Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Yesus Kristus Satu-Satunya Pengantara kepada Allah

Ibadah

Yesus Kristus Satu-Satunya Pengantara kepada Allah

Pdt. DR. Stephen  Tong

Pengkhotbah: Pdt. Dr. Stephen Tong
Date: Minggu, 15 Februari 2015

Bacaan Alkitab: 1 Yoh 2:23-27

Iman Kristen tidak mengatakan kita bisa langsung datang kepada Tuhan Allah tanpa Pengantara. Itu bukan iman orang Kristen. Di dalam hal tentang Pengantara, hanya ada 2 macam agama: yang pertama, tidak perlu Pengantara, yang kedua perlu banyak pengantara. Yang menganggap tidak perlu Pengantara, mau langsung datang kepada Allah itu adalah Islam dan agama-agama yang tidak mengenal Kristus tetapi mengaku adanya Allah sebagai Pribadi di sorga. Yang menganggap perlu banyak Pengantara itu adalah Katolik. Karena Katolik selain datang melalui Kristus, mereka datang melalui Sanctus-Sanctus atau orang-orang suci yang sudah dikanonisasikan oleh Vatikan dan yang di dalam sejarah mereka ikut berandil karena jasa mereka kelebihan. Karena jasa mereka selain menyukupi kebutuhan rohani mereka sendiri, masih ada kelebihan yang disimpan, bergabung bersama di dalam satu tempat yang namanya: The Treasury of Saints. Itulah sebabnya kalau engkau datang kepada Tuhan Allah melalui Kristus masih kurang, melalui Maria masih kurang, melalui Petrus masih kurang, melalui Saint Teresa masih kurang, melalui Saint Sebastian dan banyak Sanctus-Sanctus yang menjembatani kita dengan Tuhan.

Dua macam ajaran ini bukan ajaran orang Kristen, bukan ajaran dari Alkitab, karena Alkitab tidak pernah mengajarkan manusia bisa langsung datang kepada Tuhan dengan keadaan diri yang berdosa. Kita yang najis, Allah yang suci. Kita yang terbatas, Allah yang tidak terbatas. Kita yang bertubuh materi, Allah yang adalah Roh. Kita yang dicipta, Allah Sang Pencipta. Kita yang adalah relatif, Allah yang mutlak. Kita di bumi, Allah di sorga. Di tengah-tengah antara manusia yang dicipta dan Allah yang mencipta harus ada Pengantara. Nah, Pengantara itu tidak mungkin berasal dari manusia. Pengantara itu tidak mungkin dari pihak dunia ini untuk menuju ke sorga. Itulah sebabnya tidak ada pendiri agama yang bisa membawa manusia ke hadapan Tuhan Allah.

Lalu Pengantara itu dari mana? Pengantara itu dari Tuhan Allah sendiri. Dari pihak Allah, bukan dari pihak manusia. Sama seperti engkau tercemplung ke dalam sumur, lalu engkau mempunyai tali, engkau mau mengangkat diri melalui tali yang kuat keluar dari sumur? Tidak mungkin. Karena tali itu harus dari atas ke bawah, bukan dari bawah ke atas. Saudara-saudara, bagaimanakah engkau yang berada di bawah jurang dengan tali bisa naik ke atas? Saudara-saudara sekalian, kecuali yang dari atas menurunkan tali itu lalu engkau pegang talinya baru bisa diangkat ke atas. Seperti Bahasa Tionghua mengatakan seorang raksasa tak mungkin mengangkat diri dengan kekuatan yang luar biasa. Dia boleh dengan kekuatan mengangkat barang-barang yang lain, tetapi tak mungkin dia mengangkat diri sendiri. Maka dari Antroposentris tidak ada jalan. Dari manusia tidak ada jalan. Dari agama tidak ada jalan. Tidak ada seorang dari dirinya sendiri yang berdosa bisa melepaskan diri dari ikatan dosa.

Tidak ada seorang yang dicipta, dengan kekuatan yang dicipta, boleh datang menuju kepada Sang Pencipta. Itu adalah khayalan. Itu adalah semacam ide dari agama yang berdasarkan pada diri manusia. Kalau saya berbuat baik, saya boleh datang kepada Tuhan. Kalau saya berbuat baik, saya akan diterima. Maka agama-agama paling banyak kembali kepada satu istilah yang disebut: “mudah-mudahan boleh diterima”. Mudah-mudahan itu tidak mudah, saudara-saudaraku! Karena Allah mengatakan Dia adalah Allah yang suci dan Dia tidak akan melihat dosa. Itu sebabnya kecuali Allah menaruh kasihan, Allah membuka pintu, Allah menurunkan anugerah, Allah mengirim Pengantara, tidak ada jalan membawa kita kepada Allah.

Di situlah pengharapan kita ada pada seseorang yang disebut Anak. Sang Bapa mengirim Sang Anak dan inilah menjadi kunci pengharapan seluruh umat manusia. Saudara-saudara sekalian, itulah sebabnya Yohanes dengan tegas mengatakan: Barangsiapa yang menolak Anak, dia itu anti Kristus. Karena Anak itu adalah Kristus. Kenapa manusia menolak? Karena tidak ada Kristus. Maka tidak mungkin kita diselamatkan. Jikalau setan menipu manusia, dia akan berkata: jangan percaya kepada Kristus.

Saya sampai sekarang tidak mengerti satu hal. Mengapa ada orang di dunia ini yang benci kepada Yesus? Kenapa Yesus dibenci? Saya pernah menantang ini kepada pemimpin-pemimpin komunis: “Apa sebabnya? Apa alasannya?” Saudara tidak akan menemukan alasan 1% pun mengapa engkau melawan Kristus. Saudara-saudaraku ini seperti sudah biasa: bila satu orang melawan, saya juga melawan; orang tidak percaya, saya juga tidak percaya. Banyak orang dilahirkan di agama Islam, dari kecil diajarkan untuk melawan Nasrani, melawan Kristus. Dari kecil melihat salib mereka benci. Padahal mereka tidak pernah pikir tidak ada alasan 1% pun manusia membenci Yesus.

Adakah orang lebih suci dari Yesus dalam sejarah? Tidak ada. Adakah orang mencapai hidup rohani setinggi Yesus? Tidak ada. Bandingkan semua pendiri agama, bandingkan dengan semua penghulu agama, bandingkan dengan semua yang disebut nabi oleh manusia, bandingkan semua orang yang disebut ahli ulama, bandingkan hidup mereka dengan hidup Yesus Kristus. Why people reject Jesus? Why people oppose Jesus? Why people hate Jesus? Tidak ada alasan bagi siapa pun mengatakan: saya ada cukup alasan untuk membenci Kristus. Tidak ada sesuatu yang bisa dibenci. Tidak ada sesuatu kelemahan-Nya yang bisa dicari. Di dalam Kristus ada kesempurnaan yang mutlak, kesucian yang tertinggi, ada keanggunan sepanjang sejarah semenjak Adam diciptakan. There is no reason to oppose Christ.

Saya tidak mau engkau menjadi orang Kristen karena ikut-ikut. Tak ada gunanya. Papa Kristen, saya Kristen. Karena keluarga Kristen, saya Kristen. Karena marga Kristen, saya Kristen. Karena suku Kristen, saya Kristen. Saya dilahirkan di Minahasa, pasti Kristen. Saya dilahirkan di Tapanuli, pasti Kristen. Saya dilahirkan di Mojoagung, pasti Kristen. Saya dilahirkan di Menado, pasti Kristen. Tak ada gunanya. Saudara, engkau dilahirkan di garasi, tidak jadi mobil kok! Engkau dilahirkan di keluarga Kristen, tidak jadi orang orang Kristen. Engkau harus dilahirkan ulang oleh Roh Kudus. Engkau harus dilahirkan dari atas baru engkau menjadi orang Kristen.

Saudara sekalian, jangan ikut-ikut menjadi orang Kristen! Tapi saya membalikkan kalimat ini: Jangan ikut-ikut melawan Kristus! Barangsiapa ikut-ikut orang menjadi Kristen, tak ada nilainya. Barangsiapa juga ikut-ikut orang lain melawan Kristus, juga tidak ada alasannya. Saudara-saudara, jangan ikut arus. Terlalu banyak orang tidak ada pendirian. Terlalu banyak orang ikut-ikut orang lain membabi buta.

Saudara-saudara, itulah sebabnya pada abad 19, Søren Aabye Kierkegaard mengatakan: Orang yang eksistansi serta bertanggung jawab pribadi di hadapan Allah adalah orang yang tidak mengikut otoritas yang telah mempengaruhi kita. Kalimat ini bisa mengajak pemberontakan yang besar. Kalimat ini bisa menjadi hasutan supaya orang tidak taat kepada sesuatu yang harus ditaati. Tetapi kalimat ini dari motivasi Kierkegaard adalah bertanggung jawab di hadapan Tuhan Allah. Kalau saya tahu saya diperhadapkan dengan Tuhan Allah, saya tidak ikut tradisi-tradisi yang salah. Karena saya tahu dari Firman boleh mengkritik, dari Firman boleh memberikan pencerahan, dari Firman boleh menilai kembali.

Tradisi tidaklah terlalu penting. Tradisi-tradisi yang tidak benar jangan diikuti. Otoritas-otoritas yang tidak masuk kebenaran tidak diikuti. Sehingga kita akhirnya bertanggung jawab di hadapan Tuhan sebagai eksistansi individu yang dicipta langsung daripada kehendak Tuhan. God created me with the responsibility to exist before Him alone. Allah menciptakan saya supaya saya harus bertanggung jawab sebagai seorang pribadi karena saya dicipta langsung oleh Dia, harus menghadap kepada Dia. Ini menjadi semangat Kekristenan. Ini menjadi semangat etos kerja yang sungguh-sungguh. [Karena ada bos, maka saya kerja baik; kalau gak ada bos, saya gembos. Kalau ada rektor, saya baik-baik; kalau tidak ada rektor, saya sembarangan. Kalau papa mama melihat saya, saya kelihatan alim sekali; kalau mereka tidak ada, saya liar.] – Itu bukan manusia. Itu binatang. Itu binatang sirkus. Itu binatang yang diawasi oleh seseorang yang mempunyai kekuatan untuk membikin mati hidup dia, sehingga dia menjadi budak, diperbudak oleh otoritas sehingga dia tidak bisa mempertanyakan otoritas itu betul tidak, pokoknya saya takut. Seseorang yang betul-betul bertanggung jawab bukanlah demikian. Seorang yang bertanggung jawab mengerti eksistansi itu berada di hadapan Allah, satu menghadap satu. To be exist is to be oneself alone before God.

Jadi saya takut kepada Tuhan bukan karena diperintah oleh siapapun. Saya mencintai Tuhan bukan karena ada sesuatu yang merayu saya. Saya menaati pemerintah dari Tuhan bukan karena saya ingin memperoleh hak. Saya harus menjalankan kebenaran bukan karena saya didesak/ dipaksa oleh siapapun, karena saya bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Saudara-saudara, menjadi orang yang bertanggung jawab secara demikian, itulah semangat Kekristenan. Mengapakah barang-barang yang dibuat di Jerman lebih baik daripada yang dibuat di Perancis? Mengapakah mesin-mesin yang dibikin di Swiss telah jadi lebih baik dari Itali? Sama-sama Eropa, sama-sama negara Kristen? Karena mengerti etos kerja sebagai eksistansi bertanggung jawab di dalam theologi reformed. Saudara mungkin sudah ikut kebaktian di sini 10 tahun baru tahu kenapa reformed, dulu ikut-ikut reformed.

Pada hari Saint Bartholomew’s Day, Raja Perancis menipu orang Protestan, “Saya akan menerima engkau secara resmi, tidak ada lagi diskriminasi, tidak ada satu penganiayaan, sehingga orang Protestan boleh mendapatkan kenikmatan bersama dengan orang Katolik sama seperti warga negara Perancis yang sah. Penganiayaan akan berhenti, hak asasi akan disamaratakan.” Maka untuk merayakan peresmian satu hukum yang baru ini, Raja Perancis memberikan undangan kepada orang-orang Protestan, orang reformed sebanyak 100 ribu untuk kumpul bersama makan pesta pora. Raja memberikan undangan makan besar-besaran kepada Protestan untuk diterima kembali di dalam pangkuan negara. 100 ribu orang kira-kira ikut di dalam perjamuan Raja itu. Di tengah-tengah mereka sukacita kepada Tuhan seolah-olah Tuhan sudah dengar doa mereka. Namun kemudian di tengah-tengah acara makan, terdengar suara kuda dan suara tentara Perancis dari istana, mereka lalu dibakar hidup sampai mati, dibakar mati hidup-hidup 100 ribu orang. Itu penipuan, bukan sungguh-sungguh mau membikin mereka bebas, bukan sungguh-sungguh mau menghapus diskriminasi. Mereka membersihkan Protestan dari daerah Katolik, maka dibunuh, dibakar hidup-hidup sampai mati. Ada yang teriak dengan suara keras, ada yang sadar mereka sudah ditipu, mereka melarikan diri sebagian. Dan yang tidak ikut pesta itu, sudah mengetahui hal ini mungkin ada sesuatu penipuan, mereka melarikan diri sepanjang malam keluar daripada kota-kota Perancis, mereka pergi ke Genewa. Dan inilah menjadi hari terakhir Perancis bisa menghasilkan barang yang paling bermutu di dalam sejarah. Semenjak hari itu, Perancis tidak bisa menghasilkan mesin yang terbaik, mesin yang paling bermutu, paling akurat, karena orang-orang yang bertanggung jawab kepada Tuhan sudah tidak ada di situ.

Sekarang saudara kalau beli barang Perancis, beli barang fashion, bukan beli barang quality. Engkau dapat Pierre Cardin, Christian Dior, engkau mendapatkan barang-barang Perancis yang bagus, yang mewah tapi tidak bermutu akurat. Engkau kalau beli jam yang paling baik dari Perancis itu cuma Cartier, tapi Cartier tidak bikin di Perancis, dibikin di Genewa, daerah reformed. Karena apa? Karena etos kerja. I exist before God. I do everthing inspected by God. I give responsible only to God. Dari poin ini engkau tidak heran kalau mesin yang baik tidak dibikin di daerah Istanbul, tidak dibikin di daerah Timur, dari Budha, dari Konfusians, hanya di daerah reformed, daerah setelah pengaruh reformasi. Sebelum Martin Luther mengadakan reformasi, jerman tidak pernah menghasilkan sesuatu yang bermutu tinggi untuk mengalahkan seluruh dunia. Tetapi setelah reformasi, seluruh sejarah berubah arah karena etos kerja before God.

Tetapi kenapakah ada agama-agama yang menganggap manusia dapat langsung datang kepada Allah? Keunikan Kristen adalah bukan itu. Engkau datang kepada Allah hanya melalui Kristus. Nah ini bedanya. Mengapakah menjadi orang Kristen? Karena diajak oleh kawanmu? Karena bosmu orang Kristen? Karena majikanmu adalah orang majelis GRII maka engkau menjadi orang Kristen? Tak guna! Jangan ikut-ikut orang lain. Engkau harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan Allah, karena engkau dicipta oleh Tuhan dan Tuhan yang mencipta adalah Tuhan yang menentukan ada Pengantara.

Nah Kristus dan Kristologi dan keunikan kekristenan dengan Kristus ini, Pengantara ini, kalau digeser kekristenan hancur. Christianity is not Christianity if Christ is erased. Christianity is Christ. Kekristenan adalah Kristus! Tanpa Kristus bukan Kristen. Tanpa Pengantara Kristus, tidak ada iman Kristen. Orang yang menolak Kristus, tidak ada keselamatan di dalam Kekristenan bagi dia. Saudara-saudara, Yesus berkata: “Akulah jalan, Akulah kebenaran, dan Akulah hidup. Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa, kecuali melalui Aku.” Ini harus diperjuangkan oleh kekristenan. Ini harus diperjuangkan oleh GRII.

Saudara-saudara, Pengantara ini:

  1. Satu. Tidak ada Pengantara yang kedua. Kenapa? Karena tidak ada taraf yang bisa dicapai oleh orang lain dibandingkan Kristus. Satu-satunya Pengantara. Ini adalah wahyu Tuhan.
  2. Pengantara itu bukan dari manusia. Kenapa? Siapa pun yang paling suci tetap berdosa. Siapa pun yang paling baik tetap dicipta. Siapa pun yang paling agung tetap terbatas. Limited, created, polluted. Ini tiga kondisi bikin tidak ada satu manusia pun yang mana, dari negara apa, agama apa, kebudayaan apa, dari zaman apapun yang sanggup menempati tempat satu-satunya Pengantara.

Saudara-saudara sekalian, Tuhan mencari dari tengah-tengah manusia tak ada Pengantara karena semua manusia berdosa, semua dicipta, semua terbatas. Bagaimana agung, terbatas; bagaimana suci, najis; bagaimana hebat, dicipta. Maka yang dicipta mengganti yang dicipta tidak bisa. Yang terbatas menolong yang terbatas tak bisa. Yang berdosa menolong yang berdosa tak bisa. Orang yang dikurung di dalam penjara mau menolong sebelahnya keluar dari penjara tak bisa. Karena dia sendiri dikunci di dalam. Yang berdosa tidak bisa menolong yang berdosa. Maka di dalam Alkitab mengatakan satu kalimat: “All the saints, which one are you turning to?” Engkau sedang berpaling kepada orang suci yang mana? Kepada siapa? Engkau bilang: aku berpaling kepada Konghucu. Dia berdosa. Engkau berpaling kepada Yesaya, dia berdosa. Engkau berpaling kepada pendiri agama yang lain, berdosa. Engkau berpaling kepada Abraham, dia berdosa. Engkau berpaling kepada siapa pun di dalam dunia, itu semua orang suci yang berdosa.

Lalu kepada siapa? Yesus berkata: Akulah tidak pernah berbuat dosa. Siapa di antara kamu yang bisa menunjukkan dosa yang Dia perbuat? Jawaban untuk pertanyaan itu nihil. Sudah 2 ribu tahun tak ada orang yang bisa menjawab karena memang Kristus tidak berdosa. Maka mengapakah Pengantara bukan dari manusia? Karena manusia itu bagaimanapun terbatas, tercipta dan terpolusi sehingga tidak mungkin menjadi Pengantara. Maka Tuhan mau cari dari malaikat tidak bisa karena malaikat semua terbatas. Malaikat itu semua tidak mempunyai kemungkinan untuk berdiri di antara Allah dan manusia, karena syarat menjadi Pengantara manusia hanya satu, harus dwi sifat. Yang disebut dwi sifat yaitu dia sendiri harus Allah dan dia sendiri harus manusia. Kalau Pengantara itu adalah manusia saja, tak mungkin dia menjadi Pengantara. Kalau Pengantara itu hanya Allah saja, tak mungkin dia menjadi Pengantara. Karena Allah itu suci, Allah itu Roh, dan Allah itu kekal. Dan Allah yang suci tak mau bertemu dengan yang berdosa. Allah yang kekal, Dia sulit bergabung/ bersekutu dengan orang yang sementara.

Maka Pengantara itu harus mempunyai dwi sifat. Ini yang menjadi syarat yang paling penting mengapa Pengantara itu cuma satu, yaitu the two nature within one person. Dua sifat di dalam satu pribadi. Sifat ilahi, sifat manusia. Siapa? Tak mungkin Konghucu, tak mungkin Abraham, tak mungkin Musa, tak mungkin Yosua, tak mungkin Yesaya, tak mungkin Daniel, tak mungkin Paulus, tak mungkin Petrus karena mereka hanyalah manusia saja. Maka tidak ada seorang di luar Kristus yang cukup syarat, yang mempunyai kualifikasi yang benar untuk menjadi Pengantara. Maka Tuhan mengatakan: I sent my son. Aku mengirim Anak-Ku. Aku mengutus Anak-Ku, Anak-Ku yang kudus, Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarlah Dia. This is my Son, listen to Him. My beloved Son.

Yang paling jelas mengajar ini adalah Yohanes, bukan Paulus. Meskipun dalam seluruh pengajaran Paulus mengandung doktrin seperti ini, tetapi tidak sejelas Yohanes. Yohanes mengatakan: yang ada Anak, ada Bapa. Yang tidak ada Anak, tidak ada Bapa. Barangsiapa yang menyangkal Anak sekaligus Dia menolak Bapa. Barangsiapa yang menerima Anak, dia sekaligus menerima Bapa. Jangan kira orang dalam agama apapun yang kelihatan begitu beribadah kepada Tuhan semua diterima oleh Tuhan. Tuhan mengatakan: “Saya menerima engkau, kalau engkau menerima Anak, karena Aku sudah mengirim Anak-Ku. Kalau Aku kirim Anak, engkau tolak, engkau bagaimana beribadah kepada-Ku, engkau menghina Aku.” Karena dosa terbesar bukan berzinah, dosa terbesar bukan berjudi, dosa terbesar bukan mencuri, dosa terbesar adalah menolak Anak. Mungkin engkau heran saya mengatakan kalimat ini. Tapi inilah inti yang paling penting dari Injil.

Yesus berkata di dalam Yohanes pasal 16: waktu Saya naik ke sorga, maka akan dikirim Roh Kudus kepadamu.Saudara-saudara, sayang orang-orang yang banyak bicara tentang Roh Kudus kebanyakan adalah orang yang tidak mengerti doktrin Roh Kudus. Termasuk pemimpin-pemimpin kharismatik yang gembar-gembor di mana-mana. Waktu Roh itu turun, maka Dia akan menegur kamu melalui dirimu sendiri tentang 3 hal: dosa, keadilan dan penghakiman. Nah ini langkah Roh Kudus. Saudara baca semua khotbah dari pemimpin karismatik, ini hampir hilang. Saya tidak mengerti mereka berdasarkan apa mengajar orang-orang itu. Karena mereka sendiri tidak taat kepada apa yang paling penting bagi kita. Roh mewahyukan firman. Mereka mengatakan: “Tuhan berkata kepadaku.” Dengan demikian, mereka mempunyai alasan yang kira-kira dianggap lebih tinggi, mereka mengabaikan kitab suci. Berdosa besar. Mereka mengatakan: “Roh ada padaku.” Maka mereka berani mengatakan sesuatu yang melawan Alkitab dan tidak ada di Alkitab. Dengan demikian menghina wahyu Tuhan. “Karena Roh berkata kepadaku”, maka mereka memberikan suatu image seolah-olah mereka sama seperti Petrus, akhirnya Gereja tidak lagi menggali firman, cuma langsung datang kepada pemimpin-pemimpin yang memakai topeng seperti rasul saja.

Dan mereka mengatakan Roh Kudus penting ada kuasa, mujizat, dan kesembuhan. Akhirnya lupa Roh Kudus adalah Roh yang kudus maka pemimpin-pemimpin mereka hidupnya tidak mementingkan kesucian. Ini semua penyelewengan-penyelewengan yang sangat tidak sadar. Kalau engkau percaya Roh itu penting, dan setan bisa memalsukan Roh dengan cara yang lain, dengan sendirinya engkau bicara banyak tentang Roh, akhirnya menyelewengkan seluruh hal yang diwahyukan oleh Roh. Itu penipuan yang paling besar adalah tidak lagi melihat pekerjaan Roh Kudus yang datang untuk menegur manusia tentang dosa, tentang keadilan dan tentang penghakiman. Manusia kalau ditegur orang lain, tak mau terima, maunya membangkang dan melawan. Makin ditegur makin menjadi benci, yang tidak memperhatikan kalimat teguran, Itulah manusia.

Tapi kalau Roh Kudus bekerja, engkau akan menegur diri sendiri. Tak usah dikontrol orang lain, tegur sendiri. Nah ini caranya Roh Kudus bekerja, membikin manusia menegur sendiri, membikin manusia memarahi sendiri, menghakimi sendiri, khususnya di dalam 3 hal. Pertama tentang dosa. Kedua tentang keadilan, kebenaran. Ketiga tentang penghakiman. Ini 3 hal sebenarnya adalah relasi yang paling penting antara pribadi-pribadi di dalam seluruh alam semesta. The normalization of interpersonal relationship in the universe can only be done by Holy Spirit. Saudara perhatikan, Yesus mengatakan kalau Roh datang, akan mengakibatkan engkau menegur diri tentang dosa.

“Iya ya, saya berdosa ya, saya berdosa zinah, saya berdosa apa, ini Roh Kudus menegur aku?” Tidak! Roh Kudus akan menegur kamu tentang satu dosa yang lebih dari dosa yang lain yaitu kamu tidak percaya Yesus. Jadi dosa terbesar dalam sejarah itu apa? Di hadapan Tuhan Allah, dosa terbesar sepanjang sejarah yang mungkin dilakukan oleh manusia adalah menolak anak Allah. Menolak Anak Allah itu banyak caranya. Salah satu cara yang paling halus adalah tidak mengabarkan Injil. Dengarkan ini, justru theolog-theolog banyak menolak Yesus karena mereka tidak menganggap manusia perlu Anak. Maka mereka tidak mengabarkan Kristus, maka mereka juga tidak mengajarkan tentang Kristus mati, Kristus bangkit karena mereka tidak percaya semua itu. Lalu mereka menjadi theolog liberal yang menjadi profesor yang akademiknya tinggi. Semua theolog yang tidak mengabar Injil secara tidak sadar mereka menolak Kristus.

Saya akan memperbesar hal ini, akan mengembangkan konsep ini untuk menusuk banyak theolog yang tidak ada hati nuraninya. Karena mereka bukan saja tidak mengabarkan Injil, mereka juga tidak menganggap mengabar Injil penting, maka mereka tidak menjadi contoh dan tidak mendidik anak buah mereka mengabar Injil. Saya bersyujur sudah 66 umur saya. Tahun ini saya meminta 15 orang memimpin KKR, bukan saya yang memimpin sendiri. Mereka belum bisa memimpin besar-besar seperti apa yang saya pimpin, tetapi saya mendorong mereka memimpin KKR dan mereka harus memberitakan Kristus bukan menonjolkan diri. Mereka harus memberitakan Anak karena hanya Anak Allah menjadi satu-satunya Pengantara antara manusia dan Tuhan Allah. Live up Christ, preach Christ, glorify Christ, honor Him, adore Him and speak out who Christ is and to invite people to come to the Father through the Son, Jesus Christ. Menolak Anak itu dosa terbesar.

Mari kita membaca Yohanes pasal 16. Kita membaca dari ayat ke-8. Yohanes 16 sudah memberikan kepada saudara gambaran yang luar biasa jelasnya tentang normalisasi relasi dan tidak ada yang begitu jelas di dalam semua commentary of Saint John.

Yoh 16:(7) Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. (8) Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; (9) akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; (10) akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; (11) akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.

Saudara-saudara, saya pada waktu masih kecil, saya baca-baca lihat ini bingung. “Waktu Roh Kudus datang menginsafkan manusia tentang dosa, menginsafkan aku dosa menyontek ya? Dosa menipu ya, dosa iri hati ya, dosa membunuh ya, dosa mencuri ya, dosa bohong, dosa tidak jujur?” Tidak! Sama sekali tidak bicara tentang dosa, dosa, dosa, dosa perincian. Saudara-saudara, saya biasa mendirikan/ mengerjakan segala sesuatu mulai daripada outline, dari yang paling besar. Tapi saya bicara langsung, kalau orang apapun yang dipentingkan itu yang kecil-kecil, itu tak habis-habis. Tapi kalau kerja yang besar, itu langsung konsep pokoknya itu dipegang. Itu sudah tak bisa banding. Di sini Yesus mengatakan Roh Kudus datang menginsafkan kamu tentang dosa. Dosa apa yang diinsafkan? “Ya dosa karena engkau mencuri kan? Karena engkau berzinah kan?” Tidak, sama sekali tak bicara soal itu. Dosa paling besar adalah jika engkau tidak menerima Yesus.

Saudara, kau tidak mungkin memberikan ratusan juta, tapi hatimu menolak Kristus. Dosamu tetap. Mengapakah seorang perampok di pinggir Golgota bisa diselamatkan? Mengapa orang farisi yang hafal Alkitab, doa setiap minggu, setiap kebaktian datang dan Alkitab dihafal sampai puasa 2kali seminggu, memberikan perpuluhan, tidak masuk sorga? Karena yang satu menerima Kristus, yang lain menolak Kristus. Banyak orang jatuh ke dalam ketahayulan agama. Kalau saya begini, begini, saya orang Kristen yang baik. Lalu mereka mulai menjadikan diri lebih sombong dari yang lain. Tetapi menjalankan perintah menerima Kristus itu ditolak. Tidak mengutamakan Kristus, melainkan mengutamakan syariah-syariah agama yang saya lakukan. “Saya hari ke-8 sudah disunat, saya dari kecil menghafal Alkitab, saya mengikuti kebaktian, saya berdoa lebih banyak dari orang lain, maka saya lebih suci dari orang lain?” Tuhan bilang tidak! Kau tidak tahu kau tolak Kristus, maka semua kebaikan agamamu hanya mendirikan kecongkakan, kebanggaan dirimu, yang bagi Allah adalah dosa besar.

Watchman Nee mengatakan dosa paling besar adalah dosa yang membenarkan diri, membela diri. Nah saudara-saudara sekalian semua dosa bisa diampuni, tapi dosa yang membangkang untuk membela diri itu adalah dosa yang sulit menerima pengampunan. Tetapi dosa yang lebih besar dari semua dosa-dosa perincian itu adalah dosa total yaitu menolak Kristus. Maka Roh Kudus datang memberikan keinsafan tentang dosamu, kenapa sampai sekarang kamu masih menolak Kristus? Nah ini 2 bagian, baik dari Yohanes 16 dan 1 Yohanes 2, semua hanya ditulis oleh Yohanes. Maka Yohanes adalah rasul yang sangat peka dengan apakah sikap manusia kepada Kristus, karena Man is what he reacts before God. Masih ingat kalimat-kalimat yang selalu saya nyatakan di dalam mimbar ini? Man is not what he is. Man is not what he earns. “Wah, orang ini hebat!” “Kenapa?” “Bisa cari uang banyak.” Jangan kira manusia itu sama dengan uang yang dicari. Manusia jauh lebih tinggi dari uang yang dicari. Kalau engkau memperoleh seluruh dunia, kehilangan jiwamu, apakah gunanya? Berarti tak ada guna. Dapat uang banyak, kehilangan diri, kehilangan identitas di hadapan Tuhan Allah, tak ada gunanya.

Ada orang mengatakan: “Pak Tong saya mau buka toko buku, untungnya untuk mendukung pekerjaan reformed.” Saya bilang: “Tidak! Kalau you mengerjakan segala sesuatu untuk untungnya mendukung reformed, menjadi reformed perlu pertolonganmu. You mengerjakan segala sesuatu dari prinsip reformed, memuliakan Tuhan, vision oriented, not market or profit oriented.” Kita kalau buka sekolah bukan karena mau cari duit. Biar orang kaya yang suka cari duit yang buka sekolah seperti itu. Kita kalau buka sekolah adalah untuk mengabarkan Injil dan membawa manusia kembali kepada Kristus. Kita kalau membikin toko buku bukan jual apa saja. Ada buku Momentum reformed yang saya masuk, jualnya kaset kharismatik semua, saya tutup. Karena mereka kira mereka membantu saya. “Kita bikin toko buku lalu untungnya untuk mendukung pekerjaan Tuhan.” Enyalah engkau! Kalau saya mau cari uang, saya tidak jadi pendeta. Tapi saya mau membawa saudara kembali kepada visi. Kalau visi sudah jelas, maka uangmu baru tahu dipakai dimana. Kalau visi tidak jelas, tak usah kasih. Ini perjuangan yang sulit.

Saya tahu apa yang saya kerjakan jauh lebih sulit dari orang lain. Kita mendirikan gereja lebih sulit dari orang lain mendirikan gereja. Kita membangun gereja lebih sulit dari orang lain membangun gereja. Kita mendapatkan izin membangun lebih sulit dari orang lain. Tapi pada suatu hari kalau memang sudah memberikan jalan, tidak ada satu orang boleh menutup jalan itu. Di situ prinsip-prinsip semua dijalankan. Saudara-saudara sekalian, jadi dosa paling besar justru bukan engkau berzinah, bukan engkau berjudi. Saudara-saudaraku, kalau ada pelacur di sini, engkau bisa diselamatkan. Kalau ada perampok di sini, jangan takut, Tuhan akan menyambut engkau. Tetapi yang menolak Kristus, saya berkata, engkau pasti masuk neraka. Karena dosa terbesar justru bukan dosa perincian, dosa terbesar adalah dosa yang wrong reaction to the Son of God sent as the only mediator between God and man. Dosa terbesar adalah sikap salah terhadap Anak satu-satunya Allah yang dikirim menjadi Pengantara kita. Yang ada Anak, ada Allah. Menyangkal Anak, menyangkal Allah. Barangsiapa melihat Aku, melihat Bapa. Barangsiapa percaya kepada-Ku, bukan percaya kepada-Ku, melainkan percaya kepada Bapa.

Ini tidak terlalu jelas di dalam theologinya Paulus, meskipun Paulus semua mempunyai pengertian seperti yang sama. Tetapi kalimat yang paling jelas keluar dari satu rasul. Siapa? Yohanes. Yohanes rasul yang paling muda. Yohanes mungkin ingatan paling jernih dan Yohanes paling dekat dengan Yesus. Dia selalu dekat Yesus. Waktu malam terakhir Perjamuan Suci, Yohanes menaruh kepalanya di dalam pangkuan Yesus. Dia begitu dekat. Dia takut satu kalimat tidak dengar.  

Saya menjadi guru mulai umur 14. Saya tahu muridku siapa yang dengar baik-baik atau tidak. Begitu saya khotbah, saya tahu berapa orang presentasinya sudah mendengar atau berapa jemaat ikut-ikut. Dari cara matanya melihat saya sudah tahu. Kalau lirik sini lirik situ, tak mendengarkan. Nah saya perhatikan siapa mendengarkan kalimat yang paling penting. Satu kata yang penting masuk, mata dia lain. Itu orang diberkati oleh Tuhan karena dia menerima suatu bahan yang paling penting. Kenapa sama-sama menjadi orang Kristen, ada orang yang menyerahkan diri masuk theologi tidak tahu sudah mengerti banyak, ada orang Kristen puluhan tahun jadi majelis, tak ngerti apa-apa karena dia tidak bersedia mendengar. Karena dia tidak bersedia mendengar kalimat yang penting. Orang yang bisa memupuk atau bisa memetik sesuatu kalimat yang diwahyukan dari atas dari sekian banyak kalimat yang didengar, itu orang berbijaksana luar biasa.

Saya bersyukur kepada Tuhan selama 67 tahun ini saya tiap hari berada di negara yang berbeda, melihat surat kabar yang berbeda dari pendirian politik daripada latar belakang pemerintahan yang berbeda. Waktu di Taiwan saya lihat surat kabar, konsep daripada Kuomintang lain dengan Tiongkok. Tiongkok lain dengan yang di Singapore. Singapore lain dengan di Jakarta. Di luar, kecuali kuala lumpur, tak ada surat kabar yang latar belakangnya Islam. Di Indonesia, tak ada latar belakang Konfusianisme yang menjadi surat kabar. Dan waktu saya tiap hari liat surat kabar, saya lihat: “Oh, pendirian, pengertian yang berbeda-beda dari semua negara pemerintahannya dipaparkan di dalam surat kabar. Lalu apa yang diangkat ke permukakan?” Nah saudara kalimat ini penting. Ini cara orang Yahudi. Membikin yahudi diperhatikan caranya adalah semua yang mereka anggap penting tetapi tidak dianggap penting orang lain, mereka bawa ke permukaan supaya orang Yahudi diperhatikan. Nah dengan demikian, cara untuk menguasai Amerika oleh pikiran Yahudi adalah menguasai ekonomi dan menguasai pers. Bagaimana menguasai ekonomi? Kekuatan seluruh negara akan di tangan mereka. Bagaimana menguasai pers? Seluruh konsep orang Amerika akan di tangan mereka. Jadi surat kabar itu bukan netral. Surat kabar selalu mempunyai pendirian di belakangnya ada motivasi tertentu untuk menyebarkan sesuatu yang memaksa rakyat mengikuti. Maka orang Yahudi di Amerika merebut mati-matian kedua hal ini. Bagaimana menjadi kunci mempengaruhi ekonomi? Bagaimana menjadi kunci mempengaruhi pers? Mengapakah hal yang paling penting itu ditaruh di halaman terakhir? Mengapa hal yang kecil ditaruh di halaman pertama? Karena ada motivasi tertentu. Kalau Paus terjadi sesuatu, pasti dilaporkan di dalam Kompas, karena latar belakangnya Katolik.

Tetapi sekarang, suara orang Kristen ditaruh dimana? Hampir tak ada. Dan banyak yang namanya pers agama sudah tidak lagi berani mewartakan yang seharusnya. Itu sebab pusat pengkajian kita harus digarap dengan baik. Saya bicara sesuatu menentukan seluruh arah zaman ini. Saya cuma tidak diberikan beban untuk hal itu. Tapi saya tahu satu hal: politik di bawah Firman Tuhan.

Saudara-saudara sekalian, reaksi terhadap Kristus, satu-satunya Anak Allah yang diutus menjadi Pengantara ini menjadi penentu seluruh hidupmu dianggap berdosa atau tidak. Sekali lagi, kenapa perampok yang begitu jahat bisa masuk sorga? Kenapa orang farisi yang begitu beragama masuk neraka? Karena yang sini menerima Kristus, yang situ menolak Kristus. Makin beragama makin membenci Kristus. Makin akademik, makin memakai seluruh studinya untuk melawan Kristus. Academic is nearly enslavement by the conviction. Saudaraku, orang kalau tidak menerima Kristus, dia studi sampai Phd-nya 10, adalah mencari bahan untuk menolak Kristus yang dia tolak. Orang kalau cinta Kristus, dia belajar makin tinggi adalah supaya mengerti Kristus yang dia terima, mengerti lebih baik dengan pengetahuan lebih tinggi. Di situ saya melihat lapisan, conviction in your heart always drives your brain. Suatu conviction di dalam hatimu selalu menguasai, memimpin seluruh otakmu. Itulah sebab mari kita benahi hati. Lalu minta otak itu melayani hati. Mari kita mencinta Tuhan, lalu melayani Tuhan dengan segala pikiran kita untuk mencintai Tuhan yang kita cintai. Dengan segala, sebulat hatimu, sepenuh sifatmu, sekuat tenagamu dan seluruh pikiranmu cintai Tuhan.

Saudara-saudaraku, dengan demikian maka Yohanes jauh lebih peka daripada Petrus atau Paulus di dalam hal ini. Anak-Bapa, Anak-Bapa. Jikalau engkau ada Anak, engkau ada Bapa. Jika engkau menyangkal Anak, engkau tidak ada Bapa. Jika engkau mengenal Anak, engkau mengenal Bapa. Jika engkau menolak Anak, engkau menolak Bapa. Tuhan bilang: “Engkau kelihatan lebih cinta kepadaku, tetapi apakah yang engkau lakukan kepada Anak?” Nah, ini yang selalu diloncati baik oleh orang Islam, oleh orang Yahudi atau orang theisme yang lain. Mereka kira sembarang tolak Yesus tak apa-apa asal beribadah kepada Allah. Paulus beriman kepada Allah sampai menganiaya orang Kristen, sampai Kristus berkata: “Saul, Saul, mengapa engkau menganiaya Aku?” “Siapakah Engkau?” “Aku adalah Yesus yang kau aniaya.” Di situ terbalik. The attitude and the reaction to the only given Mediator Christ determines your future. Bagaimana hari depanmu di dalam kekekalan tergantung bagaimana engkau menghargai Kristus yang diutus. Bagaimana engkau menghormati Kristus mengakibatkan engkau dihormati oleh Bapa. Bagaimana engkau menghina Kristus mengakibatkan Bapa akan menghina dan membuang kamu.

Yesus berkata: “Barangsiapa menerima Aku, dia akan diterima oleh Bapa-Ku di dalam sorga. Barangsiapa yang mengejek Aku, barangsiapa yang menolak Aku, ia akan ditolak oleh Bapa-Ku di sorga.” Yang paling peka di dalam poin ini adalah Yohanes. Maka dia mengatakan kalimat: “Maka simpanlah apa yang kau dengar dari semula di dalam hatimu.” Nah ini kalimat bagi saya ada aspek yang lain yang tidak dikatakan oleh orang lain yaitu what you heard in the beginning you should keep.

Nah di dalam Mazmur 119 dikatakan: Oh Bapa, Allah, aku menyimpan firman-Mu di dalam hatiku, supaya aku tidak berdosa kepada-Mu. Sehingga what you keep in your heart will give the consequence of your life before God. [Aku menyimpan firman di dalam hatiku, mengakibatkan aku tidak berani sembarangan berbuat dosa melawan Bapaku di sorga] – Itu betul! Tetapi sayangnya adalah yang kau dengar dari semula itu dengar apa? Nah di sini setan bekerja. Kalau seorang dari permulaan dengar Kristologi yang benar, seumur hidup dia berbakti. Dari permulaan dengar khotbah yang salah, seumur hidup dia celaka. Itu sebab setan memakai yang kau dengar dari semula adalah prosperity theology. [Ikut Tuhan bisa kaya. Beri perpuluhan 1 juta, Tuhan kembalikan 10 juta] – Itu ajaran setan! Kalau itu yang didengar dari semula, itu yang disimpan, seumur hidup susah bertobat. Saudara-saudara sekalian, saya minta 15 orang diutus mengabarkan Injil di dalam sekolah negeri, ada yang dikumpulkan dengan ratusan juta pakai uang untuk membawa orang kepada Kristus, memberikan suatu permulaan yang baik, memberikan firman sebagai dasar yang baik.

Yohanes mengatakan: Itu sebabnya apa yang kau dengar dari semula, disimpan di dalam hatimu. Yang didengar dari semula itu apa? Injil. Injil siapa? Kristus? Siapa Kristus? Anak Allah. Yang apa? Yang mati dan bangkit. Yang inkarnasi turun dari sorga. Itu yang kau dengar. Tetapi inipun bisa dipakai oleh setan dari permulaan memberi bibit yang salah. Anak kecil ditanam dengan bibit yang salah bukan Injil, dari kecil ditanam dengan hanya moralitas: Kristus hanya kesuksesan, Kristus hanyalah sesuatu kesaksian-kesaksian orang disembuhkan. Maka mereka akhirnya mengatakan: “Apa itu Kristen? yaitu cari kesembuhan di gereja. Apa itu iman? yaitu minta dengan suara keras supaya Tuhan dengar saya. Apa itu berkat? yaitu dapat uang yang banyak, mobil yang besar, rumah yang gedhe dan mendapatkan kekayaan di dalam rumah.” Kalau itu yang menjadi pendengar permulaan, lalu itu yang disimpan di dalam hatimu, celaka! Yohanes mengatakan: Kau simpan firman yang kau dengar dari semula baik-baik dalam hatimu. Puji Tuhan! Mereka pada permulaan dengar adalah Kristus yang mati di atas kayu salib.

Kemarin waktu saya lihat TV itu, Iran terjadi gempa bumi yang besar, yang mati banyak sekali. Sekarang pemerintah Iran buka pintu untuk bantuan internasional boleh datang kepada Iran. Daerah itu selalu ada gempa bumi. Kadang-kadang sampai 8 derajat richter, kadang-kadang 6 derajat. Kemarin di tengahnya Taiwan 6,4 skala richter gempa bumi. Banyak orang mati di tengah jalan, ketakutan luar biasa. Saudara-saudara, nah kalau terjadi hal-hal seperti demikian, saya tanya: Kenapa orang Kristen dapat kesulitan sedikit marah-marah sama Tuhan? Tapi kalau daerah Islam seperti Iran gempa bumi terjadi tetap “Allah…Allah…”, kuat iman luar biasa. Kenapa? Saya tanya: Kenapa orang-orang agama lain waktu gempa bumi, waktu bencana alam, tetap beriman kepada Allah mereka? Tetapi orang Kristen sedikit kena gigit nyamuk nanya “Dimana cinta Tuhan? Kenapa doa saya tidak didengar?” Seolah-olah Tuhan berhutang kepada engkau tak habis-habis. Tiap hari sudah melayani engkau, melayani engkau yang tak habis-habis mintanya, serakahnya. Kenapa sih? Kenapa agama pada negara-negara yang banyak bencana alam tidak menjadi suatu hari mereka goncang? Tetapi agama Kristen menjadi sesuatu ketagihan bagi orang-orang yang gak habis-habis tuntut Tuhan harus menuruti kehendaknya? Karena pendeta-pendeta rusak yang telah merusakkan gereja. Banyak pendeta yang mengabarkan Injil yang tidak murni, memberitakan firman yang tidak sesuai dengan Alkitab, mengajarkan ajaran-ajaran yang melawan wahyu Tuhan, mengakibatkan banyak orang yang tidak beres.

Saudara-saudara sekalian, peliharalah firman yang kau dengar dari semula. Kalimat ini bagus. Untuk pendengar (penerima surat dari 1 Yohanes), mereka benar karena mereka dari permulaan mendengar Kristologi yang benar. Tetapi sekarang kalimat ini kalau disampaikan oleh gereja: “Dengar baik-baik apa yang kau terima, simpan baik-baik dalam hatimu.” Dari permulaan simpannya sudah salah, bagaimana? Dari permulaan pondasinya sudah salah, bagaimana? Saudara-saudaraku, engkau tumpuk barang, kenapa terus miring? Tumpuk-tumpuk lagi terus miring, tumpuk yang rapi tetap miring, karena jungkitnya miring. Benar tidak? Kalau jungkitnya miring, sini 5 cm, sini 2 cm, engkau taruh satu buku begini, engkau bikin lurus ya tetap begini. Kenapa? Akhirnya ditemukan, “Ada setannya ya di sini? Saya tumpuk banyak kok jadi miring?” Bukan setannya, jungkitnya miring. Itu tok! Karena jungkitnya miring 5 cm, seluruh buku miring. “Waduh keliatan lebih indah, menara modern, streamline!” Bahkan Amsal Sulaiman mengatakan: Kalau pondasi salah, orang benar tak bisa berbuat apa-apa. Kalau dari permulaan ada melenceng sedikit, maka akhirnya akan menyeleweng banyak. Peribahasa Tionghua mengatakan: (permulaannya hanya beda 1 mili, tetapi akhirnya menjadi ribuan kilometer perbedaannya). Kenapa? Karena serong sedikit.

Saudara-saudara, kalau di sini ada satu angle yang cuma 1 derajat, maka saya perpanjang, perpanjang, perpanjang, setelah sampai di Surabaya jadi berapa bedanya? Mengerti? Permulaan cuma beda sedikit. Maka firman pertama-tama yang engkau dengar itu penting sekali. Pertama kali dengar khotbah, dengar siapa? Pertama kali mengenal Alkitab melaui siapa? Pertama kali ikut katekisasi apa yang diajarkan? Pertama kali engkau ikut kebangunan rohani, kebangunan rohani apa?

Saudara-saudaraku, Kristologi menjadi dasar, karena Christ is the cornerstone of the Chuch, and the apostles, and the prophets are the foundation of the Church dan pengajaran-pengajaran yang lain menjadi yang bukan utama. Dengan jelas Alkitab mengatakan gereja berdiri di atas rasul dan nabi, di bawahnya ada Kristus sebagai batu penjuru. Cornerstone di dalam sesuatu kebiasaan orang Yahudi membuat rumah, membuat satu batu yang mengikat kanan dan kiri, itu yang berada di tengah-tengah satu sudut, sudut itu menjadi sudut paling penting. Dan batu yang di sini kait kepada batu itu, sehingga rumah itu mulai dari situ menjadi sesuatu dasar yang tidak goncang. Dan itu harus 90 derajat. Dan dengan keadaan yang akurat dan hitungan yang paling jitu, mulailah rumah itu dibangun dengan baik.

Saudara-saudara, jangan kira asal bawa orang ke gereja, bawa orang ikut kebaktian, entah siapa saja, yang ribut-ribut yang menyenangkan dia. Harus bawa orang datang menyenangkan Tuhan, bukan minta Tuhan menyenangkan orang itu, salah. Gereja bikin segala sesuatu untuk orang bisa terima tapi tidak membawa manusia untuk bisa diterima oleh Tuhan, salah. Pondasi pertama kalau tidak beres, kalau sudah serong sedikit, akibatnya tidak bisa diselesaikan.

Ada satu rumah di atas gunung, dia punya atap yang begini. Lalu kalau turun hujan, ‘tik’, menetes persis di pucuk tengah ini, lalu ada yang mengalir syuur ke sini, ada yang mengalir syuur ke sana. Akhirnya ditelusuri air yang menetes itu ke mana? Lalu lari ke sebelah halaman sini, kalau sudah penuh lari ke luar, sudah ke luar lari ke sawah, sudah ke sawah lari ke sungai, sudah ke sungai akhirnya yang satu ke Mississipi, yang satu ke Colorado. Tadinya dari atap yang sama. Tapi yang turunnya ke Mississipi pergi ke Mexican gulf, yang turun ke Colorado pergi ke Pasific Ocean. Dua titik air yang tadinya sama dari satu ‘tik’, akhirnya satu di Amerika, satu di Asia, mendekati sebelah Pasifik dan tidak akan ketemu lagi. Hanya karena apa? Bedanya cuma satu mili, akhirnya bedanya adalah ribuan mili. Demikian juga anakmu, sama-sama lahir di keluargamu, sama-sama panggil kamu ‘papa, mama’, besok yang satu di sorga, yang satu di neraka. Besok satu reformed, satu kharismatik. Besok satu theologinya benar, yang lain tidak karu-karuan. Karena apa? Semula dengar apa!

Yohanes mengatakan: Kalau semula dengar baik lalu sekarang simpanlah baik-baik firman yang kau dengar dari semula. Di sini bedanya dengan ayat pertama pasal pertama. Pasal pertama adalah Firman yang ada pada mula. Berbeda dengan firman yang mula-mula kau dengar. Ini dua hal berbeda. Firman yang ada pada mulanya adalah self existence. Yang di pasal ini adalah firman yang diberitakan kepadamu for the first time. First time itu penting sekali. First impression impresses most. Pertama kali pegang konsep apa, itu pengaruh selama hidup.

Ada seorang anak kecil yang di desa. Kecil sekali desanya dan dia masuk ke kota ikut sekolah. Waktu ditanya, “Ini apa?” “Ini kucing.” “Ini apa?” “Ini nggak tahu.” “Masa kamu dari desa nggak tau ini apa?” Dia lihat lagi, seperti tahu seperti tidak. “Apa ini?” “Nggak tahu.” “Ini kuda. Ini?” “Ini bebek.” Yang nggak tahu itu apa? Sapi. Loh di desa itu pasti ada sapi. Padahal desa dia itu kecil. Sapinya cuma satu, sapi hitam. Yang di gambar itu sapinya putih. Ditanya, ini apa? “Ini nggak tahu, ini bebek, ini kuda, ini kelinci.” Semua tahu, cuma ini nggak tahu. Akhirnya orang kira dia IQ rendah. Dari desa kok nggak tahu sapi. Akhirnya ditelusuri, dia pulang… “Mama, saya sudah diuji, masuk sekolah, tapi ada satu saya nggak tahu Ma.” “Apa itu?” “Yang gini loh modelnya persis sama kita punya.” “Jadi kamu nggak tahu itu apa?” “Nggak tau, karena sapi khan itemkhan Ma?” Dia kira kalau sapi nggak hitam bukan sapi. Kalau sapi, harus hitam, karena pertama kali liat sapi hitam. Maka semua yang nggak hitam itu SaTi (sapi putih), bukan sapi. Dia nggak bisa switch, karena first impression itu respon.

Saudara-saudara, karena saya memberikan firman yang tidak akurat, saya mengajarkan Alkitab dengan sembarangan, lalu engkau mendapatkan konsep yang salah, sampai selama-lamanya engkau salah, dosa saya besar. Kalau saya membangun pondasi yang jumplang, lalu seumur hidup engkau jalan ke situ pusing, jalan ke sini jatuh, saya akan mempengaruhi engkau seumur hidup. Maka pondasi permulaan/  pendahuluan itu penting luar biasa.

 Saudara-saudaraku, bagaimana dengan anakmu? “Oh tak apa-apa lah, anak pokoknya ikut gereja di mana saja sembarangan tak apa-apa, pokoknya ke gereja lebih baik dari atheis khan?” Saudara, kalau anakmu dididik semenjak kecil di dalam awal yang benar, jalan yang betul, sampai tua dia tidak akan menyeleweng. Tahun ini kita membuat konser untuk anak, tahun ini kita memperkuat penginjilan anak, tahun ini kita akan membikin retreat untuk anak remaja. Satu converence injili untuk teenage. Bukan asal kerja, asal ada sekolah, asal pergi, asal bisa ngomong, asal studi, asal sehat, asal gemuk. Babi lebih gemuk dari anakmu! Tidak! Dari permulaan ditanam sesuatu yang benar untuk seumur hidup berarah dan dibangun di atas pondasi yang benar.

Lalu dikatakan: Simpanlah apa yang kau dengar dari permulaan dengan baik dalam hatimu dan di situ engkau akan dididik, disempurnakan. Kita kembali ke ayat-ayat yang kita baca tadi. 1 Yohanes 2:22-24

1Yoh 2:(22) Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. (23) Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa. (24) Dan kamu, apa yang telah kamu dengar dari mulanya, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar dari mulanya itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa. 

Berarti dari permulaan mereka sudah mendengar tentang Bapa mengirim Anak. Dari permulaan mereka sudah mendengar Anak mewakili Bapa. Dari permulaan mereka sudah mendengar tentang tidak ada orang melihat Allah, kecuali Anak yang di pangkuan-Nya itu yang menyatakan diri. Dia adalah Firman yang menjadi daging. Dan ini khotbah pertama yang mereka dengar yang benar. Dan di situ dasar yang kuat membikin mereka mungkin dibangun, mungkin disempurnakan di atas dasar yang betul. Lalu ayat ke 25, “Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.” Nah ini adalah satu-satunya ayat di seluruh Kitab Suci, semua janji disimpulkan menjadi sesuatu yang tunggal. The only promise, the only covenant. Satu-satunya janji di atas segala janji yang lain adalah hidup kekal di dalam Kristus. 

Roma 6:23, “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus, Tuhan kita.” The wages of sin is death; but the gift of God is eternal life in Jesus Christ our Lord. Saudara-saudaraku, di sini pakai kata ‘karunia’, di sana pakai kata ‘janji’. Dan dua ini sama. Janji Allah untuk orang berdosa adalah megaruniakan Kristus. Dan janji, janji, janji, janji yang banyak itu tidak lebih penting dari janji ini. “Tuhan, Engkau janji menyertai aku kan? Tuhan janji Engkau akan memberikan kecukupan kepadaku. Tuhan janji Engkau akan memberikan anugerah. Tuhan janji Engkau akan melindungi aku. Tuhan janji Engkau akan memberikan kekayaan kepadaku.” Semua janji itu tidak penting! Itu merinci, mendetil, tidak penting. Dasarnya satu, hidup kekal. Saudara-saudaraku, tidak ada karunia lebih besar daripada Allah memberikan Kristus kepada dunia ini. Tidak ada karunia lebih penting daripada Allah memberikan Roh Kudus kepada gereja. Tidak ada janji lebih besar, gereja mendapatkan hidup kekal melalui Kristus. Tidak ada karunia lebih penting dari manusia melalui mengenal Kristus mendapatkan hidup kekal yang dijanjikan. 

Saudara-saudaraku, the promise of God is eternal life. The grace of God is in Jesus Christ. And the grace of salvation Jesus Christ is to let us obtain eternal life. Melalui Kristus yang mati dan bangkit supaya kita memperoleh hidup yang kekal, inilah anugerah terbesar, inilah yang dijanjikan di seluruh Kitab Suci. Dari seluruh Kitab Suci, bicara tentang karunia paling besar: Kristus. Bicara tentang iman paling besar: menerima Kristus. Bicara mengenai dosa paling besar: menolak Kristus. Bicara mengenai janji paling besar: hidup kekal di dalam Kristus.

Engkau mengaku Anak, mengaku Bapa. Engkau menyangkal Anak, tidak ada Bapa. Engkau menerima Kristus, menerima anugerah. Engkau tidak menerima Kristus, tidak ada hidup kekal. Engkau menolak Kristus, dosa paling besar. Semua kuncinya cuma satu, Kristus. Ini namanya Kristen. Ini namanya agama. Kenapa sih pemimpin-pemimpin dari PDI ada yang mengatakan saya tidak percaya Kristus satu-satunya? Kenapa sih Vatikan ke-2 menolak bahwa hanya di dalam Yesus ada keselamatan? Kenapa sih Islam, Katolik, Liberal, semua menolak Kristus? Karena Alkitab mengatakan: Pada hari itu, Aku akan memberikan mereka satu hati yang berat mendengar sehingga mereka tidak tahu kesalahan mereka dan mereka menolak kebenaran. 

Pada hari akhir, manusia akan menjadi gatal kupingnya dan tidak mau dengar lagi firman yang benar, suka mencari guru-guru palsu untuk mengajarkan yang sesat. Ini sudah di catat di Alkitab. Saya melihat makin lama makin sedikit gereja yang mau setia kepada kebenaran, karena market orientation. Ya kalau jalan sempit, susah. Kalau mau betul-betul diberkati Tuhan, uang banyak, ya harus kompromi sedikit lah. Kita harus berani mengatakan: “Bukan hanya melalui Yesus. Melalui siapapun bisa diselamatkan, tapi lebih baik melalui Yesus lebih deket, jalannya tol. Yang lain itu macet-macet.” Tak ada ajaran itu! There is only way, one savior, one mediator, one person in Christ. Janji Allah adalah hidup di dalam Yesus Kristus. Dan kalau engkau dengar dari permulaan tentang Dia, maka engkau simpan firman itu baik-baik dalam hatimu.

Saudara-saudaraku, maka setan bekerja:

  1. Dari mula-mula kasih ajaran salah supaya engkau tidak memiliki pondasi yang benar.
  2. Dari setelah engkau katanya menerima urapan, kau tidak usah berguru, engkau mulai menjalankan tafsiran sendiri.

Sekarang saya akan loncat kepada bahaya kedua yang selalu mengancam orang Kristen berdasarkan ayat ini. Kita membaca 1 Yohanes 2:26, “Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu.” Nah ini terjemahan lainnya adalah: “Aku tulis ini karena orang-orang yang menipu kamu.” Berarti Yohanes gelisah. Saya pernah mengatakan: Tuhan memperpanjang hari Yohanes di dunia ini, tidak boleh dia cepat mati untuk dia menjadi penjaga gawang. Karena rasul Paulus sudah meninggal, rasul Petrus sudah meninggal dan Gnostisisme selalu merongrong gereja. Perlu seorang yang masih hidup mempunyai wibawa sebagai rasul untuk menangani semua penyesatan ini. Siapa? Yohanes. Lalu saya mengatakan: “Saya percaya saya tidak bisa terlalu cepat mati, karena Tuhan mau pakai saya untuk membereskan iman yang gak beres di seluruh Indonesia.”

Saudara-saudara sekalian, saya seharusnya sudah mati beberapa kali. Waktu komunis, waktu itu ada orang mendapatkan nama saya di dalam daftar untuk dibunuh. Pemimpin-pemimpin itu salah satu yang harus dibunuh saya. Beberapa kali tidak jadi mati, kenapa? Karena belum waktunya. Kalau belum waktunya, tidak usah takut. Kalau sudah waktunya, tidak usah lari. Pacaran juga sama. Kalau bukan punyamu, tidak usah dikejar. Kalau punyamu, laripun kembali. Kalau memang itu punyamu, ya sudah gak usah dikejar-kejar sampai setengah mati, repot bikin susah sakit terus, pusing, kuatir. Belum waktunya mati, tidak usah takut. Waktunya mati, laripun kena, tidak ada gunanya. Karena Tuhan yang memiliki hidup kita.

Nah, saudara-saudara, perhatikan di sini ya. “Semua ini kukatakan kepadamu karena ada yang menyesatkan kamu, ada yang menipu kamu, ada yang berusaha berbohong mengabarkan pengajaran yang salah kepada kamu, maka aku sekarang mengajar kamu.” Tetapi justru di ayat ini, muncul satu kalimat yang heran sekali. Perhatikan selanjutnya. “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain.” Wah ini, ini yang bikin orang yang nggak mau belajar paling senang. Alkitab berkata nggak usah diajar oleh orang lain kan? Karena ada urapan. Makanya pendeta-pendeta pantekosta, kharismatik tidak mau belajar theologi, karena apa? “Ini Alkitab, kita sudah urapan, dan kamu tidak usah diajar oleh siapapun, cuma harus baca surat Yohanes.” Lho, kalau gak usah diajar siapapun, Yohanes juga gak usah tulis kan? Mengerti logikanya? “Kamu nggak usah diajar oleh siapapun, tapi baca buku ini ya, aku tulis kepada kamu.” Berati perlu belajar tidak? Tak perlu ya? Yang mengajarkan, “Tak usah belajar, inilah pengajaranku,” belajar tidak? Mengerti tidak? Yang nggak ngerti lain kali gak usah datang ke sini.

Seorang sekolah theologi, dosennya datang kepada saya. (A: dosen B: Pak Tong)

A: “Pak Tong, kami ingin engkau mengajar di sini.”

B: “Sekolah apa itu?”

A: “ Sekolah ini ini...namanya ini ini…”

B: “Muridnya berapa?”

A: “180”

B: “Dosennya berapa?”

A: “8”

B: “Saya mau tau, dosenmu itu semua belajar di mana?”

A: “Oh dosen kita itu semua ada pengurapan Roh Kudus. Mereka tidak perlu diajar, mereka langsung dari Tuhan. Maksudnya itu lebih hebat dari mereka yang harus belajar setengah mati. Ini langsung.”

Kalau kulakan harus dari pabrik donk, jangan kulakan dari agen. Kulakan dari agen keuntung 1 kali. Kalau kulakannya dari agen ketiga, keuntungannya 4 kali. Kalau langsung dari pabrik mengenal bosnya, langsung dikasih paling murah. Engkau paling banyak untung kan? 

A: “Dosen kita semua gak ada yang sekolah theologi. Mereka itu mengajar sekolah theologi dan mereka itu semua langsung dari Tuhan.”

B: “Saya tidak mau mengajar di situ.”

A: “Tapi bapak itu ada urapan khusus. Bapak itu ada langsung dari Tuhan juga, maka Bapak boleh mengajar di sini.”

B: “Nggak. Saya kalau ke situ minder, karena mereka langsung, saya gak langsung. Saya sudah belajar theologi berapa tahun, sudah baca buku begitu banyak, saya gak langsung. Saya harus belajar ini itu batu tahu, mereka langsung. Saya minder kalau ke situ.”

A: “Jangan rendah hati donk Pak Tong.”

Semua yang mau pakai saya itu memperalat saja. Mereka bukan sungguh-sungguh mau ajaran saya, mau pengaruh saya. Saya nggak mau. Lalu mereka mengatakan apa?

A: “Jangan begitu, ini kesempatan yang Tuhan berikan kepada Anda.”

Kalau saya gak pergi saya kehilangan kesempatan. Kemarin dalam masterclass saya baru mengajar tentang Kairos, kronos dan kesempatan. Saya bukan tidak tahu apa itu kesempatan. Kesempitan iya. Kesempatan tidak.

B: “Tidak, saya tetap tidak mau.”

A: “Kenapa Pak Tong?”

B: “Gampang alasannya. Gini loh, Tuhan bisa langsung memberikan sesuatu kepada seorang hamba Tuhan?”

A: “Iya Alkitab mengajar, Tuhan langsung. Paulus mengatakan aku lebih hebat, bukan kata orang tetapi langsung menerima wahyu dari Tuhan Yesus.”

B: “Jadi dosen-dosenmu yang di situ itu mirip Paulus ya?”

A: “Ya itu, lain sama dosen-dosen sekolah theologi yang lain.”

B: “Jadi Tuhan bisa langsung kepada dosen itu?”

A: “Iya, iya sudah langsung.”

B: “Kalau begini, dosenmu nggak usah ngajar murid. Kenapa? Karena kasih tau rahasia langsung saja, supaya murid-muridmu langsung nggak usah datang sekolah theologi. Masa dosenmu monopoli langsungnya? Terus yang lain langsing, elu yang langsung? Dosennya bisa langsung dapat, kalau gitu murid-murid di situ juga bisa langsung kan? Kalau murid-murid bisa langsung seperti gurunya, sudah kasih tau rahasianya, nggak usah ngajar. Masih nggak ngerti?”

A: “Pokoknya Pak Tong ngajar.”

B: “Pokoknya tidak.”

Lalu beberapa bulan lagi saya mendengar satu hal. Terjadi dalam satu sekolah theologi yang terkenal lagi. Saya garuk kepala yang nggak gatel sampai lama karena nggak ngerti. Sekolah theologi terkenal di Batu, ratusan murid, didirikan oleh orang Jerman. Tetapi akhirnya salah satu orang menjadi pemimpin yang paling senior mendapatkan wahyu dari Tuhan: “Kita harus langsung dari Tuhan.” Maka 750 buku di perpustakaan dikeluarkan dibakar habis. Buku-buku dibakar habis karena ini buku bikinan manusia. “Kita harus langsung dari Tuhan, tak usah manusia.” Ayatnya? Ini. Dasarnya? Ini. Ini Alkitab, harus taat khan? “Tetapi karena itu tidak perlu kamu diajarkan oleh orang lain, karena kamu telah menerima daripada-Nya yaitu pengurapan dari atas. Kamu sudah tetap ada pengurapan maka itu kamu tidak perlu diajarkan oleh orang lain.” Maka Rommy, Benyamin, semua yang mengajar, Rudi, mulai hari ini copot, karena menurut ayat ini gak usah diajar oleh orang lain. Kamu khan orang lain? Sesudah itu dibakar, lalu semua “Puji Tuhan, kami sekarang langsung dari Tuhan, gak usah buku, gak usah belajar.” Sudah puji Tuhan, puji Tuhan lalu mereka mulai khotbah, khotbah dengan doa, doa. Dari Alkitab ada khotbah. Dan mereka dengar-dengar sendiri merasa khotbahnya bagus harus dibukukan. “Ini langsung dari Tuhan kalau gak dibukukan sayang khan?” Jadi buku orang lain dibakar, buku sendiri ditulis lalu dicetak. “Ini langsung dari Tuhan. Itu gak langsung, ini langsung. Itu jalan kecil, ini tol. Ini yang lebih cepat, ini langsung.”

Kalau engkau menganggap Tuhan bisa beri kepada engkau, kenapa engkau tidak percaya Tuhan bisa beri kepada orang yang menulis buku sebelumnya? Kalau engkau percaya Tuhan bisa langsung kepada engkau, kenapa engkau harus didik anak orang lain? Karena mereka nggak bisa langsung, jadi harus dididik kamu? Ayat ini bisa disalah tafsir luar biasa.

Salah tafsir pertama:

  1. Harus terima sesuatu, disimpan baik-baik apa yang kamu dengar pada semula. Tapi kan semula dengar salah lalu disimpan baik-baik. Celaka! Kalau pondasinya miring, engkau tumpuk bagaimana tinggi, seluruh miring. Satu kali saya pinggangnya sakit sekali. Karena apa? Waktu itu saya umur 20 an terus berkhotbah, berkhotbah sampai suatu hari sepatu copot satu, jadi satu tinggi, satu pendek. Saya pikir selesaikan dulu baru nanti pulang beli sepatu yang baru. Tapi masih ada 1 bulan, terus pake sepatu yang satu tinggi satu pendek. Dua minggu kemudian mulai sakit. Karena apa? Baru ingat ayat: Pondasi kalau gak beres, orang benar gak bisa apa-apa. Sampai di dokter ditanya, “Kenapa engkau sakit?” “Nggak tau, sudah satu bulan lebih.” “Oh sepatumu satu tinggi satu pendek, pantas!” Saya berusaha untuk menahan diri, untuk 5 menit sih boleh, untuk 2 bulan gak bisa. Engkau dengar khotbah-khotbah yang salah-salah, 5 menit tak apa-apa, terus menerus hancur. Imanmu hancur, karena pondasi dirusakkan. Jadi di bagian ini ada 2 hal yang perlu diperhatikan: semula dengar apa, lalu engkau simpan apa dari semula.
  2. Betulkah ada pengurapan maka tidak perlu diajar oleh siapapun? Yang tidak perlu diajarkan siapapun, kenapa harus terima Yohanes? “Ini kan rasul, saya juga rasul.” Engkau bukan rasul!

Saudara-saudaraku, gereja harus perhatikan yang semula didengar dari para rasul. Dan yang semula itu menjadi sesuatu pondasi kita memupuk iman, pengertian kebenaran di atasnya, lalu kita perlu jangan menerima siapa yang lain. Diajarkan oleh orang lain maksudnya adalah yang lain dari apa yang sudah diajarkan di Alkitab. Bukan siapapun yang engkau nggak senang belajar engkau katakan lain. Kenapa kebanyakan dari mereka yang berani menghina akan ajaran/ doktrin yang penting? Karena mereka tidak mau masuk sekolah. Karena tidak mau sekolah, tidak ada kemungkinan  dikeluarkan dari sekolah. Tidak masuk sekolah, tidak ada kemungkinan untuk tidak lulus ujian. Maka mereka melepaskan diri dari kemungkinan masuk sekolah supaya mereka tidak mungkin teruji, tidak mungkin tergusur, dan tidak mungkin terkubur. Mereka menganggap dirinya sudah mencapai sesuatu langsung dari Roh Kudus. Ini penipuan iblis.

Saudara-saudara, Paulus mengatakan: “Ada apakah yang engkau terima? Maka yang kuterima dari Kristus, kuturunkan kepadamu.” Di situ adalah heredity tradition of teaching. Jadi aku pernah belajar dari theolog-theolog yang lain. Theolog-theolog yang lain belajar dari theolog-theolog yang lain. Yang penting yang disebut lain bukan orangnya lain, melainkan ajaran yang jangan berbeda dari yang semula.

Jadi itu ada satu benang merah, dari seluruh Perjanjian Lama menuju kepada Kristus – Paulus – Agustinus – Calvin – Martin Luther – theolog Reformed. Yang ini. Kalau di luar ini namanya orang lain. Bukan berarti saya sendiri, semua orang lain itu orang lain, semua rasul orang lain, semua bapa gereja orang lain, semua rektor orang lain, saya tidak usah diajar oleh orang lain. Ayat ini bisa menjadi satu kegagalan besar bagi gereja kalau engkau tidak mengerti artinya. Yang disebut orang lain adalah lain daripada ajaran para rasul. Karena kalau engkau tidak perlu diajarkan, kenapa saya harus tulis surat kepada kamu? Yohanes mengatakan: “Saya rasul kan? Jadi yang saya serahkan kepada kamu, terima! Yang lain jangan terima.” Bukan berarti engkau tidak usah belajar. Ini ayat bisa menjadi celaka besar, dan banyak pendeta-pendeta itu tidak mau belajar. Ayat ini bisa jadi celaka besar dan banyak pendeta-pendeta, mereka pakai ayat ini membela diri, akhirnya mengacaukan iman sendiri dan menggoncangkan iman gereja, mengacaubalaukan seluruh zaman. Itu dosa yang besar yang sulit ditebus. Dosa yang membikin orang menyeleweng daripada kebenaran.

Saudara-saudaraku, Minggu depan saya akan mengajarkan bagaimana pentingnya di dalam tradisi yang benar kita memelihara hidup dan iman sejati dari zaman kepada zaman. Saudara-saudaraku, kalau kita tidak memelihara dari apa yang kita dengar dari semula dan kita tidak mengecek dari semula yang kita dengar cocok atau tidak dengan ajaran rasuli dan dari semula kita menerima segala yang melawan rasul, kita tidak pernah mempunyai pondasi yang baik dan kita tidak mungkin berjuang untuk iman yang sesungguhnya, dan kita akan menjadi ikut-ikutan orang. Jangan hanya pentingkan menonjolkan dirimu dan kebolehan dirimu untuk melayani Tuhan di dalam gereja. Harus mengisi dirimu dan membangun dirimu dengan pondasi yang benar-benar benar, baru engkau belajar melayani. Itu sebabnya lebih lambat engkau melayani di gereja ini dari gereja yang lain, lebih banyak dituntut untuk dengar, dengar terus daripada engkau langsung boleh ngoceh mengajar orang lain. Karena yang disebut langsung terima itu selalu salah, tafsiran salah. Yang disebut dari semula dengar selalu dengar yang tidak benar. Dan kita mulai dari pondasi yang benar membangun pekerjaan Tuhan.

Kita berdoa supaya Bapa di dalam Gereja, memberi kekuatan kepada kita untuk mengerti semua rahasia yang di dalamnya kadang-kadang memberi kemungkinan secara lahiriah kepada pekerjaan iblis menyelundup ke dalam. Kita berdoa kiranya Tuhan memberikan bijaksana, kepekaan kepada kami, kewaspadaan kepada kami untuk menjaga baik kebenaran yang sudah Tuhan percayakan kepada bapa-bapa Gereja, yang diturunkan daripada semula rasul yang memberi wahyu sampai akhirnya.

 

Ringkasan oleh Dewi Sanjaya | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya