Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > The Most Important Week of The Most Important Person Who Ever Lived (Bag 2)

Ibadah

The Most Important Week of The Most Important Person Who Ever Lived (Bag 2)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 15 Maret 2015

Bacaan Alkitab: Yohanes 12: 20-33, Matius 21:18-19, Matius 21:12-13, Matius 21:23-27, Matius 21: 33-41, Matius 22:1-14

Khotbah hari ini masih melanjutkan tema minggu yang lalu yaitu The Most Important Week of The Most Important Person Who Ever Lived.

Seperti kita ketahui bahwa begitu banyak peristiwa penting yang terjadi pada hari-hari terakhir Yesus di minggu itu, dari hari Minggu, Senin, Selasa, Rabu, yang ujungnya berpuncak dii hari Jumat Agung dan Paskah. Setiap peristiwa yang terjadi di hari-hari tersebut tentunya akan memberi pengajaran, pengertian serta pengaruh kepada pergumulan dan kehidupan kekristenan kita. 

Melanjutkan khotbah minggu yang lalu, yaitu menyambung peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Minggu yaitu hari pertama minggu terakhir dari hidup Tuhan Yesus. Pada saat Tuhan Yesus  masuk ke Yerusalem dengan naik keledai,Dia mendeklarasikan atau menyatakan diriNya secara langsung sebagai anak Daud, sebagai Raja Israel, sebagai Sang Mesias yang ditinggikan sehingga banyak orang berteriak:  “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!”. Jarang sekali dalam sejarah seseorang menyatakan dirinya raja dengan naik keledai. Dengan menaiki keledai merupakan simbol bahwa Yesus ingin menyatakan bahwa Dia merupakan raja yang berbeda (different kind of king) yang membawa kerajaan yang berbeda. Namun hal ini juga yang menjadi pertanyaan banyak orang seperti apakah Mesias itu, seperti apakah Raja itu? Banyak orang Israel berharap bahwa jika Yesus adalah Raja, jika Yesus adalah Mesias yang ditinggikan dan yang diurapi itu maka Dia pasti memiliki kuasa atas militer dan politik serta mampu menghancurkan kuasa kekaisaran Roma. Memang Yesus menegaskan bahwa Dia adalah Mesias, namun Yesus juga langsung menyatakan bahwa Dia merupakan Mesias yang akan ditangkap, Mesias yang akan dianiaya, Mesias yang akan menderita, Mesias yang akan mati dan yang juga Mesias yang akan bangkit dari kematian.

Mengapa orang Israel sama sekali tidak mau mengerti bahwa Mesias yang akan datang itu Mesias yang akan dianiaya, Mesias yang akan menderita, Mesias yang akan mati? Mengapa mereka tetap salah mengerti dan berpikiran bahwa Mesias yang akan datang itu Mesias penuh kuasa atas militer dan politik, Mesias yang memiliki kuasa sampai selama-lamanya? Mengapa mereka tidak berpikir dari sisi lain bahwa Mesias itu akan ditinggikan dan dimuliakan ketika Dia mati di kayu salib, seperti apa yang dikatakan Yesus di Yohanes 12:24: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”.

Orang Israel tetap saja tidak mau mengerti padahal banyak kitab dalam Perjanjian Lama yang menceritakan hal bahwa Mesias yang akan datang itu akan mati, akan menderita dan dianiaya.   Jika boleh disimpulkan secara singkat, maka inilah yang disebut sebagai “Selective Perception” bangsa  Israel termasuk murid-murid Kristus dimana mereka hanya mau membaca, mendengar, mempercayai  apa yang relevan dengan pengertian atau kepercayaan mereka.  Peristiwa yang dialami bangsa Israel ini juga menjadi peringatan bagi kita semua yang sering kita alami misalnya pada saat kita mendengar khotbah, dimana kita hanya mau mendengar apa yang relevan buat kita, kita hanya mau mendengar apa yang suka kita dengar, dan terlebih lagi ketika kita hanya mau mengikuti pengertian atau kepercayaan kita sendiri.

Kristus memang Mesias, dia memang datang untuk menghancurkan kuasa yang sangat besar bahkan menghancurkan kuasa yang lebih besar dari Roma. Dia datang tidak hanya menghancurkan kekuasan kekaisaran Roma tapi tidak hanya memiliki kuasa untuk menghancurkan kekaisaran atau kerajaan Roma saja, namun Dia datang untuk menghancurkan penghulu atau penguasa dari dunia ini. Tapi bagaimana menghancurkan penguasa dunia atau iblis ini? Inilah yang kemudian Tuhan kerjakan, yang dimulai hari Senin ketika Yesus mengunjungi  tempat yang seharusnya merupakan tempat Tuhan bertahta yaitu bait Allah. Dimana bait Allah yang mau dikunjungi Yesus itu telah diduduki oleh iblis.

Di tengah perjalanan menuju bait Allah, Yesus berhenti, seperti yang ditulis Matius 21: 18-19 (18. Pada pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar. 19. Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu). Peristiwa ini jmerupakan suatu  symbolic action.

Secara alami, pohon Allah akan berbuah di musim semi. Biasanya pohon ara ini akan berbuah terlebih dahulu yang selanjutnya diiringi oleh pertumbuhan daun-daun. Jadi jika kita melihat bila ada pohon ara yang berdaun banyak maka sudah dapat dipastikan akan terdapat buah di pohon ara itu. Pagi-pagi itu Yesus juga berpikiran demikian, dihampiri pohon ara yang berdaun banyak, dengan harapan agar Dia dapat memetik dan memakan buah ara itu. Namun ternyata, pohon tersebut tidak memiliki buah dan akhirnya pohon ara itu dikutuk Yesus.  Kutukan Yesus ini merupakan powerful symbolic action ditujukan untuk para pemimpin agama atau imam-imam pada waktu itu yang merupakan orang Farisi, ahli taurat yang mengaku memegang teguh akan firman Tuhan. Mereka selalu mengadakan ritual-ritual yang kelihatan dari luar bagus namun secara esensi mereka melanggarnya. Mereka ini yang seharusnya merupakan orang-orang yang membawa orang percaya kepada Tuhan tetapi malah sebaliknya. Mereka ini yang dikatakan sebagai orang yang munafik yang merupakan musuh dari Tuhan yang selalu dikritik atau dikutuk oleh Tuhan dengan kata “Celakalah engkau, celakalah kamu…..”   Salah satunya seperti yang tertulis di Matius 23:27: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran”. Dan ini juga menjadi refleksi dan peringatan bagi kita semua, bagaimana Allah melihat setiap kita yang mengaku sebagai orang Kristen namun sama sekali tidak bertumbuh dan menghasilkan buah yang sejati didalam kehidupan kita.

Setelah symbolic action ini, Yesus masuk ke bait Allah (Matius 21:12-13) dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun". Kemudian sesuai dengan Matius 21:23-27, 23. Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?" 24. Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. 25. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? 26. Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi". 27. Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu."Dan Yesus pun berkata kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu". Jawaban Yesus  ini merupakan penghakiman Tuhan kepada pemimpin-pemimpin agama, imam-imam dan para ahli Taurat pada waktu itu.

Marilah kita melihat konteksnya dari bait Allah. Hari Paskah merupakan hari raya terbesar orang Yahudi. Banyak orang Yahudi yang tersebar di berbagai penjuru kota serta orang-orang gentile yang mengikuti agama Yahudi datang ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Mereka yang datang itu memberikan  kurban persembahan biasanya berupa hewan seperti kambing atau merpati. Mereka yang datang dari jauh tidak mungkin membawa hewan kurban sehingga harus membeli kurban di Yerusalem. Bukan itu saja, mereka juga harus menukarkan uang mereka di money changer untuk membeli kurban persembahan. 

Karena ada banyak orang yang datang ke Yerusalem menjelang Paskah maka di sana ada peluang bisnis yang besar dan Bait Allah dipakai sebagai tempat berbisnis. Biaya yang dikenakan kepada pembeli untuk menukar uang maupun membeli hewan kurban sangat mahal, bisa berkali-kali lipat dari hari biasa. Dan yang lebih parah lagi dan yang menjadi persoalan, dimana Yesus sangat marah sampai Dia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata “Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun” ialah karena mereka ramai berjualan dan berteriak-teriak di tempat yang disebut The Court of Gentile yang letaknya paling luar dari bait Allah dan memiliki area yang paling luas. Sehingga tempat ini tidak dapat dipakai sebagai tempat beribadah.

The Court of Gentile merupakan tempat yang diperuntukkan bagi orang-orang yang bukan Yahudi  sebagai tempat beribadah dan berdoa. Jadi orang-orang yang bukan Yahudi hanya boleh datang dan berhenti sampai di sini saja.  Selanjutnya agak ke dalam, ada yang namanya The Court of Women yaitu tempat beribadah bagi kaum perempuan Yahudi. Selanjutnya lebih ke dalam lagi, ada The Court of  Men yaitu tempat beribadah bagi kaum lelaki Yahudi. Lebih ke dalam lagi, ada yang namanya ruang Suci dimana hanya diperuntukkan bagi para Imam. Dan terakhir dan yang paling central, dan hanya dibuka setahun sekali di hari Paskah ialah ruang Maha Suci, dimana hanya imam besar yang boleh masuk ke sana.

Para imam besar yang ada disana itu tidak peduli dengan aktivitas komersial di halaman terluar dan terluas di bait Allah ini karena kemungkinan mereka mendapat komisi dari hasil penjualan. Ketika Yesus menjungkir balikkan meja, tidak ada seorangpun dari mereka yang protes karena  mereka tahu dan sadar bahwa apa yang mereka perbuat tidak benar sehingga membuat orang-orang yang bukan Yahudi tidak dapat beribadah karenanya tempatnya dipenuhi meja dagangan. Tidak ada pedagang yang marah, sebaliknya para pemimpin-pemimpin besar agama dan penguasa-penguasa saat itu yang marah dan berkata kepada Yesus “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?". Mereka sebenarnya ingin mengatakan bahwa “Kami yang berkuasa, kami pemimpin disini, dan apa hakmu membalikkan meja?”. Namun Tuhan tidak menjawab mereka yang sudah keras hatinya yang tidak mau mendengar lagi sehingga Tuhan hanya membalikkan pertanyaan kepada mereka. Hanya dengan pertanyaan tersebut, Tuhan telah membungkam dan membongkar kejahatan hati mereka.  Mereka hanyalah orang-orang yang mencari untung dan tidak mengasihi Tuhan. Hanya sampai pertanyaan itu saja Tuhan berkata-kata kepada mereka lalu mereka ditinggal pergi. Tuhan tidak mau berkata-kata lagi dan akan pergi meninggalkan mereka yang mengeraskan hati yang walaupun telah berkali-kali ditegur, walaupun telah berkali-kali dibongkar dan tetap tidak mau mendengar serta tidak mau taat.

Selanjutnya pada hari Selasa, Tuhan Yesus memberikan pengajaran kepada orang banyak di bait Allah melalui beberapa perumpamaan, kita hanya mengambil 3 perumpamaan saja yang membongkar kekerasan hati orang.

Perumpamaan pertama, Yesus bercerita mengenai orang yang mempunyai 2 orang anak. Kepada mereka berdua diperintahkan “kamu pergi ke ladang”. Anak pertama menjawab“ya bapa” sedangkan anak kedua menjawab “aku tidak mau”. Anak pertama yang menjawab ya tetapi tidak pergi. Sedangkan anak kedua sadar dia salah, lalu dia pergi ke ladang. Pemimpin-pemimpin agama yang mendengar cerita Yesus tahu  bahwa yang diceritakan sebagai anak pertama oleh Yesus itu ialah mereka, yang selalu kelihatan baik tetapi tidak menjalankan perintah.

Perumpamaan kedua diambil dari Matius 21: 33-41.  Yesus menceritakan perumpaan mengenai penggarap-penggarap kebun anggur. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.  Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?" Kata mereka kepada-Nya: "Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya”. Itulah yang akan Tuhan lakukan bagi mereka, tidak ada lagi perkataan bagi mereka, yang ada hanya penghakiman dan penghakiman kepada mereka.

Perumpamaan yang ketiga diambil dari Matius 22:1-14, Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih". 

Perumpamaan yang terakhir ini, sekali lagi jelas-jelas mengkritik imam-imam dan ahli taurat. Mereka ini digambarkan sebagai orang yang pertama yang diundang ke perjamuan kawin. Undangan dari Anak Domba Allah, seperti yang dikatakan dalam Wahyu 19:7 “Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia”, inilah hari yang paling berbahagia, tetapi ironisnya ada dari mereka menolak undangan tersebut. Mengapa mereka sebodoh itu, tidak mau datang ke perjamuan yang begitu penting, perjamuan yang begitu meriah? Mengapa mereka menolak kesempatan yang baik itu? Hal ini menjadi refleksi orang yang hidup di dunia ini, juga menjadi refleksi imam-imam kepala dan ahli taurat yang sudah diundang dan diberi banyak  kesempatan. Banyak diantara kita yang terlahir dari keluarga Kristen, sejak kecil sudah mendapat kesempatan mendengarkan injil, mendapatkan kesempatan melayani Tuhan, memperoleh kesempatan untuk kembali hidup sesuai kehendak Tuhan, tetapi banyak yang tidak mau. Kita seolah-olah diajak bermain ke pantai yang putih bersih, tetapi kita tetap mau main di comberan dan lumpur yang kotor. Kita seperti anak kecil yang bodoh, yang tidak mau diajak meninggalkan tempat comberan yang kotor itu karena kita tidak tahu bagaimana rasanya bermain di pasir yang putih bersih itu. Kita menolak akan panggilan Tuhan untuk masuk ke dalam kerajaannya yang kekal, kita telah menghina Tuhan. Seperti imam-imam dan ahli Taurat yang menolak undangan Tuhan, maka kehancuran, kerusakan dan kerugian yang akan mereka dapatkan. Sedangkan berbahagialah orang yang menerima undangan Allah karena rencana, janji dan kehendak Allah akan jalan terus dan akan digenapi.

Point terakhir yang menarik dalam perumpamaan ini ialah bahwa ada orang yang sudah ikut perjamuan pesta, namun karena dia tidak memakai baju pesta juga dicampakkan. Siapakah orang itu? Hal ini menjadi refleksi kita dan memberi peringatan kepada orang-orang yang sepertinya sudah datang dan ikut perjamuan tetapi ia tidak datang dengan cara-cara yang seharusnya. Dan hanya ada satu-satunya cara ialah ia harus datang dengan memakai Jubah kebenaran Kristus, bukan datang dengan perbuatannya, bukan dengan segala kehidupannya dan bukan dengan segala usahanya. Harus datang dengan perasaan tidak layak di hadapan Tuhan. Harus datang dengan hidup yang baru, meninggalkan dosa, datang dengan hidup yang telah disucikan oleh darah Yesus.

 

 

Ringkasan oleh Budi Walujo | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya