Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > The Cross and The Crown (kisah Petrus dalam peristiwa Paskah)

Ibadah

The Cross and The Crown (kisah Petrus dalam peristiwa Paskah)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Sabtu, 4 April 2015

Download audio

Bacaan Alkitab: Yohanes 21: 15 - 19
Matius 26 30–35 , Matius 26:58, Matius 26:69-75

Rasul Petrus adalah seorang yang kontroversial dan sekaligus juga seorang pemimpin besar. Ia adalah pemimpin dari seluruh 12 murid, selalu berinisiatif dan menjadi juru bicara dari 12 murid ini. Misalnya ketika Tuhan Yesus bertanya kepada murid-muridNya, sebenarnya Dia bertanya kepada semua murid-muridNya, “Menurut kamu siapakah Aku ini?”. Maka Petrus lah yang menjadi juru bicara. Petrus kemudian berkata “You are the Christ, the Son of the Living God”.

Tuhan Yesus memuji Petrus ketika dia mewakili semuanya dan mengatakan bahwa “Engkaulah Kristus, Mesias, anak Allah yang hidup”. Tapi Tuhan Yesus juga menghardik Petrus ketika dia menarik Yesus setelah Dia menceritakan bahwa Dia akan ditangkap dan dibunuh.

 Hari ini kita akan merenungkan secara khusus dalam tema di atas (The Cross and The Crown) bagaimana peristiwa penyaliban Tuhan, peristiwa kematian Tuhan kita Yesus Kristus itu menggoncang hidup Petrus begitu dalam. Kita secara khusus mau melihat bagaimana ketika Tuhan Yesus ditangkap kemudian Petrus menyangkali Tuhan Yesus sampai 3 kali dan ini menjadi satu peristiwa yang sangat menyentuh hati kita waktu merenungkannya dan memberikan kesan yang sangat mendalam bagi sepanjang sejarah.

Kalau kita meneliti perjalanan hidup Petrus sebelum dia menyangkali Tuhan, paling tidak ada 2 peristiwa yang sebenarnya membuktikan Petrus sungguh-sungguh dalam hatinya percaya dan betul-betul ketika dia berkata bahwa dia tidak akan menyangkali Tuhan Yesus dan rela mati daripada harus menyangkali Yesus. Petrus sesungguhnya membuktikan itu sebelum dia akhirnya terpojok dan menyangkali Tuhan 3 kali.

Dua peristiwa itu adalah:

  1. Di taman Getsemani

Tuhan Yesus berdoa di taman Getsemani dan memperingatkan Petrus untuk bangun, berdoa, berjaga-jaga supaya jangan jatuh dalam pencobaan. Di situ Petrus mulai gagal, tidak berdoa, tidak sungguh-sungguh berjaga-jaga. Mulai dari hal yang paling kecil/remeh, Tuhan Yesus sudah memberi peringatan kepada Petrus.

Kemudian Petrus memutuskan telinga Malthus (salah seorang tentara imam besar) ketika Tuhan Yesus ditangkap. Maka sesungguhnya apa yang dikerjakan Petrus itu adalah dia sedang mempertaruhkan nyawanya. Yang mulai menggoncangkan Petrus adalah perkataan Yesus. Tuhan Yesus bukan senang, membela dia, tapi malah mengatakan “Sarungkan pedang mu, biarlah terjadi demikian, karena untuk itulah Aku datang menyerahkan nyawa. Tidak tahukah engkau bahwa Aku bisa berseru kepada Bapa di surga dan Dia akan mengirimkan 12 pasukan malaikat untuk menolong”.   Petrus bingung karena dia menyerahkan segalanya dan rela mati. Petrus masih berpikir secara salah, masih berpikir bahwa Yesus adalah Mesias yang datang dengan kekuatan militer, senjata, pedang. Tuhan Yesus mengatakan “Barangsiapa mau mengikut Aku, dia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut Aku”. Tuhan Yesus juga mengatakan “Barangsiapa yang terbesar di antara kamu, biarlah dia menjadi pelayan”. Begitu berbeda dengan apa yang dipikirkan orang dunia ini, termasuk Petrus pada saat itu. Perkataan Tuhan Yesus menggoncangkan, menegur Petrus ketika dia sedang membela dan menyerahkan seluruh nyawanya bagi Tuhannya. 

  1. Petrus ikut masuk sampai ke halaman depan ruang pengadilan yang sedang mengadili Tuhan Yesus. Di sini Petrus dan Yohanes tidak meninggalkan Tuhan. Mereka sedang mempertaruhkan nyawanya dan dalam keadaan bahaya jika ketahuan bahwa mereka adalah murid-murid dan pengikut Tuhan Yesus.  Petrus hatinya tetap mengasihi Tuhan, tetapi dia sangat tergoncang, sangat bingung. Karena itu dia ikut Tuhan Yesus, ingin tahu apa yang terjadi.

Dan ketika dia sedang mencoba mendengar, seorang hamba perempuan datang kepada dia dan berkata kepada Petrus (Matius 26:69) dengan perkataan yang sederhana, bukan menuduh atau mengancam (innocent statement): “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu”. Tapi Petrus mengatakan “Aku tidak tahu apa yang kamu maksud”.  Hati Petrus mulai menyangkal. Markus mencatat bahwa saat itu ayam mulai berkokok sebagai suatu tanda atau peringatan kepada Petrus untuk berhenti/stop. Petrus mulai tidak nyaman, gelisah dengan perkataan itu. Mungkin dia mendengar suara ayam berkokok, namun dia tidak pedulikan.

Petrus kemudian pergi ke pintu gerbang. Seorang hamba yang lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ. Orang ini sebenarnya tidak berkata kepada Petrus secara langsung tapi sedang berbicara. Sepertinya Petrus mendengar apa yang mereka bicarakan dan mulai merasa takut sendiri. Maka Petrus langsung berbicara dengan lebih tegas dan keras  dan ia menyangkalnya dengan bersumpah (ayat 72): “Aku tidak kenal orang itu”.  Semakin jauh Petrus menyangkali Tuhannya.

Kira-kira 1 jam kemudian, orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata “Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu”. Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah “Aku tidak mengenal orang itu”. Injil Markus mencatat bahwa saat itulah ayam berkokok untuk kedua kalinya. 

Alkitab menyatakan bahwa Petrus pergi menangis dengan sedihnya. Petrus melihat dirinya sebagai orang yang gagal, hancur, pembohong, penghianat, orang yang akan menerima kutukan Tuhan karena sudah menyangkali gurunya demi menyelamatkan diri sendiri. 

Tuhan Yesus yang bangkit, mulai memulihkan Petrus yang bingung, hancur dengan pertanyaan “Apakah engkau mengasihi Aku?” sebanyak 3 kali dengan inti yang sama namun penekanan yang agak berbeda: 

  1. Waktu Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus “Simon, anak Yohanes apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini? ” Tuhan mau memfokuskan kepada hidup Petrus, apa yang menjadi fokus hidup Petrus, apa yang menjadi paling berharga, penting, prioritas utama dalam hidup Petrus.
  2. Tuhan Yesus bertanya untuk kedua kalinya dengan penekanan yang sedikit berbeda, tidak ada perbandingan “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Tuhan Yesus menanyakan apakah Petrus mengasihiNya apa adanya, bukan dengan pemikiran, keinginan, impiannya sendiri;  apakah Petrus mengasihi Tuhan yang berdaulat, yang berkuasa atas segala sesuatu. Tuhan membongkar bukan hanya masalah prioritas, tapi masalah konsep yang paling dalam: mengasihi Tuhan secara benar, bukan dengan keinginannya atau apa yang menjadi bayang-bayangnya sendiri tetapi mengasihi Tuhan sebagaimana Tuhan adanya, apa yang Dia nyatakan kepada kita khususnya dalam Alkitab.
  3. Untuk ketiga kalinya, Tuhan Yesus bertanya “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Tuhan Yesus harus 3 kali bertanya kepada Petrus untuk membandingkan 3 kali penyangkalan Petrus. Tuhan Yesus membongkar hati Petrus sedalam-dalamnya.  Dan Petrus menjawab “Lord, you know all things”.  Petrus mau mengatakan Tuhan tahu seluruh hidupnya, apa yang dia lakukan, betapa dia sudah merasa bersalah kepada Tuhan. Tuhan memulihkan Petrus dengan membongkar sedalam-dalamnya dan melihat hatinya yang paling dalam. Kemudian Petrus diberikan tugas yang sangat penting untuk mengembalakan umat gembalaan Tuhan.

Hari ini kita merenungkan hidup Petrus dan melihat bagaimana Petrus dari kejatuhan yang begitu dalam dan Tuhan memulihkannya kembali. Peristiwa ini menjadi turning point dari hidup Petrus. Kebangkitan Yesus menjadi turning point dari seluruh umat manusia, tetapi bagi Petrus, Tujhan membalikkan semua yang sudah terjadi dan menjadi nyata dalam hidup Petrus. Saya tidak tahu keadaan saudara, tetapi kalau kisah Petrus ini sungguh menggerakkan saudara dan saudara bisa melihat diri saudara dalam kisah itu, maka sessungguhnya Tuhan menginginkan saudara untuk kembali kepada-Nya. Mungkin saudara sudah menyakiti hati Tuhan dan meninggalkan Dia, berdosa dan merasa sangat bersalah seperti Petrus. Tetapi fakta bahwa hari ini saudara datang mendengarkan Firman, ini berarti, Tuhan mengasihi saudara, Tuhan ingin engkau kembali seperti Tuhan sudah memulihkan Petrus. Kalau engkau sudah lama meninggalkan Tuhan dan hidup dalam ketidaktaatan, kembalilah seperti Petrus, dan Tuhan tahu segala sesuatu yang ada di dalam hati kita. Kalau di dalam hati kita ada keinginan untuk mengasihi Tuhan, maka Tuhan sebenarnya sudah terlebih dahulu mengasihi saudara. Biarlah kita bisa meresponi dan kita boleh dikuatkan dan diberkati dari pengalaman Petrus.      

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya