Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Perjalanan Paulus ke Yerusalem

Ibadah

Perjalanan Paulus ke Yerusalem

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 24 Mei 2015

Bacaan Alkitab: Roma 15: 22-28

Salah satu hal yang ingin saya lakukan tetapi jarang sekali saya lakukan adalah memancing. Terakhir saya memancing 5 tahun yang lalu, karena ada banyak hal yang lebih penting yang harus saya lakukan. Paulus juga ingin pergi ke Roma, dia sudah merindukannya bertahun-tahun untuk pergi ke Roma, namun dia mempunyai pekerjaan yang menurut dia belum diselesaikan, khususnya di Akhaya, di daerah Korintus, ada tempat-tempat di mana Injil belum diberitakan. Tetapi di dalam Roma 15:23, dia menyatakan bahwa pekerjaan di tempat itu sekarang sudah selesai.  Kata Paulus, “Tetapi sekarang, karena aku tidak lagi mempunyai tempat kerja di daerah ini”, padahal pasti ada beberapa orang yang terlewat di Akhaya, mengapa demikian? Di sinilah letak perbedaan antara Evangelism dan missionary. Evangelism terus memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum mendengarkan Injil, sedangkan missionary adalah pergi ke tempat di mana orang-orang di situ belum pernah sama sekali mendengarkan Injil. Paulus adalah seorang Frontier missionary, pergi ke tempat-tempat di mana Injil belum diberitakan. Kalau saudara mengikuti berita-berita badan-badan missionary, maka mereka menghitung ada seberapa banyak lagi kelompok orang yang belum mendengarkan Injil. Jumlahnya semakin berkurang setiap tahun, dan ketika seluruh suku bangsa sudah mendengarkan Injil, maka barulah Dia akan datang untuk kedua kalinya (lihat Matius 24:14). Ini adalah apa yang dikerjakan Paulus, yang kemudian dilanjutkan oleh para misionaris sepanjang jaman.

Setelah menganggap pekerjaannya sudah selesai di Akhaya, apakah Paulus langsung ke Roma? Ternyata tidak, ayat Roma 15:25 mengatakan “Tetapi sekarang aku sedang dalam perjalanan ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan kepada orang-orang kudus“. Dia ternyata pergi ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan kepada orang-orang kudus, dan dari Yerusalem Paulus pergi ke Spanyol dengan singgah di Roma. Kalau dia sudah bertahun-tahun ingin ke Roma, mengapa dia harus pergi ke Yerusalem. Dari Korintus ke Yerusalem, kira-kira berjarak 1500km, jadi kalau dia harus pergi bolak-balik Korintus-Yerusalem, berarti dia harus menempuh 3000km yang merupakan jarak yang sangat jauh untuk dilakukan pada masa itu. Ini menjadi pertanyaan yang akan kita renungkan. Dalam hal ini ada empat alasan penting yang perlu kita mengerti, dan dapat diaplikasikan di dalam hidup kita.

Alasan pertama, reputasi Injil sedang dipertaruhkan. Perjalanan Paulus tentu membutuhkan waktu yang lama dan banyak bahayanya juga. Di jaman itu belum ada online banking, tidak ada yang instant. Namun kalau kita bandingkan dengan hidup kita sekarang ini segalanya instant, tidak ada lagi kesukaan menanti (delayed gratification), Seperti seorang anak yang dijanjikan untuk dibelikan sepeda, namun harus belajar dahulu dengan rajin selama setahun. Setelah belajar rajin selama setahun, dan mendapatkan hasil yang bagus, baru kemudian dia mendapatkan sepeda. Kita bisa membayangkan betapa sukacitanya dia mendapatkan sepeda tersebut setelah menunggu setahun. Kesukaan yang seperti ini sudah jarang kita temui di antara kita.

Paulus harus membawa sendiri bantuan tersebut, karena ada reputasi Injil yang dipertaruhkan. Di Akhaya, Paulus mengumumkan adanya malapetaka dan kemiskinan di Yerusalem, dan dia mengumpulkan persembahan di Akhaya untuk dibawa ke Yerusalem. Peristiwa pengumpulan persembahan ini dijelaskan di dalam 2 Kor 9:12-13, "Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang," Paulus mengkaitkan persembahan itu dengan buah Injil, ayat 13 khususnya (NIV) “Because of the service by which you have proved yourselves, others will praise God for the obedience that accompanies your confession of the gospel of Christ”. Paulus mengkaitkan dengan menyatakan persembahan ini merupakan hasil dari pengertian mereka akan Injil Tuhan, Mereka sudah diubahkan hidupnya, mereka yang percaya sudah menerima anugerah Tuhan, sekarang salah satu hasilnya adalah mereka mengerti Injil dan menghasilkan hati yang murah hati (*generous”).

Salah satu bentuk orang yang sudah menerima Injil Tuhan, adalah hatinya ingin menolong. Dia sudah dibebaskan akan cinta akan uang. Alkitab mengatakan cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan. Sebaliknya, buku yang terkenal Rich Dad Poor Dad, dimulai dengan “Akar dari segala kejahatan adalah bukan cinta uang, akar dari segala kejahatan adalah kekurangan uang”. Paulus yang sudah memberitakan Injil kepada mereka, mendorong mereka untuk mengumpulkan persembahan kasih ini. Kemudian dia ingin memastikan bahwa jemaat Yerusalem menerima persembahan tersebut.  Dia kuatir sekali persembahan tersebut hilang atau dicuri di tengah jalan. Paulus sangat rindu untuk orang-orang Yerusalem menyaksikan dampak Injil yang sudah dia beritakan kepada orang-orang non-Yahudi (Roma 15:9) “dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya”.

Refleksi bagi hidup kita, apakah kita sudah memakai uang kita sesuai dengan anugerah keselamatan yang sudah diberikan kepada kita. Apakah uang yang kita persembahkan itu sudah sesuai dengan pekerjaan Tuhan yang sudah Dia lakukan di dalam hidup kita. Apakah kita rindu memakai uang kita sehingga menjadikan Injil menjadi begitu berharga, Reputasi Injil dipertaruhkan, maka Paulus harus membawa sendiri persembahan itu ke Yerusalem.

Alasan kedua, Paulus membawa sendiri persembahan untuk menekankan pentingnya pelayanan kepada orang-orang miskin. Di dalam perjalanan tersebut, ada resiko bagi Paulus untuk ditangkap, tetapi dia tetap pergi ke sana, karena satu hal yang penting yaitu untuk membagikan persembahan kepada orang-orang miskin. Di dalam Gal 2 Paulus bertemu dengan the Jerusalem Pilars : Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Paulus menjelaskan panggilan Tuhan kepadanya untuk memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi. Mereka setuju dengan itu, meresa sama-sama akan melayani dengan berita yang sama, namun dua ladang pelayanan yang berbeda. Mereka, Yakobus khususnya, mengingatkan bahwa Paulus harus ingat untuk membantu orang-orang miskin. (Gal 2:10) “All they asked was that we should continue to remember the poor, the very thing I had been eager to do all along“.

Begitu banyak orang miskin di tengah dunia ini. Apa yang bisa kita lakukan bagi mereka di tengah-tengah masyarakat, juga di tengah-tengah Gereja kita? Gal 6:10 mengatakan "Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman". Biarlah kita mulai memperhatikan dan menolong orang miskin mulai dari saudara seiman.

Alkitab, di dalam perjanjian lama (lihat Keluaran 23) menyatakan, ketika kita menolong orang yang miskin, itu bukanlah sesuatu yang luar biasa tetapi itu adalah suatu keharusan. Hal itu adalah suatu keadilan (justice) bagi mereka. Kalau kita tidak menolong mereka, kita melakukan ketidak-adilan (in-justice) kepada mereka. Kita harus peka terhadap  sekeliling kita, di antara kita ada orang-orang yang membutuhkan bantuan kita. Sebaliknya jika kita memang membutuhkan bantuan, jika ada yang menawarkan bantuan maka sebaiknya kita janganlah menolak bantuan itu. Kita boleh menerima dengan pemikiran kitapun bisa menolong orang lain yang membutuhkan.

Sebagai ilustrasi, waktu pak Tong datang ke sini, pak Tong memberikan sejumlah uang yang relatif banyak, untuk diberikan kepada jemaat di Sydney. Saya menduga bahwa uang itu adalah sebenarnya pemberian dari salah seorang jemaat sebagai tanda kasih. Tetapi pak Tong tidak memakai uang itu, namun memberikannya kepada yang membutuhkan. Saling mengasihi satu dengan yang lain “karena itulah yang Tuhan kehendaki bagi kita”. Paulus melakukan perjalanan jauh ke Yerusalem membawa persembahan, mengingatkan kita supaya kita memperhatikan orang-orang miskin.

Alasan yang ketiga, Paulus sangat concern akan kesatuan Gereja yang berbeda etnik. Di dalam ayat 26 "Sebab Makedonia dan Akhaya telah mengambil keputusan untuk menyumbangkan sesuatu kepada orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem. Keputusan itu memang telah mereka ambil, tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab, jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka". Paulus mengkaitkan, dengan mengatakan Injil berasal dari bangsa Yahudi, maka seharusnyalah mereka membalasnya dengan materi kepada orang Yahudi.

Hal ini menarik sekali, Paulus bisa saja tidak menyinggung hal ini, dia bisa saja mengatakan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan prinsip kasih. Namun di sini, Paulus mengingatkan pentingnya kesatuan Gereja yang terdiri dari berbagai macam etnik. Kita hidup di dalam masyarakat yang multi-etnik, Sangat berbahaya sekali jika ada racism, jika ada ethnic pride, yang memandang rendah etnik yang lain. Biarlah kita menyadari adanya suatu kesatuan, sebagai suatu keluarga, sebagai brothers and sisters di dalam Tuhan yang memiliki satu Bapa di Surga, yang adalah Bapa bagi bangsa Yahudi dan non-Yahudi.

Di dalam Roma 11:17, Paulus mengatakan bangsa-bangsa non-Yahudi itu adalah tunas liar yang dicangkokkan kepada pohon zaitun, Mesias lahir dari orang Yahudi, dan kemudian diberitakan ke segala bangsa. Paulus mengingatkan bangsa non-Yahudi, termasuk kita,  adalah tunas-tunas liar, yang sebelumnya tidak memiliki Firman, dicangkokkan oleh Tuhan melalui para pengabar Injil kepada pohon zaitun yang asli, mendapat nutrisi dari akar. Paulus ingin mengatakan kepada bangsa Non-Yahudi ingatlah dari mana berkat ini berasal.

Sebaliknya di dalam Roma 15:27, Paulus ingin menegaskan kepada bangsa Yahudi, supaya mereka jangan sombong, karena Allah menyelamatkan semua orang yang percaya karena anugerah semata-mata. Dengan perjalanan ini, Paulus mengingatkan biarlah persembahan kasih ini menjadi sesuatu yang harus engkau terima, terima kasih - "I accept your love".

Setiap etnik memiliki hinaan-hinaan atau lelucon kepada etnik lainnya, namun biarlah kita boleh mengejar persatuan di dalam Tuhan. Sekaligus bukan hanya karena mengejar persatuan, kita bisa menikmati keragaman etnik, seperti dalam berbagai masakan dari berbagai daerah. Kita tidak mengejar uniformity, tetapi mengejar unity seperti di dalam unity in diversity in the community of the Trinity.

Alasan keempat, Paulus ingin menunjukkan bahwa suka cita yang kudus harus menjadi dasar tindakan kasih. Mereka mempersembahkan bantuan itu karena mereka senang untuk melakukan itu. NIV lebih tepat mengatakan hal ini dalam Roma 15:26-27 "26/For Macedonia and Achaia were pleased to make a contribution for the poor among the Lord’s people in Jerusalem. 27/ They were pleased to do it, and indeed they owe it to them. For if the Gentiles have shared in the Jews’ spiritual blessings, they owe it to the Jews to share with them their material blessings". Kata “pleased” menegaskan bahwa mereka bukan hanya mengambil keputusan, tetapi karena mereka juga suka melakukan hal itu. Kita juga melihat dalam 2 Kor 8:2 "Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.”. Satu ayat ini saja menghantam teologi kesuksesan. Mereka bukan orang yang sukses, mereka adalah orang-orang yang miskin, tetapi suka cita mereka meluap, sukacita bukan karena banyak uang, tetapi suka cita di dalam Tuhan. Di dalam kesulitan mereka, dengan overflowing joy with generosity, suka cita yang meluap dan muncul di dalam kemurahan. Paulus mendorong jemaat di Korintus dan mereka melakukannya dengan suka cita yang meluap juga. Bahkan mereka meminta persembahan itu diputar dua kali. Paulus ingin sekali menjelaskan ini kepada jemaat-jemaat di Yerusalem.

Tetapi Paulus juga mengatakan (Roma 15:27) "Keputusan itu memang telah mereka ambil, tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab, jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka".  Ini menarik, di satu sisi mereka bersuka dalam memberikan persembahan itu, tetapi sebaliknya Paulus mengatakan bahwa hal itu adalah suatu kewajiban. Ketika orang orang Makedonia and Akhaya mengumpulkan dan memberikan persembahan, sebenarnya apakah hal itu adalah kerelaan atau keharusan? Ini menjadi rahasia kita melayani Tuhan, it has to be both duty and delight.

Kita harus mempunyai hati yang menyukai apa yang seharusnya kita lakukan. Ini adalah rahasia hidup Kristen. Sebagai contoh, anak-anak harus taat kepada orang tua, tetapi mereka sering merasa terpaksa melakukan ketaatan. Ketaatan itu bukan hanya melakukan dalam tindakan tetapi harus keluar dari hati. Kasih itu melampaui tindakan, bukan hanya melakukan duty, tetapi harus keluar dari hati yang mengerti. Mungkin pertama-tama tindakan itu didorong sebagai duty, tetapi kita harus mengerti nya dengan hati yang senang. 

Jemaat Makedonia dan Akhaya senang memberikan bantuan kepada jemaat di Yerusalem yang miskin, tetapi Paulus menegaskan sebenarnya itu adalah kewajiban mereka. Kita wajib menolong orang yang membutuhkan, tetapi kita tidak bisa melakukannya karena ditodong oleh kewajiban. Demikian juga dengan mentaati dan melayani Tuhan, Saudara harus memberikan persembahan sebagai suatu kewajiban, karena kita sudah menerima rahmat Allah yang besar. Ketika kita menyadari berkat Allah, kita berhutang, dan memiliki kewajiban mempersembahkan uang dan seluruh hidup kita. Tetapi kita tidak boleh hanya melakukan tindakan dari luar, tetapi harus mengerti dari hati kita yang terdalam, harus keluar dari kesukaan dari hati kita yang terdalam. Memang ada waktu-waktu di mana hal ini sulit dilakukan, tetapi kita harus berjuang, biarlah Tuhan memberikan pengertian di dalam persekutuan kita di dalam doa.

Tuhan baru berkenan dengan persembahan yang demikian, Tuhan muak dengan perbuatan baik yang kita lakukan jika tidak disertai dengan hati yang mengerti sungguh-sungguh. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya