Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Hidup atau Mati, Kita Milik Tuhan

Ibadah

Hidup atau Mati, Kita Milik Tuhan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 9 November 2014

Bacaan Alkitab: Roma 14:5-9

Kita sudah membahas Roma pasal 14 ini secara keseluruhan selama dua kali berturut-turut di dalam satu tema prinsip-prinsip apa yang harus kita pegang ketika orang Kristen berbeda pendapat. Ada beberapa prinsip yang  sudah dibahas dalam 2 pertemuan yang lalu. Hari ini kita akan masuk lebih detail tentang dasar argumentasi dan doktrin-doktrin yang penting di dalam Paulus membangun argumentasi itu. Dalam pembahasan yang lalu kita hanya membahas prinsipnya. Sekarang kita masuk pondasinya mengapa Paulus memberikan prinsip-prinsip yang seperti demikian. 

  1. Dalam bagian Roma pasal 14 ini Paulus sedang membahas relasi antara manusia; antara boleh makan atau tidak boleh makan, antara makan daging atau hanya makan sayuran. Ini yang menjadi pergumulan dalam Roma pasal 14. Di dalam perdebatan yang terjadi itu kita sudah membahas beberapa prinsip. Pada prinsip di dalam Roma 14 pasal 5,  ketika  ada 2 kelompok  orang Kristen yang berbeda pendapat khususnya di dalam hal-hal yang debatable, bukan hal-hal yang prinsipal/mutlak maka hendaklah tiap-tiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. Dalam prinsip ini kalau ada 2 orang atau kelompok yang berbeda pendapat dalam hal-hal yang debatable, Paulus tidak mengatakan tidak usah berdebat masing-masing terserah saja dan tidak usah diperdebatkan. Tetapi  justru Paulus mengatakan “hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri”; yakin bahwa keputusan yang kita ambil itu benar, berkenan kepada Tuhan, memuliakan Tuhan.

Sebenarnya hal ini menjadikan persoalan semakin tajam. Ketika orang yang bergumul tentang makanan; apa yang terbaik dan berkenan kepada Tuhan sesuai prinsip firman Tuhan kemudian mengambil keputusan dan kesimpulan bahwa yang terbaik adalah makan daging ini. Ketika mengambil keputusan ini, maka sebenarnya sangat sulit bagi orang ini untuk melihat orang Kristen yang lain yang mengatakan hal yang bertentangan dengan dia.

Kita harus yakin dalam hal-hal yang debatable, tapi bukan berarti kita boleh melakukan apa saja dan yakin dalam hal-hal yang bertentangan yang principal.

Kita merasa tidak mungkin dan sangat sulit menerima perbedaan orang lain ketika kita yakin dan membangun keyakinan kita bahwa ini adalah hal yang benar dan melihat saudara seiman yang lain yang juga mengatakan bahwa dia yakin tetapi kesimpulannya bertentangan dengan kesimpulan yang kita ambil.

Tetapi Paulus di dalam ayat yang ke 6. mengatakan bahwa hal itu mungkin. Ketika kita mengambil keputusan bahwa makan itu memuliakan Tuhan dan berkenan kepada Tuhan, maka sebenarnya juga mungkin saudara kita yang mengambil keputusan untuk tidak makan, mereka juga melakukan itu untuk memuliakan Tuhan.

“Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah” (Roma 14:6). Semuanya mengucap syukur kepada Allah. 

  1. Dalam  ayat ke 7 Paulus mengambil contoh yang lebih ekstrim daripada makan dan tidak makan. Paulus mengangkat antara hidup dan mati. Paulus mengatakan dalam ayat 7 dan 8 bahwa keduanya juga bisa memuliakan Tuhan, keduanya juga bisa dialami orang Kristen di dalam konteks memuliakan Tuhan. “Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan”.

Mengapa Paulus tiba-tiba berbicara tentang hidup dan mati?  Paulus mengambil hidup dan mati dalam ayat 7 dan 8 kemungkinan besar karena hidup dan mati ini adalah 2 hal yang paling berseberangan di dalam dunia, juga ultimate contrast dari makan dan tidak  makan.  Hidup dan mati itu dialami oleh orang-orang Kristen dan bisa sama-sama untuk memuliakan Tuhan. 

Dalam Filipi, Paulus mengatakan bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Jikalau harus memilih, Paulus mengatakan lebih baik mati karena ketika mati kita akan bertemu dengan Kristus, menikmati Dia selamanya.  Kematian ini seharusnya merupakan keuntungan bagi kita semua karena walaupun ketika kita mati kita harus meninggalkan semuanya tetapi kita mendapatkan Kristus dan hal ini jauh lebih baik. Paulus juga mengatakan hidup juga adalah Kristus itu sendiri. Ketika Tuhan masih memberikan kita hidup, itu artinya kita hidup memberi buah, menghasilkan buah, menyatakan Kristus, membawa orang-orang kembali kepada Kristus. Mengalami Kristus bukan hanya waktu mati, bertemu dengan Kristus, menerima Dia sebagai harta yang paling berharga. Tetapi juga sekarang ini ketika kita masih hidup di dalam dunia, Kristus juga menjadi harta yang begitu berharga dan mulia, mengalami Kristus dalam hidup ini sekarang juga. 

  1. Bagaimana bisa terjadi bahwa hidup dan mati untuk Tuhan? Dalam ayat ke 9, Paulus mengatakan: “Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” Kristus mati di atas kayu salib menebus kita dengan harga yang tak ternilai, dengan darah-Nya yang dicurahkan bagi kita, menjadikan kita milik Dia. Melalui kematian Tuhan, kita bukan milik kita sendiri, tapi milik Kristus. Ini menjadi pondasi bagaimana kita bisa mengalami hidup itu adalah Kristus dan mati itu adalah keuntungan karena kita sudah ditebus oleh Kristus, kita adalah milik-Nya. Ketika kita menjadi milik-Nya, tidak ada apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Kuasa kebangkitan Kristus sudah mulai dialami oleh orang-orang yang di dalam Kristus, yang percaya dan beriman di dalam Dia, yang dipersatukan dengan kematian-Nya. Karena Kristus bangkit, hidup yang baru, hidup yang kekal itu sudah dimulai, meskipun belum sempurna.  Kita masih akan mati di dalam dunia ini. Tetapi sekarang bagi anak-anak Tuhan, mati itu menjadi tidak menakutkan lagi.  Mati itu tidak menjadi akhir dari hidup manusia.  Bukan berarti mati itu menjadi sahabat kita karena mati itu adalah akibat dosa.

Mati tetap menjadi kesedihan bagi kita dan kesedihan ini adalah sesuatu yang wajar dan bahkan respons yang tepat sesuai dengan prinsip firman Tuhan. Orang-orang Kristen boleh bersedih tetapi bukan kesedihan yang tanpa pengharapan. Kematian secara fisik adalah sarana, caranya Tuhan menyempurnakan hidup kita. 

Heidelberg Catechism, ditulis tahun 1563 oleh para pendeta dan teolog dan merupakan catechism yang paling tua dari pengakuan iman reform. Ada 129 pertanyaan di dalam Heidelberg Catechism. Dalam pertanyaan pertama adalah what is your only comfort in life and in death (Apakah yang menjadi penghiburanmu satu-satunya di dalam hidup dan di dalam mati?).  Pertanyaan ini ingin menanyakan what is your only real security in life and in death. Jawaban yang diberikan dalam Heidelberg Catechism ini adalah: That I am not my own, but belong - body and soul, in life and in death - to my faithful Savior, Jesus Christ. (bahwa aku bukanlah milikku sendiri, tetapi tubuh dan jiwaku, hidup atau mati adalah milik Juruselamatku yang setia, Yesus Kristus).  Jawaban selanjutnya adalah Dia telah membayar lunas segala dosaku dengan darahNya yang mahal dan telah membebaskanku dari penjara iblis. Yesus Kristus juga menjaga aku begitu rupa sehingga tidak ada sehelai rambutku pun jatuh jikalau tidak dikehendaki oleh Bapaku yang di sorga. Bahkan segala sesuatu akan bekerja bersama-sama untuk keselamatanku, karena aku adalah milik Kristus dan melalui rohNya yang kudus memberi kepastian akan hidup yang kekal dan menggerakkan aku dengan segenap hati rela dan siap untuk hidup bagi Dia.

Sekarang pertanyaan bagi kita adalah apakah betul itu adalah the real security in life and in death? Seperti dalam Roma 14: 8 “Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan”.

Karena itu baiklah kita hidup untuk Dia dan mati bagi Dia. Kita adalah milik Tuhan, biarlah hikmatNya dan kehendakNya itu menguasai seluruh kita. Biarlah setiap bagian dari hidup kita berjuang ke arah Dia, satu-satunya tujuan yang benar.     

    

 

 

 

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya