Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kebenaran Sejati

Ibadah

Kebenaran Sejati

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 28 Juni 2015

Bacaan Alkitab: Roma 16:17-20, 1 Timotius 6:3-5

Kebenaran sejati merupakan kebenaran yang utuh. Bila kita tidak hati-hati, maka kita juga akan terseret ke dalam paham yang membenarkan atau menyetujui bahwa kebenaran parsial boleh dipandang sama dengan  kebenaran yang utuh (kebenaran sejati).

Mungkin kita pernah mendengar cerita tentang orang buta yang mendeskripsikan gajah. Dimana orang buta pertama yang memegang kaki gajah, mengatakan bahwa gajah itu seperti sebuah pohon yang besar. Kemudian ada orang buta lain yang memegang belalai gajah, mengatakan bahwa gajah itu seperti ular, bukan seperti pohon besar. Sedangkan orang buta yang memegang gading gajah, akan mengatakan bahwa gajah itu seperti tulang yang keras, bukan seperti pohon besar atau ular. Masing-masing orang buta tersebut akan mempertahankan kebenaran yang diyakininya.  

Orang yang membuat illustrasi di atas ingin menunjukkan bahwa sesungguhnya semua orang buta ini tidak perlu ribut-ribut atau mempertentangkan antara satu dengan lainnya, dalam mempertahankan kebenarannya masing-masing karena mereka sama-sama benar dalam mendeskripsikan gajah. Dia sendiri juga menyetujui bahwa illustrasi yang dibuatnya ingin menunjukkan bahwa setiap kita pemeluk agama tertentu, apakah itu pemeluk agama Budha, Hindu, Islam, atau Kristen, tidak perlu ribut-ribut atau mempertentangkan antara satu agama dengan agama lainnya karena semuanya benar. Ia juga menyimpulkan bahwa sesungguhnya setiap agama hanya memiliki kebenaran parsial, tidak memiliki kebenaran absolut.

Illustrasi di atas sepertinya benar. Namun bila kita tidak hati-hati, maka kita juga akan turut terseret dan menyetujui kesimpulan di dalam illustrasi tersebut. Tetapi bila kita telaah lebih dalam, maka illustrasi tersebut sesungguhnya menyimpan sebuah problema yang mendasar. Problema yang mendasar itu apa? Yaitu Illustrasi tersebut diceritakan oleh orang yang tahu gajah secara utuh yang memiliki kaki yang besar, belalai dan gading. Dengan illustrasi yang mengandung tipuan ini: orang yang memiliki paham relatifistik dan pluralistik ini, ingin menunjukkan kerendah-hatiannya yang mengatakan bahwa semua agama benar.

Seandainya gajah itu menggambarkan Allah atau the whole truth (kebenaran sejati) maka orang yang membuat illustrasi tersebut yang sesungguhnya mengenal gajah secara utuh, seharusnya ia mengetahui bahwa apa yang dikatakan oleh setiap orang buta tersebut tidaklah benar dalam mendeskripsikan gajah secara utuh.  Namun ia menyimpulkan sebaliknya.

Bila kita memperhatikan apa yang dikatakan Paulus dalam Roma 16  ayat 17 dan 18 (17. Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! 18. Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya), maka orang yang menganut paham relatifistik dan pluralistik pasti tidak akan menyukai ayat atau perkataan Paulus ini. Orang-orang bisa berpendapat bahwa Paulus merupakan orang yang arogan karena menganggap hanya ajarannya saja yang benar.

Banyak orang di tengah-tengah dunia ini termasuk gereja-gereja atau pendeta-pendeta saat ini, yang terjebak dan setuju dengan semangat atau paham relatifistik dan pluralistik ini, yang tidak lagi memegang ajaran atau doktrin Kristus yang benar dan sesuai dengan Firman Tuhan, Dan bila ada Gereja yang mempertahankan ajaran  atau doktrin Kristus yang memiliki kebenaran sejati, maka Gereja tersebut akan dianggap sebagai Gereja yang arogan, sebagai gereja yang paling benar sendiri, sebagai Gereja yang tidak mengasihi, sebagai Gereja yang telah menganut paham fundamentalistik yang dapat memecahbelah persatuan Gereja.

Jika kita membaca apa yang tertulis di dalam Roma 16 dan 1 Timotius, maka seharusnya ada batas-batas yang jelas, mana ajaran yang sesuai dengan firman Tuhan dan mana yang tidak. Bila tidak, bisa saja orang mengatakan bahwa ajaran saksi Yehovah atau ajaran Mormon juga sesuai dengan firman Tuhan karena mereka juga mempergunakan Alkitab.

Namun jika kita sekali lagi membaca 1 Timotius 6: 3-5 (3. Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, 4. ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, 5. percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan), maka bukan orang seperti Paulus yang mengajarkan doktrin atau firman Tuhan yang sejati yang akan memecahbelah gereja. Justru sebaliknya dimana orang yang tidak mengajarkan doktrin atau ajaran firman Tuhan yang benar yang dapat memecahbelah gereja. Mengapa demikian? Karena tidak ada kesatuan tanpa kebenaran, there is no unity without the truth. Kebenaran merupakan dasar dari kesatuan gereja. Apakah orang yang mengajarkan kebenaran, boleh  dituduh tidak mengasihi? Janganlah kita mengkontradiksi antara kasih dan kebenaran karena kasih dan kebenaran itu merupakan hal yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Bila kita mengatakan bahwa kita mengasihi seseorang maka sebenarnya kita ingin melakukan sesuatu yang ultimately good bagi orang itu. Bila kita tidak tahu apa yang dinamakan “ultimately good” itu, bagaimana mungkin kita bisa mengasihi. Jadi kasih itu harus didasarkan atas kebenaran.

Sesungguhnya tujuan Paulus ialah persatuan (unity) orang Kristen di dalam Kristus di segala tempat, bukan perpecahan, sehingga dalam Roma 16, Paulus selalu menasihati kita semua agar kita selalu waspada terhadap ancaman pengajaran-pengajaran yang bertentangan  dengan firman Tuhan karena hal itu akan menimbulkan perpecahan.

Dalam Roma 16: 17 mengadung dua perintah, yakni perintah agar kita selalu waspada akan pengajaran yang tidak sesuai firman Tuhan; dan satu lagi perintah agar kita menghindari orang-orang yang mengajarkan ajaran yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Dalam perintah yang terakhir Paulus bukan menyuruh kita menghindari orangnya namun pengajarannya. Bukan meninggalkan orangnya, tidak peduli sama sekali atau bahkan memusuhi orangnya, namun kita tetap boleh bergaul, menolong, mengasihi bahkan berdoa bagi mereka. Kita juga tidak boleh menjadi orang Kristen ekstrim yang terlalu sensitif, yang selalu mencari-cari kesalahan pengajaran gereja lain atau bahkan membesar-besarkan kesalahan yang sebenarnya tidak perlu. Kita memang harus bersatu dalam kebenaran sejati dalam Kristus, didasarkan pada pengajaran sejati firman Kristus yang merupakan fondasi dan doktrin prinsip Kekristenan. Namun bukan berarti suatu pandangan atau pendapat harus sama selalu, atau memaksakan pandangan atau pendapat kita terhadap orang lain mengenai detil-detil atau pengajaran yang bukan merupakan doktrin prinsip dalam alkitab.

Gereja bisa bersatu di dalam kebenaran sejati yang walaupun didalamnya terdapat perbedaan. Bila kita membaca kembali Roma 14, misalnya pada saat membahas doktrin yang bukan prinsip seperti mengenai hari-hari baik tertentu, atau pada saat membahas tentang boleh atau tidaknya memakan makanan tertentu dan sebagainya. Kita harus mampu memilah bagian mana yang merupakan doktrin prinsip dan mana yang bukan. Bila itu bukan doktrin prinsip, maka tidak perlu dipertentangkan yang akan berakibat pada permusuhan dan perpecahan. Biarlah perbedaaan-perbedaan tersebut mampu saling memperlengkapi sekaligus memperkaya wawasan dan pengetahuan kita mengenai pengajaran firman Tuhan.

Biarlah peringatan Paulus tersebut akan membuat kita makin waspada serta mampu memilah dan menilai terhadap berbagai macam pengajaran dunia saat ini. Seperti yang dikatakan Paulus, khususnya Roma 16 ayat 18 “Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya”.  Banyak sekali pengajaran firman Tuhan yang telah diselewengkan dengan berbagai macam cara oleh pendeta-pendeta, yang kadangkala penyampaiannya sangat baik, menyenangkan hati, memukau dan bersemangat, nice and encouraging, namun sebenarnya mereka tidak memberitakan kebenaran firman yang sejati. Mereka tidak meninggikan Kristus, tidak menegur dosa, tidak membawa manusia menyadari dirinya di hadapan Tuhan dan tidak mengajarkan kita untuk hidup kudus sesuai pengajajaran firman Kristus yang sejati. Dengan kata-kata yang muluk dan manis, mereka telah menipu orang-orang yang tulus hati, serta mereka memiliki rencana tertentu untuk melayani perutnya sendiri.

Sekali lagi, biarkan Alkitab mengajarkan kita untuk berhati-hati terhadap orang-orang yang demikian. Dan Paulus menginginkan kita bersatu dalam kebenaran sejati, karena hanya pengajaran doktrin firman yang sejati akan menjadi satu-satunya fondasi  agar kita mampu bersatu. 

Ringkasan oleh Budi Walujo | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya