Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Mengerjakan Panggilan Tuhan

Ibadah

Mengerjakan Panggilan Tuhan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 12 Juli 2015

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 16:21-23

Waktu kita memasuki Roma 16, kita menemukan beberapa “salam”, ada 27 nama yang Paulus sebutkan, kita boleh belajar dari hidup orang Kristen saat itu, dan relasi yang beragam antara Paulus dengan mereka. Di bagian awal Roma 16, disebutkan salam dari Paulus kepada beberapa orang jemaat Roma. Pada bagian ini, sebaliknya, Paulus menyampaikan salam dari beberapa orang kepada jemaat di Roma. Sebenarnya sangat menarik untuk melihat pribadi-pribadi yang Paulus sebutkan di sini, kita boleh juga belajar dari persekutuan dan gambaran yang sangat indah dari Gereja yang mula-mula.

Dari beberapa orang yang berbeda kita bisa belajar beberapa aspek yang berbeda pula, setiap orang mempunyai panggilan Tuhan yang berbeda bagi hidup mereka. Di bagian ini ada 7 orang yang berbeda-beda karakternya. Sebelum kita masuk ke dalam dinamika pribadi orang-orang ini, kita perlu mengenal karakter mereka. Ada “Tertius” dan “Kuartus”, nama-nama ini adalah nama yang umum di Roma pada waktu itu, nama-nama tersebut memiliki arti tersendiri. Donald Gray Barnhous menceritakan suatu kali dia tinggal di rumah seorang kaya di Cina, dan dia dilayani oleh banyak pembantu di situ. Ada seorang pembantu yang bertugas sebagai kepala pelayan dan dia bisa berbahasa Inggris. Tuannya mengatakan “He is the best number-one boy in China”, maksudnya “number-one-boy” adalah jabatan yang mengatur dan bertanggung jawab kepada bawahannya. Dia tidak langsung mengangkat-angkat  barang, dan dia tinggal menyuruh pelayan-pelayan lainnya. Begitu juga di kerajaan Roma pada waktu itu, orang-orang kaya juga memiliki budak yang cukup banyak. Primus adalah kepala pelayan, dan di bawahya ada Sekundus, Tertius, Kuartus, Kuintus, dst. Di bagian tulisan kali ini, Tertius adalah “the number three boy”, dan Kuartus ada di bawahnya. Tertius adalah orang yang menulis bagian ini. Kalau kita melihat surat-surat Paulus yang lain, Paulus selalu menggunakan penulis/sekretaris “ameneunsis”. Juga di bagian ini kemungkinan besar Paulus mendiktekan kepada Tertius sebagai penulis, dan mungkin baru di bagian akhir, Paulus menulis dengan tangannya sendiri. Misalnya dari 1 Kor 16:21 Paulus mengatakan “Dengan tanganku sendiri aku menulis ini: Salam dari Paulus.” Dan dari Gal 6:11 “Lihatlah bagaimana besarnya  huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri”. Hampir sebagian besar surat-surat Paulus tidak dia tulis sendiri, tetapi ada juru-tulisnya. Banyak orang menafsirkan mungkin Paulus sakit Glaucoma, karena itu dia tidak bisa menulis dengan tulisan yang kecil, dan butuh bantuan orang untuk menuliskan surat-suratnya. Kemungkinan besar juga penyakit Glaucoma inilah yang menjadi “duri dalam daging” bagi Paulus.

Ini adalah sesuatu yang menarik karena Tertius sebagai penulis, juga memberikan salamnya. Mereka sebagai jemaat Tuhan sedang berkumpul di rumah Gayus, seorang yang cukup kaya dan tuan daripada Tertius dan Kuartus. Ini adalah perkumpulan hamba Tuhan, Paulus, Timotius, dsb, mereka sedang mengakhiri bagian ini, dan sedang bersiap untuk pergi ke Yerusalem. Tertius dan Kuartus adalah budak nomer 3 dan nomer 4 dari Gayus, orang kaya tsb. Tetapi yang mengherankan Tertius yang seorang budak, juga menyampaikan salam kepada jemaat di Roma, demikan juga Kuartus memberikan salamnya. Paulus mensejajarkan Tertius dan Kuartus dengan Gayus, tuan mereka.

Ini sesuatu yang tidak mungkin terjadi saat itu dan juga mungkin saat ini, di mana budak juga menyampaikan salam, bersama sama dengan tuan mereka. Ini adalah gambaran yang indah tentang persekutuan orang Kristen yang sejati.

Konteks dari abad pertama, adalah adanya tembok pemisah yang besar antara orang Roma dan orang Grika, antara Yahudi dan non-Yahudi, antara orang Kaya dan miskin, antara tuan dan budak. Namun di dalam persekutuan Kristen, semua tembok itu runtuh. Barnhous mengatakan “it was an actual oneness, absolutely above and beyond all human distinction, nothing short of this could have moved the simple number for slave, Quartus,  to ask Paul to send his love to the unknown brothers across the sea “. Suatu kesatuan yang nyata yang melampaui perbedaan manusia, kesatuan di dalam Tuhan yang bisa menggerakkan budak yang paling kecil, Kuartus, untuk menyampaikan salamnya juga.

Kemungkinan besar Gayus adalah orang yang pertama kali bertobat dan dibaptis di Korintus (lihat 1 Kor 1). Ketika Gayus bertobat, mungkin banyak pekerjaan tambahan untuk menjamu jemaat Tuhan datang di tempat itu. Tetapi Tertius dan Kuartus sangat bersuka cita meskipun pekerjaan mereka semakin banyak, karena perubahan terjadi pada Tuannya. Tuannya memperlakukan mereka sebagai saudara seiman. Memang Gayus adalah tuan dari Tertius dan Kuartus, namun Gayus mungkin mengatakan “Aku mempunyai tuan, yang mengasihi aku dan telah menyerahkan nyawanya bagiku, yaitu Yesus Kristus, maka akupun akan memperlakukan kamu, Tertius dan Kuartus, seperti Tuanku memperlakukan aku.”. Ini adalah sesuatu yang boleh kita pelajari dan boleh terjadi di antara kita.

Ketika kita masuk ke dalam pelayanan, tentu saudara akan semakin banyak pekerjaan dan semakin sibuk. Biarlah kita boleh mengerjakan dengan kesehatian dan tujuan yang jelas untuk kemuliaan Tuhan dan untuk kebaikan buat umat-Nya. Biarlah kita memiliki suka cita yang besar seperti yang terjadi di dalam jemaat yang pertama. Ketika kita bersama-sama mengerjakan, biarlah ini menjadi kekuatan yang besar bagi kita di dalam pelayanan sebagai suatu Gereja Tuhan.

Hal yang kedua yang kita boleh lihat adalah dari Gayus dan Erastus. Gayus adalah orang yang kaya yang menjadi tuan rumah bagi Paulus, dan juga menyediakan rumahnya yang kemungkinan cukup besar sebagai tempat Gereja, karena pada jaman itu belum ada gedung Gereja. Apa yang Tuhan sudah berikan kepadanya, dia berikan juga kepada Paulus dan jemaat di kota itu. Adalah sesuatu yang indah apabila rumah kita boleh dipakai untuk pekerjaan Tuhan juga, dan menjadi berkat bagi banyak orang. Inilah yang dikerjakan oleh Gayus, seorang yang cukup kaya, dan dia memberikan rumahnya untuk dipakai bagi pekerjaan Tuhan.

Erastus adalah pejabat pemerintah – bendahara negeri – (NIV) memakai istiliah “city director of public work” – seperti menteri pekerjaan umum. Seorang arkeolog menemukan inscription dari abad pertama, “Erastus, dalam rangka pengabdian sebagai public works meletakkan batu pertama”. NIV mungkin mengambilnya dari fakta arkeologi ini. Kita bisa melihat keragaman dan kelimpahan dari jemaat saat itu, ada orang kaya, ada yang miskin, ada pejabat, ada budak dlsb. Setiap orang melakukan panggilannya masing-masing di hadapan Kristus. Mereka semua sehati, makan dari roti yang sama, minum dari cawan yang sama, bersama-sama menjadi satu Gereja Tuhan. Gayus bukan seorang rasul tetapi dia bisa menyediakan resources buat jemaat. Erastus mungkin membantu dalam perlindungan hukum bagi jemaat saat itu. Mereka bersatu dalam cinta kasih melakukan pekerjaan yang Tuhan percayakan bagi mereka masing-masing.

Bagi kita, pertanyaannya adalah, apakah saudara mengerjakan panggilan Tuhan yang khusus bagi saudara. Tuhan sudah memberikan karunia-karunia rohani untuk melayani di dalam Gereja sebagai satu tubuh Kristus, tetapi juga panggilan Tuhan bisa juga di dalam pekerjaan kita masing-masing (secara sekuler).

Baik di dalam Gereja, dan juga di dalam kehidupan sehari-hari, apakah saudara sudah mengerjakan panggilan Tuhan bagi saudara?

Pertanyaan ini jangan dibalik seperti panggilan Tuhan apa bagi saya? Kalau pertanyaannya salah maka saudara tidak akan mendapat jawaban. Pertanyaan yang benar adalah, apakah yang saudara sedang kerjakan sekarang ini, baik di dalam Gereja maupun di dalam pekerjaan sehari-hari, sudah memuliakan Tuhan.

Kalau itu adalah panggilan Tuhan, maka mungkin pekerjaan itu bukan yang saudara sebenarnya inginkan Kalau itu adalah panggilan Tuhan, berarti mengerjakan orang yang memanggil. Apakah saudara mempunyai kesadaran seperti ini? Bagaimana cara mengetahui bahwa yang saudara lakukan sekarang ini betul-betul memuliakan Tuhan dan membangun hidup manusia menjadi thrive and flourish?

Apakah saudara bisa menjelaskan dengan jujur bahwa pekerjaan saudara bisa berkenan kepada Tuhan, bukan untuk keuntungan diri sendiri? Apakah saudara memuliakan Tuhan di tempat kerja saudara. Apakah pekerjaan saudara membuat manusia menjadi berkenan kepada Tuhan. Saudara harus terus menggali, mengevaluasi hati, apakah Tuhan berkenan, dan dimuliakan oleh pekerjaan saudara. Hal ini mungkin suatu proses yang panjang. Salah satu bentuknya adalah orang yang kita layani menjadi thrive and flourish, semakin mendekat dan mengerti akan Firman Tuhan. Ini adalah pertanyaan yang amat penting dalam hidup saudara, dan harus terus kita pertanyakan.

Pelayanan itu bukan hanya mengerjakan projek itu supaya baik, tetapi di dalam seluruh aktifitas pelayanan, aktivitas pelayanan yang kita lakukan, di dalamnya ada discipleship, membangun karakter untuk semakin serupa dengan Dia,  semakin bergantung kepada Tuhan. Ada yang menegur, ada yang menolong, ada yang mengingatkan akan kebenaran Firman. Di situlah ada pembentukan karakter supaya kita menjadi makin serupa kepada Kristus. Yang disebut dengan “mengerjakan bagiannya” bukan hanya aktivitas pelayanan yang beres, tetapi harus lebih dari itu, di dalamnya harus ada pembentukan karakter. Hati kita ke teman-teman kita, melihat apakah mereka sungguh-sungguh berkembang, atau apakah saudara justru menjadi batu sandungan bagi orang lain, justru membawa orang menjadi semakin mundur di dalam pelayanan?

Bagaimana pekerjaan yang kita lakukan betul-betul memuliakan Tuhan? Karena pada akhirnya, itulah yang akan Tuhan tanyakan kepada kita. Tuhan tidak akan bertanya seberapa banyak uang sudah kita hasilkan. Dengan segala talenta yang sudah Tuhan berikan, Tuhan akan bertanya “Apakah engkau memuliakan Aku?” apakah engkau menjadikan manusia thrive and flourish. Pertanyaan ini harus terus kita gumuli, apakah kita mengerti panggilan Tuhan, dan kalau kita mengerti, kita harus bisa menjelaskan dengan prinsip kebenaran Firman, mengapa kita melakukan pekerjaan tersebut. 

Kita belajar dari tokoh-tokoh ini, dari Tertius, Kuartus, Gayus dan Erastus, mereka telah menjadi contoh dan teladan. Seorang penulis mengatakan di Amerika banyak orang-orang hitam memberi nama anak-anak mereka Erastus, sebagai teladan bagi orang-orang lain.

Biarlah pelayanan dan pekerjaan kita sehari-hari tertenun menjadi satu, dan apa yang kita kerjakan menjadi berkat, membangun orang untuk bertumbuh. Saya berharap saudara sungguh-sungguh memikirkan, dan mulai menggumuli, mengkaitkan hidup saudara dengan panggilan Tuhan. Setelah kita selesai dengan dunia ini Tuhan akan bertanya “Hai hamba-Ku yang baik dan setia, kau telah setia mengerjakan tanggung jawab yang sudah Ku-percayakan, telah menjadi berkat bagi orang-orang lain, masuklah ke dalam kebahagiaan Tuanmu, karena sudah selesai pekerjaanmu di tengah-tengah dunia ini”.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya