Ibadah

Hikmat Allah

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 19 Juli 2015

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 16:25-27, 1 Kor 1:21-24

Bagian ini adalah 3 ayat yang terakhir dari seluruh kitab Roma. Ayat-ayat in memuat doxology yaitu hormat bagi Allah Tri-Tunggal, dan memiliki isi yang sangat limpah. Doxology ini adalah suatu puncak pujian Paulus kepada Tuhan yang telah menyatakan rahasia-Nya.  Ada beberapa aspek dari doxology ini, dan kali ini kita akan membahas tentang hikmat Allah, khususnya dari ayat ke 27 “bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”.

Hikmat Allah ini dinyatakan dalam Injil Yesus Kristus, seperti yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya (Roma 16:25-26) “Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, --menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman—“. Ayat ke 25 mengatakan bagaimana hikmat Allah yang dinyatakan di dalam Injil Yesus Kristus, dengan Yesus yang datang ke dalam dunia, adalah sesuatu yang melampaui apa yang dapat dipikirkan manusia.

Kita pertama-tama akan memikirkan apa itu hikmat/bijaksana/wisdom, ada seorang teolog yang mendefinisikan hikmat sebagai “knowing what the greatest goal is in any situation and what the best way is to achieve it“. Hikmat itu adalah mengetahui goal yang terutama dalam setiap situasi dan mengetahui cara yang paling baik untuk menggenapi goal tersebut. Hikmat itu berbeda dengan pengetahuan; tentu di dalam hikmat ada pengetahuan, sehingga dengan mengetahui segala aspek pengetahuan, orang dapat memilih jalan yang terbaik; namun hikmat itu bukan hanya pengetahuan. Banyak orang yang memiliki pengetahuan tetapi tidak berhikmat; memiliki banyak pengetahuan namun tidak tahu bagaimana memakai pengetahuan itu di dalam situasi tertentu. Banyak orang yang mengerti tetapi waktu dihadapkan di dalam situasi tertentu, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Allah adalah Allah yang berdaulat, Dia memiliki segala pengetahuan, mengetahui segala aspek yang berkaitan dalam satu situasi tertentu. Dia juga berkuasa atas seluruh aspek itu, dan boleh melaksanakannya sesuai dengan hikmat-Nya yang melampui segala pikiran manusia. Saudara sekalian kita bersyukur memiliki Allah yang boleh mengerjakan dalam setiap situasi Dia dapat melakukan cara yang terbaik untuk mencapai tujuan yang terbaik.

Kita melihat juga di dalam Roma 11:33-36, yang juga merupakan salah satu doxology Paulus, Paulus menekankan hikmat Allah “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! “ Itulah hikmat daripada Allah yang melampaui segala sesuatu.

Masing-masing kita memiliki hikmat yang terbatas, karena itu kita perlu melihat perspektif dari orang lain. Tetapi di sini, Firman berkata Allah adalah satu-satunya yang penuh hikmat, yang mengetahui segala sesuatu, yang mengetahui cara yang terbaik untuk menggenapi segala rencana-Nya. Dia telah mengerjakannya, sedang mengerjakannya dan akan menggenapi rencana-Nya. Dia mengetahui di dalam segala situasi, goal yang terutama dan cara yang terbaik untuk menggenapi goal tersebut.

Kali ini saya akan memfokuskan akan bagaimana hikmat Allah di dalam cara-Nya untuk menyelamatkan orang yang berdosa. Secara khusus 1 Kor 1 mengkaitkan pemberitaan Injil dengan hikmat daripada Allah (1 Kor 1:21-24) “Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” Bagian ini menarik sekali karena membedakan hikmat dunia dan hikmat Allah; dan bagaimana hikmat Allah tidak dimengerti oleh oleh dunia. Hikmat dunia di hadapan Allah adalah suatu kebodohan, sebaliknya juga hikmat Allah di hadapan dunia adalah suatu kebodohan.

Mengapa bisa demikian? Dunia ini oleh hikmatnya sendiri tidak akan mengenal Allah (lihat 1 Kor 1:21), karena persoalan manusia bukan hanya di dalam pengetahuan, tetapi di dalam hatinya yang melawan Tuhan, yang tidak mau percaya kepada Tuhan. Ada suatu ilustrasi tentang seorang detektif yang sedang menyelidiki bandar narkoba di Meksiko. Akhirnya detektif tersebut menemukan orang ini di suatu bar, dia bertanya kepdanya di mana dia menyembunyikan uang dan narkoba tersebut. Namun dia tidak mengerti bahasa Inggris, dan ada seorang yang bisa menterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Sang penterjemah menterjemahkan interogasi sang detektif “di mana kamu menyimpan uang dan narkoba itu, kalau tidak saya tembak kamu”, dan setelah berkali-kali bertanya pada akhirnya sang bandar narkoba menyerah dan memberi tahu lokasinya kepada sang penterjemah. Namun si penterjemah menterjemahkan “saya tidak akan pernah memberikan lokasinya, tembak saya saja”. Ditembaklah bandar narkoba tersebut dan sang penterjemah mengambil uangnya.

Ini adalah suatu contoh bahwa pengetahuan itu hanya melayani motivasi.  Kalau motivasinya salah, kalau hatinya tidak beres, maka pengetahuan/kebenaran apapun, maka manusia tidak akan mentaatinya, manusia akan gagal terus. Itulah perbedaan Injil Kristus dengan agama apapun. Agama lain mengajarkan perbuatan baik, tetapi persoalannya adalah bagaimana manusia bisa melakukan akan hal itu. Semua agama setuju dengan seluruh perintah Allah, tetapi persoalannya bagaimana manusia bisa melakukan hal itu. Karena persoalan manusia adalah jauh lebih dalam, Alkitab memberi hikmat yang menerobos persoalan manusia. Persoalan manusia bukan di dalam perbuatannya, karena mereka sudah tahu tentang itu, tetapi di dalam hatinya ada kuasa yang menguasainya.

Alkitab mengajarkan masalah manusia bukan di dalam perbuatannya. Alkitab menggambarkan masalah itu seperti sebuah pohon dan buahnya. Permasalahan manusia bukan di dalam buahnya tetapi di dalam pohonnya itu sendiri. Kalau pohonnya tidak beres maka buahnya pasti tidak beres. Alkitab mengajarkan bagaimana memberikan pohon yang baru.      

Tetapi manusia tetap tidak mengerti, seperti di dalam 1 Kor 1, mereka menganggap apa yang dikerjakan Tuhan adalah suatu kebodohan. Maka kita memerlukan anugerah Tuhan untuk membongkar kebodohan manusia.

Ketika orang dunia melihat salib mereka melihat suatu kebodohan. Mereka mengatakan bagaimana mungkin seorang menyelamatkan orang lain kalau dia tidak bisa menyelamatkan diri dia sendiri. Juga di jaman ini banyak orang mengatakan “Bagaimana mungkin kamu percaya kepada orang yang sudah mati 2000 tahun yang lalu”.

Kristus yang disalibkan adalah fokus dari pemberitaan Injil. Namun ejekan dari dunia adalah turunlah dari salib, selamatkan dirimu sendiri, kamu baru bisa menyelamatkan orang lain. Bagi orang Yahudi adalah satu batu sandungan karena orang yang disalib adalah orang yang kalah, yang dikutuk oleh Allah, bagaimana mungkin engkau memuliakan Tuhan, karena engkau sendiri disalibkan.            

Tetapi Alkitab mengatakan kepada kita, itulah hikmat Allah, karena justru melalui kematian Kristus adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan manusia, untuk memecahkan persoalan manusia. Bukan hanya dengan perintah-perintah, walaupun perintah-perintah Tuhan itu tidak salah, perintah-perintah diberikan oleh Allah justru salah satu tujuan utamanya adalah supaya manusia sadar bahwa manusia tidak bisa melakukan perintah-perintah tersebut. Jika saudara betul-betul mengerti perintah-perintah tersebut, maka saudara sudah melanggarnya, dan sadar bahwa saudara tidak bisa melakukan semuanya itu. Sehingga saudara boleh dan datang kepada Tuhan dan mengerti bahwa bukan karena apa yang saudara bisa lakukan,   bukan karena hikmat manusia, saudara boleh diselamatkan. Tetapi karena Kristus yang sudah mati yang menggantikan saya. Saya yang seharusnya dihukum karena melanggar hukum Tuhan; Tetapi Kristuslah yang menyelesaikan dosa kita; Dia yang tidak berdosa dijadikan dosa karena kita sehingga kebenaran Kristus boleh ditimpakan kepada kita yang percaya kepada-Nya.

1 Kor 1:24-28 mengatakan “tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti”

Mengapa Allah mengatakan demikian, memilih menyelamatkan dunia melalui Kristus? Jawabannya adalah penting, dan bisa dilihat di ayat-ayat selanjutnya 1 Kor 1:29-31 “supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”                     

Inilah yang menjadi inti Gereja Kristen, Salib menjadi pusat, walaupun bagi dunia salib adalah suatu kebodohan dan kehinaan. Ayat 1 Kor 1:29 memberikan kita kesimpulan supaya tidak ada seorangpun yang dapat bermegah di hadapan Allah. Saya bisa diselamatkan hanya karena anugerah Allah, tidak ada seorangpun yang boleh memegahkan kita. Aku ada sebagaimana aku ada hanya karena anugerah Tuhan. Itulah hikmat Allah yang melampaui segala pikiran manusia, hikmat-Nya bertujuan supaya hanya Tuhan saja yang dimuliakan, dan tidak ada seorangpun yang boleh memegahkan diri dihadapan-Nya.

Karakter Kristen yang paling dasar adalah orang yang miskin di hadapan Allah, kita tidak memiliki apa-apa, tidak mampu berbuat apa-apa secara rohani. Hanya karena anugerah di dalam Kristus, kita boleh percaya dan beriman. Hikmat Allah ini menyatakan itulah satu-satunya cara engkau boleh diselamatkan. Tanpa engkau menyadari bahwa engkau miskin di hadapan Allah, memerlukan Tuhan , maka engkau tidak mungkin diselamatkan.

Itulah cara Allah yang ajaib, menghancurkan kecongkakan manusia, dan memuliakan Tuhan saja.

Biarlah kesadaran akan kemiskinan kita di hadapan Allah terus bertumbuh di dalam hidup kita. Bukan hanya pada saat kita diselamatkan, kesadaran ini harus terus bertumbuh, hari-demi-hari; tanpa Tuhan saya tidak bisa mengerjakan apapun yang Tuhan inginkan di dalam hidup saya. Bukan hanya di dalam keselamatan tetapi juga seumur hidup saya. Seperti yang Tim Keller katakan “The Gospel not only the a,b,c of Christian life but it is the a-z of Christian life”. Injil bukan hanya permulaan hidup Kristen, tetapi Injil adalah permulaan sampai akhir daripada hidup Kristen. Biarlah kesadaran akan anugerah Tuhan ini terpancar di dalam hidup-kita sehari-hari, di dalam membaca Firman, di dalam berdoa. Ini adalah hikmat Allah yang dinyatakan kepada kita sebagai anak-anak Tuhan.

Di dalam satu rapat Sinode, ada seorang yang bertanya kepada pendeta Stepehn Tong, “apa yang paling pak Tong takutkan di dalam hidup pak Tong”. Pak Tong menjawab “ yang paling saya takutkan cuman satu yaitu kalau Tuhan meninggalkan kita”. Tentu Tuhan tidak akan meninggalkan kita, Dia sudah berjanji untuk menyertai kita sampai akhir jaman, tetapi kesadaran ini tidak boleh kita take it for granted.

Sebagai orang tua, kita bukan hanya mendidik anak-anak dengan makanan, sekolah, tetapi biarlah kita juga mendoakan mereka satu-per-satu. Semua yang kita kerjakan, kita perlu kerjakan, tetapi ke mana hidup mereka, kita tidak tahu. Hanya Tuhan yang mampu menarik mereka, dan ketika mereka mulai menyeleweng semoga Tuhan memberi hati yang takut akan Tuhan. Biarlah kesadaran miskin di hadapan Allah ini terus bertumbuh di dalam hidup kita.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya