Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Teladan Hidup Kristen

Ibadah

Teladan Hidup Kristen

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 14 Juni 2015

Bacaan Alkitab: Roma 16:1-7

Ini adalah bagian terakhir dari kitab Roma, yang penuh dengan ucapan salam. Rasanya kalau kita tidak melakukan eksposisi kitab ini, saya tidak akan pernah sampai ke bagian ini. Namun demikian bagian ini adalah bagian yang sangat penting, karena bagian ini penuh dengan doktrin Gereja yang tidak diberitakan secara konseptual, tetapi dinyatakan dengan contoh hidup daripada orang-orang yang diceritakan di dalam bagian ini. Kisah ini memberikan practical life dari hidup yang beribadah kepada Tuhan. Bagaimana hidup orang-orang seperti Priskila, Akwila menjadi teladan bagi orang-orang Kristen sepanjang jaman.

Ada seorang saudara kami yang sudah jarang ke Gereja yang datang berkunjung ke rumah keluarga kami yang sibuk melayani di Indonesia. Dia menginap di rumah mereka selama beberapa hari. Lalu dia mengatakan bahwa setelah dia melihat kehidupan mereka yang melayani Tuhan, menggugahnya untuk kembali pergi ke Gereja.

Hampir semua dalam kisah di bagian ini adalah orang-orang awam, tetapi mereka membawa pengaruh besar. Paulus memberi salam kepada mereka, dan Paulus menjelaskan salamnya itu secara spesifik.

  • Yang pertama kita melihat observasi secara umum salam-salam Paulus dari Roma 16:1-16. Kalau kita membaca ke 16 ayat ini maka kita melihat dari nama-nama yang ditulis ada 27 nama, 26 dari antaranya tinggal di Roma. Febe adalah orang yang ke 27,  kemungkinan besar dia sedang menuju ke Roma membawa surat Paulus ini ke Roma. Paulus sebenarnya belum pernah ke Roma, tetapi dia memiliki relasi secara pribadi terhadap orang-orang ini. Paulus mengingat ke 26 orang tersebut dan memberikan salam kepada mereka. Ini mengingatkan kita bahwa penting bagi kita untuk mengingat nama. Kadang-kadang kita sulit mengingat nama teman-teman kita. Ada orang-orang yang hanya datang dan pergi ke kebaktian, dan saya sangat sulit mengingat nama mereka. Ada orang yang sudah saya tanya tiga kali namanya. Tetapi saya mencoba mengingat nama mereka, karena Tuhan Yesus mengingat nama-nama kita. Gembala kita yang baik tahu nama-nama dombanya. Mari kita saling mengingat nama, setiap kita bersalaman, mudah-mudahan salaman itu bukan hanya basa-basi.
  • Yang kedua, dari nama-nama ini, ada relasi yang berbeda-beda, dan relasi-relasi tersebut limpah dan beragam. Paulus menyebut mereka sebagai, my sister, my brother, sebagai pelayan, sebagai orang-orang kudus, sebagai teman sekerja di dalam Allah, sebagai jemaat, sebagai saudara yang kukasihi, sebagai buah pelayanan, sebagai fellow prisoner yang dipenjarakan bersama-sama dengan Paulus, sebagai orang yang terpandang di tengah para Rasul, sebagai yang di kasihi di dalam Tuhan, sebagai orang yang tahan uji, sebagai ibu bagi Paulus. Semakin kita banyak berelasi dengan berbagai macam orang, kita bertemu dengan segala macam watak, termasuk dengan anak-anak. Waktu kita melayani, kita bukan hanya melayani secara umum, tetapi melayani dengan relasi yang berlimpah dan beragam. Kita mendapat berkat dari keragaman ini. Semakin kita membangun relasi dengan berbagai macam orang, semakin banyak berkat yang kita bisa bagikan dengan cara yang berbeda-beda.
  • Yang ketiga, di dalam seluruh relasi ini, Kristus menjadi pusat. Bagian ini bukan hanya sekedar list nama-nama, tetapi Kristus menjadi pengantara di dalam hubungan mereka. Paulus menyadari bahwa Kristus adalah yang paling utama di dalam relasi satu dengan yang lain. Di dalam Roma 16 ayat 2: “supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan…”; ayat 3 “Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.”; ayat 5: “Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus.”; ayat 7: “yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku.”; ayat 8: ” Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan”; ayat 9: “kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus”; ayat 10: ” Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus”; ayat 11: “Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Narkisus, yang ada dalam Tuhan.”; ayat 12: “Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.”. Kita bisa melihat bahwa di dalam relasi yang berbeda-beda ini, Kristus menjadi pusat relasi mereka.  Apakah kita sudah melihat hal ini di dalam relasi kita terhadap saudara-saudara kita, dengan teman-teman kita, dengan rekan sekerja kita. Apakah Kristus menjadi pusat daripada relasi kita kepada mereka. Di dalam setiap perkataan, pikiran, diskusi yang kita lakukan, biarlah boleh dipengaruhi oleh kebenaran Kristus. Biarlah kasih Tuhan hadir di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau saudara yang sebagai orang awam berbicara tentang Kristus di tengah relasi saudara dengan teman-teman saudara, itu akan membawa kebenaran Tuhan di dalam keseharian hidup mereka.
  • Yang keempat, jemaat yang Paulus di sini adalah tersebar di dalam beberapa Gereja local. Roma 16 ayat 5 “Salam kepada jemaat di rumah Priskila dan Akwila”, ayat 14 “Salam kepada Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-saudara yang bersama-sama dengan mereka.”; ayat 15 “Salam kepada Filologus, dan Yulia, Nereus dan saudaranya perempuan, dan Olimpas, dan juga kepada segala orang kudus yang bersama-sama dengan mereka.”. Di sini kata “mereka” adalah mengacu kepada jemaat yang berbeda-beda. Ketika Paulus menulis surat kepada jemaat di Roma, maka sebenarnya Paulus menulisnya kepada beberapa jemaat di dalam kota Roma.

Ada beberapa gedung Gereja yang dijual untuk keperluan dunia seperti restoran, diskotik dlsb, ini adalah trend yang tidak mudah. Tetapi tugas kita adalah melawan arus yang semakin sekuler, dan dengan Tuhan kita boleh bersinar sebagai mercu suar di tengah2 dunia ini. Kita harus membawa orang supaya mengasihi Kristus. Ada ribuan orang di kota ini yang mengaku Kristen tetapi tidak pernah ke Gereja. Biarlah Gereja memberitakan Firman yang sejati kepada mereka. Kita perlu membangun lebih banyak Gereja, mendirikan banyak tempat-tempat yang bisa dijadikan tempat untuk pemberitaan Injil.

  • Yang kelima, di bagian ini, kata Paulus yang paling banyak adalah kata  “Salam”. Surat Roma adalah seperti surat edaran yang dibacakan oleh pemimpin-pemimpin jemaat di depan jemaat mereka. Melalui surat ini, Firman Tuhan beritakan kepada jemaat-jemat. Mungkin surat ini seperti DVD Pdt Stephen Tong. Meskipun Pak Tong tidak hadir, tetapi beritanya hadir, sama seperti Paulus, dia tidak hadir tetapi isi suratnya diberitakan.

Setelah kita melihat lima prinsip ini, marilah kita sekarang melihat secara khusus ada tiga orang yang menjadi teladan: Febe, Priskila dan Akwila. Mereka adalah orang-orang awam yang Tuhan pakai dengan caranya yang berbeda-beda. Febe adalah seorang yang single, sedangkan Priskila dan Akwila adalah keluarga.

  • Yang pertama, Paulus menyebut Febe yang membawa surat kepada jemaat di Roma, Roma 16:1-2 “Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea, supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri.” Kengkrea adalah satu kota pelabuhan di Korintus, dan Paulus menulis surat Roma di Korintus. Paulus mengatakan Febe sudah memberikan bantuan besar kepada banyak orang. Bantuan itu kemungkinan besar adalah secara materi, Febe sebagai seorang diakon, diakonos. Febe mungkin seperti Lydia di dalam kisah para rasul, yang mendukung pelayanan Paulus. Paulus memberikan beberapa hal tentang Febe:
    • Paulus menyebut Febe sebagai our sister; secara konteks Paulus ingin mereka menyambut Febe di dalam Tuhan dan memberinya bantuan jika diperlukan karena Febe sudah memberikan bantuan kepada jemaat di Korintus. Kita juga harus belajar untuk menyambut orang-orang dari tempat-tempat yang jauh sebagai our brother and our sister, dan memberikan bantuan kepada mereka di dalam Tuhan. Di dalam 1 Tim 5:1-2 disebutkan “Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu, perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu’, dan Paulus menambahkan “dengan penuh kemurnian”. Saudara perlu menjaga relasi kepada our sister dengan penuh kemurnian, karena dalam keadaan tertentu kita dapat dengan mudah jatuh kedalam kesalahan.
    • Paulus mengatakan Febe sebagai servant, diakon, diakonos atau sebagai majelis. Gereja kita setuju akan adanya majelis perempuan, tetapi tidak setuju dengan penatua atau pendeta perempuan, sesuai dengan prinsip Paulus di dalam kepemimpinan pria, di mana Allah menempatkan pria sebagai orang yang paling bertanggung jawab di dalam Gereja dan keluarga. Para wanita pasti akan berbahagia jika para pria di sini mengambil tanggung jawab kepemimpinan, dengan rajin dan sungguh sungguh, mengarahkan seluruh jemaat. Namun demikian para wanita juga dapat memiliki begitu banyak pelayanan yang bisa mereka kerjakan. Ada begitu banyak hal yang bisa dilakukan oleh para wanita. John Piper membuat list, paling sedikit ada 83 pelayanan di mana wanita boleh melayani, beberapa di antaranya: mengunjungi orang sakit, menjadi pemerhati, counseling pribadi, guru sekolah minggu, pelayanan musik, drama, konsumsi, memelihara gedung gereja dlsb.
  • Yang kedua, Paulus menyebutkan Priskila dan Akwila, sepasang suami-istri sebagai teladan pelayanan khususnya di dalam keluarga. Di sini kita bisa melihat apa yang Tuhan inginkan bagi keluarga dalam pelayanan.

Priskila dan Akwila adalah pasangan suami istri yang berpindah-pindah. Kalau saudara mengikuti Priskila dan Akwila dari Kisah Para Rasul, lalu surat di Roma, dan kemudian di 2 Tim, di tiga surat ini nama mereka muncul. Akwila berasal dari Potus, mereka kemudian menikah dan tinggal di Roma. Pada tahun 49 mereka diusir dari Roma oleh kaisar Klaudius. Dari Roma mereka pergi ke Korintus dan bertemu dengan Paulus di sana, Dari Korintus mereka pindah ke Efesus dan bertemu Apolos di situ. Di Efesus, mereka mengadakan Gereja di rumah mereka. Dari Efesus mereka kembali ke Roma, dan dalam surat Timotius, dari Roma mereka kembali ke Efesus, dan itulah terakhir kali kita membaca tentang mereka di dalam Kitab Suci.

Kehidupan yang berpindah-pindah ini adalah suatu yang tidak gampang. Tetapi di manapun mereka berada mereka mendirikan Gereja, di manapun mereka berada, mereka mengumpulkan jemaat di rumah mereka, mereka menjadi berkat di kota tersebut. Kemungkinan besar mereka adalah businessman dengan bekerja sebagai tent-maker, seperti Paulus yang juga tent-maker.

Apakah Tuhan memanggil saudara seperti Priskila dan Akwila, apakah saudara bergumul tentang apa yang Tuhan inginkan bagi saudara. Di manapun saudara berada, apakah saudara memberitakan Injil, dan menjadi berkat bagi orang-orang di tempat saudara. Kalau Tuhan memimpin kita, di manapun kita berada, no little people, no little places, it is my Father’s world, pergilah dan menjadi berkat di tempat yang baru.

Paulus mengatakan Priskila dan Akwila sebagai my fellow workers in Christ. Kemungkinan besar mereka bukan full-time missionary, tetapi di dalam seluruh pekerjaan mereka, mereka mengutamakan dan melakukannya di dalam Kristus. Mereka adalah orang awam, pembuat tenda, tetapi Paulus mengatakan mereka adalah my fellow workers. Gereja Tuhan memerlukan orang-orang seperti mereka, di dalam pekerjaan yang mereka lakukan, mereka sadar akan identitas mereka di dalam Kristus. Paulus mengatakan kalimat terakhir yang begitu indah tentang Priskila dan Akwila: mereka adalah orang-orang yang mempertaruhkan nyawanya bagi pekerjaan Tuhan (ayat 4) “Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat”

Di dalam bahasa aslinya mereka adalah orang-orang yang meletakkan leher mereka di atas batu. Kalau Febe melayani dengan segala apa yang dia miliki, dan membantu Paulus, membawa surat Paulus kepada jemaat di Roma; Priskila dan Akwila melakukan bahkan lebih dari itu, mereka menyerahkan leher mereka bagi Paulus. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi Paulus dan Gereja the Churches of the Gentiles, berterima kasih kepada mereka. Bukan satu Gereja, tetapi banyak Gereja yang melihat Priskila dan Akwila mempertaruhkan nyawa mereka untuk Injil boleh diberitakan.

Saudara-saudara belum tentu dipanggil sebagai missionaris full-time, belum tentu menjadi pendeta. Tetapi Tuhan bisa memanggil saudara untuk melayani-Nya sampai mempertaruhkan nyawa saudara. Pelayanan pak Tong bisa menjadi besar karena ada orang-orang awam yang melayani, seperti Priskila dan Akwila. Waktu di Sulawesi Utara, merayakan ulang tahun ke 184 Injil masuk ke Sulawesi Utara, tiga hari hujan berturut-turut. Pak Tong berkotbah di bawah payung, semua orang yang datang membawa payung. Ketika pak Tong menantang siapa yang percaya kepada Tuhan, pak Tong berkata “Siapa yang percaya kepada Tuhan, angkat payung saudara”.

Biarlah kita melalui pelajaran dari Febe, Priskila dan Akwila, bisa menjadi jemaat awam yang menjadi orang-orang yang dipakai Tuhan menjadi berkat besar seperti mereka.

Ringkasan oleh Matias | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya