Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Menjadi Anggota Keluarga Allah Melalui Adopsi

Ibadah

Menjadi Anggota Keluarga Allah Melalui Adopsi

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 10 Mei 2015

Bacaan Alkitab: Galatia 4:1-7, Efesus 2:14-19

Kali ini kita akan merenungkan “Menjadi Anggota Keluarga Allah Melalui Adopsi”. Mungkin pada waktu Alkitab diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kata “adopsi” belum ada atau belum jelas dalam bahasa Indonesia sehingga kata tersebut diterjemahkan sebagai “menjadi anak”. Sehingga ketika Alkitab berbicara kita “untuk menjadi anak”  Allah, maka arti sesungguhnya ialah kita diadopsi sebagai anak. 

Keluarga Allah ialah metafora yang penting yang dipakai Rasul Paulus untuk menggambarkan Gereja Allah (keluarga Allah). Gereja Allah yang digambarkan Paulus disini bukanlah fisik gedung namun lebih ditekankan kepada keluarga Allah (the family of God) seperti yang tertulis dalam Efesus 2: 19 "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah." Kita menjadi anggota keluarga Allah melalui adopsi. Kita merupakan salah satu anggota dari keluarga besar Allah, dimana Allah yang menjadi Bapa kita di surga dan kita sebagai anak-anak-Nya.

 Sebagai anak adopsi Tuhan yang dipersatukan dalam satu keluarga Allah, maka:

Pertama, hubungan yang indah juga tercipta di dalam keluarga Allah antara anak-anak-Nya, dimana hubungan satu dengan yang lain seperti hubungan true brothers and sisters.  

Di dalam Tuhan, semua perseteruan/ permusuhan sudah dihancurkan dan diperdamaikan di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib.Jika kita pikirkan secara mendalam, maka hal itu merupakan hal yang menakjubkan, dimana kita pribadi lepas pribadi dipanggil dan ditebus dosanya oleh Kristus, diadopsi menjadi anak dan disatukan dalam satu tubuh menjadi satu keluarga Allah, menjadi true brothers and sisters di dalam Tuhan. Seperti hidup Paulus yang pada awalnya juga merupakan seorang yang kejam yang pernah memenjarakan, menyiksa bahkan pernah membunuh orang Kristen, namun ketika Tuhan memanggil dan mengadopsi dia, Tuhan menebus dia maka hidupnya dilahirkan baru dan berubah menjadi anak (pengikut) Allah. 

Di dalam dunia yang kacau balau ini, kita sangat bersyukur bila kita boleh dipanggil oleh Tuhan, ditebus dosanya, diadopsi menjadi anak Allah serta diberi damai sejahtera di dalam Kristus sehingga kita boleh menjadi satu keluarga. Satu keluarga yang ditebus dengan darah yang sama yaitu darah Kristus, dilahirkan baru dengan roh yang sama serta memiliki Bapa yang sama yang bertahta di surga.

Efesus 1: 5 mengatakan “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula (predestination) oleh Yesus Kristus untuk menjadi (adopsi) anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya”.  Jadi jika ada orang yang berlatar belakang tidak baik dulunya, ketika dia sadar dan bertobat, dipanggil Tuhan, dilahirkan baru dan diadopsi menjadi anak maka sebagai satu keluarga Allah, kita harus menerimanya sebagai saudara seiman kita.  Dengan iman kita percaya bahwa jika setiap pribadi bisa dipanggil Tuhan, lahir baru sampai diadopsi  menjadi anak Allah, hal itu juga telah ditentukan dari semula (predestination) dalam kasih-Nya, dalam kerelaan-Nya, dalam kedaulatan-Nya yang kadangkala tidak bisa dimengerti oleh kita. Setiap pribadi yang telah dipanggil Tuhan, dilahirkan baru, diadopsi menjadi anak Allah, lalu  dipersatukan dalam satu keluarga Allah merupakan satu keluarga Allah yang tidak terbatas di dalam satu tempat (kota/ Negara) saja namun  di segala tempat, tidak terbatas dalam satu zaman (abad) saja namun di segala zaman (abad).

Kedua,  ada yang tertulis dalam Galatia 4: 6 yang mengatakan “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!".  Pada mulanya, sebelum kita semua diadopsi menjadi anak,  kita semua berstatus hamba atau budak. Namun ketika kita dipilih atau dipanggil serta diperdamaikan dengan Allah Bapa dengan penebusan dosa kita oleh darah Kristus di kayu salib maka kita dilahirkan baru dengan status baru yaitu sebagai anak Allah. Dan sebagai anak Allah, di dalam nama roh kudus, kita boleh berseru “ya Abba, ya Bapa!”. Suatu seruan yang menandakan bahwa kita juga boleh memiliki relasi yang dekat dengan Allah, seperti kedekatan Yesus dengan Bapa di surga.

Ketiga, seperti yang terulis dalam Galatia 4:7 yang mengatakan “Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. Apa warisan Allah kepada kita? Sebagai anak Allah, kita akan menjadi  ahli-ahli waris dari seluruh perjanjian Allah: hidup kekal, tubuh baru, langit dan bumi yang baru, serta seluruh janji yang pernah diberikan oleh Allah. Tetapi lebih lagi, seperti yang dikatakan dalam Roma  8:17  “Now if we are children, then we are heirs--heirs of God and co-heirs with Christ, if indeed we share in his sufferings in order that we may also share in his glory”. Disini dikatakan kita bukan sekedar ahli waris tapi ahli waris Allah. Maksudnya ahli waris Allah disini ialah bukan sekedar menerima warisan berupa perjanjian Allah saja, namun menerima puncak dari segala warisan yaitu Allah itu sendiri. Dia membagikan dirinya sendiri untuk anak-anak-Nya misalnya anak-anak-Nya turut dimuliakan bersama-sama dengan Yesus. Kita boleh memiliki Allah, Kita boleh memandang-Nya muka dengan muka. Kita boleh bersekutu dengan Dia seakrab-akrabnya dan selama-lamanya.  Seperti kata Paulus dalam Filipi 1:21, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”.  Memang benar menurut Paulus, bahwa mati meninggalkan harta, meninggalkan orang yang dikasihi, meninggalkan segala sesuatu yang ada di dunia ini, namun melalui kematian itu, dia memperoleh keuntungan besar yaitu memperoleh Kristus.

Sebagai anak-anak adopsi yang memiliki Bapa di surga yang sama, kita bukan hanya mau menerima kasih, berkat dan anugerah dari Allah saja, namun kita juga harus menyalurkan apa yang telah kita terima dari Allah kepada sesama, sesama saudara kita  yang seiman dalam gereja. Kita harus saling mengasihi, saling membangun, saling mengajar dan mengoreksi, saling mendoakan, saling membantu, mendukung dan bekerjasama. Sebagai anak-anak dalam keluarga Allah, tjuan kita hanya satu, yaitu sama-sama memuliakan nama Bapa kita di surga. 

Ringkasan oleh Budi Walujo | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya