Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Lakukanlah Segala Sesuatu Berdasarkan Iman

Ibadah

Lakukanlah Segala Sesuatu Berdasarkan Iman

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 14 Desember 2014

Bacaan Alkitab: Roma 14:14-23

Saudara sekalian, Roma pasal 14-15 adalah panggilan bagi setiap orang Kristen di dalam menghadapi persoalan, tetapi khususnya dikatakan panggilan ini adalah bagi orang-orang yang lebih kuat, yang lebih dewasa imannya. Di situ kalau saudara melihat pasal 14 ayat yang pertama, Paulus mengatakan, “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.” Ini berarti orang yang kuat imannya ini diperintahkan untuk menerima saudaranya yang lemah imannya. Pasal 15 ayat 1 juga mengatakan, “Kita yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.” Jadi ini khususnya perintah bagi orang-orang yang kuat.

Persoalan apa yang dihadapi di Roma 14? Sedikit review, yaitu di ayat yang ke-2 dikatakan di sini, “Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanannya, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja.” Ya, jadi ada perbedaan antara orang-orang Kristen di Roma dan juga sebenarnya perbedaan ini ada di gereja yang lain di Korintus yang mengalami persoalan yang agak mirip. Jadi ada kelompok orang-orang yang mengatakan boleh makan apa saja. Tetapi ada kelompok yang lain mengatakan tidak boleh makan apa saja, khususnya makan daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala pada waktu itu.

Paulus kemudian di sini membahas bagaimana perbedaan itu kita hadapi. Satu hal yang perlu kita ingat ini masalah: makan tidak makan, boleh atau tidak boleh, tetapi kalau kita melihat Paulus membawa hal ini kepada hal yang lebih esensi, bukan persoalan yang di permukaan. Persoalan yang di permukaan memang adalah: soal boleh makan daging atau hanya makan sayur-sayuran; ada yang mengatakan semua hari sama, ada yang mengatakan hari tertentu lebih berharga, lebih penting; ada yang mengatakan boleh minum anggur, ada yang mengatakan tidak boleh minum anggur; dst. Ini adalah hal-hal yang di permukaan. Firman Tuhan mengajar kita dari persoalan yang sedang dihadapi jemaat pada waktu itu. Kemudian Paulus membawa kepada apa yang menjadi problem utamanya, apa yang menjadi persoalan yang sedang dihadapi.

Kita sudah membahas beberapa kali tentang hal ini, khususnya dari ayat ke-13. Paulus mengatakan, “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” Jadi soal makan tidak makan bisa membuat saudara kita jatuh dan tersandung dan kemudian hidup di dalam dosa. Nah ini menjadi persoalan yang serius.

Kita hari ini akan membahas lagi ayat 14-23, bagaimana Paulus kemudian menyatakan satu asumsi kebenaran dan kemudian dia menjelaskan mengapa hal makan dan minum ini yang sebenarnya remeh (hal sehari-hari boleh makan tidak makan dsb), tetapi bisa menjadi persoalan yang serius.

  1. Di dalam ayat 14a: “Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri….” Ini persoalan makanan. Ya, tidak ada yang najis kata Paulus. Juga di 1 Kor 10:26, Paulus mengatakan kau boleh makan, kalau kau ke pasar tidak usah tanya apakah daging itu sudah pernah dipersembahkan ke berhala. Kamu beli saja, kamu boleh makan, kamu bebas makan akan hal itu karena (ay. 26) “bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan”. Jadi boleh saja, tidak ada yang najis di hadapan Tuhan sebenarnya. Mungkin kita juga bisa mengutip perkataan Tuhan Yesus (Mat 15:11), bukan apa yang masuk ke dalam mulutmu yang menajiskan engkau tetapi apa yang keluar dari mulutmu itulah yang menajiskan engkau. Karena yang keluar itu keluar dari hati yang bisa mengatakan satu hal yang negatif yang melawan Tuhan, yang menghancurkan orang lain, kejahatan, kebohongan, dsb. Apa yang keluar dari mulutmu itulah yang menajiskan, tetapi apa yang masuk yang kita makan tidak akan menajiskan kamu. Makanan itu masuk dan dicerna dan dibuang. Itu tidak akan menajiskan kamu sama sekali. Jadi boleh makan apa saja. Kalau kamu tidak makan juga tidak apa-apa. Ini sesuatu yang remeh/ non esensial. Kalau begitu, apakah tidak ada persoalan? Kalau tidak ada yang najis, kamu boleh makan apa saja, tidak ada persoalan bukan? Ternyata tidak! Paulus mengatakan ada persoalan.
  2.  Persoalannya di dalam ayat 14b, dikatakan “… Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis.” Nah kenapa bisa begitu? Bukankah tidak ada yang najis? Dalam Tuhan Yesus tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Pada diri makanan itu sendiri tidak ada. Kenapa Paulus berbicara tentang makanan di dalam kitab Roma yang sangat penting, magnum opus dari tulisan Paulus? Paulus mengatakan ada sesuatu yang penting di sini yaitu ketika engkau berbeda pendapat dengan saudaramu, kamu bilang boleh tetapi tidak semua orang (khususnya saudara-saudara yang lebih lemah imannya ini) terima boleh semua dimakan. Dia menganggap makanan itu tidak boleh khususnya di konteks Roma adalah makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala, berdosa tidak boleh makan itu. Mereka masih punya pengertian seperti itu. Jadi bagi orang ini, ini bukan persoalan remeh. Hal ini menjadi persoalan kalau ia melihat saudaranya, yang lebih kuat imannya, makan daging yang dia rasa tidak boleh. Maka Korintus dan Roma juga berkata bahwa dia telah terdorong untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya. Sebenarnya dia rasa tidak boleh, dan dia merasa ketika dia makan itu dia berdosa melakukan apa yang tidak berkenan kepada Tuhan. Tetapi karena ada saudara seimannya yang lebih dewasa, kuat, mungkin kakak rohaninya, mungkin pendetanya melakukan sesuatu (makan dalam konteks ini, tetapi bisa diterapkan dalam konteks apapun sebenarnya) yang dia tidak setuju dan tidak bisa terima karena menganggap itu berkaitan dengan penyembahan berhala, maka ia terdorong untuk makan meskipun hati nurani nya mengatakan tidak boleh. Dia menjadi ikut-ikutan dan waktu dia ikut-ikutan, Paulus mengatakan dia menjadi berdosa. Dan kita orang yang lebih kuat imannya, dengan tidak memperdulikan saudara kita itu, maka kita juga membawa dia dalam dosa dan menjadikan diri kita juga berdosa bukan hanya kepada orang itu tetapi kepada Kristus.

Roma 14:22-23 menjelaskan di bagian ini. “Berpeganglah pada keyakinan yang engkau miliki itu, bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.” Ini tujuannya. Boleh dilakukan, dia bebas, tujuannya dia merdeka melakukan hal-hal yang diperbolehkan di Alkitab tanpa menuduh hati nuraninya. Tetapi ayat 23 Paulus mengatakan “Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” Bagaimana bisa sesuatu yang kelihatannya boleh, Paulus sudah mengatakan, tidak ada yang najis, tetapi dia bimbang, ragu dan dia rasa tidak boleh namun dia tetap makan, tetapi kemudian menjadi berdosa karena dia melakukannya tidak berdasarkan iman?

Saya ambil contoh begini, tidak begitu paralel, tidak terlalu persis tetapi kita bisa belajar. Contoh dari pengalaman saya dengan anak-anak, tetapi juga dimodifikasi sedikit supaya cocok. Misalnya begini: Kita mengatakan ke anak-anak harus sikat gigi sebelum tidur. Ya kita suka bercanda-bercanda, “nanti ada ulatnya makan gigi kamu, jadi bolong” dsb. Dulu waktu kecil begitu. Mereka waktu sudah besar tahu pokoknya kalau gak sikat gigi nati rusak giginya. Jadi sebelum tidur, harus sikat gigi, baca devotion, biasanya kemudian berdoa, lalu tidur. Itu sudah rutin setiap malam harus begitu. Tetapi satu kali, pulang sudah malam sekali, mereka juga sudah lelah sepanjang hari banyak kegiatan, di mobil sudah tertidur dan kemudian kita bangunkan.

A:    “Ayo tidur di kamar.” Sudah besar sudah tidak bisa digendong lagi, dulu waktu kecil harus digendong. Sekarang sudah besar jadi dibangunkan, “Ayo tidur di kamar.” Mereka bangun, masih setengah sadar. Tetepi kemudian mereka ingat.

B:    “Belum sikat gigi tapi Pa!”

A:    “Udah gak apa-apa, ini sekali-sekali, udah jam 12 malam. Kamu sudah capek juga kan? Sudah kamu tidur saja. Tidak papa sekali-sekali gak sikat gigi.” Lalu ada satu anak bilang.

C:    “Tidak bisa, papa bilang kan kalau gak sikat gigi ntar ada ulat makan gigi, tidak bisa!”

A:    “Iya betul, betul! Tetapi sekarang udah malam. Kalau sekali-sekali gak papa ulatnya belum besar.”

C:    “Gak bisa, gak bisa!” Lalu dia mulai ngamuk, mulai nangis dsb.

Misalnya ada satu anak yang harus terus konsisten begitu, lalu akhirnya kami bilang. “Ya sudah tidak apa-apa kalau tidak sikat gigi malam ini” Nah, selain memang ada kotoran dan bakteri di mulutnya, problemnya adalah itu sudah menjadi peraturan di rumah. Dan mereka sudah melakukan itu bertahun-tahun setiap hari tanpa gagal, tanpa absen, setiap hari taat untuk sikat gigi sebelum tidur. Tapi hari ini kok bisa berubah? Tentu anak kecil ini belum bisa mengerti. Problemnya bukan masalah sikat atau tidak sikat gigi. Problemnya adalah kalau dia mulai menangkap sesuatu yang lebih besar, berarti perkataan papa mama itu boleh dilanggar. Meskipun awalnya dia mau taat, dia terus mau taat, tetapi hari ini boleh melanggar. Artinya perintah papa mama itu tidak absolut, boleh dilanggar. Nah, ini mulai problem.

Meskipun tidak paralel, di sini problemnya ketika orang yang lemah imannya itu mulai makan padahal dia rasa hati nuraninya mengatakan tidak boleh makan - itu menyembah kepada berhala. Tetapi karena ada saudaranya yang lebih dewasa itu makan dan dia ikut makan meskipun hati nuraninya menuduh dia tidak boleh makan, pertama di situ dia sudah berdosa karena dia tidak melakukannya berdasarkan iman. Tidak percaya kepada Tuhan, tidak taat kepada apa yang dia pikir itu Firman Tuhan yang mengatakan.

Problem yang lebih besarnya adalah ketika ia melakukan itu, ia melawan hati nuraninya. Memang pada saat ini adalah hati nuraninya tidak tepat. Hati nurani harus terus dikuduskan. Hati nurani harus terus diberikan kebenaran Firman dan dimengertikan. Roh Kudus akan menyucikan hati nuraninya. Tetapi ketika orang Kristen mau taat kepada Tuhan, hidupnya  pertama-tama memang harus sesuai dengan prinsip Firman Tuhan, tetapi juga harus sesuai dengan hati nuraninya yang sudah dikuduskan. Ia mau taat, mau melakukan dan mau hidup sesuai dengan apa yang dia mengerti. Tentu kita hanya bisa taat, melakukan apa yang kita mengerti. Kita tidak mungkin melakukan apa yang kita tidak tahu dan tidak mengerti.

Hanya mengerti dan taat dan tahu dan convinced di dalam hati nurani kita dan kita mau taat, itulah orang Kristen yang sejati. Tetapi ketika dia di dalam hal ini melawan hati nuraninya sendiri maka dia saat itu sendiripun sudah berdosa, tetapi lebih lagi dia kemudian akan berkata bahwa aku boleh melakukan melawan hati nuraniku dan di dalam hal-hal lain yang sebenarnya Alkitab sudah jelas mengatakan jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mengucapkan saksi dusta, dsb perintah Tuhan yang sudah sangat jelas. Orang Kristen sejati di dalam hati nuraninya sadar dia tidak boleh berbohong, sadar tidak boleh melakukan kejahatan, tidak boleh berdusta, misalnya, tetapi karena dia sudah biasa melakukan dan dia mulai pikir boleh saja melakukan sesuatu yang melawan hati nurani, dia mulai melakukan sesuatu yang melawan hati nuraninya dan betul-betul melanggar apa yang Firman Tuhan katakan. Nah ini problemnya.

Ini merupakan problem yang sangat serius, karena dikatakan dalam ayat ke-15, “Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia.” Bicara soal makan atau tidak makan, kita bisa membinasakan saudara kita oleh karena makanan. Ayat 20, “Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!”

Jadi ini bukan soal makan tidak makan, memang itu yang sedang dihadapi, tetapi di balik itu ada hati nurani, ada motivasi. Karena persoalan dosa adalah pertama-tama bukan masalah boleh atau tidak boleh, tetapi masalah hati nurani dan masalah motivasi kenapa kita melakukan itu. Itu yang dikatakan. Karena itu, ini menjadi persoalan yang serius.

Saya coba kasih contoh yang lain dari pengalaman Martin Luther ketika dia disidang. Kita tahu Martin Luther adalah Bapak Reformasi yang memakukan 95 tesisnya di pintu gerbang Winterberg di Jerman. Setelah 95 tesis itu tersebar ke seluruh Jerman dan Eropa dan kemudian menjadi besar gerakan yang melawan gereja Katolik pada waktu itu, maka Martin Luther yang juga adalah salah satu hamba Tuhan di gereja Katolik itu dipanggil, disidang melalui proses yang panjang sekali. Yang terakhir adalah dia disidang di Diet of Worms, yaitu dia disidang di depan para pemimpin gereja pada waktu itu pada bulan April 1521. Tujuan utama persidangan adalah supaya Martin Luther bertobat. “Kau sudah salah! 95 tesis itu kau cabut! Kau tarik tulisanmu dan kau menyatakan mengaku bertobat, bersalah, maka kau akan diampuni dan kembali menjadi anggota hamba Tuhan di gereja Katolik. Hamba-hamba Tuhan, bishop sudah rapat mengatakan bahwa apa yang kau tulis salah, bertentangan dengan Alkitab dan dengan apa yang sudah kita ajarkan, maka kau harus mencabut tulisan itu, menarik semuanya dan megaku bersalah.”

Kemudian Martin Luther memberi jawab di hadapan para pemimpin gereja pada waktu itu. Dia mengatakan satu kalimat begini, “Unless I am convinced by Scripture and plain reason, I do not accept the authority of the Popes and councils, for they have contradicted each other. My conscience(di sini muncul kata ‘hati nuraniku’) is captived to the Word of God. I can not and I will not recant anything, for to go against conscience is neither right nor safe. God help me. Amen.” Jadi dia mengatakan (terjemahan bebas saya), “Kecuali saya diyakinkan berdasarkan Alkitab dan rasio yang jelas, saya tidak menerima otoritas daripada Paus ataupun pemimpin gereja, karena mereka kontradiksi satu dengan yang lain. Hati nuraniku dikuasai oleh Firman Tuhan, saya tidak bisa dan tidak akan menarik segala tulisanku, karena untuk melawan hati nuraniku tidak benar dan tidak aman. Tuhan menolong saya. Amin.”

Jadi masalah conscience adalah masalah yang serius. Bagi Martin Luther sendiri melawan hati nurani adalah tidak benar dan tidak aman. Saya rasa Martin Luther mengambil dari Roma dan dari 1 Korintus berkaitan dengan hati nuraninya. Pemimpin gereja Katolik mengatakan ajaran yang lain. Memang ini membahas soal doktrin sebenarnya. Katolik mengatakan A, Martin Luther mengatakan B. Yang mana yang benar? Mereka bergumul, Matin Luther bergumul dengan Firman Tuhan dan hati nuraninya mengatakan: Ini yang benar. Meskipun tidak sesuai dengan ajaran Roma Katolik pada waktu itu, tetapi hati nuraninya berdasarkan Firman Tuhan, dia menggali Alkitab dengan sungguh-sungguh, dan hati nuraninya mengatakan: Inilah yang benar, dan aku tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraniku.

Nah itu menjadi persoalan sebenarnya di Roma pasal 14, karena ketika melawan hati nurani sendiri, pada saat itu sudah berdosa dan juga kemudian akan sungguh-sungguh berdosa melawan akan Firman Tuhan juga bukan hanya melawan hati nurani, kalau kita terbiasa dan berpikir boleh melakukan sesuatu yang melawan hati nurani kita. Ini juga yang Paulus nasehatkan ke Timotius supaya berpegang kepada iman dan hati nurani yang murni di dalam 1Timotius 1, karena beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni dan karena itu kandaslah iman mereka. Inilah pentingnya hidup kita sesuai dengan hati nurani yang Tuhan berikan kepada kita. Tentu hati nurani itu harus disucikan terus, dimengertikan oleh Firman Tuhan, dipimpin oleh Tuhan.

Ini insight yang penting sekali buat hidup kita sebagai anak-anak Tuhan. Waktu kita menjalani kehidupan, apa yang kita lakukan, bagaimana kita memakai waktu kita, uang kita, kita harus melakukannya sesuai dengan hati nurani kita. Kita tidak boleh melakukannya bertentangan dengan hati nurani kita. Nah hati nurani kita tentu harus diterangi oleh Firman Tuhan. Hati nurani kita bisa salah, kita terbatas. Tetapi sejauh kita mengerti, kita melakukan yang sesuai dengan hati nurani yang sesuai Firman Tuhan. Ini adalah prinsip yang sangat penting karena banyak orang-orang yang mengaku Kristen.

Saya tidak tahu apa yang kau lakukan dengan hidupmu, apa yang kau kerjakan dengan waktumu, apa yang kau isi dengan hari-harimu, apa yang engkau lakukan ketika engkau sendiri, apakah sesuai dengan hati nuranimu? Khususnya kita sebagai anak-anak Tuhan. Itulah kebebasan yang Paulus katakan, kita boleh bebas berpegang pada keyakinan yang kita miliki (ayat 22). Kita diberkati, bebas, merdeka karena hati nurani sesuai prinsip Firman dan kita hidup sesuai dengan hati nurani kita. Kalau kita anak-anak Tuhan, ketika kita melakukan dosa pasti hati nurani kita menegur kita. Ada Roh Kudus juga sebenarnya yang bekerja di dalam hati kita yang menegur kita. Itulah dosa yang meng-condemn kita. Kita mulai merasa bersalah dan itu menjadi dosa.

Paulus ingin mengingatkan kita, jangan engkau melakukan sesuatu yang membuat saudaramu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya. Jangan membuat dia tersandung. Jangan binasakan saudaramu karena makanan. Tetapi (ayat 19-20) “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan!” Ini hal pertama yang Paulus ingin tegaskan di sini berkaitan dengan persoalan yang sedang dihadapi dan berkaitan dengan bagaimana kita harus hidup sesuai dengan hati nurani dan jangan membawa orang lain, saudara kita khususnya yang lemah imannya hidup bertentangan dengan hati nuraninya sehingga berdosa, yang menyebabkan kita juga berdosa karena telah membawa saudara kita jatuh dalam dosa.

Hal kedua, lalu Paulus menambahkan argumentasi / prinsip nya ini dengan ayat 15b, “Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia.” Apa pengertiannya? Apakah kalau Kristus sudah mati untuk dia, kita sebenarnya bisa membinasakan pekerjaan Tuhan dengan melakukan itu? Kalau Kristus sudah mati untuk saudara kita orang Kristen itu, artinya dia sudah di dalam Tuhan, sudah ditebus, anak Tuhan, sudah dibenarkan. Apakah kita bisa membinasakan, merusakkan pekerjaan Tuhan itu? Merusakkan dia dan menjauhkan dia dari keselamatan? Tentu bukan itu artinya.

Kita sudah membahas Roma sepanjang ini, tentu saudara mengatakan tidak mungkin. Siapa kita sehingga kita bisa merusakkan pekerjaan Tuhan? Orang yang sudah ditebus oleh Kristus, sudah menerima keselamatan, sudah dibenarkan oleh Tuhan bukan hanya dia percaya dan kemudian dibenarkan. Bukan hanya dia percaya, dia mendengar Firman, dia beriman dan kemudian dia dibenarkan di hadapan Tuhan. Itu bukan hanya peristiwa yang terjadi sekarang, tetapi di balik itu ada pekerjaan Tuhan dalam kekekalan. Dia adalah orang yang sudah ditentukan Tuhan untuk diselamatkan. Dia adalah orang yang sudah dipilih sebelum dunia dijadikan. Orang yang sudah dipilih, juga akan ditentukan, dia juga akan dipanggil oleh pemberitaan Firman, dia percaya dan kemudian dia bertobat, lalu juga akan dibenarkan, ia pasti akan dimuliakan. Dari awal hingga akhir, dari kekekalan sampai kekekalan. Itu pekerjaan Tuhan yang tidak mungkin ada yang bisa menghancurkan (Roma 8) 5 rantai emas dari mulai dipilih sampai dimuliakan. Dan tidak ada apapun yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Jadi tidak mungkin kita bisa merusakkan pekerjaan Tuhan dan membinasakan orang yang baginya Kristus telah mati.

Kalau begitu, apa artinya ayat 15b ini? Saya pikir artinya adalah sikap kita dalam hal apapun terhadap saudara kita (khususnya dalam hal ini soal makanan) dan respon orang itu terhadap sikap kita sebenarnya menunjukkan apakah kita adalah orang-orang Kristen yang sejati. Ini menjadi sangat penting. Jadi sikap kita terhadap orang lain, khususnya yang berbeda pendapat dengan kita, dan respon orang itu terhadap sikap kita itu menunjukkan apakah Kristus telah mati bagi kita. Problemnya adalah jika kita tidak perduli akan orang lain, tadi ayat 15 mengatakan kalau kita menyakiti hati saudara kita karena apa yang kita makan, maka kita tidak lagi menuruti tuntutan kasih. Kita tidak perduli dengan dia. Misalnya, aku mau melakukan apa yang mau aku lakukan, hati nuraniku murni, aku sudah melakukan apa yang benar, tetapi tidak memperdulikan orang lain khususnya saudara kita yang sama-sama di dalam gereja.

Pasal 15 juga mengatakan kita yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikan untuk membangunnya. Kalau kita tidak perduli dengan ayat ini, tidak perduli apakah orang lain dibangun, dihancurkan, tersandung dan akhirnya dia betul-betul jatuh, tersandung, dan kemudian berdosa, maka sebenarnya sikap kita itu dan respon dia menunjukkan bahwa mungkin sekali bukan hanya dia yang belum di dalam Kristus, tetapi mungkin juga kita sebenarnya belum di dalam Tuhan. Ini maksudnya.

Mungkin kita adalah orang-orang yang tidak pernah memperhitungkan kematian Kristus dalam hidup kita atau hidup bagi dia. Dan demikian kita adalah orang-orang yang sesungguhnya binasa. Inilah yang dikatakan 1Yoh 2:19, “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.” Itu menjadi suatu peringatan kepada kita sekalian. Itulah bahayanya bahwa kita bisa membinasakan pekerjaan Tuhan kalau kita tidak pernah sungguh-sungguh, tidak pernah perduli, tidak pernah menyatakan kasih. Karena barangsiapa mengatakan, “Aku mengenal kasih Tuhan,” tetapi dia tidak mengasihi saudaranya, dia adalah pendusta, pembohong dan kasih Allah tidak ada di dalam hati orang itu (1Yoh 2;9).

Ketika kita mengatakan kita mengalami kasih Tuhan, maka tuntutannya adalah kita harus mengasihi orang lain. Harus, itu menjadi tanda dari orang Kristen. Di sini Paulus secara positif memberi dorongan kepada kita, anak-anak Tuhan yang sejati, untuk boleh mengasihi sesama kita di dalam segala hal, khususnya dalam konteks ini termasuk hal makanan dan minuman. Dalam Roma 14:21, Paulus mengatakan “Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.” Kenapa Paulus mengatakan: aku tidak akan makan daging selama-lamanya demi saudaraku supaya dia tidak jatuh di dalam dosa, demi mengasihi dia? Itulah orang Kristen yang sejati.

Paulus mendorong kita anak-anaknya dengan menyatakan, “Kristus telah mati untuk dia.”, atau dengan kata lain:

  • Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya untuk menyelamatkan saudaramu, bisakah engkau menyerahkan sedikit kebebasanmu?
  • Kritus telah mengorbankan darah-Nya di atas kayu salib untuk membawa dia kepada Allah, tidakkah engkau bisa mengorbankan sedikit kebebasanmu, mengorbankan makananmu supaya mendorong saudaramu untuk boleh bertumbuh?
  • Kristus tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah tetapi Dia mengosongkan diri-Nya, menjadi sama dengan manusia, menjadi hamba taat bahkan sampai mati di atas kayu salib. Apakah engkau akan mempertahankan kebebasanmu? Apakah engkau akan mempertahankan hakmu itu dan tidak memperdulikan orang lain jatuh?

Biarlah ini menjadi cerita/ kisah dari GRII Melbourne yang mengasihi satu dengan yang lain seperti Kristus telah mengasihi kita. Yang berkorban demi orang lain seperti Kristus telah mengorbankan nyawa-Nya. Kita berkorban sedikit saja, memperhatikan, mengasihi, membatasi kebebasan kita supaya orang lain tidak jatuh di dalam dosa. Mendekati hari Natal bulan Desember, kita diingatkan sekali lagi akan Kristus yang mengorbankan segala-galanya. Meskipun Dia dalam keadaan setara dengan Allah, tetapi tidak mempertahankan kesetaraan-Nya itu, turun menjadi manusia sama seperti kita, memiliki tubuh yang sama seperti saudara dan saya, dan kemudian taat mati di atas kayu salib. Biarlah kita boleh mengasihi seperti demikian. Itulah yang Paulus bahas dalam persoalan makan tidak makan, ia membawa kita ke dalam hal yang paling esential, penting, basic yaitu mengasihi satu dengan yang lain.

Ringkasan oleh Dewi Sanjaya | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya