Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Rhema dan Logos

Ibadah

Rhema dan Logos

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 25 Januari 2015

Download audio

Bacaan Alkitab: Roma 15:4-7

Sebelumnya kita telah membahas Roma 15:4 “(4) Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci“ yang merupakan salah satu ayat yang paling penting mengenai peranan Kitab Suci di dalam hidup kita. Kita kali ini akan melihat kaitan antara Roma 15 ayat ke 4 dan ke 5, “(5) Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus“. Ada dua kata yang diulang di dalam ayat ke 4 dan ke 5 yaitu ketekunan dan penghiburan. Ketekunan adalah sesuatu yang kita butuhkan dalam mengikuti kehendak Tuhan, ditengah kesulitan dan tantangan yang kita hadapi. Firman memberikan kekuatan dan penghiburan kepada kita ditengah segala pergumulan kita. Tuhan melalui Firman-Nya memberikan encouragement kepada kita.  

Dalam Roma 15:5, kata yang sama dipakai, tetapi di sini ayat ini tidak lagi berbicara mengenai Kitab Suci, Paulus berdoa “Semoga Allah yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan …”, (NIV)May the God who gives endurance and encouragement… ”. Dalam ayat ke 4 dikatakan bahwa Kitab Suci merupakan sumber ketekunan dan penghiburan, sedangkan di dalam ayat ke 5, Allah merupakan sumber ketekunan dan penghiburan. Ini adalah sesuatu yang menarik, di mana ada dua hal yang tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lainnya yaitu Kitab Suci yang merupakan Firman Allah, tidak boleh diperlakukan sebagai sesuatu yang diluar daripada Allah. Maka kita tidak bisa membaca Alkitab seperti kita membaca koran, atau seperti membaca buku science. Memang Alkitab di satu sisi adalah buku, Allah memberikan wahyunya di dalam bentuk tulisan. Meskipun Alkitab adalah special revelation (wahyu khusus), tetapi tidak terlepas dari general revelation (wahyu umum), salah satu contohnya adalah Tuhan memberikan hujan dan matahari bagi semua orang, bukan hanya kepada orang Kristen. Waktu kita membaca Alkitab kita juga membutuhkan wahyu umum seperti pengetahuan tentang bahasa (bahasa Indonesia, Ingris, dlsb). Tetapi kita tidak bisa membaca Alktab seperti buku-buku yang lain karena Alkitab adalah Firman Allah. Karena itu ayat ke 5 mengatakan semoga Allah menjadi sumber kekuatan dan penghiburan.

Mengapa kita memerlukan Allah lagi di sini? Bukankah ayat ke-4 sudah mengatakan bahwa Alkitab adalah sumber kekuatan dan penghiburan? Jawabannya adalah karena Alkitab bukan buku biasa, kitab-nya Allah.  Ada hal yang menarik di sini: ketika kita membaca Alkitab tidak dengan sendirinya Alkitab memberikan kekuatan dan penghiburan, tetapi kita memerlukan Tuhan karena Dia-lah sumber yang memberikan kekuatan dan penghiburan. Di sini kita memerlukan juga pekerjaan Roh-Kudus waktu kita membaca Alkitab.

Pendeta Benyamin Intan mengutip Abraham Kuyper mengatakan “Ketika kita membaca Alkitab, sebenarnya bukan kita yang menjadi subjek dan Alkitab menjadi objek, tetapi sebaliknya, ultimately, Alkitab yang menjadi subjek dan kita yang menjadi objek. Sebenarnya Alkitab yang sedang membaca kita, Alkitab sedang membongkar hidup kita, Alkitab yang menjadi cermin bagi kita, Alkitab sedang menerangi hidup kita, Alkitab sedang mengubah hidup kita. Alkitab boleh berlaku seperti itu karena pekerjaan Roh-Kudus, Dia-lah yang bekerja di dalam hati kita melalui Firman-Nya mengubah hidup kita.

Di dalam salah satu seminar Reformed Centre for Religion and Society, Bapak Basuki Tjahyapurnama (Pak Ahok) beberapa kali menyebutkan tentang Rhema. Dia mengatakan kalau kita membaca Alkitab, Rhema-nya (apa yang ditangkap secara pribadi) bisa berbeda-beda. Dalam konteks pembicaraan tersebut, apa yang dikatakan Pak Ahok memang tidak salah, tetapi bisa menjadi salah, karena kalau ditelusuri bisa menuju kepada konsep yang tidak benar. Apa itu Rhema dan apa perbedaannya dengan Logos?

Kita sering sekali mendengarkan tentang Logos karena dipakai di dalam lambang GRII, tetapi apa yang disebut sebagai Rhema? Logos adalah Word (Firman). Word disebut lebih dari 3000 kali di dalam Alkitab. Tetapi kemudian orang-orang Karismatik khususnya, membedakan antara Logos dan Rhema. Menurut mereka, Rhema itu artinya juga Firman, tetapi mereka membedakan Rhema sebagai spoken Words (Firman yang dikatakan) sedangkan Logos sebagai written Words (Firman yang dituliskan). Pembedaan ini adalah salah. Di dalam Teologi hal-yang pertama harus diteliti dan dibongkar dengan tepat. Hal pertama yang mereka pakai saja sudah salah, karena di dalam Alkitab memang ada dua istilah ini, tetapi Rhema dan Logos hampir interchangeable. Di dalam Alkitab tidak pernah membedakan bahwa Rhema itu adalah spoken Words, dan Logos adalah written Words. Sebagai contoh di dalam  Efesus 6:17 “dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh yaitu Firman Allah.”; di sini Firman diterjemahkan dari Rhema. Kita bandingkan dengan Ibrani 4:12 yang juga membicarakan konteks yang sama (pedang sebagai perlengkapan senjata Allah), “Sebab Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun;”; di sini Firman diterjemahkan dari Logos. Justru di dalam ayat ini kata Logos dikatakan sebagai hidup atau aktif. Selain dari ada 2 ayat ini, banyak sekali juga ayat yang menggunakan kedua istilah ini di dalam konteks yang sama. Jadi Alkitab tidak membedakan kedua istilah ini.

Konsekuensi lain yang berbahaya dari pembedaan Rhema dan Logos adalah mereka akan lebih mementingkan spoken Words. Karena meskipun di permukaan mereka mengatakan bahwa Rhema harus sesuai dengan Logos, written Words, namun secara praktikal akhirnya, Rhema akan menjadi lebih penting daripada Logos, karena waktu berbicara tentang spoken Words, Rhema akan menjadi lebih aktif dan hidup (bandingkan dengan Ibrani 4:12 di atas – justru Logos yang hidup dan aktif). Di dalam teologi Karismatik, sudah terbalik-balik, mereka mengatakan bahwa Rhema adalah sesuatu yang dikatakan langsung dari Allah kepada seseorang secara personal. Maka tidak heran mereka sering berkata “Allah berkata kepada saya”, atau “Roh Kudus berkata kepada saya”. Ini menjadi hal yang berbahaya sekali. Jika seseorang berbicara “Allah berkata kepada saya, kamu harus bertindak ini atau itu”, maka seseolah olah perkataan ini memaksa orang untuk mengikuti perkataanya. Karena dibalik perkataan itu ada konsep yang salah tentang Rhema dan Logos; Alkitab tidak pernah membedakan antara Rhema dan Logos. Menjadi berbahaya sekali ketika Rhema menjadi lebih penting daripada Logos.

Waktu kita membaca Alkitab, kalau kita memperhatikan Rhema-nya (apa yang Tuhan mau katakan kepada saya?) maka sebenarnya kita membypass seluruh dari pengajaran Alkitab, dan semua commentary. Kita bisa jatuh kepada ekstrim dimana kita tinggal berdoa dan minta kepada Tuhan untuk mengungkapkan apa yang ayat-ayat ini katakan kepada kita secara pribadi. Kita bisa jatuh dengan memaksakan Alkitab untuk mengartikan ayat-ayat sesuai dengan keinginan kita, seperti menggunakan kisah Yusuf dan Maria untuk memaksa seseorang untuk menikahi kita. Menjadi berbahaya sekali jika kita membaca Alkitab, dan memaksakan kehendak pribadi dengan memakai nama Allah atau Roh Kudus, dengan memakai istilah Rhema. Kalau kita bertemu dengan orang-orang yang seperti demikian, kalau kita mengajarkan sesuatu tentang doktrin yang bertentangan dengan Rhema mereka, maka mereka bisa bertanya kepada kita, apakah Allah berbicara langsung kepadamu untuk menyatakan hal itu kepadaku. Maka susah sekali menjawabnya karena pertanyaannya sudah salah. Kalau kita menjawab “tidak, saya tidak mendengar langsung dari Allah”, maka mereka akan menolaknya karena mereka anggap kita tidak mempunyai otoritas. Sebaliknya jika kita menjawab “ya, Allah berbicara langsung kepada saya di dalam Alkitab”, maka mereka bisa menganggap kita sebagai orang yang sombong sekali yang merasa tahu tentang Alkitab. Jadi mereka mau belajar apa, mereka hanya menginginkan Rhema yang personal dari Allah.

Kalau kita kembali ke Roma 15, maka concern yang penting adalah apakah setelah membaca Alkitab kita langsung mendapatkan ketekunan dan penghiburan? Kita seringkali tidak selalu atau mungkin jarang langsung mendapatkannya. Kita perlu mengerti pertama-tama bahwa Firman Tuhan yang ditulis oleh para rasul dan para nabi, kita harus percaya bahkan Alkitab sendiri mengatakan bahwa ini adalah Firman Tuhan. John Frame mengatakan [1] “The written Word of God is God’s very speech”, tulisah yang ditulis Allah adalah perkataan Allah sendiri. “No less so than divine voice itself or the spoken Words of prophets and apostles”, tidak kurang kuasa atau otoritasnya dari suara Allah itu sendiri atau yang dikatakan dari para nabi dan para rasul. Firman yang ditulis di dalam Alkitab mempunyai kuasa yang sama dengan Firman yang diucapkan Yohanes Pembaptis saat dia berkotbah.

Di dalam Roma 1:16 dikatakan “karena Injil itu adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya”. Injil baik yang ditulis oleh Paulus ataupun yang diberitakan dari apa yang sudah ditulis dalam Alkitab adalah kekuatan Allah. Alkitab juga berbicara dengan otoritas Allah yang ultimate. Kalau kita membaca Alkitab, kita harus mengerti bahwa ini memiliki otoritas dari Allah yang ultimate. Di dalam 2 Tim 3:16 (NIV) All scripture is God’s breathed, “tulisan yang dinafaskan Allah”. Seluruh tulisan ini seperti nafas Allah sendiri, bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik kita di dalam kebenaran. Alkitab memberi kita informasi yang harus kita mengerti, Alkitab memberikan perintah yang harus kita taati, memberikan janji yang harus kita pegang dan percayai, memberi pertanyaan yang harus kita jawab.

Kalau misalnya rasul Paulus sendiri datang ke Gereja kita hari ini, akan penuhlah Gereja ini, kita mau mendengar sungguh-sungguh. Tetapi biarlah kita mengerti, kalau dari mimbar ini yang diberitakan adalah Firman Tuhan, harusnya memberikan otoritas yang sama seperti jika Paulus sendiri yang mengucapkannya.

Seperti di dalam Yosua 1:8 “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung”. Salah satu kekuatan Yosua adalah Firman Tuhan, Taurat diberikan kepada Yosua. Tuhan memerintahkan Yosua agar jangan menyimpang kiri-kanan maka dia akan berhasil. Harap Firman juga boleh menyadari adanya otoritas dari Tuhan untuk meneguhkan dan mendorong kita untuk taat.

Jangan kita melewatkan saja Firman ini. Saat Musa memberitakan Firman kepada Firaun (Kel 8:8) “Let my people go so that they may worship me”, Firaun malah melawan Firman Tuhan itu, mengeraskan hatinya. Waktu para nabi membritakan Firman kepada bangsa Israel “bertobatlah”, bangsa Israel malah mau melempari nabi-nabi dengan batu. Mereka hanya  mau mendengar nabi-nabi yang membawakan berita-berita  yang enak didengar. Yesus Kristus datang memberitakan Firman, Dia adalah Firman itu sendiri, Dia malah dipaku di kayu salib. Waktu Stephanus memberitakan Firman, dan dia dipenuhi oleh Roh Kudus, dipimpin oleh Roh-Kudus malah dia dirajam sampai mati.  

Mengapa waktu kita membaca Firman kita tidak mendapat kekuatan, menjadi bingung dan tidak mengerti. Memang di dalam Alkitab ada hal-hal yang sulit, tetapi for the most part adalah hal-hal yang gampang dimengerti. Salah satu doktrin dari Alkitab adalah the simplicity of the Bible. Waktu Abraham meragukan janji Tuhan tentang keturunannya (Kel 32:13), Tuhan membawa dia untuk melihat ke langit dan menyuruhnya menghitung bintang di langit, dan sebanyak itulah bakal keturunannya. Abraham menjadi percaya, dan Allah memperhitungkan itu sebagai kebenaran. Mudah bukan untuk dimengerti? Kadang-kadang ada hal yang sulit untuk dimengerti, tetapi mungkin itu disebabkan oleh hati kita yang tidak mau taat kepada Tuhan. Ketika Abraham disuruh Tuhan untuk mengorbankan anaknya (Kej 22), dia mengerti Firman itu dengan jelas, dan dia menyatakan kebingungannya tetapi dia mau taat kepada Tuhan, karena dia tahu bahwa Tuhan-lah yang berfirman. Ketika kita datang kepada Firman biarlah kita boleh datang seperti Abraham, datang kepada Tuhan dengan percaya bahwa Allah dapat memberikan ketekunan dan penghiburan, dan sadar akan otoritas Firman Allah. Biarlah waktu membaca kitab suci kita juga bisa seperti Paulus berdoa “Semoga Allah yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan ...”,  Sadar bahwa Tuhan boleh berbicara kepada kita melalui kitab suci.

Tentu kita bisa mengartikan ayat yang sama secara berbeda-beda, tetapi perbedaan itu bukan berbeda sama-sekali,. Tetap harus ada prinisipnya, walaupun aplikasinya bisa berbeda-beda. Kita bisa mendengarkan berita yang berbeda dari 20 pendeta yang mengkotbahkan ayat yang sama. Tetapi jika mereka benar, maka isi kotbah mereka tidak akan berbeda sama sekali, dan selalu ada kesamaannya. Memang bisa ada penekanan, latar belakang pengkotbah, latar belakang dan pengalaman pendengar yang berbeda beda. Ini justru sebaliknya memberikan kelimpahan di dalam Firman. Sekali lagi sewaktu membaca Firman Tuhan kita harus menyadari bahwa Allah adalah Allah yang hidup dan yang dapat memberi kekuatan kepada kita secara pribadi. Tetapi kita tidak boleh membypass konteks. Berapapun sederhananya kita mengerti, Roh-Kudus akan membantu kita untuk mengerti Firman. Membaca, menghafal, memikirkan, menyelidiki bahkan bergumul dengan Firman bukan dengan kekuatan sendiri tetapi bersama dengan Tuhan. Biarlah Tuhan memimpin kita sesuai dengan kelimpahan kekayaan Firman. Biarlah kita datang membaca Alkitab dengan kerinduan akan suara Tuhan.

Jika kita tidak menggumuli Firman Tuhan maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Kalau kita hanya menggunakan sisa-sisa waktu untuk membaca Alkitab, kita memperlakukan Alkitab seperti apa? Engkau tidak mungkin mendapat apa-apa, karena engkau tidak menghargai Alkitab sebagai Firman Tuhan. Marilah kita datang kepada Tuhan mengerti Firman-Nya dan mohon Tuhan sendiri yang bekerja di dalam hati kita. Setiap hari adakan waktu untuk sungguh-sungguh datang kepada Tuhan, memikirkan, merenungkan Alkitab dan menyadari bahwa perkataan Tuhan memiliki otoritas seperti Tuhan berkata-kata kepada kita. Ini adalah relasi yang hanya bisa dibangun dalam waktu yang lama, tidak bisa dilakukan hanya dengan satu dua hari. Setiap hari sepanjang hidup kita boleh membaca Firman, membangun pengenalan akan Tuhan. Roh-Kudus akan memimpin kita untuk mengerti kelimpahan Firman. Kita juga boleh membaca buku-buku yang baik, yang membawa kita untuk mengerti Alkitab.

Kita mendengar kotbah supaya terdorong untuk semakin membaca Alkitab. Di dalam menghadapi pergumulan, kita juga boleh datang kepada Firman, dan Dia memberi janji bahwa Dia akan memberikan kekuatan dan penghiburan. Biarlah tahun ini adalah tahun di mana kita boleh membaca Firman.

[1] “The doctrine of the Word of God”, John Frame      

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya