Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > The Glory of God

Ibadah

The Glory of God

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 16 Agustus 2015

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 16:25-27, Yesaya 6:1-5

Setelah kita membahas berbagai aspek daripada Roma 16, kali ini kita memfokuskan kepada tema doxology yaitu the Glory of God: “Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, --menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya,”, kemudian “bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya”. Kita akan membahas apa artinya kemuliaan Allah. Kita mencoba mendefinisikan sesuatu yang tidak bisa didefinisikan: apa itu the Glory of God. Kemudian apa artinya ketika kita mengatakan “bagi Dia segala kemuliaan”, dan terakhir melihat secara menyeluruh kitab Roma di dalam tema the Glory of God, betapa pentingnya tema ini di seluruh kitab Roma.

Saya akan mencoba menggambarkan the Glory of God dengan apa yang terjadi 70 tahun yang lalu, 17 Agustus 1945. Sebelum 17 Agustus ada dua peristiwa yang menyelesaikan Perang Dunia 2 yaitu tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 di mana Amerika menjatuhkan 2 bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki. Pada waktu bom the Little Boy diledakkan di Hiroshima, seketika itu pula 70000 orang mati. Total orang yang mati dari 2 bom ini adalah sekitar 246000 orang mati. Ada orang yang melihat itu mengatakan we have made a hell for ourselves. Ini adalah gambaran ekstrim yang mengerikan. Gambaran ekstrim lain yang positif adalah ketika Yesaya melihat Tuhan duduk di atas takhta (Yesaya 6:1-5). Bahkan para Serafim menutup mata mereka karena tidak tahan melihat kemuliaan Allah. Para Serafim kemudian berkata “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya”. Kita berpikir secara logis seharusnya kalimat itu berbunyi “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, seluruh bumi penuh dengan kekudusan-Nya”, namun yang mengherankan adalah bahwa yang tercantum di situ adalah “kemuliaan-Nya”, dan bukan “kekudusan-Nya”.

Komentar John Piper berkaitan dengan  ayat ini: kekudusan Allah itu artinya adalah Allah yang terpisah dari semua yang lain. “Kudus” arti dasarnya adalah “terpisah”, yang berbeda dari semua yang lain. “Kudus” artinya pertama-tama bukan tidak ada dosanya, tetapi arti “kudus” pertama-tama adalah Allah yang terpisah dan berbeda dari seluruh ciptaan-Nya. Para seraphim adalah mahluk yang tidak berdosa, tetapi di hadapan Tuhan mereka pun harus memuji Tuhan “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam”. “Kudus” artinya adalah Allah yang satu-satunya yang tak ternilai, yang keunikan-Nya tidak ada pada yang lain, yang unik pada diri-Nya sendiri. Ketika kekudusan itu dinyatakan kepada manusia maka yang disaksikan dan dinyatakan bukanlah kekudusan Tuhan tetapi kemuliaan-Nya. Inilah kaitan antara kekudusan dan kemuliaan. John Piper mencoba memformulasikan kemuliaan Tuhan dalam kaitan dengan kekudusan-Nya sebagai “the Holiness of God is His concealed Glory, the Glory of God is His revealed Holiness, the Glory of God is the infinite beauty and greatness of His manifold perfection”. Kemuliaan Allah adalah keindahan dan kebesaran yang tak terbatas dari kesempurnaan yang limpah. Kesucian Allah adalah tersembunyi, tetapi kemuliaan Tuhan adalah manifestasi dari kekudusan Allah.  

Apa artinya ketika Paulus berkata (Roma 16:27) “bagi Dia segala kemuliaan sampai selama-lamanya”. Hal ini bisa dimengerti dalam dua hal:

  • Ini adalah suatu pernyataan dari Firman Tuhan bahwa kemuliaan itu milik Tuhan. Hal ini adalah suatu fakta, heavens declare the glory of God. Manusia tidak ada kaitannya dengan hal ini, apakah manusia mengertinya atau tidak, Allah tetap adalah Allah yang mulia pada diri-Nya sendiri.
  • Ini juga boleh dimengerti sebagai kerinduan hati kita yang terdalam. Kemuliaan Allah juga menjadi keinginan yang subjektif dari Paulus, kita dan semua orang-orang yang percaya sepanjang jaman. Kita memuliakan Allah bukan menambah kemuliaan Allah, tetapi ini adalah suatu sikap yang mengakui akan Allah yang mulia. Seperti Yesaya yang mengatakan (Yes 6:5) “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.”.

Ketika hidup kita mengakui kemuliaan Allah, ini adalah suatu good-news, karena kita memang diciptakan untuk memuliakan Allah. Ketika kita memuliakan Allah dengan seluruh hidup kita, maka kita menemukan diri kita yang seharusnya, hidup yang berkelimpahan, life to the full. Jarang sekali orang Kristen berpikir apa artinya life to the full, maka kitab Roma mengingatkan bahwa life to the full itu adalah ketika seluruh hidup kita memuliakan Tuhan.

Saya akan mengajak kita untuk me-review kitab Roma, untuk melihat betapa pentingnya kemuliaan Allah bagi hidup orang Kristen di dalam kitab Roma:

  • Roma 1:5 mengatakan

“Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.”.

Paulus menerima kasih karunia dan jabatan Rasul untuk membawa segala bangsa kepada ketaatan iman. Paulus mengatakan ini, melalui Dia dan demi Nama-Nya, “for His own glory”, Paulus memberitakan Injil supaya nama Kristus menjadi lebih mulia di atas segala-segalanya dan disadari oleh segala bangsa. Dunia ini tidak memuliakan nama-Nya, dan oleh karena itulah Paulus pergi memberitakan Injil.

  • Roma 1:21 mengatakan

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap”.

Inilah akar dari dosa, sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia.

  • Selanjutnya dalam Roma 1:23 Paulus mengatakan  

“Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar”.

Di sini Paulus menggambarkan murka Allah karena mereka menggantikan Allah; di dalam hati mereka ada kesadaran akan Allah, tetapi mereka menekan dan menggantikannya dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana. Gambaran yang fana dalam dunia modern ini bukan seperti patung-patung tetapi adalah seperti keinginanku, hasratku, kebutuhanku, kemuliaanku. Seperti orang-orang pendukung homoseksual, termasuk di dalamnya orang-orang Kristen, para ahli Alkitab dan para teolog. Walaupun mereka setuju dengan pendapat bahwa Alkitab melarang homoseksual tetapi  mereka tidak suka dengan itu. Bahkan sebagian dari mereka menuntut  bagian Alkitab tersebut yang harus dibuang, karena tidak sesuai dengan keinginan mereka. Mereka berkata bahwa bagian-bagian tersebut tidak diinspirasikan oleh Allah.  

  •  Kemudian Paulus juga berbicara kepada bangsanya sendiri (Roma 2:23-24):

“Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? Seperti ada tertulis: ‘Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.’”.

Sejarah Israel membuktikan hal ini, mereka terus tidak taat, berulang-ulang dianiaya, berseru kepada Tuhan, ditolong Tuhan, bertobat, namun kembali tidak taat ketika hidup mereka mulai lancar. Paulus menyimpulkan oleh karena kamulah, yaitu bangsa Israel, nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa.  

  • Paulus menyimpulkan tentang apa itu dosa dan mengkaitkannya dengan kemuliaan Allah. Di dalam Roma 3:23 Paulus mengatakan:

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,”.

“Kehilangan” disini itu artinya tidak semuanya hilang, karena ketika seluruh kemuliaan Allah itu hilang dari dalam diri manusia, maka manusia berhenti menjadi manusia.  Padahal manusia tetap adalah image of God, tetapi dosa sudah merusak image itu. Mazmur 8 menjelaskan  bahwa kita diciptakan dalam kemuliaan dan untuk memancarkan keindahan akan kemuliaan Allah, melalui seluruh hidup kita. Ketika kita tidak melakukan itu, maka sebenarnya bukan hanya membuat Allah murka, tetapi juga menghasilkan kehancuran bagi diri kita sendiri. Seperti yang digambarkan dalam Roma 1 tentang segala macam dosa. Dosa homoseksual bukan karena Allah murka, tetapi menjadi bukti bahwa Allah sedang murka, karena Allah membiarkan mereka melakukan segala kenajisan itu.  

  • Paulus berbicara tentang keselamatan dari dosa, yang kita terima dengan iman. Paulus menggambarkan iman ini dalam kaitan kemuliaan Allah. Roma 4:20 mengatakan

“Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,”.

Kata “ia” di sini merujuk kepada Abraham, dia tidak bimbang terhadap janji Allah, malah dia dikuatkan dalam imannya, dan dengan demikian dia memuliakan Allah.

Kita melihat di sini, bagaimana Allah memberikan keselamatan itu hanya melalui iman. Salah satu alasannya adalah karena iman itu adalah iman yang memuliakan Allah. Iman itu menyatakan bahwa Allah itu adalah segala-galanya. Iman itu dikontraskan dengan segala perbuatan kita. Dengan iman itu kita menyatakan bahwa kita adalah orang yang lemah, tidak berdaya, tidak ada satupun yang dapat menyelamatkan kita, kita membutuhkan belas kasihan Tuhan, yang hanya bergantung kepada Allah. Hanya Tuhan-lah yang mengerjakan segala sesuatu bagi kita.  Itulah iman yang menyelamatkan kita.

  • Paulus menunjukkan bahwa keselamatan itu membawa pengharapan yang pasti yaitu pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Kita melihat di dalam Roma 5:1-2

“Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah”.

Kita melihat di sini, bagaimana setelah diselamatkan, maka kita hidup di dalam damai sejahtera. Tetapi kita belum seluruhnya mengalami, menikmati dan memancarkan kemuliaan Allah. Tuhan sudah memberikan hidup yang baru, namun kita masih harus terus berjuang di tengah-tengah dunia untuk memuliakan Allah, sampai kita menerima kemuliaan secara penuh. Karena itulah kita memerlukan pengharapan. Di dalam perjuangan ini we rejoice in the hope of the glory of God. Pengharapan ini pasti akan Tuhan berikan, sampai seluruh hidup kita serupa dengan Kristus, memancarkan secara penuh kemuliaan Tuhan.

  • Kita melihat konsep already but not-yet ini juga di dalam Roma 8:18:

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”.

Manusia yang tadinya diciptakan untuk memancarkan kemuliaan Tuhan, tetapi kemudian jatuh dalam dosa, dan gagal melaksanakannya, tidak ada seorangpun yang berhasil hidup memuliakan Tuhan. Tuhan sudah mengirimkan Anak-Nya yang tunggal dan memberikan hidup yang baru. Kemuliaan Allah mulai di restore di dalam hidup kita, tetapi belum seluruhnya. Masih akan ada proses yang harus berlangsung seumur  hidup kita.

  • Roma 8:29-30 mengatakan

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”.

Di sini ada lima rantai emas yang tidak bisa dipisahkan, semua yang dipilih Allah akan ditentukan, semua yang ditentukan akan dipanggil, semua yang dipanggil akan dibenarkan, semua yang dibenarkan akan dimuliakan. Inilah pekerjaan Tuhan dari awal hingga akhir, seluruhnya adalah pekerjaan Tuhan. Memang masih banyak kesulitan, tetapi ketika hati kita berharap, maka itu memberikan kekuatan bagi kita di dalam segala pergumulan kita sekarang. Sebab itu Paulus mengatakan (Roma 8:18) “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”. Didalam 2 Kor 4:17 Paulus juga mengatakan

“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.”.

Kita kaget membaca kalimat ini, karena apa yang Paulus alami: dia dirajam batu, kapalnya tenggelam, dia hampir mati hampir dibunuh, kelaparan, kekurangan, dia mengalami segala kesulitan namun dia katakan itu sebagai “penderitaan ringan”. Karena apa? Karena dibandingkan dengan kemuliaan Allah yang akan kita terima, segala penderitaan itu tidak ada artinya. Penderitaan itu akan membawa pengharapan yang makin besar. Kita tidak akan lepas dari penderitaan, bahkan Alkitab mengatakan bahwa kalau engkau mentaati Tuhan, engkau akan menderita.

  • Roma 8:20-21 menjelaskan kaitan kemuliaan dengan ciptaan Tuhan lainnya:

“Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.”.

Ini menegaskan pengharapan itu bukan hanya bagi kita, tetapi bagi seluruh mahluk ciptaan Tuhan. Ini menggambarkan Tuhan mengerjakan segalanya secara sempurna di dalam hidup kita, seluruh ciptaan Tuhan yang lain yang sudah tercemar oleh dosa, dipulihkan kembali dengan anak-anak Allah yang telah menerima kemuliaan. Kita akan berbagian di dalam kemuliaan ini.

  • Paulus kemudian berbicara tentang kesetiaan Allah terhadap umatnya tetapi dikontraskan dengan begitu banyak orang yang melawan Tuhan. Paulus menjawabnya di dalam Roma 9:22-23:

“Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan-- justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan,”.

Tuhan mengerjakan janji-Nya untuk membawa umat-Nya ke dalam kemuliaan Tuhan, tetapi banyak orang Israel yang tidak mau percaya. Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya yang telah disiapkan untuk dibinasakan. Allah akan menyatakan kuasa-Nya yang besar dengan membinasakan orang-orang yang menolak Dia. Tuhan menyatakan keadilan-Nya ketika Dia menimpakan murkaNya kepada orang-orang yang menolak Tuhan. Namun bagi kita yang diselamatkan maka kita akan mengetahui kekayaan kemuliaan-Nya. Kita berbagian menerima belas kasihan-Nya, kita berbagian juga dalam kemuliaan-Nya.

  • Paulus menjelaskan jalan Allah ini, yang tak terselami, dalam menyelamatkan manusia. Bangsa-bangsa lain diselamatkan supaya orang Israel menjadi iri dan ingin juga diselamatkan. Roma 11:33 mengatakan:

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”.

  • Setelah itu Paulus masuk ke dalam aplikasi, bagaimana Gereja harus hidup, bagaimana menangani masalah-masalah yang terjadi di dalamnya, bagaimana membangun Gereja Tuhan. Bukan hanya dalam masalah relasi antar manusia, tetapi juga di dalam kaitan dengan Tuhan. Roma 15:5-7 mengatakan:

“Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”

Ini adalah prinsip bagi kita menerima satu-sama lain bukan hanya untuk mengasihi sesama, tetapi untuk kemuliaan Allah. Karena itulah yang Kristus kerjakan, Dia menyelamatkan manusia, demi kemuliaan Tuhan. Kita bersyukur manusia bukan tujuan yang ultimate, tetapi kehendak Tuhan dan nama Tuhan.

  • Roma 15:8-9 mengatakan:

“Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita, dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: ‘Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.’”.

Kristus datang bukan hanya bagi kita, tetapi juga bagi segala bangsa untuk memuliakan-Nya. Itulah juga panggilan bagi kita untuk memberitakan nama-Nya supaya orang memuliakan Tuhan. Kita membesarkan nama Allah bukan seperti mikroskop tetapi seperti memakai teleskop. Ilustrasi John Piper ini menolong kita. Kita tidak boleh memuliakan Allah seperti mikroskop, membesarkan sesuatu yang kecil supaya kelihatan besar. Tetapi kita memuliakan Allah seperti teleskop, membesarkan bintang yang jauh yang kelihatannya kecil, tetapi sebenarnya begitu besar, sehingga kita bisa melihat lebih jelas. Di mata dunia ini, Allah kelihatan begitu kecil, dan dianggap remeh. Kristus datang untuk membawa bangsa-bangsa melihat kebesaran Tuhan. Biarlah hidup kita sungguh sungguh memuliakan Allah. Biarlah mereka yang melihat hidup kita, melihat hidup yang memancarkan kemuliaan Allah. Melalui hidup kita biarlah mereka menyaksikan Allah yang dimata dunia kelihatannya begitu kecil namun sesungguhnya begitu besar. Karena sesungguhnya Dia adalah yang termulia. Roma 16:27 menyimpulkan:

“bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”.

Apakah ini adalah keinginan hatimu yang terdalam, apakah engkau menyadari dan melihat kemuliaan Tuhan, apakah engkau mengasihi kemuliaan Tuhan, apakah engkau ingin berjuang agar Allah dimuliakan di dalam seluruh hidup kita? Biarlah kita membawa hidup kita dan hidup orang-orang lain ke dalam perspektif yang benar. Biarlah mata kita, hati kita, hidup kita yang dengan sungguh memperlihatkan kebesaran Tuhan. Tuhan memimpin kita, dan Tuhan dimuliakan oleh segala hidup kita.

Ringkasan oleh Matias | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya