Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Two Enemies of the Gospel

Ibadah

Two Enemies of the Gospel

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 23 Agustus 2015

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 16:25-27, Roma 8:32

Kali ini kita akan melihat satu tema “Two enemies of the Gospel”, dua musuh pemberitaan Injil. Tema ini bukan tema yang baru, khususnya saya dipicu dengan membaca buku Tim Keller tentang Preaching, dia mengutip banyak sekali dari buku Sinclair Ferguson “The whole Christ -Legalism, Antinomianism and Gospel Assurance”. Waktu saya merenungkan kembali akan tema legalism dan antinomianism, saya melihat dua musuh yang besar sekali bagi Injil.

Dua hal ini juga menjadi musuh yang besar dalam kehidupan orang Kristen secara umum, dan bahkan bisa juga menjadi sandungan bagi para hamba-hamba Tuhan. Ketika kita melawan legalisme kita bisa jatuh kedalam antinomianisme, sebaliknya waktu kita melawan antinomianisme, kita bisa jatuh kepada legalisme.

Legalisme – adalah suatu hidup yang taat kepada perintah-perintah Tuhan, dengan motivasi takut dihukum oleh Tuhan, dan agar Tuhan berhutang kepada saya, sehingga Tuhan harus memberkati saya. Legalisme bukan sekedar pikiran bahwa kita bisa diselamatkan oleh perbuatan baik kita, tetapi juga di dalam hati dan jiwa kita, ada sikap hati yang percaya bahwa Allah akan mengasihi kita jika kita mentaati perintah-Nya. Sampai tahap ini, mungkin banyak dari kita yang menyetujui konsep ini. Tetapi problemnya adalah dia melakukan itu bukan karena dia mengasihi Tuhan tetapi karena dia takut dihukum. Dia melakukan itu supaya Allah lebih mengasihi dia. Dia akan berjuang, mengikuti segala macam pelayanan, tetapi dia melakukan segalanya bukan karena dia mengasihi Tuhan, tetapi karena takut Tuhan akan menghukum dia. Dia akan melakukan segala hal yang secara luar kelihatan begitu bagus, seperti membaca Alkitab setiap hari, aktif dalam pelayanan, menjauhkan diri dari dosa dlsb. Tetapi Tuhan menjadi seperti polisi yang selalu mengawasi dia, dan akan menghukum dia apabila dia tidak melakukan itu. 

Apakah motifvasi kita melakukan tindakan-tindakan agamawi? Jika jauh di dalam hati kita, kita melakukan itu bukan karena kita mengasihi Tuhan, tetapi untuk menumpuk jasa kita, cobalah terka apa yang akan terjadi. Jika dia melihat saudara seiman yang malas, tidak mau melayani, tidak mau berkorban apapun namun hidup orang itu baik-baik saja, maka dia akan marah kepada Tuhan. Sebagai contoh di dalam Alkitab adalah cerita the prodigal son (lihat Luk 15:11-32) di mana the older brother, he is doing everything right, dia mengerjakan semua yang bapanya inginkan, tetapi bukan karena dia mengasihi ayahnya. Ketika ayahnya menerima adiknya yang sudah menghancurkan hidupnya, dia menjadi marah dan dia berkata “Aku sudah bertahun-tahun terus melakukan kehendak bapa, aku tidak pernah melakukan yang salah, tetapi engkau tidak pernah bahkan memberikan seekor anak kambing, sedangkan anakmu itu yang sudah menghabiskan hartamu dengan pelacur, dia pulang dan engkau menyambut dia dengan suka cita”. Dia tidak bisa terima, ini adalah gambaran dari the spirit of Legalism.

Ketika kita jatuh melawan legalisme, kita bisa jatuh kepada spirit yang lain yaitu antinomianism.

Antinomianismebukan sekedar ringan seperti “jangan sok sucilah, nggak apa-apalah berdosa sedikit”, tetapi ini adalah sikap hati yang berpendapat bahwa tidak apapun yang bisa aku lakukan untuk membuat Allah lebih mengasihiku, dan menanyakan untuk apa melakukan yang benar karena Allah telah menerima saya apa adanya. Because God loves me as I am, then I just stay as I am.  Bukankah aku sudah diselamatkan? Walaupun kemuliaan itu belum datang, tetapi bukankah itu sudah ditetapkan dan tidak mungkin akan berubah? Aku bisa hidup seperti apa yang aku inginkan.  

Antinomianism berasal dari kata anti-nomos, nomos adalah hukum, sehingga anti-nomos bisa diartikan sebagai anti-hukum. Kalau seorang yang antinomianisme bertemu seorang yang legalistik, dia akan mengatakan “eskstrim banget sih, sok suci”.

Di dalam seluruh hidup seorang antinomianisme, dia mengatur dirinya sendiri. Dia tidak sungguh-sungguh mendengar Firman Tuhan. Waktu Tuhan Yesus berkata barang siapa mengikuti Aku harus menyangkal dirinya, membenci ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya. Seorang antinomianisme akan tidak perduli kata-kata Yesus ini. Dia akan berkata “Aku datang ke gereja kok, aku tidak melakukan perbuatan yang jahat”, tetapi seluruh hidupnya, dia atur sendiri,  Sebenarnya dia tidak perduli apa yang Alkitab katakan, dia bukan mentaati Tuhan, tetapi mengikuti hatinya sendiri. 

Sinclair Ferguson mengatakan suatu insight yang penting. Dia mengatakan secara luarnya kedua hal tersebut kelihatan berlawanan satu sama yang lain, yang satu mentaati mati-matian, yang lain tidak perduli sama sekali akan perintah Tuhan, tetapi kalau kita renungkan keduanya adalah non-identical twin brothers come from the same womb. Kedua hal tersebut adalah saudara kembar yang keluar dari sumber yang sama. Sebagai contoh saat reformasi politik di Indonesia, ketika Suharto turun ada yang menanyakan kepada seorang jurnalis senior yang menanyakan “mengapa ada segala macam kekacauan ini”. Jurnalis tersebut menjawab ---- “Kita baru ‘belajar untuk bebas dari” tetapi belum ‘mengerti bebas untuk apa”.--- Sebenarnya akarnya adalah sama, mereka tidak suka kepada hukum orde baru. Sebelum reformasi di jaman orde baru, mereka kelihatannya  takut, namun sewaktu reformasi, mereka melawan dan menghancurkan semua tatanan order baru. 

Demikian juga di dalam cerita the prodigal son, anak yang sulung tidak mengerti hati ayahnya, tetapi dia taat, anak yang bungsu juga tidak mengerti hati ayahnya tetapi dia berani melawan dan tidak perduli dengan kehendak bapanya. Mereka sebenarnya adalah twin brother.

Fergusson menganalisa percakapan antara ular dan Hawa di dalam kejadian 3:1-5 “Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya bukan?” Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: “Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat”.  tidak menjelaskan mengapa Tuhan menaruh pohon itu. Tim Fergusson mengatakan bahwa itu adalah panggilan bagi adam dan hawa untuk mengasihi Allah pada dirinya sendiri, bukan karena mengerti. Iman Kristen tidak sepenuhnya kita mengerti, tetapi biarlah kita percaya. 

Dan inilah apa yang ular serang kepada Hawa, ular berkata engkau tidak bisa mempercayai Tuhan seperti itu, sebab Allah tidak ingin kamu terbuka matanya dan menjadi seperti Dia, Dia memberi perintah itu karena tidak mau ada yang menyaingi Dia, Dia sedang membatasi kebebasanmu, Dia tidak ingin engkau mengalami kehidupan yang berlimpah-limpah, kalau engkau mentaati Dia sepenuhnya, engkau akan sangat menderita. Iblis mengatakan kepada hawa: He could not be trusted to have your best interest in your heart. Sinclair Fergusson mengatakan ini adalah kebohongan terbesar yang telah dipercaya orang sepanjang jaman. Ini adalah kebohongan yang jauh memasuki saluran darah, jauh ke dalam jiwa manusia, ini adalah akar dari legalisme dan antinomianisme. 

Apakah engkau percaya bahwa Allah mengasihi engkau dan akan memberikan yang terbaik bagimu waktu engkau mendengar firman: siaya yang mau mengikuti-Ku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti-Ku setiap hari. Apakah engkau percaya bahwa dengan firman ini, Dia sedang memberikan yang terbaik bagimu? Seorang antinomian akan mengatakan aku tidak percaya itu, karena itu aku tidak mau menyangkal diri. Karena baginya perintah-perintah itu adalah kesulitan, dan larangan yang membuat hidupnya tidak bahagia. Sebaliknya seorang legalistik akan mengatakan sesungguhnya aku tidak percaya, tetapi responsnya adalah aku berjuang melakukan semua perintah itu dengan terpaksa, karena takut Allah akan marah, dan tidak memberkati aku. Sebenarnya aku tidak ingin mentaati perintah-perintah tersebut itu, tetapi aku takut kalau Allah akan menghukum aku. 

Saudara-saudara, janganlah kita terjebak di dalam kebohongan setan yang besar ini. Apakah kita sungguh percaya bahwa Tuhan mengasihi kita ketika Tuhan memberikan perintah itu? Percayakah kita bahwa perintah itu adalah untuk kebaikan kita, supaya kita mengalami kehidupan yang berkelimpahan? Walaupun perintah itu untuk for His Glory, tetapi perintah itu juga for our enjoyment. Kita tidak percaya itu kalau kita tidak mentaati, atau kalau kita mentaati, kita mentaatinya dengan terpaksa, seperti the older brother.

Injil menjadi jawaban bagi legalistik maupun antinomianisme. Baiklah kita menghancurkan kebohongan Iblis dengan memandang kepada Salib, seperti di dalam Roma 8:32 “Ia yang tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Lihatlah kepada salib, itulah jawaban bagi hati yang tidak suka akan perintah Tuhan. Pandanglah pada salib Kristus, engkau akan melihat di situ, Tuhan menyerahkan Anak-Nya yang satu-satunya, bagaimana mungkin Dia tidak memberikan segala sesuatu dengan penuh kemurahan. Dia bukan hanya menyerahkan Anak-Nya yang tunggal tetapi Dia juga sudah memberikan Roh-Nya kepada kita. Dia sudah memberikan semuanya yang terbaik bagi kita, apa lagi segala sesuatu yang lain.

Ketika  Tuhan menyuruh Abraham untuk mempersembahkan Ishak, maka Abraham mentaati Tuhan (lihat kejadian 22). Waktu Abraham naik ke gunung Moria, dan siap menyembelih anak-nya, maka berserulah malaikat Tuhan kepadanya, Abraham jangan kau bunuh anak-mu, sebab telah Ku-ketahui sekarang, bahwa engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku. Kristus adalah penggenapan daripada Ishak, Kristus bukan hanya siap dihukum mati, dia sesungguh-sungguhnya mati di atas kayu salib. Sehingga ketika kita memandang salib, biarlah kita berkata “Allahku dan Tuhanku telah kuketahui sekarang bahwa Engkau mengasihi aku, sebab Engkau tidak segan-segan menyerahkan Anak-Mu yang tunggal bagiku.”

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya