Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Garam dan Terang Dunia

Ibadah

Garam dan Terang Dunia

Pdt. Agus  Marjanto

Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto
Date: Minggu, 5 Oktober 2014

Bacaan Alkitab: Daniel 1:1-8

Bahasan kita kali ini adalah tentang gambaran apa yang Alkitab katakan mengenai Daniel yaitu seseorang yang dalam hidupnya Tuhan pakai sebagai garam dan terang dunia, yang di dalamnya prinsip-prinsip ini telah dijadikan dalam bentuk narasi. Dengan prinsip prinsip ini, diharapkan saudara dapat menjalani hidup dihadapan Allah di tengah dunia sebagai garam dan terang dunia.

Sebelum memahami narasi ini, kita harus mengerti terlebih dahulu apa yang Alkitab tuliskan mengenai sesuatu kalimat, yang kemudian ditempat lain kalimat itu dijabarkan dalam sebuah narasi. Misalnya dalam Perjanjian Lama, dosa demi dosa yang dilakukan oleh orang-orang Israel, baik utara maupun selatan, sudah begitu banyak dan beragam. Melalui satu nabi, Tuhan mengungkapkan perasaan-Nya hanya dengan menggunakan satu kata saja yaitu Israel, “engkau tidak berbuah”. Inilah kata yang dipakai untuk menggambarkan prinsip itu secara keseluruhan. Selanjutnya kita akan melihat kedalam hidup Daniel untuk memahami prinsip prinsip kehidupan sebagai garam dan terang dunia.

Pertama, untuk menjadi garam dan terang dunia, kita jangan melupakan panggilan Tuhan yang berdaulat untuk menempatkan kita di manapun sesuai dengan isi hati-Nya. Dari cara Daniel menuliskan kitab ini, mulai ayat pertama bab pertama saja kita sudah dapat melihat kemahiran dan kecerdasan Daniel secara rohani. Di situ dituliskan, “Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar raja Babel ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. Tuhan menyerahkan Yoyakim ke dalam tangan Nebukadnezar”. Pada waktu Daniel menuliskan bab demi bab kitab ini, ia sudah berusia lanjut. Ini adalah sebuah tulisan yang dibuat dengan air mata kepedihan karena ia mengenang kembali peristiwa yang memilukan yang terjadi puluhan tahun silam. Sebuah peristiwa yang begitu menghancurkan hatinya yang dalam pikirannya waktu itu, ia tidak punya harapan lagi. Bisa dibayangkan pada waktu Daniel remaja yang sedang bermain-main bersama teman temannya, tiba-tiba terompet bahaya berbunyi dan dalam sekejap tentara Nebukadnezar mengepung dan menghancurkan seluruh Jerusalem. Orang orang yang dikasihinya mati, teman-temannya mati, bait suci diporak porandakan, tembok Jerusalem dihancurkan dan darah ada dimana-mana. Meskipun sudah berpuluh-puluh tahun, Daniel pasti mengingat kepedihan itu.

Tetapi ada satu kalimat yang luar biasa, semua itu terjadi karena “Tuhan menyerahkan raja kami Yoyakim kepada Nebukadnezar”. Daniel memiliki cara pandang surgawi dalam memandang sejarah hidupnya. Bila kita bertanya kepada Daniel, mengapa Yoyakim kalah?, mengapa engkau dibawa ke Babel tempat kafir itu?, ia tidak mengatakan Yoyakim strategi militernya kurang hebat dibanding Nebukadnezar, ia tidak mengatakan Yoyakim kudanya kurang kuat, tentaranya kurang banyak, atau mengatakan semua alasan-alasan yang bisa kita analisa seperti kalau kita membaca berita di koran. Ia hanya melihat seluruh peristiwa sejarah hanya dari sudut pandang tahta Allah saja.

Mengapa engkau ada di tempat ini? Daniel hanya mengatakan karena Tuhan yang membuat kami kalah, dan itulah yang menyebabkan sekarang saya di buang di tempat ini. Sekarang perhatikan, bila ini adalah intervensi aktif Allah kepada Daniel, maka langsung Daniel tahu bahwa ini adalah “panggilan”. Aku datang ke sini bukan karena karena Yoyakim yang bodoh, aku datang ke Babel bukan karena Nebukadnezar yang hebat, aku sampai di Babel meskipun aku harus dirantai dan diseret-seret ratusan kilometer, meskipun airmata mengalir, tetapi aku tahu aku ada di tempat ini karena ini adalah panggilanku.

Orang-orang puritan mengatakan dan mengajarkan kepada kita tentang tempat panggilan Allah. Boleh kita meminta kepada Tuhan dan pintu dibuka dan kita masuk ke tempat itu. Terkadang, tempat panggilan Allah adalah tempat dimana Allah menyeret kita masuk ke satu tempat yang bahkan kita tidak suka, tetapi itupun adalah tempat panggilan Allah. Ada orang yang bercita-cita pergi ke Australia, atau ke Amerika, dia berdoa dan berusaha mendapatkan PR dan kemudian pintu itu dibuka dan ia masuk ke dalamnya, itu adalah adalah tempat panggilan Allah. Ada juga misalnya pada kerusuhan Mei 1998, banyak orang orang dibunuh, toko toko dibakar, ada beberapa orang mau tidak mau harus keluar dari Indonesia dan di tengah segala kerumitan itu akhirnya mereka harus pergi ke Australia dan tinggal disana, itupun adalah panggilan Allah. “And we know that for those who love God all things work together for good, for those who are called according to his purpose”. (Romans 8:28 ESV). Segala sesuatu berarti termasuk juga yang positif dan yang negatif, berkerja bersama-sama untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Ada orang yang harus keluar dari perusahaannya karena pengurangan karyawan, ia berpikir bahwa ia sudah dilupakan oleh Tuhan. Tidak, tetapi Tuhan menaruhnya di tempat yang lain, dan itu adalah panggilan.

Terkadang kita membayangkan panggilan itu seperti yang dialami Yunus atau Yesaya dimana kalimat Tuhan begitu jelas. Tetapi ada panggilan-panggilan, seperti yang dituliskan di dalam Alkitab, terjadi karena Tuhan bekerja dengan tangan yang tidak terlihat memaksa kita memasuki suatu keadaan. Hasilnya banyak orang yang kecewa dengan peristiwa yang terjadi puluhan tahun lalu. Namun dalam konteks Daniel, ia tidak terjebak dengan masa lalunya. Ia tahu ini adalah panggilan, ia menyadarinya sehingga ia harus hidup benar dihadapan Allah, melakukan kejujuran, presisi dalam bekerja dan menjadi orang yang excellent di Babel.

Orang yang mengerti panggilan, yang mengerti tugas yang diberikan Tuhan, ia memiliki kuasa, tenaga dan hati yang mendorongnya untuk melakukan hal yang terbaik yang tidak mengecewakan pemanggilnya yaitu Allah. Dua ayat pertama kitab Daniel menyatakan kepahitannya sekaligus rasa syukurnya kepada Tuhan yang bekerja dalam hidupnya. Meskipun ia diseret dan tidak rela dibawa ke Babel, tetapi ia percaya Tuhan bekerja di dalam hidupnya. Ketika Tuhan sudah memanggil, Ia berhak memanggil dengan cara apapun dan menempatkan kita di manapun. Tidak ada tempat dimana kita bisa melayani semau sendiri, Dialah yang menentukan tempat kita melayani.

Kedua, menjadi garam dan terang dunia berarti menjaga kemurnian dan kesucian. “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. (Matius 5:13). Di alam begitu banyak pengaruh mineral lain yang bisa berikatan dengan NaCl yang bila bergabung menjadi satu maka batuan garam itu tidak lagi terasa asin. Ini adalah soal kemurnian, biarlah kita selalu meminta belas kasihan Tuhan agar kita terus menerus diingatkan untuk memiliki hati yang murni dan motivasi yang murni. Inilah yang juga selalu saya bicarakan kepada diri, keluarga dan jemaat saya agar kita mempunyai hati dan motivasi yang tulus, jujur dan terbuka di hadapan Allah dan sesama kita. Cerita Pdt. Budy kemarin mengatakan bahwa baik mobilephone maupun komputernya bebas untuk dilihat oleh anak dan isterinya, tidak ada satupun yang disembunyikan. Harus ada kejujuran dan ketulusan dalam mengelola uang gereja, begitu juga harus ada kemurnian dan kebenaran dalam menjaga theologia. Bila tidak, maka tidak ada bedanya dengan prinsip-prinsip kerja dan pengelolaan menurut dunia. Kita harus meminta kepada Tuhan agar terus diberikan hati yang murni.

Namun harap diperhatikan, waktu-lah yang akan menyerongkan kita. Dulu pada waktu muda masih berapi-api, sekarang setelah menjadi tua seakan menjadi layu, dulu pada waktu muda murni, setelah menjadi tua berkompromi. Hal itu terus terjadi, dan Alkitab hanya mengatakan “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”.

Kita harus hidup suci, karena kesucian adalah inti dari pribadi Allah. Di dalam kitab Yesaya dan Wahyu, satu kata yang berkaitan dengan sifat Allah yang diulang sampai tiga kali adalah kata suci. Allah itu kasih tetapi kata kasih itu tidak pernah diulang sampai tiga kali. Allah itu murah hati tetapi kata murah hati tidak pernah diulang sampai tiga kali. Suci adalah satu satunya sifat Allah yang diulang sampai tiga kali, dan didalam konteks sesungguhnya, hal ini berkaitan dengan sesuatu yang superlatif, yang berkenaan dengan Tritunggal, serta berkenaan dengan inti pribadi Allah yaitu kesucian.

Jauh lebih dalam, semua dari kita mengerti konteks kesucian terutama dalam masalah masalah seksual. Namun marilah kita pikir baik baik apa arti dibalik kesucian itu. Suci adalah Qadosh, yaitu hidup yang dipisahkan untuk didedikasikan bagi Allah. Kita diletakkan di dunia ini, Kristus juga ada di dalam dunia ini, tetapi kita bukan milik dunia ini. Kita memang berada di dunia ini namun hati kita dan arah hidup kita dipisahkan secara rohani bukan secara spatial (space), hidup kita hanya dimiliki dan hanya didedikasikan hanya bagi Allah saja.

Marilah kita lihat aplikasinya di dalam Daniel. Pada waktu itu Daniel diubah namanya, identitasnya, tidak hanya itu, bahasa dan tulisannya juga diubah, diberikan ilmu pengetahuan Babel. Sebenarnya bila seseorang tidak kuat dalam imannya, maka orang itu pasti akan kehilangan identitasnya. Banyak orang keluar dari Indonesia, kuliah di Australiai atau Amerika, maka dalam empat tahun saja ketika pulang ia lebih suka berbahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia. Saya tidak katakan itu berdosa, tetapi dia sudah mulai menyukai gaya yang lain, mulai menyukai makanan yang lain, gaya hidup yang lain, prinsip hidup yang lain, dan celakanya banyak dari mereka yang setelah kembali ke Indonesia mulai melakukan pembedaan  "oh… dia lulusan lokal, nothing!" Orang seperti ini mulai kehilangan identitasnya, dia berpikir identitasnya lebih tinggi dari pada orang lain yang diciptakan Tuhan. Itu baru empat tahun, bagaimana dengan Daniel yang menghabiskan mungkin 60 atau 70 tahun di Babel? Ia melayani 5 atau 6 raja namun dia tetap kuat dalam identitasnya.

Perhatikanlah baik-baik hal ini, ada satu tawaran yang ditolak Daniel yaitu dalam soal makanan. Ia tidak mau, ia tetap makan sayur. Beberapa penafsir mengatakan karena sangat mungkin makanan itu mengandung hal-hal yang haram atau makanan itu sendiri sudah dipersembahkan kepada dewa-dewi Babel. Tetapi jikalau seperti itu, pertanyaannya adalah, mengapa Nehemia tetap mau menjadi juru minuman raja dan Allah tidak menyalahkannya? Secara kerohanian apa sebenarnya yang terjadi? Dalam hal ini Daniel sedang memberikan keputusan hati dan perjanjian pribadi dengan Allah yang berdaulat. Biarlah kita boleh mengerti bahwa hidup kudus bukan cuma berarti tidak nonton video porno, atau tidak mencuri uang, atau tidak korupsi. Dalam konteks hidup kudus, orang yang semakin mengenal Tuhan didalam hatinya diberikan suatu kesaksian oleh Roh Kudus sehingga ia bisa mengkhususkan sesuatu, tidak menjamah sesuatu, tidak melakukan sesuatu, tidak mengambil sesuatu, bukan karena sesuatu itu dosa, tetapi ia mau mendedikasikan sesuatu karena ia adalah milik Allah. Itu adalah hidup yang dipisahkan untuk didedikasikan bagi Allah. Itu adalah hidup suci. Suatu hari dimana Tuhan berikan pertumbuhan rohani, disitulah saudara mengerti bahwa Tuhan menghendaki agar sesuatu itu saudara singkirkan, walaupun sesuatu itu samasekali bukan dosa. Sesuatu itulah yang menyangkut hidup saudara yang didedikasikan bagi Allah.

George Muller adalah seorang yang dipakai Tuhan untuk mengelola panti asuhan yang menampung sekitar 10,000 anak. Ia adalah orang bergantung terus menerus kepada Kristus. Suatu hari juru masaknya berkata, pak kita sudah tidak punya bahan makanan lagi, bagaimana untuk makan besok? George Muller hanya menjawab, baik terima kasih sudah memberitahu. Seperti biasa George Muller akan berlutut dan berdoa karena ia sangat bergantung kepada Kristus. Keesokan harinya disaat anak-anak sudah berkumpul di ruang makan yang besar itu, dimana piring-piring dan sendok sudah disiapkan, George Muller seperti biasa berkata, “anak-anak, marilah kita berdoa”. Pada saat doa selesai dan membuka mata, terdengar suara pintu diketuk. Ketika dibuka, ada seseorang membawa satu karung roti. Ia diminta atasannya untuk mengantar roti itu ke panti asuhan. George Muller tersenyum dan mengambil roti itu dan semua anak makan pada pagi itu. Hal semacam itu berkali-kali terjadi di dalam hidupnya. Pada suatu ketika, George Muller menyadari bahwa keuangan panti asuhannya sudah menipis, boleh dikatakan mau habis. Ia berdoa kepada Tuhan. Kemudian tak lama datang seseorang asing mengetuk pintu. Ia datang dari satu kota, diminta oleh tuannya untuk mengantar sesuatu untuk George Muller. Ketika ia melihatnya, ada uang yang begitu banyak didalamnya. Pertama ia berpikir ini adalah jawaban Tuhan atas doanya. Ketika ia mau mengambil uang itu dan mau mengucapkan terima kasih, tiba-tiba Roh Kudus menegur hatinya dengan begitu keras sampai jantungnya berdebar-debar. Ia mulai sadar, dan menyuruh orang itu untuk menunggunya sebentar. Ia pergi ke kamarnya dan berlutut lagi, ia bertanya kepada Tuhan. Setelah beberapa saat ia keluar lagi dan menyampaikan maafnya karena tidak bisa menerima uang itu. Mengapa George Muller tidak mau menerimanya?, padahal uang itu bukan hasil curian atau uang yang tidak beres. Uang itu jauh melebihi dari apa yang ia butuhkan. Kenapa?, karena ia sadar bahwa uang itu, yang bisa mendukungnya dalam beberapa bulan ke depan, menjadikannya tidak akan bergantung lagi kepada Kristus. Ia ingin union with Christ adalah tetap untuk selama-lamanya, yang lebih berharga dari apapun. Untuk itu ia tidak mau menjamah uang itu dan itulah bukti bahwa George Muller mendedikasikan hatinya dan hidupnya bagi Allah.

Itulah kesucian. Jangan berpikir bahwa apa yang ada di depan mata boleh kita ambil, jangan berpikir bahwa sesuatu yang ditawarkan kepada kita adalah sesuatu yang boleh kita nikmati. Biarlah kita bisa mengerti prinsip ini bahwa bersekutu dengan Kristus, disertai Dia dan ditopang oleh dia, adalah hidup yang paling indah dan paling mulia. Daniel tahu prinsip ini sehingga ia tidak mau memegang makanan itu karena ia mau menyerahkan seluruh hidupnya bagi Allah. Ia tahu Allah sanggup menjaganya, ia tahu bahwa dengan memegang prinsip ini, hidupnya akan sulit, namun ia akan melihat bahwa Allah beserta dengannya. Dengan memegang prinsip ini, Daniel mengesampingkan hidup duniawinya dan ia mendedikasikan hidupnya hanya bagi Allah saja.

Ketiga, menjadi garam dan terang dunia harus menyangkal diri, pikul salib dan mengikuti Kristus, hidup di jalan kenosis (Filipi 2:7). Banyak orang berkata bahwa mau hidupnya dipakai Tuhan, mau ikut Kristus tetapi tidak mau manyangkal diri pikul salib dan mengikuti jalan Kristus. Alkitab menyatakan bahwa tidak pernah ada kemuliaan bagi Allah Bapa di surga jikalau kita tidak berjalan di dalam jalan salib. Di dalam Doa Bapa Kami dinyatakan “Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga”. Kehendak-Mu lah yang jadi bukanlah kehendakku yang jadi, kehendak-Nya mengatasi kehendak kita. Tidak akan ada air mata bila kita memahami bahwa kehendak-Nya dan pribadi-Nya adalah lebih mulia daripada apapun yang ada di dunia ini. Daniel adalah orang yang memikul salib. Dalam mempelajari Alkitab belakangan ini, saya bukan hanya mempelajari sistematika theologi semata, tetapi saya juga mau mengerti inner sanctum, yaitu hal yang paling dalam, yang dimiliki seseorang yang dipakai Tuhan untuk mempunyai kekuatan dan kuasa untuk hidup bagi Kristus di tengah-tengah dunia ini.

Apa rahasia rohani orang orang puritan seperti John Bunyan, David Livingstone, William Carrey dan sebagainya? Bila saudara perhatikan, mereka menanggung salib dengan melihat bahwa salib itu adalah sebuah kemuliaan dan sukacita yang besar. Lihatlah apa yang menjadi salib tokoh-tokoh Alkitab seperti Yesaya, Yehezkiel, Yeremia, Abraham, Maria. Lihatlah salib yang harus di pikul Daniel: sampai mati ia tidak diperkenankan Allah kembali ke Jerusalem. Orang Israel berbeda dengan kita. Bila orang kita pergi ke luar negeri biasanya tidak mau kembali lagi. Orang Israel berbeda, mereka selalu merindukan untuk pulang ke tanah perjanjian. Daud menuliskan di dalam Mazmur, “Aku sedang bernyanyi di tepi sungai Babel, kalau aku sampai melupakan Jerusalem, biarlah aku dihukum oleh Allah (Mazmur 137: 1-6). Orang Israel adalah orang yang mencintai tanahnya karena tanah itu adalah tanah perjanjian yang diberikan Allah sendiri bagi mereka. Semua orang mulai dari Abraham berusaha masuk ke tanah itu; Musa membawa 2.5 Juta manusia keluar dari Mesir menuju tanah itu, Abraham, Ishak, Yakub dan Yusuf ingin masuk ke tanah itu, bahkan Yakub sampai mengatakan kepada anak-anaknya untuk mengingat dan berjanji untuk membawa tulang-tulangnya untuk dikubur di tanah itu karena begitu inginnya, karena begitu mencintai tanah itu., karena di situlah ia bertemu dengan Tuhan. Itulah tanah perjanjian, itu adalah kehormatannya. Gerakan zionisme diseluruh dunia adalah keinginan untuk kembali ke tanah itu walaupun harus meneteskan darah demi mendapatkan kembali tanah yang telah diambil Palestina itu. Itulah tanah yang menjadi keinginan terdalam. Namun setiap orang yang ingin dipakai Tuhan harus rela untuk melepaskan haknya. Kalau memang Tuhan menghendaki maka itu harus dilepaskan dan Allah tidak mengijinkan Daniel kembali ke tanah itu sampai dia mati.

Saudara sekarang bisa melihat deskripsi dari seseorang yang menjadi garam dan terang dunia; orang itu mau tunduk ke mana saja Tuhan meletakkannya; orang itu mau hidupnya dipisahkan dan didedikasikan bagi Allah di dalam kekudusan; dan orang itu mau menyangkal diri memikul salib mengikuti Kristus kemana saja Dia pimpin. Kiranya hidup kita yang satu kali adalah hidup yang dipakai Tuhan.

 

Ringkasan oleh Mauritz Nainggolan | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya