Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > From Hope to Hope

Ibadah

From Hope to Hope

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 19 April 2015

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 15:7-13

Roma 15:7 “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah” menjadi perintah dan tujuan Rasul Paulus dalam bagian ini. Khususnya dalam konteks perbedaan-perbedaan yang ada: ada yang lemah dan yang kuat, ada Yahudi dan non-Yahudi, ada yang miskin, dan yang kaya, yang pintar ada yang kurang pintar, ada yang dari Indonesia dan dari luar Indonesia, dari Sunda dari Batak , dlsb. Janganlah perbedaan-perbedaan ini membuat perpecahan dan perkelahian, namun kita boleh menyambut satu dengan yang lain di dalam Tuhan.

Ada saudara-saudara kita yang lebih fluent dalam bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia, dan saya memperhatikan mereka lebih suka berkumpul bersama-sama dan berbicara dengan bahasa Inggris. Kita semua yang lebih biasa berbahasa Indonesia, harus welcome them, dan bersyukur akan keberadaan mereka. Harap kita jangan mengekslusifkan mereka, melainkan mengajak mereka. Sebaliknya mereka yang berbahasa Inggris, jangan hanya berkumpul sendiri tetapi welcome terhadap yang lain juga ,sehingga kita boleh mengalami persekutuan yang indah. Harap kita mempunyai hati yang luas, dan jangan menjadi klik-klik dan tidak bergaul dengan yang lain.

Dalam segala perbedaan yang ada welcome one another, sehingga kita memiliki kehidupan yang kaya, memiliki persahabatan yang sehat dan bertumbuh, maka kita dapat menjadi berkat bukan hanya dalam kelompok yang kecil tetapi juga bagi banyak orang.

Paulus menegaskan hendaklah kita menerima satu dengan yang lain, demi kemuliaan Allah. Bukan hanya demi orang itu sendiri, tetapi tujuan ultimate-nya selalu adalah for His Glory, to bring Praise to God. Kalau Tuhan dibuang dari segala persekutuan kita, maka persekutuan kita hanya menjadi persekutuan manusia yang bersifat humanis. Menurut Alkitab, kalau sifatnya adalah humanis, maka justru mendehumanisasi, menjadikan manusia sebagai manusia yang bukan sesungguhnya. Waktu kita welcome one another for His Glory maka sesungguhnya kita menjadikan manusia sungguh-sungguh manusia, kita sungguh-sungguh mengasihi orang itu. Sehingga kalau kita sungguh-sungguh mengasihi orang, maka kita akan memberikan yang terbaik bagi orang itu, yaitu membawa orang itu kepada Allah.

Kemudian Paulus mendorong kita untuk melakukan itu dengan memberikan motivasi yang sangat mendasar, mengapa kita harus welcome one another? Paulus memberi motivasi yaitu: sebab Kristus sendiri telah menerima kita untuk kemuliaan Allah. Kristus sudah welcome keseluruhan kita, dari segala bangsa. Cara Kristus menyambut kita untuk kemuliaan Allah dijabarkan dalam ayat Tuhan Yesus me-welcome orang-orang Yahudi “oleh karena kebenaran Allah ,Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita". Jadi di sini Yesus menjadi pelayan bagi orang-orang Yahudi. Dia juga mati bagi orang-orang Yahudi, Dia datang menggenapi janji yang Tuhan sudah nyatakan di dalam Perjanjian Lama, supaya Allah dimuliakan oleh janji Tuhan yang digenapi.

Roma 15:9 mengatakan “dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: "Sebab itu Aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu” Di sini kata “Bangsa-bangsa” the gentiles (non-Yahudi), adalah saudara dan saya, dimungkinkan untuk memuliakan Allah karena rahmat-Nya. Dia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawaNya bagi banyak orang, bagi orang-orang Yahudi dan juga bagi the gentiles. Melalui kematian-Nya Dia menerima bangsa-bangsa lain. Dia adalah gembala kita yang agung, baik bangsa Yahudi maupun juga bukan Yahudi.

Kali ini kita akan memfokuskan pada ayat Roma 15:9-13 khususnya tentang salah satu ekspresi memuliakan Allah karena rahmat-Nya yang besar. Paulus memfokuskan tentang bagaimana memuliakan Allah karena rahmat-Nya yang besar itu. Salah satu ekspresinya adalah dengan menaruh harapan hanya di dalam Tuhan 

Dengan menaruh pengharapan (hope) hanya di dalam Tuhan, maka sebenarnya Tuhan dimuliakan karena rahmat-Nya yang besar. Ketika kita tidak menaruh pengharapan kita di dalam hal-hal duniawi, di dalam uang, di dalam anak-anak kita, di dalam masa depan kita, maka sebenarnya Tuhan dimuliakan karena rahmat-Nya. Di dalam ayat-ayat ini, tujuan Paulus adalah supaya kita berlimpah-limpah di dalam pengharapan ini. 

Tujuan ini memang tidak mudah untuk secara langsung dilihat di dalam ayat-ayat ini.

  • Kita melihat dari Roma 15:4 "For everything that was written in the past was written to teach us, so that through the endurance taught in the Scriptures and the encouragement they provide we might have hope." Ayat 4 mini engatakan bahwa semua yang sudah ditulis sebelumnya di dalam Perjanjian Lam , adalah supaya kita boleh memiliki pengharapan, sedangkan di ayat 9-12, Paulus mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama. Keempat ayat perjanjian lama yang Paulus kutip mewakili tiga bagian besar di dalam perjanjian lama yaitu: Torah, Nevim (Kitab Nabi-Nabi), dan Ketuvim (Writings – mazmur).
  • Secara eksplisit, dalam ayat Roma 15:12, Paulus mengutip kitab Yesaya, “Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan”. Taruk dari pangkal Isai merujuk kepada Yesus dan di sini Paulus secara eksplisit memberikan tujuan supaya segala bangsa-bangsa untuk menaruh harapan di dalam Dia.
  • Ayat Roma 15:13 dimulai dan diakhiri dengan pernyataan eksplisit tentang pengharapan, “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.”

Dalam kehidupan kita, kita menyadari betapa kita memerlukan pengharapan di tengah-tengah dunia yang penuh dengan kesulitan, penuh dengan tantangan, penderitaan, kegelisahan, ketidakpastian. Paulus mengatakan pengharapan ini bukan hanya kita dipenuhi dengan pengharapan, tetapi juga mendapatkan pengharapan dengan berlimpah-limpah, overflowed with hope, by the power of the Holy Spirit. Kita memerlukan pengharapan untuk membuang segala discouragement. Di dalam kesulitan dan tantangan, kita bisa discourage, patah semangat, gelisah, namun jika kita overflowed dengan pengharapan dan itu memenuhi hidup kita, maka ketakutan, kepahitan, kehilangan arah, kegelisahan dibuang dari kehidupan kita.  Ketika kita penuh dengan pengharapan, kita juga akan menjadi berjuang dengan semangat, mengerti karena ada pengharapan yang pasti. Kalau tidak ada pengharapan maka orang menjadi despair di dalam kehidupannya. Tuhan ingin kita menerima, mengalami pengharapan, dan ketika Firman Tuhan diberitakan, Roh Kudus bekerja di dalam hati kita, memenuhi hati kita dengan pengharapan yang sejati di dalam Dia.

Pada apa atau kepada siapa kita boleh berharap? Apa yang boleh kita harapkan menurut Firman Tuhan? Di dalam hidup kita tentu ada pengharapan yang kita bisa salah berharap, berharap kepada pribadi yang salah, berharap untuk hal-hal yang salah. Berharap kepada ekonomi supaya lebih baik, kita akan bingung sekali, ekonomi turun-naik. Berharap menjadi sukses, bolehkah berharap menjadi sukses. Kalau orang berpikir sukses itu identik kaya, kita bisa menjadi kecewa dan menemui kesulitan besar di dalam hidup kita. Bila kita kemudian gagal dan tidak kaya, kita akan kehilangan pengharapan. Bolehkah kita berharap untuk hal-hal duniawi, saya rasa itu tidak salah untuk berharap secara demikian, kita bisa datang kepada Allah, berharap dan meminta hal-hal yang ada di dunia ini. Doa Bapa kami juga mengajarkan berikan makanan pada hari ini yang secukupnya, Tuhan mengajak kita untuk berharap. Tetapi sekaligus dengan kesadaran bahwa kehendak Tuhan yang jadi.

Dia yang paling mengetahui yang paling baik, Dia yang paling bijaksana, Dia yang memiliki isi hati yang terbaik yang kadang-kadang kita tidak mengerti. Tuhan Yesus sendiri berdoa “Kalau boleh cawan ini disingkirkan daripada-Ku”, tetapi Kristus pun diikuti dengan kesadaran, untuk submit kepada Allah Bapa di Surga “Tetapi bukan kehendak-Ku melainkan kehendak-Mu yang jadi”. Berharap harus diseimbangkan, berharap tetapi harus disertai dengan kesadaran bahwa Tuhan berdaulat, berkuasa dan mengetahui yang terbaik bagi hidup kita. Karena itu hanya ada satu pribadi kepada siapa kita boleh menaruh pengharapan yaitu kepada Kristus. Kita boleh menaruh seluruh pengharapan kita kepada Kristus. Ayat Roma 15:12 mengatakan The Root of Jesse yang mengacu kepada Yesus. Jesse atau Isai (ayah daripada Daud), Yesus disebut anak Daud. Kepada-Nya lah “in Him”, kita berharap kepada suatu pribadi, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus.

Yeremia 29:11 mengatakan “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Dia adalah yang memiliki rancangan terbaik bagi anak-anak-Nya. Kita boleh berharap total kepada Dia.

Roma 5:5 mengatakan “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 8:28 mengatakan “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Kita boleh berharap dengan menyerahkan hidup kita secara total kepada Dia. Karena kita tahu Dia memiliki yang terbaik bagi kita, dan Dia bekerja di dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita. Itulah janji-Nya, itulah yang Dia katakan, itulah yang akan Dia kerjakan di dalam hidup kita. 

Karena itu kita boleh berharap dan pengharapan kita tidak akan mengecewakan. Dia-lah jangkar kita yang kokoh di dalam kehidupan kita yang tidak akan mudah digoyahkan, ketika angin menggoncang perahu, ombak yang keras menghantam perahu. Dia adalah jangkar yang kokoh yang menolong kita dari kehancuran.

Jangan menaruh pengharapan kepada kekuatan diri sendiri, kepada kepandaian kita, kepada kesehatan kita, kepada uang kita yang bisa hancur di dalam sekejap mata.Biarlah kita boleh berkata kepada Tuhan di dalam hati yang paling dalam, Tuhan engkaulah pengharapanku, bukan hanya keselamatan dan hidup yang kekal, tetapi Engkau Tuhan, adalah satu-satunya pengharapanku untuk pernikahanku, untuk anak-anakku ; juga untuk masa depan kita, untuk hidup kita … maka dengan lega kita boleh berharap kepada Tuhan. Engkau adalah satu-satunya pengharapan di dalam hidupku, di dalam hatiku.

Pengharapan akan apa yang boleh kita harapkan kepada Tuhan?

Ada tiga pengharapan yang secara spesifik Alkitab ajarkan kepada kita tentang apa yang boleh kita harapkan.

Yang pertama: pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Roma 5:2 : “Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” Kita melihat bagaimana Musa berbicara dengan Tuhan, dalam Keluaran 33:18 “Show me Your Glory, Perlihatkanlah kiranya keMuliaanMu kepadaku”, maka Tuhan berkata Musa dalam Keluaran 33:20 “Engkau tidak akan tahan memandang wajahKu, sebab tidak ada orang yang memandang AKu dapat hidup. Dalam Keluaran 33:22 --- ‘apabila kemuliaanKu lewat,maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku,sampai Aku berjalan lewat’ .

Tuhan yang begitu besar, Musa-pun tidak boleh melihat-Nya, tetapi Alkitab menyatakan kepada kita, dalam Perjanjian Baru, sekarang anak-anak Tuhan yang di dalam Kristus, kita boleh memandang kemuliaan-Nya tanpa terselubung; karena di dalam Kristus dosa kita sudah dibungkus, darah-Nya menutupi dosa kita, seolah-olah ditudungi oleh tangan Allah di dalam Kristus; sehingga kita boleh memandang kemuliaan Tuhan.

Di Korintus menyatakan lebih lanjut, waktu kita mengenal Dia, kita pun boleh merefleksikan kemuliaan Allah. Ketika kita makin mengenal Dia, kita makin diubahkan dari kemuliaan yang satu kepada kemuliaan yang lebih besar, ever increasing glory. Bahkan hal inipun sesuatu yang hanya samar-samar, Roma mengatakan nanti kita akan berbagian secara sempurna di dalam kemuliaan Allah, become the part-takers in the glory of God. Kita harus melihat di dalam kehidupan ini bagaimana kita melihat hamba-hamba Tuhan, para misionaris yang memancarkan keindahan Tuhan di dalam kehidupan mereka.

Saya teringat Jim Elliot, yang dengan teman-temannya memberitakan Injil ke suku terasing di Ekuador, mereka hampir berhasil, tetapi kemudian mereka diserang dan dibunuh. Lima orang pemuda, beberapa baru menikah, yang mencintai Tuhan rela menyerahkan nyawanya. Berita ini membuat kegemparan di Amerika. Waktu diperiksa, mereka ternyata  membawa senjata, tetapi mereka tidak memakai senjata itu, bukan karena setuju pacifism tetapi karena mereka tahu mereka memberitakan Injil dan mereka siap mati demi berita Injil. Elisabeth Elliot, istri Jim Elliot mengatakan, orang-orang mengatakan bahwa hari itu adalah tragedy yang besar, 4 istri menjadi janda, 9 anak menjadi jatim, dunia mengatakan tragedy tetapi mereka tidak tahu “credo” dari Jim Elliot : He is no fool to lose what he can not keep, but to gain what he can not lose. --- Dia bukanlah orang bodoh yang kehilangan apa yang tidak bisa dia pegang, yaitu jiwanya, waktunya; satu detikpun dia tidak bisa maju, ketika Tuhan sudah mengatakan sudah waktunya sekarang ----. Maka siapapun engkau, ketika Tuhan berkata berhenti, maka tidak ada satu detikpun yang engkau bisa bayar. To gain what he can not lose, mendapat hidup yang kekal, mendapatkan Kristus yang tidak bisa hilang.

Membaca buku-buku, kesaksian-kesaksian seperti demikian, kita melihat kemuliaan Tuhan, keindahan hidup yang begitu besar. Tetapi Alkitab pun  mengatakan itupun masih samar-samar, nanti kita semua yang di dalam Kristus akan berbagian secara sempurna di dalam kemuliaan Tuhan. Harapan itu boleh mendorong kita terus untuk setia melakukan kehendak Tuhan, karena pengharapan ini pasti. Saya melihat keindahan dari pelayanan yang kita kerjakan di dalam Gereja kita. Tetapi itupun baru samar-samar, nanti kita akan berbagian dalam kemuliaan Tuhan yang sempurna.

 Yang kedua: pengharapan kedua yang kita bisa pegang adalah pengharapan akan langit dan bumi yang baru. Roma 8:20-21 mengatakan “Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Bukan cuma kita, seluruh mahluk sudah menerima kutukan dosa, tapi ada pengharapan akan langit dan bumi yang baru. Langit dan bumi yang baru yang dibebaskan dari segala akibat dosa yang kita alami sekarang ini.

Yesaya 11:6 menggambarkan langit dan bumi yang baru "Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.” Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya." Itulah langit dan bumi yang baru yang akan kita terima. Langit dan bumi yang baru adalah kelanjutan dari segala hal yang baik yang sudah kita nikmati sekarang, udara yang baik, pemandangan yang begitu indah, berkali-kali lipat, beribu-ribu kali lipat dalam segala keindahannya.

Yang ketiga: pengharapan akan tubuh yang baru yang tidak akan mati lagi. Ketika kita selesai di dunia ini maka Tuhan akan memberikan tubuh yang baru, (Roma 8) The redemption of our bodies. Waktu kita meninggal tubuh kita kembali ke tanah, tetapi waktu kita dibangkitkan kita akan memiliki tubuh yang sempurna, yang tidak bisa sakit, dan tubuh itu dipersatukan dengan roh kita. Inilah pengharapan dari anak-anak Tuhan.

Paulus menulis supaya kita bisa berlimpah-limpah di dalam pengharapan di dalam Kristus. Pengharapan yang pasti bahwa kita akan berbagian di dalam kemuliaan Allah, di dalam langit dan bumi yang baru, di dalam tubuh yang baru.

Bagaimana pengharapan itu boleh hadir dan terjadi di dalam kehidupan kita? Kita bisa melihat secara khusus ayat Roma 15:13. Banyak kata-kata yang sangat penting dalam ayat ini. "Semoga Allah sumber pengharapan" atau boleh dimengerti Allah pengharapan "The God of Hope"; Paulus tidak mengatakan the God of Love atau the God of Joy; Paulus sengaja mengatakan Allah sumber pengharapan itu memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, ketika engkau beriman kepada Dia, supaya oleh kekuatan Roh Kudus, kita boleh berlimpah-limpah di dalam pengharapan.

Kalau saya boleh simpulkan secara singkat bagian ini, maka kita boleh memikirkan Allah yang sumber pengharapan itu, the God of Hope, memberikan kepada kita Firman-Nya (ayat 9-12), dan oleh pekerjaan Roh Kudus, ketika Firman-Nya sampai kepada kita, Roh Kudus bekerja di dalam hati kita, dan kita boleh percaya, kita boleh beriman kepada apa yang Tuhan sudah katakan.

Ketika kita memegang teguh Firman itu, maka akan ada pengharapan di dalam hidup kita; ketika kita sadar bahwa tidak ada apapun yang bisa memisahkan kita dari kasih-Nya; bahwa tidak ada lagi penghukuman bagi siapa yang di dalam Kristus; bahwa Dia bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia rancangan-Nya adalah damai sejahtera bagi kita, maka muncul pengharapan di dalam hati kita.

Tuhan sumber pengharapan itu memberikan Firman, dan jika kita beriman pada Firman itu, pengharapan itu muncul dalam hati kita. Pengharapan itu akan menghasilkan buah suka cita dan damai sejahtera. Orang yang berharap penuh, akan memiliki suka cita dan damai sejahtera.

Segala macam janji Tuhan yang begitu indah, kita boleh pegang dan itu pasti akan mendatangkan sukacita dan damai sejahtera. Dengan sukacita dan damai sejahtera tersebut menjadi bukti bahwa pengharapan itu adalah pengharapan yang nyata, yang otentik, yang benar, yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Sukacita dan damai sejahtera itu adalah buah Roh Kudus, maka kita sadar pengharapan kita benar, otentik di dalam kebenaran. Kesadaran ini mendorong kita semakin berharap kepada Tuhan di dalam apapun yang boleh kita hadapi di dunia ini, sehingga pengharapan kita menjadi berlimpah-limpah dan tidak akan berhenti. Inilah yang dinyatakan dalam ayat 13 “Supaya oleh kekuatan Roh-Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan”.

Kalau dalam bagian awal Roma, ada “From faith to faith, kemudian from glory to glory, kali ini ada from hope to hope. Pengharapan yang berlimpah-limpah dan tidak akan habis.

Mari kita datang kepada Tuhan, sungguh-sungguh mengerti Firman, beriman kepada-Nya, sehingga pengharapan itu muncul, dan kita akan mengalami suka cita dan da mai sejahtera, sampai pengharapan itu berlimpah-limpah, tidak akan habis dan memberi kekuatan dalam menghadapi segala kesulitan di dalam hidup kita. Kita terus boleh memandang kepada Dia. Dia yang memimpin dan memberkati kita.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya