Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang

Ibadah

Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 19 Oktober 2014

Bacaan Alkitab: Roma 13:11-15

Menjelang pelantikan presiden Indonesia 2014, Majalah Time menampilkan Cover foto Jokowi dengan judul A New Hope, namun kalau dia tidak konsisten maka dia bisa jatuh. Tetapi seperti yang Pdt Stephen Tong katakan, yang paling penting bukanlah pelantikan presiden, tetapi melaksanakan kehendak Tuhan. Oleh karena itu kita harus membaca Firman untuk mengerti apa kehendak Tuhan dan sekuat tenaga mengerjakannya di dalam hidup kita.

Dalam pembacaan Firman kita hari ini, kita akan mulai dengan satu pertanyaan untuk mengingatkan kita akan hidup kita: apa yang telah kita kerjakan di dalam tahun ini? Di dalam tahun ini ada di antara kita yang membuat keputusan-keputusan besar, seperti lulus dan mencari pekerjaan, ada yang menikah, ada yang baru mendapatkan anak. Di dalam Roma 13:11-14, di setiap tahun, kita diperingatkan bahwa keselamatan itu sudah lebih dekat kepada kita daripada waktu kita menjadi percaya (Roma 13:11b). Di hari waktu Kristus datang di dalam kemuliaan-Nya sebagai raja dan hakim, di hari waktu kita semua menghadap tahta-Nya yang mulia, Tuhan akan bertanya kepada kita, apa yang telah kita kerjakan di dalam waktu yang Tuhan berikan kepada kita. Apa yang telah kita kerjakan tahun ini?

Fajar telah menyingsing dan matahari akan segera bersinar. Walaupun Kristus belum datang yang kedua kalinya, kita bisa menghadap Kristus melalui kematian yang bisa datang setiap saat. Biarlah kita boleh gentar, ketika Tuhan datang dan bertanya apa yang telah kamu lakukan di dalam waktu yang sudah Tuhan berikan. Apa kita bertanggug jawab terhadap setiap talenta yang Tuhan berikan? Apakah kita akan mendengar Tuhan Yesus berkata “hai hamba-Ku yang baik, Aku telah memberikan kepadamu talenta, dan mendapatkan hasilnya, masuklah ke dalam kebahagiaan tuan-Mu. Atau apakah kita mendapat teguran, karena kita gagal dan tidak siap, kita tertidur di dalam dunia yang begitu membuat kita jauh dari perintah Tuhan, dengan menyerap segala tawaran dunia. Kita tertidur, rohani kita tertidur, Kristus menjadi semakin kecil di dalam hidup kita. Sampai orang tidak bisa melihat lagi Kristus yang ada di dalam hidup kita, dan orang tidak bisa lagi melihat kemuliaan Kristus di dalam hidup kita.

Harap kita boleh mengerti akan jaman ini, saatnya telah tiba bagi kita untuk bangun dari tidur sebab keselamatan sudah lebih dekat dibanding waktu kita menjadi percaya. Kita harus mengerjakan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Kita bisa diingatkan dengan apa yang terjadi di Indonesia akhir akhir ini, seperti ketua KPK yang mulai sadar bahwa menangkapi orang-orang saja tidak cukup, dan mengatakan sebenarnya masalahnya mulai dari keluarga. Dia masuk ke sekolah SD dan bercerita bahwa sikap budaya korupsi itu asalnya dari keluarga. Kalau mendapatkan uang atau sesuatu yang bukan miliknya itu adalah mencuri. Saat dia masih kecil, waktu dia membawa kapur dari sekolah, ibunya marah dan berkata kapur itu milik sekolah dan bukan milik kamu. Demikian juga walikota Surabaya, ibu Risma, yang bukan hanya memikirkan masalah pemerintahan yang rumit, tetapi juga memikirkan anak-anak remaja yang makin rusak, salah satunya mereka yang suka ke diskotik. Maka dia merazia diskotik-diskotik Sabtu malam, dan menangkapi anak-anak remaja, memanggil orang-orang tua mereka. Persoalan masyarakat dan keluarga itu memang terkait satu sama lain.

Ketua KPK dan walikota Surabaya bukanlah orang Kristen, namun mereka mengerti akan kerusakan masyarakat. Tetapi pihak yang seharusnya paling sadar akan kerusakan dunia ini adalah kita, orang-orang Kristen. Kita yang sudah memiliki hidup yang baru, Kristus yang sudah ada di dalam hidup kita, kita yang sudah diangkat dari kegelapan ke dalam terang-Nya yang ajaib, kita seharusnya yang paling sadar untuk mengerjakan apa yang Tuhan kehendaki,  bukan kita malah tertidur. Begitu banyak yang harus kita lakukan, mendisiplin hidup. Tanggalkan baju tidurmu, hari sudah siang, setelah bangun, kita diperintahkan bukan untuk memakai baju sekolah atau baju kantor, tetapi memakai perlengkapan senjata perang. Karena hidup Kristen sesungguhnya adalah suatu spiritual warfare. Kalau tidak kita akan mati. Memang Tuhan memanggil kita untuk berperang, berperang dengan dosa, berperang dengan segala tipu muslihat iblis, berperang dengan penguasa-penguasa angkasa.

Di dalam system Negara Australia yang begitu baik, segalanya tenang dan teratur, semua serba ada, seolah-olah kita tidak lagi membutuhkan Tuhan dan kita tertidur. Di Syria, jika ada teman kita yang anaknya baru ditangkap oleh ISIS dan akan dipenggal kepalanya, apakah kita bisa tidur. Walaupun tidak ada ISIS, peperangan kita adalah berbeda, segala kenyamanan yang ada menidurkan kita, membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Kita merasa tidak memerlukan Tuhan, tidak perlu berdoa, tidak perlu membaca Firman. Ini menjadi berbahaya sekali; kita harus sadar tentang hal ini.

Konferensi Pengabaran Injil Australia (KPIA) yang akan kita kerjakan membangunkan kita, mendorong kita untuk bersama-sama berjuang. Kita harus memanfaatkan kesempatan yang Tuhan berikan kepada setiap kita sekali lagi untuk menyadari bahwa kita sedang dalam peperangan. Kita harus sungguh-sungguh mendoakan teman-teman kita yang belum percaya, atau mundur imannya, atau sudah hidup di dalam dosa. Kalau kita kenal teman kita itu, maka kita doakan teman kita itu, dan kita baru tahu betapa susahnya mengembalikan hidup teman kita kepada Tuhan. Kita semua mengalami banyak kesulitan kita masing-masing, tetapi kalau kita terus berfokus kepada kebutuhan kita sendiri, kita tidak akan pernah menjadi orang yang berdampak kepada orang banyak, dan kita tidak akan mengerti apa artinya melakukan kehendak Tuhan. Biarlah kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk  membawa teman-teman kita kembali kepada Tuhan.

1 Tes 5:7-8 memberikan pengertian tentang persenjataan perang yang kita perlukan untuk menghadapi dunia yang berdosa ini. “(7) Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam, dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam, (8) tetapi kita yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan”. Ada tiga hal yang disebutkan di sini: iman, pengharapan dan kasih, yang menjadi senjata kita di dalam menghadapi musuh. Banyak senjata-senjata kegelapan yang diarahkan ke kepala kita, ke dada dan hati kita, yang boleh membuat kita jauh dari Tuhan dan tertidur.

Dunia juga banyak menampilkan iman pengharapan dan kasih, tetapi secara sekuler. Dunia mengatakan harapan (hope) juga, tetapi kepada siapa pengharapan itu. Dunia mengatakan kasih (love) tetapi kasih kepada siapa? Semuanya hanya cuplikan-cuplikan yang kosong di dalamnya.

Roma 13:14 mengingatkan kepada kita  kepada kita “kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang” dan dari 1 Tes 5 kita tahu bahwa senjata itu adalah iman, pengharapan dan kasih. Kalau keduanya digabung, kita tahu bahwa bukan iman, pengharapan, dan kasih yang sekuler yang tidak ada kaitannya dengan Firman Tuhan, tetapi iman, pengharapan dan kasih di dalam Yesus Kristus. Pakailah pengharapan di dalam Tuhan, dan kasih di dalam Tuhan, yang kemudian mengalir kepada sesama.

Di dalam Roma 13:13, kita melihat senjata-senjata kegelapan, ada tiga kategori yang Paulus sebutkan di sini, yang pertama adalah “jangan dalam pesta pora dan kemabukan”, yang kedua, “jangan dalam percabulan dan hawa nafsu” dan yang ketiga “jangan dalam perselisihan dan iri hati”. Paulus juga mengatakan bahwa jangan hanya tidak melakukan perbuatan-buatan itu, tetapi bahkan jangan sampai kita memikirkan hal-hal tersebut. Ini yang ditekankan dalam Roma 13:14b “Jangan merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya”. Sebenarnya terjemahan indonesianya kurang baik, karena bukan berarti kita tidak boleh merawat tubuh kita seperti mandi dan berolah raga. Terjemahan yang lebih tepat adalah “janganlah berpikir untuk memuaskan keinginan dagingmu.”

Pesta pora dan kemabukan seperti dunia gemerlap (dugem), ketagihan akan obat, alkohol dan ketagihan main game dlsb. Percabulan dan hawa nafsu seperti pornografi, seks di luar/sebelum menikah, fedofilia dlsb. Fedofilia ini mengejutkan karena ternyata banyak aktor-aktor terkenal yang baru sekarang terbongkar bahwa dia dahulu waktu masih muda senang melakukan fedofilia. Dosanya terus mengejarnya dan menghancurkan hidupnya. Jangan berpikir bahwa drug dan alkohol bisa melepaskan dari kebosanan. Jangan berpikir bahwa pornografi bisa melepaskan dari kesepian dan kebosanan. Tetapi hal-hal ini justru akan menghancurkan hidupmu. Jangan dalam perselisihan dan iri hati; kalau kita pernah disakiti, kalau kita terus memikirkan perselisihan itu maka akan timbul keinginan untuk menuntut balas.

Bagaimana caranya untuk menanggalkan hal-hal itu. Kuncinya adalah kenakanlah Kristus, supaya kita tidak jatuh ke dalam dosa-dosa tersebut. Saudara jangan berpikir terus untuk tidak melihat pornografi. Semakin saudara tidak mau melihat pornografi, saudara akan makin berpikir pornografi. Saudara makin tidak mau membenci seeorang, tetapi saudara makin mengingat perselisihan tersebut. Solusinya adalah kita tidak boleh terjebak di dalam cara penanggulangan secara negatif, seperti jangan berbuat ini, jangan berbuat itu. Tetapi kita harus  menghadapinya secara positif: yaitu dengan mengenakan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang. Bukan hanya meninggalkan hal-hal tersebut, tetapi juga mengejar apa yang berkenan kepada Tuhan, bersekutu dengan Dia. Kita harus memikirkan tentang teladan hidup Kristus, dan bergiat melakukan kehendak-Nya.

Kalau kita tidak mau berpikir tentang gajah, semakin kita tidak mau berpikir tentang gajah, kita semakin berpikir tentang gajah. Kalau tidak mau berpikir tentang gajah, kita harus berpikir tentang yang lainnya seperti berpikir tentang semut. Kalau kita sibuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki, kita baru bisa meninggalkan hal-hal tersebut dan bertumbuh di dalam Dia.

Syair lagu “Turn You eyes upon Jesus” menyanyikan:

Turn your eyes upon Jesus,

look full in His wonderful face,

and the things of earth will grow strangely dim,

In the light of His glory and grace.  

Syair ini mengatakan kalau kita memberitakan Injil dan merenungkan Firman-Nya, maka secara otomatis, ‘daya Tarik dunia’ ini akan semakin redup.

Ada suatu kisah menarik dari St Agustinus. Agustinus sewaktu muda memiliki ibu, yaitu Monika, yang takut akan Tuhan, dan berdoa terus supaya anaknya menjadi orang Kristen yang sejati. Tetapi ayahnya memiliki ambisi besar supaya anaknya menjadi orang yang sukses. Agustinus didorong untuk belajar sungguh-sungguh, dan dia bertumbuh menjadi orang yang pintar, tetapi hidupnya menjadi rusak sejak masa remajanya. Sewaktu berusia 16 tahun, dia sudah tidur dengan banyak perempuan.  Waktu berumur 17 tahun dia mempunyai seorang kekasih yang dia sayangi terus menerus, sampai kemudian mereka terpaksa berpisah. Hati Agustinus selalu gelisah dan terombang-ambing. Dia seorang yang pandai dan mengejar kebenaran. Kemudian dia bertemu dengan filsuf-filsuf dan mempelajari filosofi. Dia kemudian menjadi professor yang terkenal dan memiliki koneksi yang luas. Suatu saat dia bertemu dengan Ambrose, Bishop of Milan, yang memperkenalkan Firman kepadanya. Tetapi hatinya tidak mau bertobat dan terus mencintai dunia. Di dalam bukunya The onfession, dia mengatakan “Tuhan, sebentar lagi” walaupun dia menyadari Tuhan menariknya untuk kembali kepada Tuhan, “beri aku waktu sebentar lagi sebelum aku bertobat.”. Tetapi untungnya Tuhan masih memberi kesempatan bagi Agustinus. Suatu hari dia dan teman baiknya Alifius sedang membaca Alkitab, Agustinus kemudian diam-diam menjauhkan diri dari Alifius dan menyendiri ke suatu taman. Agustinus bergumul, dia tahu Tuhan sedang menarik dia, dia berseru kepada Tuhan dan menangis. Tiba-tiba dia mendengar anak-anak sedang bermain dan berkata “take out and read”, dia langsung mengerti dan kemudian dia membaca Alkitab; dan yang dia baca adalah Roma 13:13-14. Dari ayat-ayat ini, dia sadar dan meninggalkan dosanya. Dia kemudian menyerahkan diri kepada Tuhan. Kalimat Agustinus yang terkenal adalah “Thou hast made us for Thyself, O’Lord, and our heart is restless until it finds its rest in Thee“. Agustinus kemudian memakai sisa hidupnya melayani Tuhan, dan dia adalah orang yang paling mempengaruhi John Calvin.

Baiklah kita boleh diingatkan, dan didorong untuk bangun, bekerja bagi Tuhan, mengenakan Kristus dan melakukan kehendak Tuhan. Bersatu di dalam penderitaan, ketaatan, di dalam kehendak, di dalam hati-Nya, dan boleh berkata “hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalamku”. Baiklah hidup kita sehari-hari, yang dilihat orang-orang di sekitar kita, bisa memancarkan Kristus, cinta-kasih-Nya, kebenaran-Nya, kesucian-Nya di dalam hidup kita.  

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya