Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > The Great Commission

Ibadah

The Great Commission

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 12 April 2015

Bacaan Alkitab: Matius 28:1-10, Matius 28:16-20

Melihat kebangkitan Tuhan Yesus dan perubahan yang terjadi dari murid-murid, dari yang begitu ketakutan berkumpul dengan pintu yang terkunci, perempuan-perempuan yang sedih, bingung dan penuh ketakutan, menjadi mereka yang begitu berani. Petrus berubah dari seorang yang  begitu ketakutan ketika ditanya seorang hamba perempuan kecil, dia menyangkali Yesus sampai tiga kali, menjadi seorang yang berubah 180 derajat seperti diceritakan dalam kisah para rasul. Petrus menjadi seorang yang begitu berani memberitakan injil, menghadapi siapapun, entah itu pembesar, tentara, dlsb. Dia mengatakan “Katakan kepada kami, apakah kami harus lebih takut kepada manusia, atau kepada Allah” (lihat Kis 4:19). Tidak ada siapapun yang dapat menghentikan mereka untuk memberitakan Injil Yesus Kristus. Ada sesuatu yang terjadi didalam diri dan jiwa para murid , dari yang takut sekali menjadi begitu berani. Satu per satu murid-murid itu mati demi Injil yang mereka beritakan.

Inilah salah satu bukti yang tidak bisa disangkal bahwa mereka bertemu dengan Kristus yang bangkit.

Kematian Kristus membuat mereka ketakutan, mengunci pintu, mengurung diri di dalamnya, merasa gagal, kalah dan tidak berani. Tetapi Kebangkitan Yesus membuat mereka begitu berani memberitakan Injil Kristus. Kalau mereka tidak bertemu dengan Yesus yang bangkit, tidak mungkin perubahan yang dahsyat itu terjadi.

Dalam Matius 28:11-15 diceritakan dusta makamah agama, yang memberitakan bahwa mayat Yesus dicuri oleh para murid. Kalau memang benar murid-murid mencuri mayat Yesus, dan tahu bahwa Yesus itu tidak bangkit, maka bagaimana mungkin mereka memberitakan bahwa Yesus bangkit bahkan rela mati untuk sesuatu yang mereka tahu adalah kebohongan, Tidak ada orang yang berani mati untuk sesuatu yang mereka tahu adalah kebohongan.

Bagaimana dengan ISIS dan suicide bomber yang berani mati demi apa yang mereka percaya yang menurut kita adalah sesuatu kebohongan? Perbedaannya adalah ISIS dan suicide bomber berani mati karena mereka betul-betul percaya bahwa mereka sedang membela kebenaran; walaupun menurut kita adalah suatu kebohongan. Mereka tidak tahu bahwa itu adalah kebohongan. Tetapi tidak ada orang yang rela mati demi sesuatu yang dia tahu sendiri adalah kebohongan.

Tidak mungkin murid-murid berani mati kalau mereka tahu bahwa kebangkitan Yesus adalah suatu kebohongan. Satu-satunya jawaban adalah bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit dan murid-murid menjadi saksi mata akan hal itu.

Kali ini kita akan merenungkan bagian akhir setelah Yesus bangkit, di mana Yesus menyampaikan suatu berita yang sangat terkenal dengan “the Great Commission” (Mat 28:18-20). Suatu berita yang paling penting setelah Dia bangkit. Kalau the Great Commision “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku“ digabung dengan the Great Commandment (Mat 22:37-40) “Kasihilah Tuhan Allahmu”, dan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” dan kita taati keduanya, maka kita akan membangun suatu Gereja yang besar dan memperkenan Tuhan. Kita bukan hanya besar secara jumlah, tetapi menjadi orang-orang yang dibentuk, yang Tuhan pakai, menjadi berkat bagi banyak orang.

Saya ingat 10 tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang pemuda di acara retreat Gereja. Saya teringat dia banyak mengajukan pertanyaan yang polos, masih kuliah, dan ingin belajar. Kemudian dia mulai ikut sungguh-sungguh melayani, ikut persekutuan pemuda, melakukan pelayanan  satu demi satu. Lama kelamaan dia mulai menjadi ketua persekutuan pemuda, dan melayani di segala bidang. Dia merasa Tuhan memimpin dia untuk masuk ke sekolah teologi untuk menjadi hamba Tuhan. Saya meng-encourage dia untuk banyak belajar, dan mengatakan kepadanya bahwa sudah waktunya bagi dia untuk masuk ke sekolah teologi, dan ada juga hamba Tuhan yang mengkonfirmasi panggilannya. Dia kemudian meninggalkan karirnya yang sudah sangat bagus, kembali ke Indonesia, masuk ke sekolah teologi. Dia mengikuti pak Tong melayani ke banyak tempat. Kita ingin sekali Tuhan memakai hidup kita untuk hal-hal yang membentuk hidup kita, mengerti apa yang Tuhan kehendaki, supaya kita bertumbuh, makin melayani Dia, berjuang untuk kehendak-Nya, dan dibentuk seluruh hidup kita untuk makin mengenali isi hati Tuhan. Mengerti untuk apa kita ada di dunia ini, dan tidak menyia-nyiakan hidup kita; dipakai untuk memuliakan Tuhan di segala bidang sesuai panggilan kita masing-masing.

Kali ini kita ingin merenungkan panggilan Tuhan tersebut di dalam the Great Commission. Di dalam Mat 28:18-20 “Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku-perintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.””.

Kita melihat di sini ada empat hal yang boleh kita renungkan. Ke empat hal ini diikat dengan satu kata yang diulang empat kali: di dalam Alkitab bahasa Indonesia tidak ada kata yang diulang empat kali tersebut, tetapi ada di dalam bahasa Yunani. Kata tersebut adalah: “segala”: segala kuasa, segala bangsa, ajarlah segala sesuatu, dan segala waktu (senantiasa).

Di sini ada dua janji Tuhan: “diberikan segala kuasa” dan “Aku menyertai kamu senantiasa”, dan dua perintah “jadikanlah segala bangsa murid-Ku” dan “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu”.

Janji Tuhan selalu diikuti dengan perintah, sebaliknya tidak ada perintah yang tidak disertai dengan janji. Kita harus mengerti kedua aspek ini: janji dan perintah. “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi”.  Setelah mati dan bangkit, segala otoritas di surga dan di bumi dikembalikan kepada Yesus. Kadang-kadang kita take-for-granted akan penyertaan Tuhan. Seorang scientist yang bernama Charles Misner, dia mengatakan kekecewaan Albert Einstein akan organized religion, karena Einstein melihat apa yang dikotbahkan sebenarnya sedang menghujat Allah. Einstein telah melihat more majesty daripada yang dikotbahkan, dan menganggap kotbah-kotbah itu tidak mempunyai proper respect terhadap sang pencipta.

Kita akan kaget melihat betapa besarnya alam semesta ini, misalnya diameter galaksi adalah beberapa ratus tahun cahaya, sedangkan kecepatan cahaya itu 300ribu kilometer per detik. Galaksi Milky Way (Bima sakti) diameternya adalah 100ribu tahun cahaya, jadi memerlukan 100ribu tahun dengan kecepatan 300ribu kilometer per detik atau kira kira 900ribu triliun kilometer. Bintang yang kita lihat sebenarnya merupakan cahaya yang sudah berjalan ribuan tahun yang lalu, dan kita baru lihat sekarang. Di dalam satu galaksi Milky Way ada sekitar 300 miliar bintang, dan diperkirakan ada 1 juta galaksi yang baru diketahui.

Segala otoritas terhadap alam semesta yang begitu besar ini sudah diberikan kepada Yesus Kristus. Kalau kita tidak mengerti betapa besar keagungan Tuhan, seperti dalam gereja-gereja tertentu yang kehidupannya sangat casual, kita tidak menyadari betapa besarnya kemuliaan Tuhan Yesus, dan Tuhan Yesus jugalah yang menyertai kita. Biarlah kita mengerti keagungan Kristus dan juga menyadari bahwa Dia bahkan mengerti kita satu per satu.  

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”. Karena segala kuasa telah diberikan kepada-Nya, kita harus sadar siapa yang memberikan perintah ini, dan ingat akan janjinya bahwa Dia menyertai kita.

John Stott menyimpulkan dua bagian ini dengan tepat sekali: dasar dari seluruh misi Kristen adalah otoritas universal Kristus di sorga dan di bumi. Jika hanya di bumi, jika hanya satu di antara pemimpin-pemimpin agama, jikalau Kristus hanyalah satu di antara nabi-nabi, kita tidak mempunyai mandat untuk memberitakan Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat di dunia ini. Jika hanya di sorga tetapi belum mengalahkan kuasa-kuasa kegelapan, dosa yang menguasai seluruh dunia, kita tidak mungkin berhasil membawa manusia dari kegelapan kepada terang, dari kuasa iblis kepada Allah. Only because all authority on earth belong to Christ, therefore go to all nations, and only because authority in heaven is His, we have any hope of success. Inilah dua hal yang boleh kita pegang dan mengerti, Tuhan yang berdaulat dan berkuasa, memerintahkan kita anak-anak-Nya untuk pergi memberitakan Injil.

Perintah yang di dalam ayat 19-20, fokusnya satu, yaitu make disciple. Kata “pergilah”, “ajarlah”, “baptislah” bukanlah kata kerja utama. Jadikan semua bangsa murid-Ku – adalah tujuan utama. Di dalam “jadikan semua bangsa murid-Ku” ada tiga hal.

  • Yang pertama adalah go - pergilah beritakan Injil adalah langkah pertama. Bukan berarti kita meninggalkan tempat kita sekarang dan pergi ke tempat yang jauh,  tetapi go di manapun kita berada. Ketika kita ke pasar, ke sekolah, ketika berada di rumah, berolah raga, ke tempat kerja, ke mana saja, kalau ada kesempatan di manapun, maka beritakanlah Injil.
  • Langkah kedua adalah ketika orang boleh percaya pemberitaan Injil, baptislah mereka di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (Baptizing them in the name of the Father, and of the Son and of the Holy Spirit). In the name bukan in the names, ini merefleksikan bahasa aslinya di mana tiga pribadi yang berbeda, tetapi bukan tiga Allah, tetapi satu nama, satu esensi. Nama itu menunjukkan esensi, siapa dirinya pada hakekatnya yang paling dasar. Ini adalah salah satu ayat yang menunjukkan dengan jelas tentang Allah Tritunggal. Baptisan juga merupakan suatu tanda dipersatukan dengan Gereja Tuhan, menjadi satu tubuh Kristus dengan umat percaya yang lain. Penginjilan harus selalu berujung dengan mendirikan Gereja.
  • Langkah yang ketiga adalah “ajarkanlah mereka segala perintah Yesus, ajarkanlah mereka segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu”. Teach them to obey all things I have commanded. Ketika orang percaya dan dibaptis, peristiwa itu hanyalah sekali saja tetapi pengajaran harus terus diberikan berulang-ulang selama hidup mereka. Kita harus terus belajar untuk mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Bukan hanya belajar tetapi juga melakukan yang telah diperintahkan Kristus. Kita terus berjalan maju, melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan di tengah-tengah dunia ini, makin mengenal Dia mentaati Dia. Saya mengajak kita semua untuk bersama-sama berjuang, seumur hidup kita, melakukan apa yang Tuhan kehendaki, mengenal Dia, bersekutu dengan Dia, makin mengerti kemuliaan-Nya, makin memandang wajah-Nya mulia, sehingga kita mengerti seluruh kemuliaan-Nya. Kita akan mengerti bahwa segala isi dunia menjadi suram oleh sinar kemuliaan-Nya. Meskipun kadang-kadang sulit tetapi Tuhan ingin supaya kita mengerti segala sesuatu yang sudah Dia ajarkan. Tidak memilih yang enak-enak, yang mudah-mudah, yang untuk anak-anak kecil. Setiap tahun kita harus naik ke hal-hal yang lebih sulit, yang makin susah. Saya percaya kita semua ingin bertumbuh bersama-sama, berjuang bersama-sama melakukan kehendak Tuhan. 

Kita hidup di tengah negara yang begitu maju, yang begitu predictable. Seluruhnya predictable menjadi mengerikan, seperti tidak perlu Tuhan. Kalau begini pasti begitu, sepertinya tidak ada tantangan dan hidup menjadi sangat membosankan. Tetapi kalau kita mengerti apa yang Tuhan kehendaki, dunia ini yang begitu gelap dan memerlukan Kristus, maka kita akan melihat tantangan yang begitu besar. Orang-orang di negara ini begitu kacau, hari jumat malam, sabtu malam, di city menjadi tempat yang mengerikan. Orang memukul orang sehingga yang dipukul mati, free-sex yang kacau dlsb. Apa yang menjadi arti hidup mereka? Bagaimana mereka mengisi akan hidup ini? Hidup menjadi remeh dan tidak ada kehidupan yang membangun orang, tidak melakukan kehendak Tuhan. Saya mengajak saudara untuk terus berjuang.

Ketika kita mendapat gedung Gereja yang baru, itu bukan hanya untuk dinikmati. Ada blessing ada janji, tetapi akan selalu ada commandment; ada berkat Tuhan tetapi selalu ada perintah. Begitu banyak pemuda/i orang Indonesia, orang Asia, orang Australia, yang tidak mengenal Tuhan, yang hidupnya yang semakin hari semakin rusak. Keluarga-keluarga yang semakin berantakan, akan mempunyai anak yang semakin berantakan pula. Manusia selalu cenderung mengambil yang jelek, sehingga menghasilkan pribadi yang makin rusak. Ini menjadi hal yang mengerikan sekali. Kalau bukan Tuhan yang interfensi, maka kehidupan mereka akan selalu dalam lingkaran setan. Gereja ini akan terus berjuang mengajarkan segala sesuatu yang Tuhan perintahkan kepada kita. Meskipun kadang-kadang sulit diterima, kita harus mengajarkan segala yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita.

“Segala” yang terakhir ditutup dengan janji “ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman”. Ini adalah akhir dari kitab Matius. Seorang teolog mengatakan ini adalah dynamic conclusion, akhir yang bukan akhir, akhir yang seperti suatu permulaan. Inilah janji Tuhan yang indah bagi setiap murid-Nya, ketika mereka pergi memberitakan Injil, menyadari akan banyaknya kesulitan yang mereka akan hadapi. Murid-murid satu-demi satu dibunuh karena pengajaran yang mereka lakukan. Tetapi Tuhan Yesus memberikan penghiburan “Aku menyertai engkau”, Dia tidak berkata “akan menyertai”, tetapi saat itu juga, sekarang “Aku menyertai engkau”.

Kitab Matius dimulai dengan bayi yang lahir yang dinamai (Matius 1:23) Imanuel yang berarti “Allah menyertai kita”, kitab Matius diakhiri dengan “Aku menyertai engkau”. Dia sudah lahir, mati, dan bangkit dan Dia menyertai engkau sampai pada akhir jaman.  Matius 18:20 mengatakan di mana dua tiga orang berkumpul dalam nama-Ku Aku akan hadir di tengah-tengah mereka. Ketika mereka diutus menjadi saksi untuk make disciple, Tuhan Yesus mengatakan “Aku menyertai engkau”. Biarlah kita menjadi orang-orang yang taat kepada Tuhan, dan ketika kita taat kita berjuang dalam tantangan dan kesulitan yang kita hadapi. Kita akan makin mengerti penyertaan Tuhan, kuasa Tuhan yang menyertai kita. Ketika kita masuk ke dalam rencana-Nya, mengerjakan apa yang Tuhan kehendaki, “Aku menyertai engkau” di dalam segala tantangan yang kita hadapi.

J.C. Ryle mengatakan janji ini mempunyai penekanan pada kata “Aku”, Dia yang berkuasa atas segala langit-dan bumi menyertai engkau, what stronger consolation could believers desire that is He is with us daily to pardon and forgive, with us daily to sanctify and strengthen, He is with us daily to defend and to keep, He is with us daily to lead and guide, with us in sorrow and with us in joy, with us in sickness and with us in health, with us in live and with us in death, with us in time and with us in eternity. I’m with you always even to the end of the world, I will never leave you and never forsake you. Inilah janji Tuhan yang begitu indah.

Kita kadang-kadang tidak menyadari penyertaan Tuhan karena kita tidak mentaati apa yang Tuhan kehendaki. Penyertaan di sini khusus boleh dialami waktu membaca Firman, waktu berdoa, waktu bersekutu dengan Dia, waktu berjuang melakukan kehendak-Nya. Saya mengajak kita berjuang bersama-sama mentaati apa yang Tuhan perintahkan, dan kemudian menyadari Dia memiliki segala kuasa dan juga menyertai kita sampai kepada akhir jaman. Biarlah ini mendorong kita untuk mentaati Tuhan, terus bertumbuh akan pengenalan akan Dia, mengerjakan kehendak-Nya di dalam kehidupan kita.      

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya