Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Saling Menerima untuk Memuliakan Tuhan

Ibadah

Saling Menerima untuk Memuliakan Tuhan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 8 Februari 2015

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 15:7-12

Beberapa hari yang lalu ada berita koran mengenai jurnalis Australia, Peter Greste, yang baru dibebaskan setelah 400 hari dipenjara di Mesir, karena dituduh menolong pihak yang melawan pemerintah. Dia mengatakan bahwa dia mengalami near-death-experience selama di penjara, dan setelah mendarat kembali di Australia, dia seperti mengalami lahir baru. Seluruh keluarganya berjuang untuk memberikan tekanan kepada pemerintah Mesir untuk melepaskan Peter, dan kedatangannya disambut dengan suka cita yang besar oleh keluarga dan rekan-rekan jurnalis.

Peristiwa ini merupakan suatu ilustrasi dari apa yang kita baca hari ini, perintah Tuhan untuk menyambut satu dengan yang lain dengan suka cita untuk kemuliaan Allah (Roma 15:7) “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”. Biarlah ayat ini mengingatkan kita sebagai jemaat Tuhan untuk menerima satu sama lain ditengah segala perbedaan, yang kuat maupun yang lemah, yang kaya dan yang miskin, juga dalam konteks yang lebih luas, yaitu suku bangsa yang berbeda-beda,  dlsb. Justru ditengah-tengah perbedaan itu, Paulus mengingatkan kita untuk menerima satu sama lain, mencari kesenangan orang lain demi kebaikannya, untuk membangunnya.

Namun demikian kita tidak boleh berhenti sampai disitu, Alkitab dengan tegas berkali-kali bahwa tujuan akhrnya bukanlah supaya kita menikmati persekutuan itu, melainkan bahwa tujuan ultimate-nya adalah untuk kemuliaan Tuhan. Roma 15:8-9 mengatakan “Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita, dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya”.  Persekutuan itu tidak boleh hanya berhenti pada kebaikan kita tetapi harus juga untuk kemuliaan Tuhan.

Dari sini bisa muncul suatu pertanyaan: apakah dengan demikian kasih kita menjadi kasih yang tidak tulus? Apakah orang hanya menjadi alat bagi kita untuk memuliakan Tuhan? Pertanyaan ini cukup sah, karena orang bisa berbuat baik terhadap orang dengan mempunyai maksud tertentu dibelakangnya. Misalnya saya baik ke seseorang karena saya ingin mendapat keuntungan, menjadi rekan bisnis dia, atau karena ada udang di balik batu. Kita memanfaatkan orang untuk kepentingan kita, misalnya untuk uang. Alkitab berkali-kali mengatakan bahwa dunia ini selalu kontras dengan apa yang Kristus ajarkan, manusia diperalat dalam relasi mereka satu dengan yang lain. Relasi dimanfaatkan demi keuntungan diri. I love money but I use people. Alkitab ketika mengajarkan untuk saling mengasihi untuk kemuliaan Allah, tidak menjadikan manusia menjadi alat. Karena justru Alkitab berkali-kali mengatakan bahwa kalau kita sungguh-sungguh mengasihi orang itu, maka kita seharusnya memberikan apa yang terbaik baginya; dan yang terbaik baginya adalah kalau dia boleh mengenal Tuhan dan percaya kepada-Nya. Agustinus mengatakan kepada Tuhan, “You have created us for Yourselves and our hearts are restless till we find rest in You”, hati kami akan terus gelisah seperti orang asing di tengah-tengah dunia ini sampai kami bertemu dengan Engkau, sampai hati kami berteduh di dalam Engkau. Tidak ada konflik di dalam Alkitab antara mengasihi manusia dengan keinginan untuk memuliakan Allah. Ketika orang yang kita kasihi mengalami Allah yang besar, yang hidup dan berdaulat, maka kita memuliakan Allah. Di satu sisi Allah senang dikenal dalam karakter-Nya, di sisi lain, ketika kita membawa orang mengenal Allah, kita sekaligus membawa kesukaan yang besar kepada orang itu. Dalam Westminster Cathechism “What is the chief end of men? To glorify Him and to enjoy Him forever”, untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya. Ketika kita memuliakan Allah, not only for His glory  but also for our enjoyment, untuk kenikmatan kita di dalam Tuhan.

Di dalam Roma 15:7-9 kita diperintahkan untuk menerima satu dengan yang lain untuk kemuliaan Allah karena Kristus juga telah menerima kita. Kristus menyelamatkan kita supaya memungkinkan bangsa-bangsa yang lain juga memuliakan Allah. Kristuspun melakukan hal yang sama, datang ke dalam dunia, Dia mengasihi dan mati bagi kita supaya kita boleh memuliakan Allah. Di dalam Yohanes 17:4, di dalam doa-Nya kepada Bapa di surga, menjelang akhir dalam pelayanan-Nya, Yesus berkata “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” Puncak kehendak Bapa-Nya adalah mati bagi menebus dosa kita. Ketika Dia mati bagi kita, Dia menerima kita yang berdosa; kita yang berbeda-beda, dan dari segala bangsa; dan dengan demikian Kristus memuliakan Bapa.  John Murray mengatakan “This is a coalescence of supreme grace to us and the promotion of God’s glory”. Coalescence itu adalah dua hal yang menjadi satu, daripada anugerah yang besar (supreme grace) yaitu Kristus mati bagi kita dan tujuan untuk memuliakan Allah. Seperti dua sisi dari mata koin, satu sisi adalah anugerah terbesar dari kematian Kristus bagi kita, dan sisi lainnya adalah memberikan kemuliaan bagi Allah. 

Bagaimana dengan kematian-Nya Dia membawa hormat bagi Allah? Karena dosa adalah sesuatu yang bertentangan dan menghina bagi kemuliaan Tuhan. Dosa adalah menghina kemuliaan Tuhan, tidak menganggap Tuhan itu berharga, dosa adalah kehilangan akan kemuliaan Allah, menginjak-injak dan tidak memperdulikan kemuliaan Tuhan. Bagaimana dengan menolong orang yang meremehkan Tuhan, Kristus boleh memuliakan Allah? Ini menjadi problem yang diungkapkan dalam Roma 3. Problem yang besar bagi orang Israel dan Paulus adalah: bagaimana Allah yang mulia dan manusia yang menginjak-injak Allah, boleh disatukan dalam apa yang dikerjakan Kristus? Jika Tuhan tidak berbuat apa-apa, seperti di dalam perjanjian lama,  di mana sepertinya Tuhan membiarkan hal itu terjadi, Roma 3:25 mengatakan “karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya”. Ketika Tuhan diinjak-injak, maka orang mulai berpikir bahwa kemuliaan Tuhan itu tidak berarti apa-apa,  dan tidak dianggap sama sekali di dalam hidup manusia. Sampai kemudian setelah sudah saatnya, maka Allah mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia untuk menebus dosa manusia. Kematian Kristus di atas kayu salib itu mau mengatakan bahwa kemuliaan Allah itu tidak bisa dipermainkan. Manusia yang harusnya binasa karena menginjak-injak kemuliaan Tuhan, seharusnya menerima hukuman yang ultimate, yaitu kematian kekal, terpisah selama-lamanya dari Tuhan, terlepas dari sumber kehidupan.

Kita bisa mengambil contoh yang lebih deskriptif, yaitu dari kisah Daud yang berzinah, juga membunuh suami Betsyeba, membikin strategi yntuk membunuhnya. Hal ini adalah suatu kejahatan yang besar sekali oleh Daud, dosa yang besar sekali di hadapan Tuhan. Maka Nabi Natan mengucapkan kisah tentang seorang kaya yang mempunyai banyak domba, namun mengambil domba tetangganya yang miskin untuk menjamu tamu-tamunya. Mendengar cerita itu, Daud kemudian marah sekali, dan mengatakan bahwa orang kaya itu harus dihukum mati. Maka Natan dengan tegas mengatakan “Itulah kamu Daud”. Daud menyadari akan dosanya dan bertobat. Yang mengherankan adalah bahwa Tuhan mengampuni Daud. Pengampunan Tuhan menjadi problem yang besar, karena dosa itu menghina kemuliaan-Nya, Bagaimana dengan mengaku saja, Tuhan bisa mengampuni Daud? Untuk lebih menghayati hal ini, kita bisa menempatkan diri kita pada posisi ibu daripada Uria, satu-satunya anak, dan menantu, yang amat dia kasihil. Daud telah merampas segala apa yang ibu Uria miliki, Daud menghancurkan seluruh keluarganya. Tetapi ketika Daud minta ampun, dan Tuhan mengampuninya, seharusnya betul apa yang Daud katakan bahwa orang kaya itu harus dihukum mati. Itu memang satu-satunya keadilan yang harus dikerjakan, maka Daud seharusnya mati karena dosanya.

Ketika manusia melawan Tuhan, maka keadilan Tuhan menuntut manusia untuk harus mati. Kemuliaan-Nya yang begitu besar, justru diputar balik 180 derajat oleh dosa, menjadi sesuatu yang tidak berharga dan diinjak-injak. Kristus anak-Nya yang tunggal, yang seluruhnya berkenan kepada Tuhanm, namun harus diutus untuk melaksanakan tugas dengan mati untuk menebus dosa. Kematian Kristus menegaskan bahwa kemuliaan Tuhan tidak boleh dipermainkan karena itulah hukuman dosa. Dosa Daud dan seluruh orang percaya baik di dalam perjanjian lama dan baru, semuanya diampuni oleh Tuhan di dalam Kristus. Orang-orang perjanjian lama imannya ke depan, kepada kedatangan Kristus. Orang-orang perjanjian baru termasuk kita imannya ke belakang, kepada kedatangan Kristus. Semua pengampunan hanya boleh terjadi di dalam Kristus. Di situlah kematian Kristus menyatakan kemuliaan Allah. Kematiannya menegaskan Tuhan yang mulia tidak boleh dipermainkan. Itulah keseriusan Allah untuk menyatakan keadilan-Nya di atas kayu salib.

Kalau kita kembali Roma 15:7, teladan Kristus menjadi dasar kita boleh menerima satu dengan lain “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah”. Ini menjadi dasar akan apa yang sudah Tuhan kerjakan untuk kita boleh menerima satu dengan yang lain. Ayat ke 8 dan ke 9 kemudian menjelaskan apa yang telah dikerjakan Kristus “Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita, dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis sebab itu Aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa, dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu”. Di sini Paulus membawa kita kepada hal yang lebih luas yaitu bukan hanya untuk menerima satu dengan yang lain di antara jemaat Gereja, tetapi juga untuk memungkinkan bangsa-bangsa, the gentiles, all the nation in the world untuk memuliakan Allah karena rahmat-Nya. Kalau kita melihat lebih detail di dalam ayat ke 8, yang Paulus maksudkan dengan sunat, adalah meterai dari janji Allah bagi orang Yahudi di dalam perjanjian lama. Kristus datang untuk mengokohkan janji itu, menggenapi janji Allah itu. Ketika Kristus menggenapi janji tsb, Dia memuliakan Allah. Ayat ke 9 mengatakan bukan hanya bagi orang Yahudi, tetapi juga bagi segala bangsa, di dalam bahasa Indonesia tidak begitu jelas pembedaan antara Jews and Gentiles. Dalam bahasa Inggris lebih terlihat konteks permusuhan antara orang Yahudi dan non Yahudi. Mereka saling mengkafirkan satu dengan yang lain. Paulus di sini menegaskan bahwa Kristus datang ke dalam dunia bukan hanya menggenapi janji bagi orang Yahudi, tetapi supaya bangsa-bangsa lain juga mendapat berkat dan memuliakan Allah.

Selanjutnya dalan ayat ke 10-12 Paulus mengutip tiga bagian perjanjian lama yang besar dari Alkitab orang Yahudi: mengutip dari Torah (the Law), dari Nevi'im (Para-Nabi), dan dari Ketuvim (Sejarah). Dalam tiga bagian ini, Paulus mau mengatakan bahwa sejak perjanjian lama, Allah sudah berusaha menggenapi janji-Nya, bukan supaya bangsa Israel menikmati berkat untuk diri sendiri, tetapi juga supaya berkat itu dialirkan kepada bangsa-bangsa lain supaya mereka memuliakan Tuhan. (NIV) “(10) And again it is said, “Rejoice, O Gentiles, with his people” (11) And again, “Praise the Lord, all you Gentiles, and let the people extol him” (12) And again Isaiah says, “The root of Jesse will come, even he who arises to rule the Gentiles, in him will the Gentiles hope”. Jesse adalah Isai ayah daripada Daud, dan taruk (keturunan) daripada Isai mengacu kepada Kristus. Mengutip dari tiga bagian Alkitab orang Yahudi ini, Paulus mau mengatakan bahwa dari permulaan kehendak Allah adalah untuk supaya segala bangsa boleh memuliakan Tuhan.

Kalau kita kembali ke Roma 15, dari hal-hal yang praktis, perintah untuk menerima dan mengasihi satu dengan yang lain, Paulus mengangkat hal praktis ini sebenarnya adalah kita meneladani Kristus, karena Kristus sudah menerima kita yang berbeda-beda, dari berbagai bangsa. Paulus kemudian melanjutkan bahwa Kristus menerima kita untuk kemulian Allah. Bukan hanya bagi orang yang sudah menerima Kristus tetapi juga bagi banyak lagi orang di luar sana yang belum menerima Kristus. Pekerjaan Kristus harus dikerjakan supaya semua bangsa boleh kembali kepada Tuhan dan memuliakan Tuhan. Hal ini adalah yang boleh kita lihat di dalam apa yang kita lakukan sehari-hari.

Sebagai contoh, dalam renovasi gedung Gereja, banyak orang berbagian secara praktikal, dan di dalam hal-hal praktikal ini, kita boleh mengingat bahwa semua yang kita kerjakan harus berujung bagi kemuliaan Tuhan. Kalau kita sudah selesai merenovasi Gereja, maka untuk apa gedung Gereja tsb? Untuk memenuhi segala kegiatan Gereja kita, tetapi kita harus ingat dibalik itu ada visi yang agung yaitu supaya kita boleh membawa kemuliaan bagi nama Tuhan ditengah bangsa ini. Kita akan membawa orang-orang mengenal Tuhan, mengerti Tuhan yang mulia, besar dan patut disembah, Tuhan yang memberikan Firman yang harus didengar, Tuhan yang menyatakan keadilan-Nya di dunia ini, .Tuhan yang menyatakan murka-Nya kepada manusia berdosa, yang memberikan pengampunan, mengasihi, dan memimpin kita. Dia adalah Tuhan yang ingin dikenal dan dipermuliakan. Dengan gedung yang baru ini, biarlah tujuan memuliakan Tuhan itu bisa kita kerjakan lebih efektif, bukan sekedar untuk kita nikmati bagi diri kita sendiri, biarlah kita bisa berbagian dalam misi global Allah. Kita harus membawa hal yang praktikal kedalam rencana memuliakan Tuhan di antara bangsa-bangsa. Ini akan membuat hidup kita berlimpah-limpah dan bersuka-cita yang tidak ada habis-habisnya saat kita masih hidup di tengah dunia ini. J Campbell White, dari Laymen’s Missionary Movement mengatakan [1] kebanyakan pria tidak puas dengan output hidupnya, tidak ada yang bisa memberi kepuasan pengikut Kristus kecuali menjadikan tujuan Kristus bagi dunia menjadi tujuan hidupnya juga. Ketenaran, kenikmatan dunia dan kekayaan adalah debu dibandingkan suka cita berlimpah-limpah dan kekal di dalam bekerja bersama Allah menggenapi rencana kekal-Nya. Para pria yang menyerahkan segalanya bagi misi Kristus menerima dan mengalami hidup yang paling bernilai dan berkelimpahan.

Renungan hari ini mengajak kita untuk berbagian dalam misi Kristus, dan di situlah kita masuk ke dalam rencana kekal dan isi hati Tuhan. Kita juga mengadakan Welcoming day bagi mahasiswa baru yang baru datang ke Australia, mungkin di Indonesia, mereka terpaksa ke Gereja karena disuruh oleh orang tua. Tetapi begitu mereka lepas dari orang tua, maka mereka bebas di kota yang sangat sekuler dan menghancurkan hidup mereka. Kalaupun mereka sukses dalam studi mereka, mereka akan makin jauh dari Tuhan dan hidupnya mungkin tidak bisa diselamatkan. Juga ada orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan, yang belum pernah mendengar Injil,, datang ke kota ini, dan mereka akan bebas juga di kota yang sekuler ini. Biarlah kita boleh berusaha untuk mengajak orang yang datang dari segala kota, dari segala bangsa  ke kota ini untuk mendengar Injil dan menyambut mereka dengan hangat. Bukan hanya demi persahabatan, tetapi ultimately demi mereka mengenal dan memuliakan Allah, mengalami suka-cita yang berlimpah-limpah di dalam Tuhan. Ini menjadi aplikasi yang sangat real dalam konteks kita melayani kota ini.

Kita akan tutup dengan mengambil berita di sekitar kita, yaitu Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, dua orang Australia yang dijatuhi hukuman mati di Bali. Disini kita tidak membicarakan setuju atau tidak setuju hukuman mati, tetapi dari berita yang kita dengar, kita melihat bagaimana usaha semua pihak, dari pemerintah Australia, pengacaranya, keluarganya, dari diri mereka sendiri untuk menghindari hukuman mati. Mereka begging for their lives. Kalau kita menempatkan diri kita di tempat keluarga mereka, kita akan mengerjakan apa-pun untuk menghindari hukuman tersebut. Tetapi kalau kita lihat student yang datang, banyak dari antara mereka yang menuju kematian kekal kalau akhirnya mereka tidak menerima Kristus. Bukankah usaha kita seharusnya lebih keras dari pada keluarga dan teman-teman Andrew dan Myuran. Kalaupun Andrew dan Myuran menerima Tuhan sebelum ditembak mati, mereka hanya akan meninggal secara jasmani, bukankah Kematian kekal. Tetapi yang dihadapi orang=orang yang tidak percaya adalah lebih mengerikan yaitu kematian kekal. Andaikan Andrew dan Myuran dibebaskan dari hukuman mati, kita bisa bayangkan betapa besar sukacita mereka, bukankah kita juga akan lebih bersukacita memuliakan Tuhan, ketika ada orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, menderita kesulitan di tengah dunia ini bahkan bisa untuk selama-lamanya mengalami kematian kekal; namun akhirnya mereka bertobat dan menerima Tuhan.

Kristus telah menjadi pelayan, Dia telah menerima kita melalui taat dan mati di atas kayu salib, supaya memungkinkan bangsa-bangsa lain memuliakan akan rahmat-Nya. Biarlah kita juga mengikuti teladan-Nya, mengasih, berdoa, berjuang dengan kekuatan yang Tuhan berikan dalam waktu yamg masih Tuhan berikan kepada kita.

Dengan adanya gedung yang baru, pasti akan menuntut pekerjaan yang lebih berat lagi. Itulah yang kita inginkan, lebih banyak pelayanan yang dapat kita kerjakan, untuk menjangkau lebih banyak orang. Saya mau mengajak bukan hanya para aktifis, tetapi semua kita masuk ke dalam rencana kekal Tuhan, Dia sendiri melakukan semuanya dengan mati bagi kita supaya saudara dan saya, bangsa-bangsa yang tadinya tidak mengenal Tuhan, masuk ke dalam rencana-Nya, mengalami suka-cita yang berlimpah-limpah. Biarlah kita mengikuti teladan Kristus, berjuang, mengasihi, menyambut orang-orang yang baru datang, yang belum percaya kepada Tuhan, untuk boleh mengenal Tuhan, kembali kepada-Nya, dan bertumbuh untuk semakin serupa dengan Kristus. Kita bisa melihat keindahan di dalam mengalami dan mengerti akan hidup yang penuh dengan tantangan namun selalu ada pertolongan, pembentukan dan anugerah dari Tuhan. Marilah kita mentaati dan mengikuti teladan Kristus yang diberitakan pada hari ini. 

[1] Excerpted from Secretary of the Laymen's Missionary Movement, 1909, lihat http://www.desiringgod.org/blog/posts/satisfying-the-life-of-christ-within-us.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya