Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > The preciousness of a Christian in the heart of Christian

Ibadah

The preciousness of a Christian in the heart of Christian

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 21 Juni 2015

Bacaan Alkitab: Roma 16:8-16

Dalam pembacaan ayat-ayat Alkitab di atas, Paulus menyebutkan 18 kali salam/greetings. Mengapa Paulus perlu melakukan hal ini? Dengan melakukan hal ini Paulus menyatakan secara eksplisit  “Aku mengingat engkau, aku mengasihi engkau, aku perduli kepada engkau”.

Kali ini kita akan merenungkan suatu tema yaitu “The preciousness of a Christian in the heart of Christian”, betapa berharganya orang Kristen di dalam hati orang Kristen yang lain.

Ada 3 hal yang akan kita renungkan dalam tema ini:

  1. Ekspresinya.

Dalam ayat yang ke 16, Paulus mengatakan “Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus”. Ini adalah ekspresi yang umum pada waktu itu, kebiasaan yang orang-orang pada zaman itu lakukan ketika bertemu. Cium kudus Ini adalah sesuatu yang menyatakan kehangatan, kedekatan satu dengan yang lain secara fisik. Ada unsur budaya dan tidak harus melakukan hal ini, tetapi kita perlu ekspresikan kehangatan itu secara fisik dengan cara yang berbeda-beda, misalnya dengan bersalaman. Dalam 5 love languages, sentuhan secara fisik merupakan salah satu ekspresi/bentuk daripada kasih. 

  1. Fondasi dari afeksi ini

Fondasinya adalah kematian Kristus dan kesatuan kita dengan Kristus dalam kematianNya; bersama-sama sebagai satu gereja, sebagai saudara seiman dipersatukan di dalam Kristus.

Bagi Paulus, suatu kesadaran bahwa kita sudah ditebus di dalam Kristus, dan dipersatukan dengan Dia merupakan suatu realita yang menggerakan hatinya dan terus menerus menjadi sentral dalam hidupnya. Itulah yang dia lihat juga di dalam relasinya dengan orang lain, betapa berharganya orang lain karena kita sudah sama-sama dilepaskan dari murka Allah bagi manusia berdosa melalui pengorbanan yang sangat mahal yaitu darah Kristus.  Roma 8: 1 menyatakan: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”.  Semua ini menjadi pondasi bagi Paulus untuk melihat saudara-saudara seimannya sebagai orang-orang yang berharga yang dia sungguh kasihi.  Dengan menyadari bahwa kita semua sama-sama telah ditebus oleh darah Kristus membuat kita menghargai, peduli, membangun afeksi dan mengasihi saudara-saudara kita.

Jika kita tidak merasakan afeksi yang dalam kepada saudara kita, tidak bisa terima dan mengasihi saudara kita, maka hal ini adalah problem yang besar dalam jiwa kita. Mungkin kita lupa akan anugerah Tuhan buat kita dan saudara-saudara  kita, bahwa kita telah diselamatkan dari maut.

Dalam 1 Yohanes 4:7-8 dikatakan“…….dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”

Hal ini memang tidak mudah, tapi kita harus berusaha, berjuang dan mau maju dan sadar akan pondasi dari afeksi. 

  1. Bagaimana membangun afeksi ini di dalam Tuhan.

Ini adalah yang Paulus kerjakan dalam ayat 1 -16 ini.  Ketika dia menulis karakteristik yang berbeda-beda antara orang Kristen yang dia sebut ini, dia bukan hanya merekomendasikan orang-orang ini tapi dia mengingat segala kebaikan mereka, mengingat betapa berharganya mereka dalam konteks yang berbeda-beda. mengingat pekerjaan Tuhan yang dikerjakan bersama, dan  juga apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup masing-masing orang ini.

Contoh bagaimana Paulus membangun afeksi ini:

  • Dalam ayat 13:  Paulus mengatakan tentang Rufus sebagai orang pilihan dalam Tuhan.  Rufus sengaja khusus disebut sebagai orang pilihan di dalam Tuhan mungkin karena ada peristiwa khusus dalam interaksi antara Paulus dengan Rufus. Mungkin Paulus pernah berdebat dengan Rufus tentang doktrin pilihan Tuhan, mungkin juga Rufus adalah pendosa besar seperti Paulus dan kemudian akhirnya dia bertobat.
  • Rekan-rekan sekerja Paulus  di dalam Kristus (ayat 3,6,9,12).  Ketika Paulus mengingat orang-orang ini yang telah bekerja keras dalam Tuhan bersama-sama dengan dia maka membangkitkan afeksi.
  • Dengan mengingat bagaimana mereka sama-sama telah menderita dalam Kristus (ayat 4: Priskila dan Akwila, ayat 7: Andronikus dan Yunias), bersama-sama berjuang dan melayani Tuhan. 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya