Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Sarana-Sarana Tuhan

Ibadah

Sarana-Sarana Tuhan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 3 Mei 2015

Bacaan Alkitab: Roma 15:17-21

Dari pembacaan Alkitab di atas, kita akan memikirkan ayat 18-19. Dalam ayat ini, Paulus menjelaskan tentang sarana/metode yang dipakai oleh Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya membawa orang-orang bukan Yahudi untuk mentaati Tuhan supaya menjadi persembahan yang kudus di hadapan Tuhan.

Ada 3 sarana/metode yang Tuhan pakai untuk bekerja melalui kita agar menggenapi rencana-Nya itu:

1.         Perkataan dan perbuatan

 Tuhan bekerja melalui Rasul Paulus dan juga hamba-hamba-Nya dengan memakai perkataan dan perbuatan. Banyak orang yang berpikir bahwa perbuatan lebih penting daripada perkataan karena perbuatan itu berbicara lebih keras daripada apa yang kita katakan, lebih baik tidak terlalu  banyak bicara tapi melakukan yang benar, yang berkenan pada Tuhan sehingga orang bisa menyaksikan semua perbuatan itu dan hal ini berbicara lebih banyak. Tetapi secara kontras kalau kita banyak berkata-kata tetapi hidup kita tidak berkenan, tidak mencerminkan kasih Tuhan, tidak menjadi contoh dan teladan yang baik maka sebenarnya akan percuma saja apa yang kita katakan. Hal ini ada benarnya, tapi menjadi bisa keliru kalau kita mengerti secara demikian.

Jika kita melihat di Alkitab, Paulus membawa bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, menjadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan melalui dua-duanya (perkataan dan perbuatan). Keduanya penting, tetapi yang mendapat penekanan, menjadi fokus dalam Alkitab adalah perkataan, bukan pada perbuatan. Hal ini dijelaskan oleh Paulus dalam ayat 19b, 20, 21. “Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus. Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: “Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya”.” 

Jadi Alkitab menekankan sebenarnya pertama-tama kepada pemberitaan Injil, perkataan Firman Tuhan. Alkitab menyatakan hal ini sesuai Roma 10:17 “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”. Iman muncul bukan dari perbuatan kita yang baik. Injil bukan disebut sebagai Good Deeds (perbuatan baik), tetapi Injil disebut Good News (berita/khabar baik); berita yang diberitakan. Hal ini karena perbuatan kita tidak bisa menceritakan kematian dan kebangkitan Kristus dengan segala akibatnya yang menyelamatkan kita.  Bagaimanapun baiknya hidup kita, sesuai dengan prinsip firman Tuhan tetapi jika kita tidak pernah mengatakan Injil Kristus kepada orang yang belum percaya, maka orang sebenarnya tidak mengerti, orang bisa menangkap macam-macam. Bahkan jika dibandingkan dengan orang yang beragama lain, mungkin hidupnya bisa lebih mengasihi dan menjadi teladan.

Hidup yang baik dan berkenan pada prinsip Firman Tuhan itu perlu sekali, tetapi biarlah kita juga pada kesempatan-kesempatan yang Tuhan berikan kita perlu mengatakan dan memberitakan akan Injil Kristus. 

Hidup orang-orang Kristen adalah hidup yang berbeda dengan dunia ini, hidupnya bertentangan dengan apa yang menjadi nilai-nilai yang diangkat oleh dunia ini. Sehingga ketika orang-orang melihat hidup orang Kristen yang berbeda ini, mereka tertarik, bertanya mengapa kita hidup seperti demikian.  

Yang menjadi masalah adalah ketika kita menjalani hidup sebagai orang Kristen, orang tidak melihat kita hidup berbeda dengan dunia ini. Biarlah perbuatan kita itu mengkonfirmasi akan perkataan kita.

2.         Kuasa tanda-tanda dan mujizat 

Alkitab menyatakan bahwa yang paling utama adalah perkataan, pemberitaan Firman.

Dalam Kisah Para Rasul 14:3 Rasul Paulus pergi kemana-mana memberitakan Injil Tuhan dan Tuhan mengkonfirmasi hal ini dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat.

Contoh lainnya adalah dalam Kisah Para Rasul 16:13-30. Dalam ayat 30, Paulus memberitakan Injil mengajak kepala penjara dan seluruh keluarganya percaya kepada Tuhan.

Meskipun tanda-tanda dan mujizat itu masih berlaku dan Tuhan masih dapat mengerjakan hal itu sampai hari ini, tetapi sesungguhnya tidak seperti pada zaman rasul, ketika Alkitab masih belum selesai ditulis. Dalam 2 Korintus 12:12 dan beberapa ayat lainnya, kita melihat bahwa tanda-tanda, mujizat dan kuasa-kuasa atau perbuatan-perbuatan ajaib itu adalah sesuatu yang melekat dan penting sekali pada zaman para rasul. Itu membuktikan bahwa rasul Paulus adalah seorang rasul; tanda yang khusus bagi seorang rasul.

Sekarang ini, kita tidak boleh memiliki pengharapan atau kuasa seperti para rasul. Menjadi bahaya sekali jika kita mengklaim bahwa kalau kita sungguh-sungguh beriman, maka kita pasti mengalami segala tanda dan mujizat.

Alkitab mengajar kepada kita bahwa Tuhan masih bekerja sampai sekarang dan Tuhan bisa mengerjakan hal-hal yang melampaui pikiran kita. Dia adalah Tuhan  yang begitu besar dan kita perlu mengerti, perlu mengenal dan bersekutu dengan Dia di dalam membaca Firman, berdoa kepada-Nya, maka kita akan melihat Tuhan bekerja, menyatakan kuasa-Nya yang tidak selalu sesuai dengan keinginan kita, tidak selalu apa yang kita minta kepada-Nya karena Dia adalah Allah yang berdaulat, jalan-Nya jauh lebih bijaksana dari kita.

3.         Kuasa Roh Kudus 

Di balik tanda dan mujizat adalah Roh Kudus yang bekerja. Ketika kita memberitakan Injil, melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan maka kita makin sadar bahwa kita perlu intervensi dari Allah, perlu anugerah Tuhan dan perlu Tuhan bekerja secara khusus untuk kita boleh melihat kuasa-Nya dan kuasa Roh Kudus yang bekerja dengan ajaib. Roh Kudus nyata kuasanya ketika orang-orang memberitakan Injil Tuhan dan kemudian Tuhan mengkonfirmasi akan seluruh pekerjaan-Nya dengan penyertaan-Nya, tanda-tanda, mujizat di dalam kehidupan kita. 

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya