Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Tahta Pengadilan Allah

Ibadah

Tahta Pengadilan Allah

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 16 November 2014

Bacaan Alkitab: Roma 14: 10-13, Mat 7:1-6, Wahyu 20: 12-16

Pada kesempatan ini, kita akan melanjutkan eksposisi dari kitab Roma pasal 14, dimana kita akan masuk dalam argumentasi  yang lebih detail dari persoalan persoalan yang muncul di permukaan, yang sebelumnya dibahas secara umum.

Persoalan yang muncul di permukaan yang dibahas sebelumnya ialah tentang siapa yang boleh makan daging, siapa yang tidak boleh makan daging (hanya makan sayur), apakah pada hari tertentu merupakan hari baik, atau apakah hari-hari lain sama baik dan lain sebagainya. Ini semua adalah persoalan yang sebenarnya muncul di permukaan.

Kalau kita berpikir kenapa Paulus pada Roma 14 membahas hal ini kembali, yang sepertinya hal sepele, setelah di dalam kitab Roma telah banyak membahas doktrin-doktrin yang sangat penting, yang menjadi fondasi dan kekuatan dari iman Kristen, yang menjadi pilar-pilar kokoh tentang keselamatan manusia, tentang manusia yang berdosa, tentang bagaimana kedaulatan Allah menyelamatkan manusia, bagaimana manusia diselamatkan hanya semata-mata dengan iman dan anugerah melalui Tuhan Yesus. Persoalan-persoalan ini memang tampak tidak penting atau sepele, namun persoalan-persoalan ini merupakan persoalan riil yang dihadapi oleh jemaat.

Sekali lagi,  kenapa sepertinya Paulus dalam pasal 14 ini membicarakan hal-hal yang kurang penting atau sepele, kontras bukan? Dalam konteks ini, Paulus sesungguhnya mencoba membawa persoalan-persoalan yang muncul di permukaan ini untuk masuk ke dalam hal-hal yang lebih essensial, lebih mendasar bagi kehidupan jemaat Kristen. Kita boleh melihat bagaimana Paulus membicarakan masalah boleh makan daging, tidak boleh makan daging, membicarakan hari-hari baik di hari-hari tertentu dan hari-hari lainnya, yang kemudian membawa masalah permukaan ini ke dalam persoalan tentang dosa, tentang membinasakan diri, dan tentang hidup dan mati.manusia milik Tuhan.

Kita bukan melihat bahwa persoalan boleh makan daging atau tidak, atau persoalan tentang hari baik di hari-hari tertentu atau semua hari, merupakan hal-hal yang non essensial, tidak prinsip dan tidak mutlak. Tetapi bagaimana kita menyikapi dan memahami persoalan-persoalan yang non essensial ini merupakan hal essensial. Karena kalau kita salah menyikapi persoalan itu, maka akhirnya kita dapat merusakkan pekerjaan Tuhan, kita dapat membinasakan orang, kita dapat membawa orang kepada dosa.

Kembali lagi, pada kesempatan ini, kita akan membahas tentang tahta pengadilan Allah (Roma 14:10). Kita akan membahas 3 prinsip mengenai persoalan-persoalan  yang muncul di permukaan (non essensial), dalam kaitannya dengan pertanggungjawaban diri (hal essensial) di hadapan tahta pengadilan Allah.

Prinsip pertama, Janganlah engkau menghakimi saudaramu atau janganlah  engkau menghina saudaramu. Penekanannya ingin mengatakan “SIAPAKAH ENGKAU” yang boleh menghakimi, menilai atau menghina seseorang? Prinsip ini ingin mengatakan bahwa pada saat kita sedang menghakimi atau pada saat kita sedang menghina seseorang, maka sebenarnya kita sudah mengambil atau merebut hak prerogatif Allah.  Hak prerogatif Allah-lah yang berhak menilai dan menghakimi seseorang, bukanlah kita. Kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di hadapan tahta pengadilan Allah. Kita bisa melihat bahwa dengan menghakimi, menilai atau menghina saja (non essensial), maka persoalan akan menjadi serius (essensial) yaitu mengambil hak prerogatif Allah. Kita harus memahami secara jelas, maksud perintah “jangan menghakimi” disini. Jangan digeneralisasi bahwa kita tidak boleh menghakimi. Kita boleh menghakimi (menilai) tentang apa yang benar dan yang salah, tentang yang baik dan yang jahat, tentang yang bijaksana dan yang bodoh. Jadi paling sedikit ada 2  maksud yang ingin disampaikan oleh prinsip ini. Maksud yang pertama ingin mengatakan bahwa, sebelum kita menghakimi (menilai) orang lain, baiklah kita menghakimi (menilai) diri sendiri terlebih dahulu di hadapan Tuhan, ujilah diri kita dari firman Tuhan dan janganlah menjadi orang yang munafik,. Seperti yang dikatakan Paulus (Mat 7:4) “Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu." Dan maksud yang kedua ialah ingin mengatakan bahwa janganlah kita menghakimi (menilai) saudaramu tanpa motivasi kasih. Baiklah kita menghakimi atau menegur seseorang harus berdasar atau tujuan cinta kasih, bukan sebaliknya yaitu menghancurkannya.

Prinsip kedua, janganlah menghakimi saudaramu karena semua orang diantara kita akan menghadapi tahta pengadilan Allah. Hal ini yang menggentarkan setiap kita karena setiap orang, tidak bisa diwakilkan, tidak ada yang tersembunyi, terbuka di hadapan Tuhan, harus mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya, apa yang dikatakannya dan apa yang telah dilakukan selama hidupnya, di hadapan tahta pengadilan Tuhan yang adil dan suci. Walaupun hal tersebut menggentarkan setiap kita, namun sekaligus merupakan penghiburan yang besar bagi kita yang hidup di dalam Tuhan dan yang terus berjuang untuk kemuliaan Tuhan. Dalam kitab Wahyu 20: 12-15, kita dapat melihat dengan jelas tentang tahta pengadilan Allah itu. Di sana diceritakan bahwa selama hidup, kehidupan kita dicatat dalam kitab-kitab perbuatan dan kitab kehidupan. Dan setiap orang yang mati akan diadili berdasarkan semua kitab tersebut. Kitab-kitab perbuatan akan mencatat semua perbuatan kita sewaktu hidup di dunia sedangkan kitab kehidupan, yang disebut sebagai kitab domba Allah, akan mencatat nama-nama orang yang percaya kepada Kristus, orang-orang yang sudah ditebus dosanya, orang yang beriman dengan sungguh-sungguh dan dibenarkan hanya karena anugerahNya yang diterima dengan iman semata-mata di dalam Kristus. Barang siapa yang namanya tidak tertulis di dalam kitab kehidupan, maka ia akan dilemparkan ke dalam lautan api yang kekal. Tidak ada orang diselamatkan karena perbuatannya tetapi perbuatan-perbuatan kita di dalam dunia yang dicatat dalam kitab-kitab perbuatan harus dapat mencerminkan dan mengkonfirmasikan apakah kita benar-benar telah meninggalkan dosa, apakah kita telah benar-benar menerima  anugrah dan kemurahan Tuhan dan apakah sikap dan perbuatan kita telah mencerminkan sikap dan perbuatan anak-anak Tuhan yang sejati. Jika kita merupakan anak-anak Tuhan yang sejajti, maka berbahagialah kita karena lebih dulu menerima belas kasihan dari Tuhan sehingga kita juga boleh memiliki sikap berbelas kasihan, menunjukkan kasih dan pengampunan kepada orang lain, bukan menghakimi dan menghina orang lain. Jika diantara kita masih ada yang suka menghakimi, menilai rendah, memandang hina kepada orang lain, baiklah kita datang dan menguji diri di hadapan Tuhan, lalu bertanya, apakah benar kita sungguh-sungguh telah menerima belas kasihan Tuhan, apakah benar kita merupakan anak Tuhan yang sejati. Semoga prinsip ini menjadi peringatan kepada kita dan mendorong kita agar lebih sungguh mengasihi saudara kita.

Prinsip ketiga, janganlah kita saling menghakimi lagi, tetapi lebih baik kamu menganut pandangan  (berpikir) ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung. Prinsip ini mengajarkan kepada kita, bahwa kita boleh menegur atau menasehati saudara kita, serta menyatakan kesalahannya tetapi bukan dengan tujuan menghina, mempermalukan, meremehkan, menghancurkan atau membuat dia tersandung, tetapi dengan tujuan membangun atau mendorong dia. Kita bukan menjadikan diri kita sebagai batu sandungan bagi saudara kita sehingga dia terjatuh, melainkan menjadi batu loncatan baginya agar dia bisa maju.

Inilah kesimpulan yang ingin dikatakan Paulus, bahwa di dunia ini terdapat 3 jenis orang tentang hal menghakimi. Orang jenis pertama ialah orang yang menghakimi diri sendiri dan dia juga menghakimi orang lain. Pada umumnya orang jenis pertama ini dikategorikan sebagai orang biasa, dimana dia menuntut atau mendisiplinkan dirinya seperti itu dan menuntut orang berbuat hal yang sama. Orang jenis pertama ini sering jatuh dan menjadi orang jenis kedua. Orang jenis kedua ialah orang yang menghakimi orang lain tetapi toleransi kepada diri sendiri. Pada umumnya orang jenis kedua ini dikategorikan sebagai orang yang munafik. Seperti yang ditulis Paulus dalam Matius 7: 4-5 ( 4. Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 5. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu). Firman Tuhan mendorong kita untuk menjadi orang jenis ketiga yaitu godly men atau godly women. Orang jenis ketiga ini ialah orang yang menghakimi dan mengkoreksi dirinya di hadapan Tuhan, memberikan standar nilai yang tinggi bagi dirinya sesuai dengan prinsip firman Tuhan, tetapi manakala dia melihat orang lain ada kelemahan, ketika melihat orang lain jatuh ke dalam dosa, ketika melihat orang lain ada pergumulan, dia tidak langsung atau buru-buru menghakimi, tetapi dia akan memberi dorongan, bantuan, penghiburan, kekuatan, bila perlu teguran berdasarkan cinta kasih yang mampu membangun dirinya. Untuk menjadi orang jenis ketiga ini, kita memerlukan anugerah, kekuatan dan keajaiban dari Tuhan. Betapa indahnya, bila semua dari kita boleh menjadi orang jenis yang ketiga ini.

Sebagai penutup, untuk mengingatkan kita kembali, kita membaca apa yang ditulis dalam Roma 14:10-13: “10. Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. 11. Karena ada tertulis: "Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah." 12. Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.13. Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!”

Ringkasan oleh Budi Walujo | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya