaitu bagaimana sebenarnya kita boleh mengambil keputusan yang tepat, benar di dalam segala tindakan kita. Bagaimana kita mengerti akan kehendak Tuhan di dalam pengambilan keputusan yang kita kerjakan?

Di dalam keputusan-keputusan yang kita ambil, di dalam pilihan-pilihan yang diberikan kepada kita, apakah prinsip-prinsipnya untuk kita boleh mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam pembacaan ayat Alkitab dari Roma 1:10-15 di atas, kita belajar dari bagaimana Paulus menghadapi rencananya untuk pergi ke Roma dan dia kemudian mengambil beberapa prinsip yang boleh kita pelajari bagi kita di dalam segala tindakan, keputusan-keputusan yang kita harus ambil baik itu studi, bekerja, tinggal di mana, menikah dengan siapa, dan segala pilihan-pilihan yang begitu banyak dalam hidup kita.

Dari contoh hidup Paulus, ada 5 prinsip  yang kita boleh pelajari dan pegang untuk bagaimana mengambil keputusan yang tepat, sesuai kehendak Tuhan dan berbijaksana.

  1. Kita harus memiliki motivasi yang benar – mengapa kita mengambil keputusan seperti itu?

Kalau motivasi kita bukan mau menyenangkan Tuhan, bukan untuk memuliakan Tuhan, maka percumalah seluruh apapun yang kita pikirkan karena hati kita sudah tidak beres di hadapan Tuhan. Kalau kita belajar dari Paulus bagaimana keinginan dia untuk pergi ke Roma; dia sudah bertahun-tahun berdoa untuk pergi ke Roma tapi sampai saat itu dia juga belum sampai ke Roma. Apa yang menjadi motivasi Paulus untuk pergi ke Roma? “Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma” (ayat 14-15). Jadi jelas ini satu motivasi yang benar, yang sesuai dengan prinsip firman Tuhan.

Apapun yang kita ambil, pertama-tama adalah kita boleh mengoreksi, memikirkan mengapa saya mengambil keputusan ini. Apakah yang mendorong kita mengambil keputusan ini? 

  1. Kita harus memiliki goal yang benar. Motivasi adalah apa yang mendorong kita, sedangkan goal adalah apa yang menjadi tujuan kita.

Kita boleh belajar dari Paulus, dia ingin pergi ke Roma karena ada beberapa tujuan yang indah. Dalam ayat 11 dan 12 dikatakan “… aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.”

Selain motivasi yang benar, kita juga perlu memiliki goal yang benar. Ketika kita mengambil keputusan itu, tujuannya apa? Sehingga kita boleh menguji apakah goal-nya itu memuliakan Tuhan, yang benar sesuai dengan prinsip firman Tuhan ataukah tujuannya itu sangat selfish, sangat sempit, hanya bagi kepentingan diri tetapi tidak melihat apa yang Tuhan kehendaki. 

  1. Kita harus membuat rencana dan prioritas yang benar. Dalam Roma pasal 15, Paulus membuat rencana. Sampai saat itu ketika menulis kitab Roma, Paulus belum juga datang ke Roma karena dia masih ada pekerjaan yang belum selesai di tempat dimana dia menulis kitab Roma; kebanyakan komentator mengatakan di  Korintus. Ada pekerjaan di Korintus yang dia belum selesai. Dari Korintus, Paulus ingin pergi ke Yerusalem, membawa bantuan dari jemaat di Korintus kepada orang-orang miskin di Yerusalem. Dari Yerusalem Paulus akan pergi ke Spanyol. Dan dalam perjalanan ke Spanyol, Paulus akan mampir di Roma. Paulus membuat rencana dan prioritas. Dia belum ke Roma karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan terlebih dahulu. 
  1. Berdoa dengan tekun. Kita boleh belajar dari Paulus bahwa dia berdoa dengan tekun untuk hal ini (ayat 10): “Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu” Tentu di dalam doanya Paulus juga membuka, membongkar motivasinya, goal nya, apakah benar, juga prioritasnya apakah benar. Dalam seluruh proses itu, doa menjadi fondasi daripada dia boleh mengetahui bagaimana pimpinan Tuhan di dalam dia merencanakan untuk pergi ke Roma.  
  1. Tunduk kepada Allah yang berdaulat. Ketika hingga hari itu Paulus belum juga tiba di Roma, dia tahu bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat, Allah memiliki rencana bagi dia yang dia mungkin tidak tahu rencana-Nya bagaimana. Seluruh prioritasnya benar, motivasi sudah benar, goal nya sudah benar, dan dia menyerahkan kepada Tuhan tapi belum tiba juga di Roma. Paulus menundukkan hatinya, kehendaknya di bawah kehendak Tuhan yang berdaulat, yang berkuasa yang mengetahui jauh lebih besar daripada apa yang Paulus ketahui. Tuhan memiliki rencana yang melampaui daripada apa yang bisa kita ketahui. 

Ketika ada pilihan yang Tuhan berikan kepada kita, jangan membuat kita menjadi stress, bingung, tapi biarlah kita bersyukur untuk pilihan-pilihan yang ada dan menerapkan prinsip-prinsip di atas dengan pimpinan Tuhan untuk mengambil keputusan yang tepat. Tuhan memberikan kebebasan bagi kita untuk memilih.

Pertanyaan ke 2:

Sesudah kita menjadi percaya, kita menjadi tawanan roh (Kisah Para Rasul 20:22). Apa artinya itu jika kita hidup masih di dunia dan mencintai hal-hal yang ada di dunia? 

Pembahasan:

Tawanan roh artinya hidupnya dikuasai, dipimpin oleh Roh Kudus dan Roh Kudus memimpin semua orang percaya di dalam kebenaran firman. Dia tidak pernah memipin kita melawan prinsip firman Tuhan.

Ada 2 problem di sini ketika kita sebagai anak Tuhan tapi masih mencintai hal-hal yang ada dalam dunia ini:

  1. Kita tidak betul-betul mengerti atau mengenal akan apa artinya mengikut Tuhan. Ini muncul dalam hati orang-orang legalistic dan antinomian – hati yang “saya tahu prinsip firman Tuhan yang benar, baca Alkitab, dengar khotbah, saya tahu ini adalah apa yang Tuhan mau, sudah jelas dan tahu, tetapi hatiku tidak mencintai ini. Hatiku mencintai hal-hal yang ada dalam dunia ini.” Seluruh prinsip firman Tuhan hanya masuk dalam pikiran kita – ini yang seharusnya aku lakukan, tapi ini bukan yang ingin aku lakukan.

Ini artinya kita belum pernah mengerti, belum pernah mengalami keindahan, sukacita, kelimpahan hidup sehingga kita mengingini akan hidup di dalam Tuhan, mengingini akan kehendak-Nya, mengingini akan Tuhan. Hati kita belum ditarik dan mengerti berapa indah, berapa besar, berapa mulia, sukacita mengikut Tuhan itu. Kita belum merasakan, melihat, mengalami bahwa Tuhan itu baik.

CS Lewis memberi gambaran hidup banyak orang Kristen yang seperti anak kecil yang terus bermain di lumpur yang kotor dan ketika ditarik untuk meninggalkan lumpur itu, kita tidak mau karena tidak punya bayangan betapa indahnya bermain di pinggir pasir pantai yang putih. Kita terus ingin menikmati dan masih mencintai dunia ini dengan segala nafsunya, dengan segala kenikmatan yang dunia tawarkan. Kenapa? Karena kita tidak pernah membayangkan, tidak pernah mengerti betapa sukacita yang sejati, keindahan, kemuliaan dan kehidupan yang penuh di hadapan Tuhan. Kita tidak pernah mengalami di hadapan Tuhan ada sukacita yang berlimpah-limpah.

Jika kita adalah anak-anak Tuhan, kita tidak akan tenang hidup mencintai dunia ini karena ada Roh Kudus. Kita akan terus gelisah sampai kita menemukan hati dan hidup kita di dalam Dia.

Biarlah kita berdoa untuk terus menemukan sukacita yang sejati di dalam Tuhan.

2. Banyak orang yang berpikir bahwa mengikut Tuhan itu susah, tidak seru dan boring, hidup di dunia ini yang seru. Gambaran ini adalah gambaran yang salah. Ketika kita menempatkan Tuhan di tempat yang paling utama, Dia yang menjadi hasrat hati kita seperti rusa merindukan air, maka sebenarnya kita akan menjalani hidup yang limpah di tengah-tengah dunia ini. Kalau kita mengerti desire-desire yang Tuhan berikan dalam hati kita kemudian kita membawa desire dalam hati kita itu kepada isi hati Tuhan, kepada kehendak Tuhan, maka kita akan menjalani hidup yang limpah di tengah dunia ini.

 Apakah yang sebenarnya kita inginkan? Ada 4 desire yang dasar dalam hidup kita:

    • Material desire

Keinginan yang berkaitan dengan materi. Banyak orang kaya di dalam Alkitab (Lidia, Abraham, Ayub). Harta mereka banyak dan mereka adalah orang-orang yang mengikut Tuhan.

3 prinsip ekonomi dari kaum Puritan:

-       Kumpulkan uang sebanyak-banyaknya.

-       Simpan uang sebanyak-banyaknya.

-       Berikan bagi pekerjaan Tuhan sebanyak-banyaknya.

Kita boleh memiliki material desire tetapi ketika materi itu menjadi yang utama menggantikan Tuhan, maka mulai rusaklah hidup kita.

    • Achievement desire

Banyak di antara kita yang ingin mencapai sesuatu, menggenapi sesuatu. Kalau kita melihat dalam Alkitab, Paulus adalah seorang yang sangat ingin mencapai pekerjaan besar. Paulus tidak menghiraukan nyawanya asalkan dia bisa mencapai garis akhir, menyelesaikan pekerjaan yang Tuhan berikan. Bahayanya adalah jika kita mengejar achievement, status, karir kita supaya kita dihargai, kemudian kita menjadi workaholic.

    • Relational desire

Keinginan kita untuk memiliki relasi yang mendalam dengan orang-orang, terutama dengan seseorang yang khusus yang Tuhan berikan kepada kita menjadi suami atau istri kita. Ketika Adam melihat Hawa, dia ingin bersatu dengan Hawa, bukan harusnya bersatu dengan Hawa. Tuhan menginginkan kita memiliki relational desire, biarlah kita membangunnya di dalam Tuhan.

    • Physical desire

Bisa berbahaya jika kita menjadikan hal ini sebagai yang segala-galanya, paling utama.

Biarlah seluruh desire yang ada dalam diri kita, membawa kita kepada Tuhan, mencintai Tuhan dengan segenap hati. Ketika kita mencintai Tuhan dengan segenap hati, justru kita bisa menikmati seluruh dunia ini yang adalah ciptaan Tuhan di dalam kerangka yang benar.

Pertanyaan ke 3:

Bagaimana sebaiknya sikap kita ketika orang yang kita doakan keselamatannya masih juga belum bertobat?

Pembahasan:

Yang pertama adalah terus doakan.

Cari kesempatan dalam waktu-waktu tertentu untuk beritakan Injil. Cari cara dan sarana selain terus berdoa bagi orang itu dan minta Tuhan memberi hikmat kepada kita untuk boleh ada waktu tertentu, kesempatan tertentu kita boleh bicara tentang Injil kepada dia.

Kita harus membangun relasi supaya orang itu mengetahui bahwa kita mengasihinya.  Salah satu kesempatan adalah ketika orang itu sakit, dalam kesusahan yang berat, datanglah secara khusus kepada orang itu.

Ketika kita sudah melakukan semua ini, tapi orang itu tidak membuka hatinya dan tidak percaya kepada Tuhan, itu adalah kedaulatan Tuhan.

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya