Ibadah

Paradoks Salib

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Jumat, 3 April 2015

Download audio

Bacaan Alkitab: 1 Kor 1:17 - 2:5

Saudara sekalian pada hari Jumat Agung, banyak yang berpuasa, termasuk anak saya. Di tengah hari, ada yang mengeluh lapar, ada yang merasa lemah, itu normal. Kita bersyukur selalu dalam kesempatan kebaktian seperti ini, dapat menjadi kebaktian yang sangat indah, dengan berpuasa, dan merenungkan firman. Ada baiknya juga kalau kita mendengarkan oratorio-oratorio Paskah, seperti dari Matthew Passion, dan John Passion, untuk membantu merenungkan apa yang Tuhan Yesus sudah kerjakan bagi kita.

Pada sore hari ini, saya akan mengupas sedikit tentang suatu lukisan dari Holman Hunt, yang berjudul the Shadow of Death. Dia menghabiskan waktu 3 tahun dari 1870-1873 di Yerusalem. Dia menggambarkan di suatu ruangan di tempat tukang kayu, di situ ada Yesus baru selesai menggergaji kayu, baru setengah selesai, kemudian melepas lelah, matanya melihat ke atas, dan tangannya direntangkan (stretching). Di belakang dari Yesus ada tempat pisau/ paku tempat peralatan tukang kayu. Waktu Yesus merentangkan tangannya, dan sinar menyinarinya, ada bayangan salib, seolah-olah tangannya terpaku di kayu salib. Di sampingnya ada Maria yang tertegun melihat pemandangan itu. Itulah kupasan sedikit tentang lukisan Holman Hunt. 

Salib memang fokus dari hidup Yesus, menjadi puncak tujuan-Nya (Yoh 17:4) “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya” yaitu untuk mati di kayu Salib. Kristus yang disalibkan juga berita utama dari para Rasul. 1Kor 2:2 “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (NIV) “For I resolved to know nothing while I was with you except Jesus Christ and Him crucified.” Dalam 1 Kor 1:22-23 Paulus mengatakan "Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan," Ayat 1 Kor1:17 juga mengatakan "Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.". Salib menjadi fokus berita utama dari para Rasul.

Karena itu Jumat Agung adalah hari yang terpenting. Reform theology juga sering disebut sebagai theology of the Cross. Hari ini lebih dari 2000 tahun yang lalu Anak Allah yang tunggal mati di atas kayu salib.

Pada jaman itu salib menyatakan kekalahan, kebodohan, kedunguan, tanda kehinaan, kelemahan. Untuk orang-orang Yahudi salib menjadi batu sandungan, untuk bangsa-bangsa lain, bangsa Roma khususnya, salib adalah suatu kebodohohan. Ada suatu grafiti yang ditemukan pada jaman Romawi, di mana seorang laki-laki dengan kepala keledai, sedang dipaku di salib dengan orang yang menyembah di bawahnya, dan ada tulisan penghinaan terhadap lukisan itu: Allah yang berkepala keledai, Allah yang bodoh, Allah yang kalah dan tidak patut diperhitungkan, betapa bodoh dan aneh orang-orang yang menyembah Kristus yang mati di atas kayu salib.

Kembali ke hari Kamis malam, pada perjamuan terakhir, di mana Yesus membasuh kaki para murid. Setelah makan malam, Yesus mengajak para murid ke taman Getsemani. Getsemani adalah taman di mana Yesus dan murid-murid sering berkumpul. Secara simbolik, Getsemani berarti olive-oil-pressed, dan di situlah Yesus mengajak para murid di malam terakhir. Yesus berkata (Mat 26:38) "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." Lalu Yesus menjauh sedikit dan mulai berdoa (Mat 26:39) "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Dengan kegentaran dan kengerian, Yesus datang kepada Bapa-Nya, seperti teriakan seorang anak kecil kepada ayahnya. Di dalam kengerian yang paling gelap, ketakutan yang paling dalam, Yesus berseru "Ya Abba, ya bapa, ambillah cawan ini dari pada-Ku". Cawan adalah simbol dari murka Allah, lambang dari murka Allah yang tidak dicairkan the undiluted wrath of God. Bukan cambukan Roma, bukan paku yang menusuk tangan dan kaki-Nya yang paling ditakuti tetapi apa yang paling ditakuti adalah dipisahkan dari Bapa-Nya. Dia tahu saat itu, sebentar lagi Dia akan ditinggalkan dan dipisahkan dari Bapa-Nya.

Allah akan memalingkan muka-Nya dari Yesus, tetapi Yesus berkata "tetapi janganlah seperti yang ku kehendaki". Lukas (Luk 22:44) mengungkapkan kengerian ini sebagai keringat yang bercucuran seperti darah. Mungkin seperti keringat yang bercucuran, tetapi mungkin juga berupa hematilosis, di mana pembuluh kapiler pecah karena tekanan mental dan kesedihan yang ekstrim.

Kalau kita mengingat pemazmur berkata (Mzm 23:4) "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku". Tetapi yang di alami Yesus di sini, adalah kesulitan dan penderitaan yang melampaui apa yang digambarkan di dalam Mazmur 23. Musa berkata (Kel 33:15) “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini". Penyertaan itu menjadi yang paling utama. Kesadaran ‘tanpa Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa’ bagi Pemazmur, Yusuf, Musa menjadi hal yang utama, semuanya menyadari hal ini.

Dalam rapat sinode, ada yang bertanya, apa yang paling Pak Tong takutkan, maka dia menjawab, "Yang paling saya takutkan adalah kalau Tuhan meninggalkan kita". 

Inilah yang menjadi ketakutan daripada Tuhan Yesus, inilah cawan yang harus Dia minum. Tetapi dalam keadaan seperti itupun Dia mempunyai total submission kepada Allah. Kita juga boleh belajar. Mengikut Tuhan juga berarti total submission kepada Allah. Pasti tidak mudah, tetapi ada Tuhan yang beserta kita, yang memberi kekuatan kepada kita, karena Kristus sudah pernah ditinggalkan oleh Bapa-Nya, supaya kita tidak ditinggalkan oleh Allah.

Tiga kali Yesus berdoa seperti ini, dan tiga kali pula Dia menjumpai murid sedang tidur. Dia mengatakan kepada Petrus (Mat 26:40b-41), " Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah".

Di dalam kesulitan yang paling gelap, Dia juga concern supaya murid-murid-Nya tidak jatuh dalam pencobaan. Karena yang sedang diuji di sini, bukan hanya Yesus, tetapi juga murid-murid-Nya. Di dalam keadaan seperti inipun Yesus tetap memperhatikan murid-Nya, Dia katakan ini sampai tiga kali. Kali ketiga Yesus mengatakan (Mat 26:46b) "Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat." dan datanglah Yudas membawa pasukan, dengan suluh dan senjata. Yudas mencium-Nya dengan (Mat 26:49b) "Salam Rabbi", dengan hangat. Ciuman yang seharusnya menyatakan kasih, persahabatan, tetapi dengan ciuman itulah dia menyerahkan Tuhan. Tempat itu gelap, dan Yudas memberitahu yang mana Yesus, dengan mencium-Nya. Tuhan Yesus kemudian mengatakan "Dengan ciumankah engkau mengkhianati Anak manusia" (lihat Luk 22:48). Yesus mengatakan (Yoh 18:4b-9) “Siapakah yang kamu cari?" Jawab mereka: "Yesus dari Nazaret." Kata-Nya kepada mereka: "Akulah Dia." Yudas yang mengkhianati Yesus berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Yesus berkata kepada mereka: "Akulah Dia," mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. Maka Yesus bertanya pula: "Siapakah yang kamu cari?" Kata mereka: "Yesus dari Nazaret." Jawab Yesus: "Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi." Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: "Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorangpun yang Kubiarkan binasa." Dalam situasi seperti inipun Dia in-charge, Dia mengerti apa yang terjadi sepenuhnya, no-turning back, mata-Nya melihat ke depan.

Yesus kemudian di bawa ke Hanas mantan iman besar, mertua dari Kayafas, dibelenggu, pada Jumat pagi. Ditanya untuk persiapan apa? untuk pengadilan esok harinya. Ini adalah pre-hearing. Hanas berkali-kali menginterogasi Yesus, namun Yesus tidak menjawab apa-apa, karena apapun jawaban-Nya hanya akan dipakai untuk menjebak-Nya. Hanas menjadi sangat frustasi. Menjelang pagi, Yesus dikirim ke Kayafas dan di adili di tengah Sanhedrin, majelis ulama. Mereka perlu untuk membuktikan kesalahan Yesus supaya dapat menjatuhkan hukuman mati. Maka dikumpulkanlah saksi-saksi, yang tidak diuji dahulu. Saksi-saksi ini memberikan kesaksian yang bertentang satu sama lain. Maka Kayafas bertanya (Mat 26:63b-64) "apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak."

Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit”, dan Kayafas mengkoyakkan pakaiannya dan berkata (Mat 26:65b-66) "Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!" Dia ditampar, diludahi, dan tidak membuka mulut-Nya. Dia seperti domba yang dibawa ke pembantaian, tidak membuka mulut.

Tapi ini adalah awal dari penderitaan Yesus, maka dibawalah Yesus ke Pontius Pilatus, karena dialah yang berhak menghukum mati. Pilatus adalah gubernur Yudea (26-36 Masehi), seperti tercatat di dalam sejarah. Pilatus tidak menemukan satu kesalahanpun, dan istrinya bermimpi dan berkata (Mat 27:19) "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam" Maka Pilatus berusaha berkali-kali melepaskan Yesus, sebagaimana di dalam Yohanes 18:38b-19:16a "

Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya. Tetapi pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?" Mereka berteriak pula: "Jangan Dia, melainkan Barabas!" Barabas adalah seorang penyamun. Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia. Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu, dan sambil maju ke depan mereka berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya. Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah manusia itu!" Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: "Salibkan Dia, salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah." Ketika Pilatus mendengar perkataan itu bertambah takutlah ia, lalu ia masuk pula ke dalam gedung pengadilan dan berkata kepada Yesus: "Dari manakah asal-Mu?" Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya. Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?" Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya." Selalu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar." Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata. Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu!" Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!" Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. "

Kita melihat Pilatus dengan berbagai cara ingin membebaskan Yesus. Sampai kemudian berlanjut siksa penderitaan Yesus yaitu mereka mencambukNya. Cambukan pertama, disebut sebagai fustigatio, cambukkan bagi penjahat yang kecil, karena Pilatus berpikir mereka ingin melihat darah. Pilatus kembali ke mereka dan berharap mereka puas dengan itu, tetapi mereka tetap ingin menyalibkan Dia. Akhirnya para iman kepala berkata kepada Pilatus “Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar." Mereka tahu jika Yesus hanya bersalah yang tidak ada hubungannya dengan Roma, maka mereka mengatakan bahwa yang menganggap dirinya raja maka melawan kaisar. Pilatus masih berusaha, "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Ketika mereka mengatakan "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!” Iman-iman mengkhianati jati diri mereka sendiri karena mereka tahu bahwa tidak ada raja selain Tuhan. Akhirnya Pilatus menyerah kemudian mencuci tangan dan menyerahkan Dia untuk disalibkan.

Yohanes mencatat detil yang menarik (Yoh 19:14), hari itu adalah hari persiapan Paskah, kira-kira jam 12. Di dalam perayaan paskah Yahudi, itulah waktu saat domba disembelih. Di waktu itulah Yesus diserahkan untuk disalibkan. Yesus dicambuk oleh tentara Roma, dengan cambuk Romawi. Banyak orang yang sudah mati saat dicambuk, sebelum disalibkan, karena kehabisan darah.

Cambukan kali ini adalah verberatio, cambukan untuk dihukum mati. Di situlah puncak penderitaan Yesus.

Dari atas salib, Yesus mengatakan perkataan yang terkenal dari 7 perkataan salib: (Luk 23:34) "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat", dan perkataan terakhir (Luk 23:46) "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku."

Tetapi ada satu perkataan penting di antara 7 perkataan salib, yaitu perkataan ke-empat, persis di-tengah-tengah, yang diungkapkan dalam Matius, Yesus berseru (NIV Mat 27:46) "My God my God why have you forsaken me" (Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Ini adalah perkataan yang begitu agung, tetapi yang sulit sekali dimengerti. Begitu dalam perkataan ini, tidak ada seorangpun yang bisa terpana melihat anak Allah yang tunggal, yang dikasihi itu, Yesus  , dimana seluruh hidupnya selalu menyebut Bapa, tetapi itu adalah satu-satunya saat Dia menyebut Bapa sebagai Allah. Ketika murka Allah ditimpakan kepada-Nya, Dia tidak bisa berseru “My Father” tetapi “Allah-Ku, Allah-Ku". Teriakan ini mengerikan tetapi juga melegakan kita, karena justru karena teriakan ini, maka kita beroleh kesempatan untuk datang kepada Allah di surga. Justru karena Yesus pernah ditinggalkan oleh Bapa-Nya di surga, maka kita boleh memiliki kesempatan untuk datang kepada Allah Bapa. Supaya setiap kita yang percaya kepada-Nya, tidak usah berteriak seperti ini.

Teriakan ini juga adalah teriakan di dalam Neraka, teriakan yang selama-lamanya, kengerian dari setiap orang yang masuk ke dalam neraka, ketika Allah meninggalkan mereka selama-lamanya. Teriakan ini ada di Mazmur 22 (Mzm 22:1).

Dan kalau kita membaca selanjutnya di dalam Matius 27 kemudian ada pertolongan Allah begitu dahsyat di dalam kebangkitan Kristus yaitu dg terbelahnya tirai yang memisahkan ruang suci dengan ruang maha suci. Tirai itu terbelah ketika Yesus mati, menyatakan bahwa melalui Kristus kita boleh datang kepada Allah. Sesuatu yang dahsyat terjadi pada waktu kematian Kristus, tetapi itu bukan akhir dari segalanya.

Kembali ke 1 Korintus 1, kita mengerti (1 Kor 1:23) salib itu kebodohan bagi orang Yunani dan batu sandungan bagi orang Yahudi. Salib sebagai simbol dari orang yang dikutuk Allah. Para imam mengatakan (Mat 27:40) “selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu”. Justru Tuhan Yesus tidak turun dan tidak menyelamatkan dirinya sendiri. Itulah Tuhan Yesus yang dianggap begitu bodoh, kalah dan lemah. Begitu paradoks dari pemberitaan Salib, justru di tengah kebodohan pemberitaan salib terdapat hikmat Allah yang besar. Justru kematian daripada kematian itu terjadi di dalam kematian Kristus. Kuasa kematian dimatikan di atas kayu salib, sehingga kita tidak mati untuk selama-lamanya, memberikan kita suka cita yang besar karena Dia sudah mengalahkan maut.

Paradoks salib ini dihidupi oleh para Rasul dengan begitu dalam.  Paulus dalam 2 Kor 12:10 mengatakan “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat”, ketika kelemahan dalam duri dalam daging datang padanya, dia berseru tiga kali kepada Tuhan untuk mencabut duri dalam daging itu, tetapi Tuhan tidak mencabut duri dalam daging itu, namun Tuhan berkata (2 Kor 12:9) “My grace is sufficient for you, for my power is made perfect in weakness.” (Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.). Kalau kita mengerti paradoks salib, dan jika kita aplikasikan di dalam kehidupan kita, maka hidup Kristen adalah hidup yang sangat paradoks juga. Ketika kita lemah seperti dalam puasa, membuat kita makin bersandar dan bergantung kepada Tuhan, justru di situlah kekuatan kita. John Calvin berkata “ketika aku berdiri di atas kakiku sendiri maka aku gemetar, tetapi ketika kakiku berlutut di hadapan Tuhan, di situlah sumber kekuatanku”.

Baiklah kita di Jumat Agung ini, mengerti paradoks dari Salib. The cross and the crown, kemuliaan Tuhan bukan hanya terjadi setelah Dia bangkit. Memang kebangkitan-Nya mengkonfirmasi semua yang telah Dia kerjakan. Namun kemuliaan-Nya sudah dimulai  di dalam kematian Kristus. Dari teriakan terakhir (Yoh 19:3) "It is finished" (“Sudah selesai”), genap sudah, selesai sudah semua tugas dan peperangan. Peperangan sudah dimenangkan di atas kayu salib, it is accomplished. Biarlah hati kita boleh digugah, supaya mengerti akan cinta kasih Tuhan, dan menyadari betapa Dia sudah mengorbankan segala-galanya bagi kita, dan membuat kita makin mengasihi Dia, juga mengasihi sesama kita, mengasihi saudara-saudara kita yang lain, yang diluar sana yang belum percaya dan belum mengenal akan kasih Tuhan. Ajaklah mereka untuk mendengar Injil.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya