Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > The most important week of the most important person who ever lived

Ibadah

The most important week of the most important person who ever lived

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 8 Maret 2015

Bacaan Alkitab: Matias 21:1-11 Yohanes 11: 55 – 57, 12: 9 - 19

Mulai minggu ini sampai hari Paskah, kita akan membahas 8 hari terakhir daripada hidup Tuhan Yesus di tengah-tengah dunia ini. Para penulis kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) menganggap, menuliskan dan menyatakan bahwa minggu yang terakhir dalam hidup Tuhan Yesus adalah minggu yang sangat penting; puncak daripada pekerjaan Tuhan Yesus di tengah-tengah dunia ini. Tuhan Yesus hidup di tengah-tengah dunia ini 33 ½ tahun, dia mulai melayani umur 30 tahun. Dalam 3 ½ tahun itu (1200 hari), ada 8 hari terakhir yang merupakan hari terpenting.

Dalam pembacaan Injil Yohanes di atas, konteksnya adalah pada hari Minggu, sebelum Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem dengan mengendarai keledai muda dan dielu-elukan sebagai raja. Peristiwa sebelum itu adalah Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus; peristiwa yang penting dan menggemparkan. Tuhan Yesus sangat mengerti signifikansi peristiwa ini. Dalam Yohanes 11 kita membaca bahwa karena peristiwaTuhan Yesus membangkitkan Lazarus, maka inilah yang  menyebabkan Dia akan ditangkap dan dibunuh karena Lazarus terus memberitakan hal ini dan banyak orang yang ketika mendengar peristiwa ini menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Orang-orang mulai mengikuti Yesus dan mulai percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan itu dan dijanjikan dalam perjanjian lama serta yang akan menegakkan kerajaan Israel, menghancurkan Roma dan mengembalikan kejayaan Israel seperti zaman Daud. Karena itu ketika Tuhan Yesus masuk naik keledai ke Yerusalem, orang-orang berseru “Hosana” yang berarti selamatkan kami (save us). Para pemimpin Yahudi dan Roma mulai gemetar dan mau menangkap serta membunuh Tuhan Yesus. Tetapi ada persoalan lain bagi mereka: bagaimana bisa melawan orang yang dapat membangkitkan orang mati?

Jika kita memperhatikan secara detail, Matius, Markus dan Lukas adalah 3 kitab Injil yang paralel, sedangkan Injil Yohanes lain sama sekali dan banyak perbedaannya. Kitab Matius, Markus, Lukas disebut Injil Synoptic (Syn = bersama-sama, optic = melihat). Jadi Injil Synoptic berarti melihat bersama-sama; mereka melihat bersama-sama tapi kemudian menceritakan menurut apa yang mereka mengerti, menurut pimpinan Roh Kudus bagi mereka; ada maksud dan tujuannya kepada audience yang berbeda masing-masing, dan ada keunikannya masing-masing.    

Dalam Matius 21: 1 – 11, kita melihat bahwa walaupun jarak dari Betania (tempat Lazarus dibangkitkan) menuju Yerusalem itu hanya 2 mil jauhnya, tapi Tuhan Yesus menyuruh 2 orang murid-Nya untuk menemukan dan mengambil keledai betina dan anaknya bukan karena Dia sudah lelah berjalan tetapi untuk menyatakan, menggenapi akan nubuat dalam Zakharia 9:9 tentang Raja, Mesias yang akan datang yang masuk ke Yerusalem menaiki keledai muda yang tidak pernah ditunggangi.

Ketika melihat Yesus yang masuk Yerusalem dengan naik keledai, orang-orang bersorak “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan”. Mereka bersemangat dan sungguh-sungguh tergerak hatinya bahwa inilah Raja yang diharap-harapkan oleh Israel yang akan memberi kemenangan bagi Israel dan menghancurkan Roma. Tetapi hal ini menjadi problem dalam pelayanan dan apa yang Tuhan Yesus sudah kerjakan. Kita melihat dalam peristiwa ini bahwa Tuhan Yesus tidak menolak dan memang sengaja melakukan itu untuk menyatakan bahwa Dia adalah Mesias yang dinanti-nantikan itu. Tetapi dengan melakukan semua itu dan mendeklarasikan diri-Nya, maka hal ini menjadi sesuatu yang bahaya karena akan berhadapan dengan kaisar Roma dan pemimpin-pemimpin agama. Ketika Tuhan Yesus melakukan hal ini maka orang berpikir bahwa Dia menghadapi 2 pilihan:

  1. Berhasil menjadi raja dan menghancurkan Roma
  2. Jika  tidak berhasil maka Dia akan mati

Kita akan melihat dalam minggu-minggu selanjutnya bahwa orang-orang Yahudi dan Roma tidak pernah ada yang berpikir ada alternatif ke 3 yang dikerjakan oleh Tuhan: Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Raja, Dia adalah Mesias tetapi menyatakan diri-Nya sebagai Raja yang mati. Justru melalui kematian-Nya, Dia menyatakan diri-Nya sebagai Raja.

Dalam minggu-minggu ke depan, kita akan merenungkan siapakah Kristus.  Melalui apa yang Dia kerjakan, melalui interaksi-Nya di hari-hari  terakhir, kita akan makin mengenal, mengerti dan juga berdoa supaya Tuhan menyatakan akan kebenaran-Nya, Roh Kudus yang memimpin kita untuk makin mengenal Kristus, cinta kasih-Nya, murka-Nya, kesucian-Nya, dan keadilan-Nya.

Dorothy Sayers mengatakan bahwa kekristenan adalah kisah yang paling indah dan paling menakjubkan yang pernah ada di dalam dunia. Dan seluruh kisah itu berpusat pada satu pertanyaan: siapakah Yesus? Kalau engkau menganggap hal ini sesuatu yang membosankan,  saya tidak tahu lagi apa artinya menakjubkan.

Kita perlu terus bertumbuh di dalam pengenalan akan Dia. Itulah kekristenan yang sejati: makin mengenal Dia, makin kagum kepada-Nya, makin mengerti cinta kasih-Nya, makin mengenal akan kuasa-Nya, bijaksana-Nya, pengorbanan-Nya, kesucian-Nya, segala aspek hidup-Nya dan mendorong kita mau menjadi serupa dengan Kristus.

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya