Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Ketaatan Iman dan Justification by Faith

Ibadah

Ketaatan Iman dan Justification by Faith

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 2 Agustus 2015

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 16:25-27, Roma 1:5

Kali ini kita memfokuskan pada Roma 16:26b “Untuk membimbing segala bangsa kepada ketaatan iman”. Ayat ini akan membawa kita untuk me-review pengajaran yang paling sentral di dalam kitab Roma yaitu Justification by Faith. Pertama-tama kita akan melihat alur dari Roma 16:25-27. Bagian in merupakan doxology – pernyataan akan kemuliaan Allah, di mana salah satu pernyataannya adalah dengan Dia menguatkan umat-Nya, bukan dengan menekan umat-Nya atau menghancurkan umat-Nya, seperti yang dilakukan oleh diktator-diktator di dunia ini. Ketika Firman memanggil kita untuk memuliakan Tuhan, itu adalah suatu good news, bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia,dan bagi Dia kemuliaan untuk selama-lamanya. Seperti Westminster Cathecism katakan “What is the chief end of man? To glorify Him and to enjoy Him forever”. Ini adalah good-news-nya, ketika Tuhan memanggil kita untuk memuliakan Dia, di balik panggilan, kita boleh memuliakan Tuhan, dan kita boleh menikmati Dia selamanya, karena untuk itulah kita diciptakan. Kita memperoleh suka cita yang berlimpah-limpah ketika hidup kita mentaati dan memuliakan Tuhan.

Injil yang berpusat pada Kristus itulah yang diberitakan Paulus, Kristus yang sebelumnya tidak begitu jelas, seperti sudah dimulai sejak Kejadian 3:15 “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Kemudian Kristus dinyatakan secara progressif, seperti dalam kitab Yesaya yang banyak memuat nubuat tentang Kristus, 700 tahun sebelum Yesus datang. Ketika Yesus datang, nubuat-nubuat itu menjadi jelas seluruhnya. Kali ini Injil yang sudah diberitakan itu sekarang bertujuan membimbing segala bangsa kepada ketaatan iman. Kita bisa melihat kaitan antara ayat Roma 16:25a dengan 26b, (25a) “bagi Dia yang berkuasa menguatkan” , dan kemudian (26b) “untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman”. Iman yang sudah Tuhan berikan itu sekarang harus menghasilkan ketaatan di dalam hidup kita. Itulah yang disebut sebagai ketaatan iman.

Ketika kita mentaati Tuhan berdasarkan iman yang sudah Tuhan berikan, maka sebenarnya kita semakin memancarkan akan kemuliaan Allah. John Piper mengatakan tujuan ini adalah tujuan ultimate and penultimate. Tujuan yang ultimate (paling besar) adalah to glorify Him forever, dan yang penultimate (kedua terbesar) yaitu supaya kita semua menuju kepada ketaatan iman. Dua tujuan yang besar ini dinyatakan dalam seluruh Alkitab, tidak bisa dipisahkan satu sama lain, dan hal ini juga disimpulkan di dalam kitab Roma.

Tuhan Yesus mengatakan kalau engkau tidak mengasihi Aku lebih daripada mengasihi ayahmu, ibumu, anakmu, engkau tidak layak menjadi murid-Ku. Bahkan di dalam Lukas dikatakan (Luk 14:26) “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. Tentu kata membenci itu artinya bukan betul-betul membenci karena seluruh konteks Alkitab itu memerintahkan untuk mengasihi, bahkan mengasihi musuh-musuh kita. Tetapi mengapa Kristus mengatakan “kalau engkau tidak membenci mereka engkau tidak layak mengikuti Aku.” Karena kalau dibandingkan dengan kasihmu terhadap ayahmu, ibumu dlsb, maka kasihmu terhadap Allah itu seperti membenci mereka. Ketika kita dipanggil untuk mentaati perintah seperti ini, Tuhan Yesus mengatakan engkau harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku.  Kalau engkau berusaha menyelamatkan nyawamu maka justru akan kehilangan nyawamu, tetapi kalau engkau kehilangan nyawamu karena Aku, justru engkau akan memperolehnya. Ini adalah perintah-perintah Tuhan yang keras, dan ketika kita mentaati perintah-perintah tersebut,ini adalah ketaatan iman. Ketika kita mentaati itu kemuliaan Tuhan dinyatakan. Bahkan ketika kita berkata (Filipi 1: 12) “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”, maka kita menyatakan kemulian Tuhan. Meskipun aku kehilangan semuanya di dunia ini tetapi aku mendapatkan Kristus, itu adalah untung besar. Inilah apa yang Tuhan inginkan. Ketika kita mentaati Tuhan berdasarkan iman yang Tuhan sudah berikan, maka kemuliaan Tuhan dinyatakan.

Tujuan ini sudah dinyatakan di dalam bagian awal-awal kitab Roma, seperti di dalam Roma 1:5 “Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Kepada nama-Nya itu artinya for His Name sake, for His Glory, dan kata “taat” disini adalah “ketaatan iman”. Seperti apa ketaatan iman yang Paulus nyatakan di sini? Ketaatan yang sudah Paulus paparkan dari pasal 12 ke pasal 15. Paulus begitu praktis menjelaskannya tentang ketaatan iman:

  • Roma 12:9-14 mengatakan “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!”.
  • Roma 12:21 “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”.

Ayat-ayat di atas begitu jelas dan kita semua mengerti karena perintah-perintah ini adalah sangat praktikal yang harus kita taati berdasarkan iman yang sudah Tuhan berikan.

Kita sekarang akan mengkaitkan ketaatan iman dengan doktrin justification by faith. Doktrin ini adalah ini dari kitab Roma dan sangat penting. Doktrin ini juga sangat sentral dalam reformasi, seorang penulis mengatakan Reformation stands or falls on the Justification by faith. Dengan demikian , doktrin ini juga menjadi sentral di dalam GRII.

Mari kita mereview sedikit tentang doktrin Justification by Faith. Salah satu ayat yang menyebutkan tentang doktrin ini adalah Roma 5:1 “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.”. Doktrin ini mengingatkan kita bahwa kita seperti berdiri di hadapan Allah, Allah sebagai hakim yang agung, hakim yang bukan hanya melihat perbuatan kita, tetapi juga melihat hati kita yang makin dalam. Kita sebagai tertuduh, tuduhan datang kepada kita, dan kita guilty. Upah dosa adalah maut, dan keadilan Allah menuntut hukuman mati. Tuntutan itu adalah tuntutan yang benar dan tidak ada seorangpun yang bisa menolak. Tetapi waktu Hakim agung itu mengetok palu dan mengatakan not-guilty,righteous, ini mengagetkan. Amsal 17:15 mengatakan “Membenarkan orang fasik dan mempersalahkan orang benar, kedua-duanya adalah kekejian bagi TUHAN.”. Orang fasik itu adalah kita, mempersalahkan orang benar, yaitu Kristus.  Itulah yang Tuhan lakukan di atas kayu salib bagi kita semua.

Ada tiga langkah yang harus kita mengerti:

  • Kita percaya Yesus Kristus sebagai satu-satunya fondasi bagi pembenaran kita. Roma 5 menjelaskan bahwa kita diselamatkan oleh karena iman kita kepada Yesus Kristus”, Kita dibenarkan hanya oleh karena Kristus, karena Dia yang benar dijadikan dosa. Perbuatan baik, hidup suci, ketaatan kita, tidak ada apapun yang bisa membenarkan kita. Karena masalah kita bukan di dalam perbuatan kita, tetapi masalah kita adalah status, jati diri kita sebagai orang berdosa. Maka kalau kita boleh dibenarkan maka satu-satunya dasar adalah karena apa yang Kristus sudah kerjakan di atas kayu salib.
  • Melalui iman dalam Kristus maka kita dipersatukan dengan Kristus “Union with Christ”. Roma 8:1 mengatakan “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”. Ketika kita percaya kepada Kristus, He is not only the object of our faith but He is also the place of our faith. Ketika kita percaya, kita dipersatukan di dalam Kristus.
  • Ada dua hal yang terjadi ketika kita dipersatukan dengan Kristus:
    • Kebenaran Allah di dalam Kristus diperhitungkan kepada kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Ketika Dia yang tidak berdosa itu mati di atas kayu salib, dosa kita ditimpakan kepada Dia, supaya kebenaran Kristus boleh diberikan kepada kita yang dipersatukan dengan Kristus. Ini adalah sesuatu yang super-amazing, ini adalah jantung dari berita kekristenan yang kontras dengan berita apapun yang ada di dunia ini. Ini adalah jantung dari kitab Roma, we are justified by grace alone, thru faith alone, thru Christ alone. Kita hanya dibenarkan oleh karena anugerah, melalui iman semata-mata, dan hanya di dalam Kristus saja. Iman mempersatukan kita dengan Kristus. Keselamatan yang kita terima semata-mata karena anugerah. Tidak ada konstribusi apapun dari apa yang kita lakukan.
    • Ini adalah berita kebenaran yang harus terus-menerus kita sadari, sampai kemudian kita bisa bertanya “Benarkah tidak ada apapun yang kita lakukan?”. Berita ini begitu mengagumkan sampai Paulus sendiri bertanya seperti di dalam  Roma 6:1 “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?“ Mengapa pertanyaan ini muncul? Pertanyaan itu muncul dari kesadaran yang benar karena keselamatan itu adalah anugerah Tuhan, tetapi memberi implikasi yang salah dengan mengatakan “kalau begitu kita terus berdosa saja”.

Paulus menjawab pertanyaan itu dengan (Roma 6:2) “Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?”. Roma 6:11 menyimpulkan “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.”. Mengapa kita tidak bisa terus hidup di dalam dosa? Tentu roh dibenarkan hanya dibenarkan semata mata oleh apa yang dikerjakan oleh Kristus di atas kayu salib. Kita boleh menerima keselamatan karena kita beriman dan dipersatukan di dalam Kristus. Ketika kita beriman kepada Kristus, iman yang seperti demikian yang membenarkan kita, dan iman yang seperti demikian menjadikan kita sebagai manusia baru. Iman ini yang membuat manusia lama kita sudah mati di atas kayu salib bersama-sama dengan Kristus. Galatia 2:19-20 menyimpulkan “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus”, Paulus melanjutkan “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.“”.

Hidup yang di dalam iman adalah hidup yang taat kepada Tuhan, dengan menyenangkan hati Tuhan, hidup yang berbuah. Ketika kita dipersatukan dengan Kristus, harus ada buahnya, karena manusia lama kita sudah mati, bagaimana kita masih bisa bertekun di dalam dosa, bukankah kita sudah mati bagi dosa. 

Hanya iman yang mempersatukan dengan Kristus, dan hanya Kristus yang menjadi fondasi kita boleh dibenarkan. Namun iman itu juga yang mengubah hidup kita sampai ke akar-akarnya. Hal ini tidak boleh tidak ada, karena siapapun yang di dalam Kristus (Union with Christ), dia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Engkau sudah mati terhadap dosa, sekarang engkau hidup bagi Kristus Yesus. Dia menjadi pusat, kita boleh berkata hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.  Manusia lama kita yang dikuasai dosa sudah disalibkan bersama-sama dengan kematian Kristus.

Bukan berarti hidup kita sekarang ini sudah sempurna, tetapi ada sesuatu yang dahsyat yang terjadi ketika kita dipersatukan dengan Kristus: kita dibenarkan dinyatakan righteous, dan memiliki hidup yang baru. Hidup yang menghasilkan ketaatan iman, bukan sempurna, tetapi ada arah yang baru, ada afeksi yang baru, ada perbuatan yang baru di seluruh aspek hidup yang baru.

Karena Kristus ada di dalam diri kita, What would Jesus do (WWJD), apa yang akan Yesus lakukan di posisi kita, waktu belajar, waktu bekerja, waktu mendidik anak, memakai uang kita. Biarlah Kristus menjadi yang utama dan dengan ketaatan kita, Dia boleh dimuliakan.

Saya akan tutup dengan contoh dari Petrus: Petrus yang berdosa dan menyangkali Tuhan 3 kali. Ketika Petrus sadar dan menangis dengan sedihnya, Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus 3 kali juga “apakah engkau mengasihi Aku”. Sampai kali ketiga, Petrus menjawab (Yoh 21:17) “maka sedihlah hati Petrus” dan dia berkata kepada-Nya “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.”. Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu yang sudah aku lakukan, Engkau tahu bahwa aku sudah menyangkali Engkau waktu ditanya oleh seorang budak kecil, dan bahkan bersumpah untuk itu, dan Engkau tahu sedalam-dalamnya hatiku bahwa aku mengasihi Engkau. Biarlah perkataan itu bisa kita katakan juga kepada Tuhan. Meskipun hidup kita belum seluruhnya beres, kalau Tuhan menanyakan “apakah engkau mengasihi Aku”, Bisakah kita seperti Petrus menjawab: Engkau tahu segala sesuatu, Engkau mengetahui bahwa aku berdosa, tetapi Engkau juga mengetahui bahwa aku mengasihi Engkau. Hati yang mengasihi Tuhan ini pasti akan berbuah di dalam hidup kita, pasti akan muncul hidup yang taat. Tidak mungkin tidak ada buah apapun di dalam hidup kita. Meskipun harus struggle, banyak kelemahan, aku ingin mengasihi Engkau, aku ingin maju. Di manapun saudara berada, majulah di dalam ekspresi kasihmu kepada Kristus, karena Dia sudah terlebih dahulu mengasihi saudara.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya